Latest Entries

Nasihat Pekan Ini

Ketika bercerita tentang kasihan dan tak tega, ditegurlah aku, “Kasihan sama diri lo sendiri dulu, baru sama orang lain.” Dan aku terdiam. Siapa aku untuk merasa ‘di atas’ sehingga merasa kasihan pada orang lain?

Ketika rasa sedang penuh dan menyesak keluar berupa bulir-bulir tak terkendali, maka dinasihatilah aku, “Bersabarlah, nak.” Nasihat yang sederhana, dan memang hanya itu yang perlu dikatakan. Namun usaha yang diperlukannya tak kenal batas dan waktu.

Ya Allah, mampukan aku.

Moving On

Q: How are you?
L: Fine.
Q: What had happened?
L: Life :)
Q: Why is that?
L: The answer is in the eye of the beholder.

No, I don’t give up. There were times when I did things for others. It will come time when I have to stand up and do things for myself. Being selfish, you may call. But hey, isn’t life is to be lived? What we decide or do would not always please everybody. In fact, we can’t please everyone. Then just move on and go on.

Wibawa Pemimpin

Satu hari, sebelum tidur, Daud bertanya, “Bunda, wibawa itu apa?” Aku terdiam. Sebelum menemukan jawabannya, Daud sudah menanyakan hal lain. Khas anak-anak. Yang ingin ditanyakan terlalu banyak. Tak ada waktu untuk menunggu terlalu lama. Sehingga seharusnya orangtua spontan saja. Masalahnya aku terlalu serius dan seringkali lupa untuk berpikir sederhana.

Lalu sekarang terpikir, harusnya jawab apa, ya? Hmm… Bisa saja dijawab dengan, “Wibawa itu seperti kharisma.” Tapi sepertinya tidak akan membantu memuaskan anak kelas 1 SD. Akan diikuti dengan, “Kharisma itu apa?” Mungkin seharusnya aku menjawab, “Wibawa adalah sifat yang harus dimiliki oleh pemimpin. Yang membuatnya didengar, ditaati dan diikuti.”

Wibawa membuat kehadiran seseorang begitu terasa. Begitu nyata keberadaannya. Kita akan menyadari dia ada. Tanpa banyak gaya, ia menyolok.

Wibawa membuat seseorang didengar. Tanpa banyak bicara, kita dapat tahu seseorang memiliki pengaruh atau tidak. Ketika mencuat suatu pertanyaan dan mata -secara tak sadar- tertuju padanya. Ingin tahu apa pendapatnya.

Wibawa membuat kata-kata seseorang dipatuhi. Baik karena takut atau dengan senang hati. Wibawa tak lantas membuat orang tersebut disukai semua orang. Yang jelas ia disegani. Diakui. Biasanya orang berwibawa tak banyak bicara. Tapi saat berkata, ia akan didengar.

Wibawa seseorang dapat membuat kita merasa aman karena ia dapat diandalkan. Atau merasa terancam secara penuh, karena ia adalah musuh yang harus diperhitungkan.

Wibawa membuatnya wajib dimiliki oleh pemimpin. Yang berbakat memimpin, biasanya memiliki sifat ini sebagai bawaan. Aku percaya wibawa dapat dipupuk. Tapi seperti kepercayaan, kewibawaan bukan hal yang dapat diminta dari orang lain. Wibawa diperoleh dari penuntasan tanggung jawab, ketegasan memutuskan, dan kebijakan dalam pertimbangan.

Anakku, tunaikan kewajibanmu. Perhatikan hubunganmu dengan Penciptamu dan manusia lain. Tak usah risaukan apakah kau memiliki sifat pemimpin atau tidak. Itu bukan yang utama. Jika orang lain mempercayaimu, saat itu mereka mengizinkanmu menjadi pemimpinnya. Wibawamu akan tumbuh bersama tanggung jawab yang kau laksanakan.

Bermula dari Pemimpin: Kita

Adil, memang bukan sama rata. Adil adalah menempatkan sesuatu pada porsinya. Sesuai yang seharusnya. Saya bukan orang yang paling adil di dunia. Tapi untuk hal sederhana, saya yakin saya punya hak bicara.

