Archive for March, 2006



“Bunda, pijetin aku dong!”

Kemarin Daud agak rewel. Kalau digendong atau habis minum susu, kelihatannya ngantuk. Tapi kalau direbahkan di kasur, melek lagi deh matanya. Doh!

Sudah hampir jam 9 malam, dan aku capek. Jadi waktu dia protes ketika tubuhnya menyentuh kasur, kudiamkan saja. "Auk ah! Bunda istirahat bentar ya! Daud kan sudah makin berat, pundak bunda sakit nih," kataku sambil duduk di kursi dekat tempat tidur.

Eh, mbah putrinya keluar kamar. Mungkin kasihan karena cucunya yang satu ini ribut aja, jadi digendonglah dia. "Kok agak anget ya? Apa kecapekan? Dipijitin bunda gimana?", kata beliau sambil pegang-pegang tengkuk Daud.

Aku baru ingat, tadi siang memang kepalanya agak hangat tapi suhu tubuhnya cuma 37,1 C. Mungkin memang capek karena gerakannya sudah makin banyak. Aku lupa kapan terakhir kali memijatnya. Sepertinya sudah tiba waktu pijat yang berikut senyum

Ketika ditaruh di kasur, kembalilah teriakan protesnya berkumandang hehehe… Baju dilepas, posisi tengkurap. Masih protes. Kuteteskan minyak telon ke telapak tangan, dan mulailah bahunya kupijat lembut.

Eh, kok jadi anteng?! "Ngg… Mm.. Aoh.. Hoo.. hoo… Nggmm… mmm…", ocehnya dengan kepala rebah. Waktu ditanya, "Enak ya?" sama mbah putri, dia tertawa, "Heheee…". Walaaahhhhh!!!! Bilang dong dari tadi kalo pengen dipijet, nak! emoticon

Continue reading ‘“Bunda, pijetin aku dong!”’

Lebih Dalam tentang Alergi

Tulisan ini adalah ralat untuk beberapa bagian posting yang lalu. Jadi bagi yang menyimpan tulisan tersebut (positive thinking mode emoticon) mohon perhatikan baik-baik tulisan ini.

Hanya 1% orang dewasa dan 5% anak-anak yang memiliki alergi-makanan sejati, yaitu reaksi perlawanan terhadap makanan yang dipicu oleh sistem kekebalan tubuh. Dan jauh lebih banyak orang yang memiliki intoleransi makanan, yaitu reaksi tak menyenangkan terhadap makanan yang tidak melibatkan sistem kekebalan tubuh

Pada alergi-makanan sejati, kekebalan tubuh kita mengenali suatu jenis makanan (atau unsur pada makanan) sebagai bahan berbahaya. Identifikasi yang salah ini menyebabkan terbentuknya antibodi untuk melawan bahan (alergen) tersebut. Ketika bahan tersebut dimakan kembali di saat yang lain -dalam jumlah yang sangat kecil sekalipun- antibodi akan mengenalinya dan memicu sistem kekebalan tubuh untuk melepas histamin dan zat kimia lain ke dalam aliran darah.

Gejala alergi makanan biasanya muncul dalam waktu satu jam setelah makan, yang biasanya berupa

  • Bercak, gatal atau eksim.
  • Bengkak pada bibir, muka, lidah dan tenggorokan, atau bagian tubuh lain.
  • Nafas berbunyi (grok-grok), hidung mampet atau sulit bernafas
  • Sakit perut, diare, mual atau muntah
  • Pusing, pingsan

Reaksi negatif lain -terhadap makanan- yang tidak melibatkan sistem kekebalan tubuh yaitu intoleransi. Gejala intoleransi makanan dapat sangat mirip dengan alergi (semacam mual, muntah, kram, dan diare), sehingga banyak orang yang keliru.

Di sinilah kesalahan saya pada tulisan minggu lalu. Perbedaan utama antara alergi dan intoleransi adalah: jika anda memiliki intoleransi, anda dapat memakan makanan ‘yang bermasalah’ dalam jumlah kecil tanpa menimbulkan reaksi, sedangkan pada alergi sejati, secuil makanan ‘bermasalah’ dapat memicu reaksi alergi yang serius.

Continue reading ‘Lebih Dalam tentang Alergi’

" HiB itu apa? "

Kemarin tetanggaku -seorang bidan- datang ke rumah untuk mengambil baju yang dijahitkan. Kesempatan untuk tanya-tanya, pikirku. Kamis ini jadwal imunisasi Daud tapi kangmas tak bisa pulang untuk mengantar ke rumah sakit. Jadi kalau bisa imunisasi di bidan, tentu sangat memudahkan (plus lebih murah pasti).

Pertanyaan utamanya memang bukan "Bidan bisa mengimunisasi atau tidak?". Aku khawatir vaksin yang dimaksud di jadwal itu tidak dimiliki sang bidan. Jadi begitulah kutanya, "Bisa imunisasi tiga sekaligus tidak, Bu? DPT, Polio dan HiB?". Dan apa reaksinya?

Aku sudah memperkirakan kemungkinan sang bidan tidak punya persediaan vaksin HiB, tapi tidak mengharap pertanyaan "HiB itu apa?" dari beliau. Nah lho! Aku sempat bengong sebelum menjawab. "Ngg, HiB itu Haemophilus influenza tipe B". "Sepertinya (vaksinnya) cuma ada di rumah sakit ya?", tambahku cepat-cepat, takut dikira menggurui.

Sepertinya beliau pikir aku salah mengerti tentang ‘tiga’ yang kusebut, lalu bilang, "DPT itu kan sudah tiga; Diphteria, Pertusis, dan Tetanus?". "Mm, iya, tapi jadwal dari dokternya memang tiga: DPT, Polio, dan HiB", kataku sembari melempar ‘tanggung jawab’ ke dokter emoticon

Oh, tulisan ini tidak hendak menganalisa profesi atau kelayakan bidan. Mari kita bicarakan yang lebih penting: berkenalan dengan bakteri HiB.

Haemophilus influenza tipe B adalah bakteri yang sangat mudah menular, dan dikenal dapat menyebabkan meningitis, epiglotis (infeksi anak tekak), pneumonia, otitis media (radang saluran-tengah telinga), sinusitis, infeksi kulit dan tulang, dan lain-lain. Dan yang juga penting: TIDAK berhubungan dengan virus penyebab influenza, walau namanya agak mirip.

Continue reading ‘" HiB itu apa? "’




! Disclaimer

bananaTalk is a personal site in the form of weblog.

NOTHING contained in this site is or should be considered, or used as a substitute for, medical advice, diagnosis or treatment.

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-Share Alike 3.0 Unported License.

»