Archived entries for

Masuk WRM

Waaah, tulisanku masuk website We R Mommies (WRM) untuk pertama kalinya! Ini memang bukan tulisan lepas, tapi diambil dari arsip bananaTALK. Seperti halnya tulisanku yang masuk Wikimu. Bagaimanapun, terimakasih redaksi WRM :)

Kapan ya tulisanku bisa tayang di majalah? Hmmm… *mengharap*

Seks dan Kehamilan

Bahasan ini tidak hanya khusus ibu-ibu, apalagi ibu hamil. Para bapak juga perlu tahu, kata cak Moki. Sedikit peringatan awal; kata-kata dalam tulisan ini akan cenderung vulgar. Apa yang anda harapkan? Saya sedang berbicara tentang seks! Dan, tidak, saya tidak menyediakan ilustrasi pendukung.

Mengapa topik dan kata-kata vulgar?

Ngapain ngomongin ginian? Sebagian perempuan yang merasa nyaman dengan teman perempuan lainnya (yang sudah menikah), dapat bertanya dengan leluasa. Atau bertanya pada ibunya. Tapi akan tetap banyak perempuan yang memilih untuk mencari tahu (sebagai tambahan atas percakapan tersebut atau sebagai pilihan utama) dari artikel di internet atau buku bacaan. Bahkan jika mereka termasuk yang tidak terhalang rasa malu untuk bertanya pada yang ‘lebih berpengalaman’.

Saya hanya menyediakan alternatif yang nyaman. Berselancar di internet, jika anda tahu caranya, dapat bersifat privat dan rahasia. Anda tak harus bertanya sambil malu-malu dengan pipi memerah sementara yang ditanya malah tersenyum-senyum geli.

Nah, mari kita hentikan basa-basi penjelasannya.

Perempuan (dan laki-laki) merasa khawatir

Ketika saya sedang memikirkan rancangan tulisan ini (baru dipikirkan, belum menulis apapun), bahasan ini diturunkan dalam majalah Parentsguide edisi Maret 2007. Seks selama kehamilan: Don't worry be happy dan Ketika Hubungan Intim Tak Lagi Bebas, dengan foto penunjang yang… ehm (kata suami, "Ya gak papa lah, itu kan majalah orangtua"). Karena itu majalah edisi tersebut juga saya masukkan sebagai referensi.

Sebagian perempuan merasa takut melakukan hubungan seksual saat hamil. Beberapa merasa gairah seksualnya menurun, karena tubuhnya melakukan banyak penyesuaian terhadap bentuk kehidupan baru yang berkembang di rahim.

Sementara di saat yang sama, gairah yang timbul ternyata meningkat. Lho? Iya, karena sudah terbebas dari pikiran tentang 'bakalan hamil gak ya?' (sudah hamil tidak bisa lebih-hamil lagi, kan?) atau 'kapan hamilnya, ya?'. Tenang, ini bukan kelainan seksual. Memang ada masanya ketika ibu hamil mengalami peningkatan gairah seksual. Ketika kondisi kesehatan tidak bermasalah, mengapa tidak? Suami juga pasti senang-senang saja :wink:

Minat menurun: trimester pertama

Pada trimester (3 bulan) pertama, biasanya gairah seks menurun. Jangankan kepingin, bangun tidur saja sudah didera mual. Morning sickness, muntah, lemas, malas, apapun yang bertolak belakang dengan semangat dan libido. Fluktuasi hormon, kelelahan, dan eneg dapat menghisap semua keinginan 'berkegiatan'.

Minat meningkat (kembali): trimester kedua

Memasuki trimester kedua, umumnya libido timbul kembali. Tubuh telah dapat menerima dan terbiasa dengan kondisi kehamilan, sehingga ibu dapat menikmati aktivitas dengan lebih leluasa ketimbang pada trimester pertama. Dan kehamilan juga belum terlalu besar dan memberatkan seperti pada trimester ketiga.

Mual-muntah dan segala rasa tidak enak biasanya sudah jauh berkurang, dan tubuh terasa lebih nyaman. Demikian pula untuk urusan ranjang. Ini akibat meningkatnya pengaliran darah ke organ-organ seksual dan payudara.

Minat menurun lagi: trimester ketiga

Libido dapat turun kembali ketika kehamilan memasuki trimester ketiga, rasa nyaman yang sudah jauh berkurang. Pegal di punggung dan pinggul, tubuh bertambah berat dengan cepat, nafas lebih sesak (karena besarnya janin mendesak dada dan lambung), dan kembali merasa mual hanyalah beberapa penyebab yang dapat 'disalahkan' atas minat seksual yang menurun.

Tapi jika anda termasuk yang tidak mengalami penurunan libido di trimester ketiga, jangan keburu merasa tidak waras. Normal saja kok. Apalagi jika anda termasuk yang menikmati masa kehamilan, dan termasuk beruntung karena tidak tersiksa oleh kaki membengkak, sakit kepala, atau keharusan beristirahat total.

