Archived entries for

Rotten Tree(s) In The Forest

Mengamati komentar berbagai pihak terhadap tulisan teman-teman yang mengusung tema Indonesian Bloggers Condemn Israel, saya mendapati adanya komentar tertentu yang sifatnya sangat emosional.

Terlepas dari sikap mendukung atau anti, biasanya komentar emosional ini bikin tak enak hati. Bikin alis bertaut, dahi berkerut makin dalam, hati rada panas, otak sibuk cari 'pembalasan', dan jari gatal ingin mengetik komentar balasan.

Nah, saya tidak ingin berkomentar apalagi membahas tema Israel. Teman-teman lebih fasih dalam mengemukakan pendapat, latar belakang, dan sumber sejarah yang dijadikan referensi. Biarlah tulisan saya berfokus pada tema yang dijadikan tagline bananaTalk: health, parenting, love, and life. Motherly. Saya akan menulis secara umum saja.

Hate mail

Tak sering memang saya menerima hate mail atau komentar yang lebih cenderung mengolok daripada mengajak diskusi dengan kata-kata atau 'perilaku' yang baik. Untunglah. Tapi ini juga menyebabkan saya kurang belajar, lalai untuk belajar dari teman blogger lain yang membahas topik 'panas' yang mengundang komentar emosional dari beberapa pihak. Saya lengah untuk memperhatikan, bahwa jalan paling baik untuk menanggapi komentar seperti itu adalah dengan tidak menanggapinya.

Continue reading…

Off to Solo

Yellow, folks! We’re going off to Solo and staying there for about 2 weeks. So don’t mind me if I didn’t respond to your comments properly.

Registered users can comment as usual (no spamming please, guys, and keep your trash in your pocket, don’t litter here :mrgreen: ) And first attendees should be more patient since your comments might be held on moderation much longer than usual, since we don’t have internet connection at home there.

Newer post(s) than this will be the work of scheduled job (thanks to WP-cron future ping). There. You don’t have to wonder how diligent I am to keep posting from afar in my vacation :mrgreen:
Enjoy my leaving. If you don’t, I will enjoy mine, however. My… How I miss my parents in-law.

Pengumuman untuk semua warga peserta rumpian pisang; kami pamit berlibur ke Solo dan akan tinggal di sana sekitar 2 minggu. Jadi mohon maklum apabila komentar yang kalian masukkan tidak mendapat tanggapan segera.

Pengunjung yang pernah lolos moderasi (nama DAN e-mail) akan dapat berkomentar seperti biasa (tolonglah saya, jangan spamming apalagi nge-junk yah?). Sedangkan pengunjung yang baru pertama kali berkomentar (atau mengubah nama/e-mail yang digunakan) harap bersabar bila komentarnya tertahan cukup lama di moderasi.

Tulisan yang muncul dengan tanggal yang lebih baru daripada tulisan ini diterbitkan menggunakan WP-cron future ping. Jadi mohon tidak terpesona karena mengira saya amat rajin untuk tetap blogging dari tempat liburan :mrgreen:

Nikmati apa yang bisa saya suguhkan di sini. Dan bila masih tidak puas, sila tunggu kepulangan saya. Bagaimanapun, saya pasti akan memuaskan rindu pada keluarga di sana. Huhuhu… kangen! :)

Alami Tak Selalu Aman

Pemahaman yang umum di masyarakat kita adalah membagi produk 'kesehatan' (dan atau obat) menjadi dua kubu ekstrim: alami dan sintetik. Padahal di jaman teknologi modern seperti ini sulit sekali menemukan produk yang 100% dari bahan alam TANPA menyertakan bahan sintetik (baik sebagai pengisi, campuran, wadah/kapsul, atau perisa) sama sekali.

Memang tidak mustahil. Tapi jika jamu dikemas dalam bentuk kapsul, tidak ada jaminan bahwa bahan pembuat kapsul tersebut tidak mengandung senyawa sintetik kecuali dinyatakan pula komposisi bahan kapsul tersebut.

Kesalahpahaman yang lebih mengkhawatirkan (bagi saya) adalah membuat (dan mengamini) pernyataan bahwa jika alami maka aman.

TIDAK SEMUA YANG ALAMI ITU AMAN !

