Archived entries for

Iklan air minum (beroksigen)

Iklan lagi.. iklan lagi. Rame-ramenya udah lewat sih, tapi aku tetep mo bahas. Pertama kali denger/liat iklan oxygenated water, aku cuma terbengong-bengong ajah. Setauku sih, air emang mengandung oksigen, dan kandungannya cuma bisa sampe batas tertentu, tergantung tekanan parsial oksigen dan temperatur air. Jadi, di tekanan dan temperatur kamar (1 atm, 25C), maksimum oksigen terlarut adalah 8 ppm. Jauh lebih kecil daripada yg diklaim air-air kemasan itu yg rata2 menawarkan 80 ppm.
 
Here’s the deal. Kalo kandungannya bisa setinggi itu, maka kemungkinannya adalah oksigen tsb dilarutkan melalui proses bersuhu rendah dan bertekanan tinggi. Apa yg terjadi kalo air tsb kita minum? Pertama, waktu kita buka tutupnya, tekanan dalam botol akan sama dg 1 atm (more or less) shg oksigen yg ‘dipaksa’ larut akan lepas (kira-kira kaya botol isi softdrink yg dibuka). Mungkin ngga semuanya, kita masih bisa dapet ‘ekstra’ oksigen dikit emoticon Kedua, andaikan betul kita dapet semua oksigen yg 80 ppm itu, SO WHAT?! Kita punya paru-paru, yg emang dirancang untuk bernafas/menyerap oksigen di udara yg konsentrasinya 20% (ribuan kali lebih besar daripada yg ada dlm klaim oxygenated water itu). Alat pencernaan kita dirancang untuk menyerap nutrisi, bukan gas terlarut. Dan kalo butuh lebih (karena sdg olahraga misalnya), tinggal tarik nafas lebih dalem & lebih sering. Yang lebih penting : GRATIS!
 
Oxygenated water? Mahal. Buang2 duit ajah.. Kalo ingin memperbaiki daya intake oksigen, olahraga lah sodara-sodara… More bout the truth? Here & here
 
updating from my blogwalking to Priyadi‘s blog: here

Kangen

Katanya, kangen itu bikin seru… Kangen itu bikin pengen ketemu (iyalah!)… Kangen itu bikin dunia tampak biru merindu… Kangen itu indah… Kangen itu… sejuta rasanya…

Apapun lah.. kangen ya kangen aja. Pengen dia ada di sini. Walaupun pas ada di sini juga ngga ngapa-ngapain, cuma ngeliatin dia sibuk di depan komputer ajah, dan kalo aku bosen ya aku ngeloyor ke kamar ibunda buat ngadem (ada AC-nya hehe) ato nonton TV ato main PS.

Mo ngapain ya klo kangen gini? Paling buka frenster, eh liat fotonya yg baru di-post. Liat tanggal online, lhoo.. kok kemaren??!! "Kok ngga bilang-bilang sih mo online!" huaaa…. Ya udah, manyun dikit. Abis itu kembali sibuk menikmati kangen.. hehe.. mengingat-ingat kejadian lucu mengesankan ato romantis yg kakanda lakukan.. Hehehe.. jadi senyum2 sendiri…

"Yang, aku kangen!"

Kenapa pisang?

Hehehe… Komentar pertama dari orang2 yg buka blog ini adalah "Lita suka pisang ya?". Yup, betul sekali sodara-sodara..! I live with my daddy's habit of eating banana every day. Seumur hidup beliau, aku nyaris ngga pernah liat sehari tanpa ada pisang di rumah. Pisang apa aja, pisang ambon, pisang mas, pisang raja, pisang susu (pisang sereh), apapun lah. Buah wajib lainnya adalah pepaya.

Trus kenapa aku suka pisang? Karena pisang warnanya kuning. Waktu ngerancang blog ini, kakanda nanya, "Ita mau blog-nya warna apa?", dan aku dg semangat & tanpa pikir ulang bilang, "KUNING!"… "as I thought..", sahutnya lg dg kalem. Daaannn…. jadilah buah favoritku ini tema utama. Yippie! emoticon

Sesudah menjalani hobi pisang bertahun2, pas kuliah barulah aku nyari tau, "Ada apa di dalam pisang?".

Continue reading…

Iklan susu (ber-DHA)

Sebagai yg sedang belajar jadi ibu, buat aku kritis (=cerewet? emoticon) itu penting. Segala iklan yang targetnya ibu & anak selalu jadi bahasan menarik buat aku & suami. Utamanya iklan susu & suplemen. Namanya jg iklan, selalu membujuk agar konsumen merasa perlu & beli produk tersebut.

Iklan susu formula untuk bayi & anak2 selalu penuh ‘bunga’ berupa nutrisi penting untuk perkembangan otak, dari DHA, ARA, dll dsb dg berbagai singkatan njlimet yg aku yakin 100% gak semua ibu2 tau apa yg diomongin iklan itu. Padahal, semua zat yg dijargonkan oleh susu2 formula itu udah terkandung dg lengkap (jauh lebih komplit) di ASI dg kandungan yg perfectly fit untuk setiap anak yg unik & bisa diserap sempurna oleh tubuh. Tapi jangan heran kalo ada ibu2 yang ternyata lebih milih susu formula untuk bayinya daripada ASI krn dipikirnya susu formula lebih ‘hebatemoticon Bahkan dokter sekalipun ngga lepas dari pengaruh iklan! Bukan apa2, kalo untuk konsumsi dirinya sendiri sih ya terserah beliau. Tapi kalo udah keluar dlm bentuk resep, ibu2 (=pasien) ‘dipaksa’ untuk percaya keampuhan produk itu walaupun ngga diperlukan. Maklum, negara ini masih feodal, dokter ‘kasta’nya masih di atas orangtua (parents).

Contoh paling klasik deh (yg paling sering diomongin, gituh); DHA. Binatang apaan sih DHA ini?

Continue reading…

“Dokter?.. Nggg…”

Aku termasuk yang ‘percaya’ ama dunia medis, termasuk dokter & obat2an sbg sarana penyembuhan penyakit. Sekarang juga masih percaya sih, tapi berkurang cukup banyak, terutama setelah join milis sehat (pengasuhnya dr. Purnamawati SpA(K) MMPed, subspesialis hepar) & banyak browsing di website2 kesehatan. Bukan apa-apa, tapi rasanya kok selama ini aku udah banyak ‘dibodohi’ (karena emang masih o’on sih) sama dokter emoticon (no offense ya MDs.. pendapat pribadi boleh dong)

Kesadaran akan konsumsi obat secara rasional (rational use of drugs/RUD) ini mulai kudapat waktu kuliah. Ya ngga seintens kuliah di farmasi laaahh… setidaknya dikit2 aku tau tentang analgesik, antipiretik, dekongestan, antibiotik, antihistamin dll yang umum terkandung di obat yg dijual bebas (atau obat kategori keras yang entah kenapa kok bisa juga dibeli tanpa resep dokter emoticon). Mulai cerewet dg kandungan obat, kontra indikasi & efek samping, tentang makanan/minuman yg mengandung pemanis buatan, zat aditif, pengawet, pewarna, dsb, sampe ke label halal (tentu saja!).

Continue reading…



Copyright © 2004–2009. All rights reserved.

RSS Feed. Powered by Wordpress and based on Modern Clix : additional facelift by amYahya