Archived entries for

Demam Cinta

Setelah mengantri selama 3 jam yang melelahkan, jadi juga tanda cinta bunda itu masuk ke tubuhmu.

Menyakitkan ya? Iya, disuntik memang sakit. Di paha kanan dan kiri, bunda yang meminta. Supaya jadwal imunisasimu lebih ringkas. Sakit sebentar, tak apa-apa ya? Tuh, tangismu sudah berhenti sebelum kita keluar ruang bergambar tokoh kartun itu.

Malam ini juga tubuhmu demam. Panas, serba tak enak. Tak apa-apa, bunda dan ayah ada di sini menemani. Antipiretik dan termometer juga selalu siaga membantu bunda.

Andai rasa tak enak tubuhmu bisa untuk bunda, ingin bunda memintanya. Supaya tidurmu nyenyak setiap malam.

Anakku, dalam segala ketidaknyamanan yang kita rasakan bersama, semoga kelak kau mengerti. Bahwa kami lakukan ini karena kami cinta. Dan kami berusaha pilihkan yang terbaik untukmu.

Amatir Menilai Blog

Sebagai blogger amatir, sekali-kali ingin juga sumbang pikiran. Sekadar berbagi, apa yang saya nilai saat berkunjung ke suatu blog.

Haruskah menilai? Tentu tidak, ini hanya reflek saya saja, yang dilatih untuk banyak bertanya. Selain saya sendiri juga berlatih untuk berpikir tanpa berpikir. Mungkin sebagian ini juga terpikir oleh beberapa orang yang rutin blogwalking.

Waktu download.

Untuk kunjungan pertama kali, ini penting. Jika suatu blog makan waktu lama untuk loading, ada 3 yang terpikir oleh saya: server sangat sibuk, gambar yang harus ditampilkan banyak, atau koneksi di pihak saya yang sedang lelet.

Solusi: minggat. Tutup tab-nya (I use Firefox). Pilihan kedua: matikan pemuatan gambar. Telanjang tanpa riasan? Gak masalah jika tulisannya bagus dan layak dibaca.

Tampilan.

Tampilan itu penting. Dia jadi penarik perhatian agar kesan pertama begitu menggoda, eh maksud saya agar pengunjung tergoda membaca. Dental jagonya. Bersih dan cerah.

Ketika tampilan begitu ramai dengan blink-blink di sana-sini, banner, flash, dan lain sebagainya, mata ini sudah keburu lelah ketika tiba waktunya untuk membaca apa yang tertulis. Padahal tulisan itu dimuat kan ya maksudnya untuk dibaca toh?

Continue reading…

Bamboo Philosophy

Parents, it is always wise for us to learn from mother nature. She has a great way in keeping balance. Well of course, it is HE Who Takes Care.

One chosen way to interact with your children is the bamboo philosophy.

Bend without broken.
Gentle, yet strong.
Straight to the point, yet flexible.

When they are not able to make decision yet, or knowing what danger awaits, we should make the decision for them.

When they are moving toward something we don’t agree about, let them get near it and hold them firmly. Just to let them know.

When they are doing things recklessly, put your arms around for a better grip in case they are falling.

Stick with your goal, but playing a bit around the corner could add some fun to the journey.

Behold, parents. I’m talking about bathing your children here.

What? The philosophy?

I saw my baby laughing out loud and jumping in enjoyment while bathing, thus I made it for you.
But you can use it as you like. You’re the parents anyway.

Grogi, teh?

Menanti hari pernikahan memang pengalaman seru tersendiri. Terlalu banyak memikirkan detil ini itu seputar pernikahan dalam satu waktu membuat aku kerap kali gagap dalam menanggapi lawan bicara. Betapa payahnya ketika di saat yang sama dosen juga sedang ancang-ancang menggelar Ujian Tengah Semester!

Hampir setiap kali menyiapkan minuman teh, aku teringat malam pernikahan. Agak konyol sih, dan dirimu pasti tertawa-tawa di depan layar monitor sana, yang.

Jadi begini ceritanya…

Dua hari sebelum akad nikah, rombongan keluarga dari pihak ibu datang untuk membantu persiapan. Isinya ya tante-tante yang jago masak dan om-om serta sepupu yang bisa diperbantukan untuk angkat barang-barang.

Sehari sebelum akad nikah, rombongan mertua tiba di Jakarta. Tempat singgah pertama tentu kediaman ibuku, sang empunya acara. Dengan sigap ibu menjadi pengendali acara dan me’nendang’ku ke dapur untuk menyiapkan suguhan. Dari sinilah dongeng berawal.

Tiba di dapur, oh la, sederet tante dan sepupu perempuan serentak memandangku sambil mesem-mesem. Ini tentu bukan masalah bagiku yang dalam mode-komandan-lapangan-di-acara-diklat. Tapi buat aku yang sedang mengalami grogi akut, cengiran dan komentar usil itu bikin otak tambah buntu.

Berikut adalah percakapan batinku selama menjalankan tugas dari ibunda.

Eh, mau ngapain tadi? Oh ya, bikin teh. Teh anget atau es teh ya? Tanya dulu gak ya? Gak usah deh, daripada mondar-mandir, dikira cari perhatian lagi. Udah lah, bikin es teh aja. Cuaca lagi panas. Nah, selesai satu.

Continue reading…

Happy Meal

Akhirnya Daud merasakan makanan padat, setelah 24 minggu bertahan hidup hanya dengan ASI. First meal! Sebenarnya ibu dan orang-orang di sekitar saya sudah sejak beberapa bulan lalu bertanya, "Daud ngga dikasih makan?". Dan saya menjawab dengan tegas, "Nggak! Nanti aja waktu umurnya 6 bulan."

Kata si ayah, "Ibunya engineer sih, hitungannya ngepas, eksak." Lha Yah, 6 bulan kan nggak jadi 6 bulan kalo kurang 1-2 minggu toh? Idealis tak apa-apa kan, demi saya ingin membayar 'penyesalan' karena kakaknya Daud tak merasakan ASI eksklusif, bahkan sejak lahir.

Kenapa ASI eksklusif 6 bulan?

Waktu 6 bulan ini rekomendasi terbaru dari WHO, berdasarkan kesiapan alat pencernaan bayi.

Beberapa ibu 'jaman dulu' (yang anaknya seumur saya) biasanya bilang, "Anakku dikasi pisang sejak umur 2 (bahkan ada yang satu!) bulan ya hidup". Alasan utama pemberian makanan padat sangat dini umumnya adalah kekhawatiran.

Ibu-ibu (manapun) khawatir (dalam kadar yang berbeda) melihat bayinya menangis bahkan setelah minum ASI. Khawatir ASInya tidak cukup sementara anaknya masih lapar. Karena itu sebagai 'penambal' ASI diberikanlah air tajin. Ibu-ibu jaman sekarang modelnya juga masih sama, hanya penambalnya jadi susu formula. Benarkah ini solusinya?

Sebenarnya pertanyaan yang lebih penting adalah:

KENAPA bayi masih menangis setelah disusui?

Continue reading…



Copyright © 2004–2009. All rights reserved.

RSS Feed. Powered by Wordpress and based on Modern Clix : additional facelift by amYahya