Saya sangat prihatin terhadap klaim iklan suatu 'obat' diare populer.

Mengapa kita pilih yang alami? Karena alami itu aman.

Sembari tampilan menunjukkan "ALAMI = AMAN". Ini kesimpulan yang tergesa-gesa dan memaksakan, demi memberi dasar bahwa produk yang ditawarkannya dijamin aman. MENYESATKAN!

Continue reading…

Happy Breastfeeding Week!

I hope it’s not very late to announce this.

HAPPY WORLD BREASTFEEDING WEEK, mommies!

The theme for World Breastfeeding Week 2006 is "Code watch: 25 years of protecting breastfeeding".

According to the World Alliance for Breastfeeding Action (the organizers of the week), over 60 countries have legislated all or many provisions of the International Code of Marketing of Breastmilk Substitutes (the Code), which regulates the marketing of breastmilk substitutes. The week will celebrate this success and draw attention to the work still needed to improve breastfeeding practices worldwide.

World Breastfeeding Week is coordinated every year by the World Alliance for Breastfeeding Action (WABA) to commemorate the Innocenti Declaration, to protect, promote and support breastfeeding.

World Breastfeeding Week was first celebrated in 1992. Now it involves over 120 countries and is endorsed by UNICEF, WHO and FAO.

Saya harap tidak terlalu basi untuk mengumumkan ini.

Selamat merayakan PEKAN MENYUSUI SEDUNIA, ibu-ibu!

Tema perayaan pada tahun ini adalah "Pengawasan Kode Etik Internasional : 25 Tahun Melindungi ASI".

Menurut Aliansi Gerakan Menyusui Sedunia (WABA, World Alliance for Breastfeeding Action) *bener gak sih gini terjemahnya?*, lebih dari 60 negara telah memberlakukan seluruh atau sebagian Kode Etik Internasional tentang Pemasaran Produk Pengganti ASI. Pekan Menyusui diselenggarakan sebagai perayaan keberhasilan sekaligus sebagai seruan untuk meningkatkan praktik menyusui di seluruh dunia.

Pekan Menyusui Sedunia digelar setiap tahunnya oleh WABA untuk memperingati Deklarasi Innocenti, dengan jargon melindungi, meningkatkan, dan mendukung penyusuan.

Pekan Menyusui Sedunia pertama kali dirayakan pada tahun 1992. Kini perayaan ini telah melibatkan lebih dari 120 negara dan disokong oleh UNICEF, WHO, dan FAO.


Continue reading…

Asisten, Pengobat Hati dan Punggung

Kali ini tugas bercerita tentang asisten, yang dioper oleh mbak Yanti. Maaf ya, mbak, lama buanget baru disetor nih :)

Di rumah besar

Sewaktu aku masih kecil, keluarga kami punya dua asisten. Tak selalu dua, terkadang satu. Entah kenapa begitu, aku tak pernah bertanya. Yang pasti, asisten selalu menginap di rumah. Ada kamar khusus yang disediakan bagi mereka.

Hanya 1 pengalaman paling membekas dengan adanya kehadiran asisten di rumah: aku pernah ditempeleng oleh salah satu mbak itu. Entah kenapa, aku tak begitu ingat. Dasar bocah, ketimbang mengadu ke ibu aku malah diam. Takut.

Tak banyak yang kuingat, karena menjelang akhir tahun 1990 kami pindah ke rumah mungil ini. Rumah di utara Jakarta itu disita oleh bank karena ayah tak mampu membayar hutang yang ditinggalkan oleh rekan usaha yang menipunya.

Di rumah mungil

Si mbak yang ikut pindah bersama kami pun tak lama minta izin untuk berhenti bekerja. Mungkin dirasanya kami tak akan mampu membayarnya. Setelah kepergiannya, tugas si mbak kebanyakan dikerjakan ibu dan nenek. Aku bagian bantu-bantu saja, karena sejak SMP aku lebih sering pergi pagi pulang sore. Apalagi ketika kuliah, minggat ke Bandung :)

Continue reading…



Copyright © 2004–2009. All rights reserved.

RSS Feed. Powered by Wordpress and based on Modern Clix : additional facelift by amYahya