Archive for March, 2007

Sign with Your Baby

Bahasa isyarat dipopulerkan sebagai parenting tool oleh Sign2Me, sebuah perusahaan yang berdiri di atas ide cara berkomunikasi antara orangtua dan bayi yang sama-sama dapat mendengar. Produknya pun bervariasi dari buku, VCD, sampai flashcard. Tidak ada yang benar-benar baru dalam metode ini, kecuali bahwa bahasa isyarat itu sendiri belum populer di tengah masyarakat yang 'bicara', apalagi di Indonesia.

Saya mengetahui tentang bahasa isyarat untuk bayi ini ketika masih mengandung Daud, hampir 2 tahun lalu. Sebuah ide yang sangat menarik, mengingat hal pertama yang membuat orangtua frustasi adalah tidak mengerti apa yang diinginkan oleh bayinya.

Sayangnya kemalasan untuk belajar menarik saya dari berlatih dan menerapkannya sedini mungkin. Lalu e-book itu terlupakan begitu saja. Terselip di antara ratusan e-book lain dan tersembunyi di laci ingatan. Hingga satu saat muncul kembali di rak sebuah toko buku besar, ketika kami sedang berbelanja buku untuk kedua anak kami.

Baby Language; Mengajarkan Bahasa Isyarat kepada Bayi. Pengarang yang berbeda, pengungkapan yang berbeda, ilustrasi yang berbeda, namun acuannya tetap sama; American Sign Language (ASL). Tuturannya lugas dan lucu, khas lelucon para orangtua yang sudah lulus setahun pertama usia bayinya (banyak hal yang baru bisa ditertawakan orangtua ketika usia si kecil sudah lewat setahun, kebanyakan karena sebelumnya tidak punya waktu untuk berpikir bahwa hal itu lucu!).

Kenapa bayi yang dijadikan fokus? Karena bayi adalah tahap pertama manusia, ketika dia belum dapat bicara tapi sebagai mahluk hidup sudah memiliki kebutuhan, primer (makan, minum, tidur) maupun sekunder (jalan-jalan, main). Anak yang sudah mampu bicara akan dapat mengungkapkan keinginannya, walau belum sempurna. Sedangkan bayi?

Ketika bayi menangis, ada sederetan protokol yang harus dilewati untuk mengetahui penyebabnya.

  • Pegang popoknya, basahkah? Atau tidak basah tapi bau? Ganti popoknya.
  • Pegang punggungnya, basahkah? Mungkin kepanasan. Ganti bajunya atau kipas-kipasi.
  • Letakkan jari (dalam keadaan bersih) di tepi mulutnya. Dikejarkah oleh bibirnya sambil lidahnya sibuk mengecap-ngecap? Mungkin lapar/haus.
  • Pegang kakinya, dinginkah? Mungkin kedinginan. Selimuti.
  • Tepuk-tepuk punggung/pahanya, mungkin ia sedang ingin ditepuk-tepuk.
  • Selipkan jari di genggamannya. Apakah ia berusaha mengangkat kepala? Mungkin ingin bangun/digendong.
  • Pegang dahi/lehernya, panaskah? Mungkin ia tidak nyaman karena demam.

Continue reading ‘Sign with Your Baby’

Tidur bareng Mainan

Baiklah. Perhelatan 'Daud tidur tanpa menyusu' masih berlangsung. Kali ini pakai aturan baru: boleh menyusu sampai tidur hanya di hari Senin dan Sabtu. Tentu saja 'boleh' tidak sama dengan 'harus'.

Si sulung sudah biasa tidur sambil memegang buku favoritnya plus ditemani mainan hadiah ulangtahun dari pamannya. Si bungsu ternyata tak jauh-jauh.

Bermain sebagai pengantar tidur. Ketika terlihat sudah tidur, mainan diambil, ternyata langsung waspada. Wah, asal jangan sampai terbangun di atas jam 9 malam sih, apa aja deh boleh hehehe… 

Ajakan Menolak Imunisasi

Saya mendapat email ini di milis WRM, dari mbak Dinar Ardanti (halo, mom Dinar). Email ini berkisah tentang keluarga Istriyanto yang kehilangan anaknya saat berusia 7 bulan. Sedih dan trenyuh sungguh, tapi tidak mengurangi niat saya dari mengangkat beberapa masalah yang harus di'kunyah' dengan lebih cermat.

