Bunda Marah
Siang panas. Perut sedang kram dan punggung pegal. Risih serba tak nyaman. Namanya juga sedang haid.
Capek. Sudah minta disusui, tapi Daud tak kunjung mau berbaring padahal matanya sudah berkantung tanda mengantuk. Mataku makin berat. Jadilah setengah tidur sambil tangan masih sibuk berjaga supaya Daud tidak memanjat tubuhku dan berpindah ke sisi lain: lantai.
Duh, kegiatannya tak ada tanda akan mereda. Sudah jam 3 sore, batallah acara tidur siang. Cukup.
Aku duduk. Daud beringsut mendekat, meraih tubuhku mencari pegangan. Minta berdiri. Aku diam saja. Karena geliat, tubuhnya terjatuh ke kasur. Tertawa, mengiraku mengajak bercanda.
Kupijit hidungnya lembut, walau sebenarnya merasa gemas tak karuan. Lucu sekaligus mangkel. "Uh! Ngga lucu!", kataku. Dia tertawa lagi. Aduuuhhh, kok malah ketawa siiihhh. "Bunda marah", kataku. Dia tertawa lagi. Aku tetap diam kaku. Lalu ketawanya hilang sendiri berganti wajah tanya.

