Published by Lita January 18th, 2006
in General.
Sekitar 3 hari lalu, waktu me-ninabobo-kan Daud (tapi ngga pake lagu ‘Nina bobo’) sambil menyimak Reportase Sore, muncullah bapak Kepala BPOM (siapa ya namanya?). "…Saya peringatkan kepada pemilik toko bahan kimia untuk tidak menjual formalin, boraks, dan RODA MIMPI…" Kalimat selanjutnya sudah tak tersimak lagi, yang ada hanya kerut alisku.
Hah? Roda mimpi? Apaan? Minuman keras baru? Perasaan gak ada nama dagang bahan kimia yang kaya’ gitu. Sekitar semenit aku berpikir keras, barulah ‘nyambung’, "Yak ampuuuunnn… RHODAMINE B kali yaaaak!". Dasar telmi. Lagian si bapak ngomongnya setengah menggumam pula. Lagi ngemut permen apa ya? Dibuka dikit napa mulutnyaa…
Abis itu, jadi pengen nulis tentang rhodamine-B. Tapi pilek ini sedikit menumpulkan otakku dan memalaskan diri untuk cari info di internet. Ntar aja lah ya… Gara-gara kedinginan 2 hari lalu nih. Kumat deh alergiku. Gengsi sih, tau dingin bukannya tidur pake selimut malah nyetel kipas angin :p (dengan pikiran, "Jakarta gitu loh, masa tidur pake selimut seh!)
Tapi, kok ya pengen blogging… Bener nih kata pak GBT, "Blog-addicted is a curse". qeqeqeq…
Published by Lita January 20th, 2006
in Health.
Salah satu zat aditif (tambahan) untuk makanan yang beken sekaligus kontroversial adalah MSG (monosodium glutamat). Pemberitaan tentang MSG -seingat saya- tidak pernah heboh (kecuali kasus Ajinomoto jaman pak Dur) dan dampaknya tidak signifikan terhadap industri. Abang bakso (dan kawan-kawannya penjual makanan keliling maupun tidak keliling) tetap setia pakai MSG dan pelanggannya juga tetap setia (sebelum merebak penggunaan pengawet dan bakso tikus).
Di Indonesia, bahkan penelitian-penelitian dikembangkan untuk mencari alternatif bahan baku pembuatan MSG.
Dari hasil cari informasi, saya mendapati bahwa untuk kasus MSG ini publik terbagi menjadi 2 ekstrim: MSG is deadly dangerous (karena itu sampai diadakan pendekatan ke pemerintah untuk menekan perusahaan pembuat MSG. note: bukan di indo sini) dan MSG aman dikonsumsi.
Ke sebelah mana anda berpihak, tentu itu hak prerogatif anda saja. US FDA sendiri berkata "generally recognized as safe": MSG aman untuk pemakaian tak berlebih, dalam kelas yang sama dengan garam, cuka, serta soda kue. Gosipnya, ada duit gede yang beredar dalam rangka sustainability produsen MSG di Amrik sono. Entah… saya tidak mencari tahu.
Saya? Saya sih adem saja, walaupun setia cerewet untuk memperingatkan orang-orang dekat untuk menjauhi MSG. *hihi, adem kok cerewet* Di rumah tak ada persediaan vetsin. Tapi kalau harus berurusan dengan mi instan, nyerah juga saya. Lha wong kalau sedang kepepet (misal jatah makan saya diembat adik yang emang napsu makannya rada gila2an), saya juga makan :p
Continue reading ‘Hati-hati dengan Alias MSG’
Published by Lita January 27th, 2006
in Personal and Parenting & nursery.
Posting ini membicarakan tentang ibu. Tapi bapak-bapak, mas-mas dan mbak-mbak juga boleh baca. Sekadar berbagi resah, yang mungkin tak hanya diriku yang merasakan *duh… kedengeran melankoli yak? hihi..*
Tahun lalu -kalo gak salah inget- aku baca buku menarik tentang ibu bekerja. Buku itu menggambarkan kegelisahan sang penulis -yang adalah seorang ibu- mengenai banyak hal di seputar ibu yang bekerja. Working mom banyak dikonfrontasikan dengan ibu rumah tangga -bekennya: full-time mom- dalam hal efeknya terhadap anak. Banyak penelitian, banyak kesimpulan. Namun tak banyak yang bisa menjawab kegelisahan dengan tepat.
Aku, sebagai yang akan menapak jalan yang sama, punya kekhawatiran. Tentang bagaimana ‘nasib’ anak-anakku kalau kutinggal kerja. Selama ini, media dan masyarakat cenderung punya tanggapan negatif terhadap ibu bekerja.
How come? Yah… kalo ada anak yang bandel dan ibunya pekerja, sangat mungkin tanggapan orang adalah, "Oh, pantes. Ibunya kerja, kurang perhatian". Mom’s fault. Kalo ada anak prestasinya kurang baik (dibandingkan temen-temennya) atau menurun dan ibunya bekerja, kata guru, "Ibunya kerja sih, jadi anaknya kurang diperhatikan". Again, mom’s fault. Kenapa bapak gak disinggung-singgung seh? Emangnya soal kematangan emosi dan kecerdasan kognitif anak hanya urusan ibu? Emangnya bapak gak punya tanggung jawab di bidang ini ya?
Baiklah, bapak bekerja untuk menafkahi keluarga. So what? Otomatis terlepas dari urusan ‘domestik’? Nah.. yang berpikir seperti ini bisa digiling sama feminis. Ah ya lupa, banyak feminis yang memilih ngga nikah karena enggan berada ‘di bawah’ dominasi suami…
Continue reading ‘Waktu yang Berkualitas’
Last Discussion
Ananda Aulia, liza, Lita, esa fisa, yanti
ZUSIE, sulhan, Menyoal Harga dan Suplementasi AA-DHA di Susu Formula Bayi at BananaTalk - Lita Mariana’s Weblog, rachma, Choc-puRpl66, ryan, Lita, eVA, bagoes, putri [...]
raffles, riswanto, nur, jo, vita, satrio, Didiek Wahyudjati, ixiell, agus suprianto, Lita [...]
SaungCerdas, sakuntala, Eep, edratna, Ade Diah, MacArthur Series reBlog » Indonesia: One Day without TV, wawan, Global Voices Online之中文版 » Blog Archive » 印度尼西亚:一天不看电视, -tikabanget-, maknya aya [...]
mama karen, Dewi, Manika, Lita, Fery, Lita, winayou, mariskova, toph, Adjokasep [...]
edratna, Satrio, yanti, iRHoTeP, CHIKA, miss_ngoceh, nYam, Lita, DODY, tania [...]