Menilai keberhasilan vaksin

Ada kisah menarik dari bu Santi Soekanto, tentang Despurrate Housewives. Sila baca sendiri. Apa hubungannya dengan imunisasi? Ada di akhir cerita tersebut: "Today, I didn't do it".

Keberhasilan imunisasi tidak nampak begitu jelas di mata awam, terutama non-petugas medis, apalagi petugas medis yang telah menjalani masa ketika tempatnya mengabdi mendapat 'limpahan' korban penyakit infeksi yang kini telah dapat dicegah oleh hadirnya vaksin.

Imunisasi tidak menyembuhkan, tidak pula menjamin 100% bahwa kita tidak akan terpapar oleh bakteri atau virus yang terkandung dalam vaksin. Seperti namanya, imunisasi bertujuan untuk membangun kekebalan tubuh atas infeksi penyakit tertentu. Caranya dengan mengenalkan bakteri atau virus yang telah dilemahkan, dalam dosis tertentu, agar tubuh memproduksi antibodi dalam jumlah yang memadai untuk melawan apabila di kemudian hari bakteri atau virus sejenis datang 'bertamu'.

Jaminan keberhasilan

father and son

Tidak ada jaminan 100%, tentu saja. Mana ada? Ini untuk vaksin apapun, dan kita berurusan dengan mahluk hidup, dengan segala keberagamannya, bagaimana bisa menjamin hasilnya 100%?

Apakah dengan memakai helm kita tidak akan terluka? Tidak, tapi helm akan membantu melindungi dan memperkecil risiko trauma pada kepala. Apakah 'keberhasilan' pemakaian helm terlihat jelas? Saya berani bilang tidak. Kenapa? Karena mereka selamat. Yang menjadi 'berita', yang laris diangkat sebagai topik di media cetak (dan elektronik), yang jadi 'subject' email yang 'bagus' untuk diteruskan ke teman-teman, umumnya berupa berita yang cenderung negatif.

Lalu bagaimana vaksin dinyatakan aman? Seperti obat dinyatakan aman. Kuncinya ada pada statistik. Kita bisa berkata itu hanya hasil permainan statistik oleh para produsen vaksin dan obat. Nyatanya kita memang bermain statistik setiap hari. Kalau dimanfaatkan dengan baik, statistik dapat menyelamatkan jiwa. Dan jika statistik hanya dijadikan alat untuk mendapat uang, uang dapat diperoleh.

Uang dan kekayaan orang lain

Satu dari sekian alasan gerakan anti-imunisasi adalah mengalirnya uang ke para produsen vaksin. Apa ada yang salah? Tampaknya menurut mereka, kita memasukkan uang ke kantong produsen vaksin dan menjadikan mereka kaya adalah salah.

Kenapa membuat orang menjadi kaya itu salah? Apalagi jika kita tidak rugi. Ah, saya ralat. Sebagian besar orang (yang menerima vaksin) tidak rugi, kecuali sebagian kecil yang 'rugi' karena tubuhnya memberi reaksi negatif terhadap vaksin.

Jika kita menolak mengeluarkan biaya hanya dengan alasan 'hanya memperkaya orang lain' atau 'bikin kaya juragan yang udah kaya', kecil kemungkinan kita bisa berbuat apapun. Kecuali mungkin, hidup di peternakan, perkebunan, atau lahan pertanian milik sendiri. Tidak perlu apa-apa dari orang lain. Masa iya?

Anda dapat membaca email lengkapnya di sini (format pdf) atau di sini (format rtf). Mohon JANGAN teruskan ke mana-mana TANPA anda sertakan uraian yang ada di artikel ini.

Continue reading ‘Ajakan Menolak Imunisasi’




! Disclaimer

bananaTalk is a personal site in the form of weblog.

NOTHING contained in this site is or should be considered, or used as a substitute for, medical advice, diagnosis or treatment.

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-Share Alike 3.0 Unported License.

»