Archived entries for

Merkurius Nyasar

Niat hati mau istirahat sebentar. Makan siang sambil nonton TV ternyata bukan pilihan bijaksana. Amat langka momen saya menonton sinetron. Dan apesnya tiap kali kebetulan kebagian nonton sinetron (karena sedang pindah-pindah kanal) ada saja yang membuat saya sedih.

Sedih karena kasihan. Kasihan pada yang tidak mengerti. Tidak mengerti bahwa apa yang dikatakan di dialog sinetron itu tidak benar. Saya tidak bicara moral. Dan saya jelas bukan kritikus film atau media yang mumpuni. Karena itu saya biasanya ngrasani bagian yang saya tahu (pasti salah) saja.

Satu adegan di laboratorium. Meja panjang dengan tabung-tabung reaksi dan mikroskop. Tentu saja ada labu takar dan gelas ukur juga, setidaknya di sinetron. "Nah, ini air raksa. H2SO4," kata salah satu tokoh utama sambil mengacungkan labu berisi larutan jernih. WHAT? Alis saya langsung naik. Kedekatan yang mustahil. Yang satu logam, satunya lagi asam.

Continue reading…

Alasan

Mbak Yanti bertanya, "Kok belum ada tulisan baru?". Jawaban saya adalah, "Sibuk, mbak. Kalau bikin tulisan yang cerita tentang alasan kenapa aku ngga update, judulnya kan ALASAN".

Ya, begitulah. Menjelang akhir pekan lalu, kami (suami dan saya yang juga diberdayakan) mendapat proyek -yang dijuluki mbak Yanti sebagai- sangkuriang (ops, sumber julukannya ternyata dari teh Amalia).

Dengan seenaknya, saya asumsikan bahwa proyek semacam ini adalah pekerjaan yang menuntut hasil sempurna dalam tenggat waktu yang mepet sekali. Nyaris menerabas batas rasional (hihihi… hiperbola).

Mungkin memang begitu. Nyatanya, mendekati akhir penyelesaian, malah ditambahi pekerjaan baru oleh pemohon yang sama. "Yaelah," hanya itu yang mampu saya katakan. Kok ya gak bilang dari kemarenan. Terserah keadaan lah.

Yang penting saat ini saya juga sedang diuber ibu editor yang baik hati agar segera menyelesaikan naskah yang masih juga belum selesai. Gini deh kalau masih amatir. Belum lihai bagi waktu kerja.

Sungguh, saya serius pangkat empat soal 'bikin buku' ini. Jadi walaupun capek, pegel-pegel, kram kaki, pantat tambah tipis (karena kebanyakan duduk), (nyaris) bosan menatap layar iBook yang manis, dan iba pada anak yang dari pagi sampai sore sama si mbak, laku ini akan tetap akan saya jalani. Sampai selesai.

Maaf jika ada komentar yang lama belum terbalas atau diloloskan dari moderasi. Sebabnya sederhana: kalau saya online, lebih sulit konsentrasi. Blogging dan menanggapi komentar anda semua lebih mudah daripada menyusun naskah buku. Mohon bersabar atas diri saya, ya.

Ternyata benar dugaan pak Pambayun, bahwa nampaknya saya akan butuh waktu untuk menarik diri. Nah kan, jadi juga saya mengumbar alasan.

Secuil tentang Produk Susu Sapi

Kali ini mau menebus janji untuk menulis tentang susu. Sesedikit yang saya tahu. Selamat membaca.

Per kata, susu adalah makanan cair yang diproduksi oleh kelenjar susu mamalia betina. Dalam istilah, kata susu juga digunakan untuk cairan pengganti susu (nah lho!) yang berasal dari tumbuh-tumbuhan, misalnya susu kedelai (atau coconut milk dalam perbendaharaan istilah bahasa Inggris).

Sedangkan definisi susu secara kimiawi adalah emulsi (campuran zat yang tidak saling larut) butiran lemak dalam cairan berbahan dasar air. Dalam kata lain, kandungan terbesar susu adalah air dan lemak.

Susu mentah

Susu mentah adalah susu yang tidak diproses, baik pasteurisasi (pemanasan) maupun homogenisasi (perlakuan tekanan udara terhadap susu untuk mencegah krim terpisah dari cairan) sebelum dikonsumsi oleh manusia. Rasanya berbeda dibandingkan dengan susu yang diproses, begitu juga dengan kemudahan cernanya.

Tidak ada kesepakatan yang definitif apakah susu mentah lebih menyehatkan dibandingkan dengan susu yang diproses lebih dulu. Yang pasti, susu mentah lebih berisiko menyebabkan penyakit akibat kemungkinan hadirnya mikroorganisme patogen.

Continue reading…



Copyright © 2004–2009. All rights reserved.

RSS Feed. Powered by Wordpress and based on Modern Clix : additional facelift by amYahya