Latest Entries

Imunisasi: Cukup Sampai di Sini

Seperti dua kutub yang berbeda, antara pro dan anti vaksin memang tidak akan bertemu. Walau saya yakini tujuannya toh sama: kemanfaatan.

Berhubung saya di sini memang mengulas dari sisi pro-vaksin, saya tidak menutup kemungkinan dan menyingkirkan pendapat dari sisi anti-vaksin. Dan saya berterimakasih atas kerelaan bertenggang rasa dari pihak anti-vaksin dengan tetap berkata baik-baik di blog ini.

Tulisan tidak diedit, komentar tidak dihilangkan. Pertanyaan yang ada sudah terjawab. Ajuan pendapat yang ada juga sudah ditanggapi. Rasanya semua sisi sudah tersentuh. Tambahan di luar ini hanya akan membuatnya mbulet, makin panjang, tidak jelas dan tak akan berujung, seperti bahasan poligami. Dan dengan ini, Ajakan menolak imunisasi saya nyatakan ditutup dari komentar lebih jauh.

Jika anda memiliki pendapat lain dan hendak menanggapi, silakan buat tulisan di blog anda dan jika suka bisa buat taut ke sini untuk referensi bagi pembaca anda. Terimakasih untuk kunjungan anda. Semoga berkenan menikmati tulisan saya yang lainnya.

Menunda Kebenaran

Kami sedang berkendara motor ketika Daud tiba-tiba berujar, “Mobilnya jelek, ayah!” ke sebuah mobil yang berpapasan dengan kami. Polos dan tanpa maksud apa-apa, tentunya. Namanya juga anak kecil.

Yang merasa agak sungkan biasanya orangtuanya. Kami hanya senyum-senyum saja, tapi pasti akan terasa tak enak jika itu terjadi di dekat rumah, terhadap tetangga misalnya. “Duh nak, jangan jujur amat, napa” hehehe…

Nanti. Nantinya anak-anak harus belajar kapan harus mengatakan apa adanya. Dan tak kalah penting yang harus mereka pelajari adalah kapan harus diam dan menunda untuk mengatakan yang benar. Bijak tak hanya tentang kebenaran, tapi juga menimbang waktu, tempat serta manfaat perkataan.

Teringat beberapa hari sebelumnya para wali kelas 12 diajak berbincang oleh kepala sekolah dan kami mendapat nasihat serupa. Kami harus tahu kapan untuk berlaku lentur, kapan bersikap tegas tanpa kompromi, kapan melembut dan membiarkan murid melakukan kesalahan. Dan semuanya didasari oleh kemaslahatan. Manfaat yang lebih besar, bagi kehidupan dan masa depan murid.

Saya melakukan kesalahan di semester lalu. Saya katakan kebenaran, sejujurnya. Dan saya seharusnya tidak melakukan itu. Seharusnya saat itu saya biarkan murid saya menakar dirinya sendiri. Toh dalam hati kecilnya pasti mereka menyadari dan mampu mengukur kemampuannya sendiri. Tak perlu saya jaharkan apa yang saya takutkan.

Pahit. Tak dapat saya ulang. Tak dapat saya perbaiki. Saya hanya berharap, kesan buruk itu pupus. Saya harap mereka mampu menepis keraguan saya dalam kemarahannya, dan ‘membalas dendam’ dalam bentuk prestasi yang lebih baik daripada yang saya khawatirkan. Semoga.

Saya harus terus belajar. Sebagai orangtua, juga sebagai guru. Semoga dimampukan untuk terus belajar. Karena saya harus selalu sadar, bahwa ketika saya berpuas diri dan berhenti belajar saat itulah saya berhenti berkembang.

Bertanyalah Pada Yang Lebih Tahu

Saya suka lagu Belajar dari Ibrahim-nya Snada. Lagu lama, tapi liriknya ceria. Dan karena Ibrahim adalah anak pertama kami, ini seperti ‘lagu kebangsaan’ keluarga. Lalu? Ya… entah, rasanya ketika terpikir tentang ‘belajar dari siapa saja’ kok terpikir tentang lagu ini.

Saya teringat ketika memberikan tugas beberapa hari yang lalu. Ada satu soal yang saya ragu-ragu menjawabnya. Tentang grafik, dan itu lebih ke persoalan matematika ketimbang teori kimia.

Selalu ada pilihan berbagai cara menanggapi ketika seorang guru tidak/belum tahu jawaban dari suatu pertanyaan. Katanya sih, yang paling penting, guru itu harus jago ngeles. Dan terus terang, saya tidak jago ngeles. Jadi kalau saya tidak tahu ya saya bilang saja jujur, saya tidak tahu dan berjanji akan mencari tahu (dan memberitahukan hasilnya di pertemuan selanjutnya).

Khusus untuk pekan ini, saya memutuskan untuk langsung belajar dari murid. Tentunya, harus sudah mengenyampingkan yang namanya ‘harga diri’, malu, segan, dan lain-lain. Murid saja saya anjurkan untuk banyak bertanya (walaupun tidak harus selalu saya yang menjawab, kebanyakan justru mereka sendiri yang menjawab), masa saya enggan bertanya?

Saya hampiri seseorang dan saya tanyakan padanya. “Untuk nomor yang ini, bagaimana caramu, nak?”. Lalu kami berdiskusi, mengerjakannya bersama. Betul-betul bersama, karena saya memosisikan diri sebagai yang sedang belajar, minta diajari ketimbang mengajari. Di akhirnya memang jawaban awal saya (yang saya simpan di hati saja) memang salah. Murid saya yang benar.

Saya puas, karena berhasil mengalahkan keengganan diri dan memilih untuk tidak ‘ngeles’. Murid juga puas, karena berhasil menjawab pertanyaan sekaligus membantu saya. Katanya, “Eh, kok jadi saya yang ngajarin Ms. Lita”. Saya tersenyum, “Memangnya kenapa? Tidak apa-apa, kan?”.

Hanya butuh untuk merendahkan diri sejenak, ternyata. Murid senang dan percaya diri, saya juga senang dan senang melihat murid senang. Kami sama-sama senang di akhir pelajaran kimia hari itu.

p.s.
Terimakasih ya, nak. Jangan sampai sombong, ya. Kamu bisa melaju lebih cepat dan menggapai yang lebih tinggi kalau tidak cepat berpuas diri. Ayo semangat!

Modified article is also posted in AksiGuru.org here.



Copyright © 2004–2009. All rights reserved.

RSS Feed. Powered by Wordpress and based on Modern Clix : additional facelift by amYahya