Di kelas, pada topik belajar Kesetimbangan, saya sering mengandaikan bahwa seimbang adalah sama, seperti timbangan, sedangkan setimbang adalah seperti waris. Tidak sama, tapi adil, menurut kewajiban yang dibebankan pada penerimanya.

Jika kita pemimpin, kita harus dapat menempatkan diri dan memilah kapan untuk bersikap sama rata, dan kapan harus ‘sesuai kasusnya’. Jika kasusnya sama, dan tidak ada kejadian khusus yang mengecualikannya, peraturan harus ditetapkan sama untuk siapa saja. Jika terlambat, berlaku aturan yang sama. Satu ditegur, yang lain juga harus ditegur. Terlepas dari yang satu adalah kawan dekat dan yang lain adalah orang yang tidak kita suka.

Dalam dunia kerja, sikap seperti ini dinamakan profesional. Perlakuan dan keputusan tidak didasarkan pada suka atau tidak suka terhadap orang lain. Apalagi jika kita adalah pemimpin. Tekanan untuk berlaku adil terhadap yang dipimpin jauh lebih besar daripada ‘bawahan’nya. Karena sebagai pemimpin, di pundaknyalah terletak beban untuk menjadi contoh, yang akan ditiru oleh ‘rakyat’nya.

Dan adil adalah syarat pertama dalam menjalankan kegiatan keseharian. Dasar hubungan antara satu dengan lainnya. Jadi, jika seorang pemimpin tidak berlaku adil, apa lagi yang dapat diharapkan oleh yang dipimpin?

Kalau dengan bapak negara kita, jika untuk urusan keadilan saja beliau hanya berkomentar “Saya prihatin”, bagaimana warganya tidak merasa negara berjalan dalam mode ‘auto pilot’?

Ah, anda dan saya tahu, bahwa urusan adil ini bukan urusan kepala negara semata. Ini adalah untuk semua orang. Di keseharian kita. Di keluarga, tempat kerja, dan yang terpenting adalah di diri kita. Karena dari sini semua berasal.

Gift of Friendship

At a time, I apologized to a student, on behalf of someone else, for something that had happened. *really, I can’t disclose this but I really want to write about it* And all of a sudden, one cried. Followed by one’s friend. It became gloomy then. I was so surprised.

One said, “Every time we meet and enjoy our time, you look so… OK. As if nothing had happened. And it hurts to see you so fine. That you accept it just like that. As if it was easy. As if it was meant to be and it’s just everyday issue. As if it’s nothing. How could you do that?”, in a choked voice.

I just sit there in awe. I didn’t realize that what hurt me could also give such impact to others. I kept it tight and moved on because I wouldn’t make a fuss of it. It won’t matter to anyone. I don’t want to whine about it. Moreover to my students. Useless. I should be professional. I shouldn’t make my problem theirs. I should keep distance from them. I forgot…

I forgot they were only kids -to some extent. Kids feel, although they may not be a good verbalizer. And they are just as sensitive as I am. If not more. I forgot they were hurt, too. I didn’t know it was that deep. Apparently, I’m not the only one suffering. Realizing this, I broke to tears.

A while ago I felt so alone. Keeping things just for myself because whatever I did or said was going to be wrong anyway. Things had been twisted. Some, if not all. And it may not stop. So rather than there would be anything more against me, I decided to keep silent. *there, I said it*

I was wrong. I’m not alone. Not only I have my true friends with me, I also have my students. Well, not that ‘have’ as I treat my friends. But the feeling of being needed makes you feel lonely no more, isn’t it? That they really worth your existence. You really mean something. And you somehow share some feeling with the ones meaningful to you.

And for that, kids, I want to say I love you. Thank you, to have me in your mind even it’s just a small fraction. I am so grateful for meeting you all. It may not be regular friendship, but… I think I could just call it that. An unordinary one. Thank you, Allah.



Copyright © 2004–2009. All rights reserved.

RSS Feed. Powered by Wordpress and based on Modern Clix : additional facelift by amYahya