Archived entries for

Alasan Mengapa Saya Tidak Mengajak Anak

Setelah Daud berusia satu tahun dan tidak lagi tergantung penuh pada ASI, saya mulai dapat bepergian tanpa mengajaknya. Memenuhi undangan teman, ikut acara kumpul bareng teman sekolah dulu, datang ke acara kopdar blogger, atau yang paling sederhana: belanja.

Seringkali, ketika saya datang ke acara-acara tersebut dan tidak membawa serta satupun anak, teman-teman bertanya, "Anakmu mana? Kok nggak dibawa, sih?". Bahkan ketika saya katakan bahwa saya tidak mengajak mereka demi kepentingan bersama, teman-teman biasanya bilang, "Ajak aja, lagi! Kan seru! Anakmu kan lucu! Bisa main sama kita di sini".

Demi anda semua, mari saya wakili para ibu untuk mengatakan kebenaran. Para orangtua yang beruntung dikaruniai anak bertipe malaikat (angelic baby) bisa jadi senyum-senyum saja menyimak cerita ini. Tapi entah bagaimana saya yakin akan lebih banyak orangtua yang manggut-manggut setuju.

Saya mau menikmati waktu bersama kalian, bukan babysitting

Sebagian orang -terutama yang telah menjadi orangtua- boleh saja berkomentar sinis, bahwa saya adalah orangtua yang tidak mau repot (astaga, kalau tidak mau repot saya tidak akan punya anak!). Boleh saja. Dan tanyakan kepada setiap orangtua -utamakan yang full-time mom dan tidak memiliki asisten/babysitter- apakah mereka menikmati setiap detik yang berlalu tanpa cela, tanpa sedikitpun pernah merasa capek dan ingin istirahat sejenak.

Ketika saya katakan saya ingin menikmati waktu, saya bersungguh-sungguh. Tipe anak koleris tidak akan mau duduk diam dan hanya menonton orang-orang dewasa mengobrol. Sungguh pekerjaan paling membosankan di dunia (bagi anak): menonton orang (atau barang) lain melakukan sesuatu.

Dan yang terjadi jika anak batita tipe ini diajak menghadiri reuni adalah anda akan jauh lebih sibuk mengikuti dia ke sana ke mari dan melarangnya untuk memanjat meja makanan ketimbang menyimak berita terkini tentang teman-teman anda yang kini berada di antah berantah.

Sementara teman-teman akan terkesan pada betapa ganteng, lucu, dan pintarnya anak anda hanya di menit-menit pertama, mereka tidak akan repot-repot membantu anda menurunkan si pendaki mahir yang ternyata sudah nangkring di tepian patung es hiasan itu.

Continue reading…

Kalimat Pecut

"Bagaimana kabar selanjutnya?", hanya itu yang mampir ke kotak surat saya. Sebaris kalimat sederhana dari editor buku yang sedang saya garap. Pertanyaan yang rupanya ditujukan kepada 20-an orang lainnya. Ternyata saya tidak sendirian.

Dan pertanyaan itu muncul setelah beberapa hari sebelumnya saya curhat, "Writers' block. Help!", pada sang editor. Haha. 

Tidur Sama Ayah, Yuk!

Melatih si bungsu untuk belajar tidur tanpa menyusu butuh kesabaran luaaarrrr biasa. Terutama dari ayah. Menggendong, memijat, elus-elus sana-sini, rayu-rayu, peluk-peluk, cium-cium. Ke luar kamar, masuk lagi. Baringkan di kasur, angkat lagi.

Tentu saja ayah, kalau bunda yang menemani tidur pasti godaan ingin menyusu semakin besar. "Running out of my patience, here!", kata ayah. Bunda paksakan menunggu sebentar lagi. Duh, ayah pasti capek. Oh, tiba-tiba si entong berhenti nangis. Tidur. Gitu aja. 

Berapa jam? 2 jam dulu, deh. Biarin tetangga kupingnya gatel denger anakku nangis. Biarin diomongin tega sama anak. Biarin! Yang sabar ya yaaaaaahhh… Bunda salut banget sama ayah. Love you, hun! 

Pemeriksaan Tubuh Pranikah

Saya sedang berminat pada topik seks, berkat kunjungan ke cak Moki. Bagi yang merasa bahasan ini khusus dewasa, pikirkan kembali. Anda juga punya organ seks, bahasan ini penting. Dan jika anda pikir saya akan menyuguhkan bahasan ala Hustler, minggat saja.

Sebelum menikah, saya memeriksakan diri ke dokter kandungan. Dokter tersebut berkomentar bahwa apa yang saya lakukan belum umum. Maksudnya memeriksakan diri sebelum menikah belum menjadi perhatian utama para perempuan yang akan –dalam waktu dekat atau masih lama- menikah.

Pernah dengar tentang seorang presenter yang digosipkan hamil sebelum menikah hanya karena kedapatan berkunjung ke dokter kandungan dengan diantar pacarnya? Saya tidak mempersoalkan siapa yang mengantar –yang memang dapat memicu gosip-, saya hanya amat heran kenapa para penyedia tayangan gosip ini pikirannya begitu dangkal.

Apakah mereka belum pernah mendengar tentang pemeriksaan pranikah? Bahkan laboratorium menengah saja sudah menyediakan paket pemeriksaan pranikah. Setelah ngedumel saya baru ingat, mereka memang dibayar untuk membangun gosip. Tak penting apakah itu membuat mereka tampak kurang memanfaatkan otaknya.

Continue reading…

Layout Baru bananaTALK

Alhamdulillah… lepas juga status 'heavy maintenance' yang kemarin. Mungkin masih banyak bopeng di sana-sini, jadi masukan dari pembaca akan sangat membantu.

Fixed width, tidak 'uncivilized browser'-friendly, dan… ah, banyak yang baru. Saya sendiri masih harus membiasakan diri dengan tampilan ini :)



Copyright © 2004–2009. All rights reserved.

RSS Feed. Powered by Wordpress and based on Modern Clix : additional facelift by amYahya