Selain hal fisik, turunnya libido juga berkaitan dengan kecemasan dan kekhawatiran yang meningkat menjelang persalinan. Pertanyaan yang paling umum adalah apakah berhubungan seksual dapat membahayakan janin.

Continue reading…

Cinta di Balik Pintu

Aku sedang cuci muka ketika pintu kamar mandi diketuk.

"Hunn!"

Oh, suamiku. "Hmm?"

Tok. "Hunn?", ulangnya.

"Oi!", jawabku yang masih sibuk dengan busa di muka.

Tok tok. "Hunn?", panggilan ulang.

Lha, lagi?

"OI!", sahutku makin keras. Apaan sih? Penting banget, ya? Tapi kan udah tau aku lagi di kamar mandi, ntar dulu napa. Dia kan tau aku paling sebel kalo ada yang nyuruh aku cepet-cepet buat gantian.

"Hunn, I love you", kata suami kalem.

"HALAAAAAAHHH!", kirain apaan, "I lof yu tu!" sahutku sambil nyengir lebar.

Terdengar suara tawa yang keras di luar. Pagi yang segar. Haha.

Cerita Tema bananaTALK

Mau tahu cerita di balik tema-tema desain yang pernah (dan sedang) dipakai bananaTALK? Pak Yahya meluangkan sedikit waktu untuk menceritakannya di sini.

Sila berkomentar di tulisan itu, atau tinggalkan pesan di posting ini. Di sini juga boleh :)

Mogok Makan

Bermula di hari Minggu, ketika mbah putri memasak sop kacang merah (dengan daging dan wortel) dan ternyata Daud tidak suka. Hari itu dia hanya mau makan sereal (plus susu) dan sedikit roti. Nasi sama sekali tidak mau. Kentang ditolak. Ah, sedang malas makan. Ya sudah. Tidak dipaksa.

Hari Senin, nyaris tidak ada makanan bergizi yang mau dimasukkan ke mulutnya. Kerupuk, beberapa butir sereal, seperempat keping biskuit, 3 sendok bubur ayam. Hanya itu. Selebihnya susu sapi dan ASI.

Mau naik kursi, ngga kuat. Nangis. "Ya iya lah ngga kuat, ngga makan mana ada tenaganya?", kataku. "Bunda tidak mau bantu. Daud harus naik sendiri." lanjutku dengan 'kejam'. Hari itu dihabiskan dengan banyak tangis. Usahanya untuk bermain banyak yang gagal.

Malamnya tidur dengan gelisah. Sering sekali minta ASI. Bunda tidur tak tenang juga. Karena disedot lebih sering, jatah makanan bunda terambil. Bunda terbangun dinihari dalam keadaan lapaaaaarrr…

Hari Selasa pagi, masih tak mau makan. Dibuatkan alpukat plus susu, mau sedikit. Main sambil ngomel-ngomel. Marah-marah tak sabaran, tak jelas juga maunya apa. Tak ada isyarat, tak ada kata, yang ada cuma rengekan. Karena jengkel, buntutnya nangis. Tak ada penawarnya. "Yuk mandi saja, bawa bola dan mobilnya."

Habis mandi minta ASI. Toleransi bunda habis. "Tidak ada susu! Daud harus makan kalau tidak mau lapar", bunda mengultimatum. "Terserah kalau Daud tidak mau makan. Tapi kalau perut Daud sakit dan Daud tidak kuat main, jangan nangis! Itu risiko dari pilihanmu". Tangis lagi. "Bunda ambilkan makan, ya?", tidak ada jawaban selain tangis.

Penonton boleh bilang bunda kejam. Bunda tidak realistis, mana bisa omongan sesulit itu bisa dicerna Daud yang baru 1,5 tahun? Anda mau tahu kelanjutannya?

"Daud makan, ya. Aaa…", bunda menyuapkan nasi dan suiran daging ayam. Daud membuka mulut, mengunyah pelan-pelan, lalu menelan. Tidak minta diteruskan, tapi juga tidak menolak tawaran suapan berikutnya. Beberapa suap masuk dengan sukses. Sisanya ditolak. Ya sudah, toh tadi sempat ada alpukat dan susu yang masuk.

Moral of the story? Jika anda adalah orangtuanya, maka bertindaklah sebagai orangtua. Kata orang lain tega itu urusan mereka. Anda yang lebih kenal anak anda sendiri. Dengan mengajarinya 'sebab-akibat', mereka akan belajar menerima tanggungjawab.

Dan tidak ada susu sampai makan dihabiskan. Titik. 



Copyright © 2004–2009. All rights reserved.

RSS Feed. Powered by Wordpress and based on Modern Clix : additional facelift by amYahya