Archive for April, 2007

Lemak yang Menarik

Dari dr. Sears, tentang lemak.

Mengapa Kita Butuh Lemak?

Sumber energi. Lemak adalah makanan sumber energi yang paling efisien. Setiap gram lemak menyediakan 9 kalori energi, sedangkan karbohidrat dan protein memberi 4 kalori.

Pembangun sel. Lemak adalah bagian penting dari membran yang membungkus setiap sel di tubuh kita. Tanpa membran sel yang sehat, bagian lain dari sel tidak dapat berfungsi.

Pembangun otak. Lemak menyediakan komponen penyusun tidak hanya bagi membran sel otak, tapi juga myelin, 'jaket' lemak yang menyelimuti tiap serat syaraf, yang membuatnya mampu menghantar pesan dengan lebih cepat.

*Hm, jadi ingat iklan susu formula. Sphingomyelin, saudara-saudara? :mrgreen: *

Membantu tubuh menggunakan vitamin. Vitamin A, D, E, dan K adalah jenis vitamin yang larut dalam lemak. Hal ini berarti lemak dalam makanan membantu usus dalam menyerap vitamin-vitamin ini.

Pembangun hormon. Lemak adalah unsur pembangun sebagian senyawa terpenting bagi tubuh, termasuk prostaglandin, senyawa semacam hormon yang mengatur banyak fungsi tubuh. Lemak mengatur produksi hormon seks (literal definition, NOT intercourse), yang dapat menjelaskan mengapa sebagian remaja perempuan yang terlalu kurus mengalami keterlambatan perkembangan pubertas dan amenorrhea (hilangnya periode menstruasi pada usia subur).

Kulit yang lebih sehat. Salah satu tanda kekurangan asam lemak yang paling jelas adalah kulit yang kering dan pecah-pecah. Lapisan lemak di bawah kulit (subcutaneous fat) selain memberinya tekstur lembut juga berlaku sebagai insulasi (penyimpan, selubung) untuk membantu pengaturan panas tubuh.

Orang-orang yang kurus (ya ya deh… saya ngaku!) cenderung lebih sensitif terhadap dingin, dan orang-orang yang kegemukan cenderung lebih sensitif terhadap iklim/cuaca hangat.

Apakah anda perhatikan? Sebagian besar pelembap mengandung lemak. Selain berlaku sebagai lapisan kedap air (sehingga dapat menghalangi keluarnya air dari kulit), pelembap juga membuat kulit terasa lembut. Inilah alasannya.

Continue reading ‘Lemak yang Menarik’

Cacat Klaim Penguat Sistem Imun

Saya pernah menulis tentang suplemen dari ekstrak echinacea dan pernyataan uji klinisnya. Saat ini sudah seharusnya saya meralat sebagian tulisan tersebut, mengingat produk S Stimuno (kenapa tidak ada di arsip data BPOM, ya?) yang saya sebut memang sudah lolos uji klinis dan dinyatakan sebagai fitofarmaka, dan bukan terbuat dari echinacea.

Namun kini timbul tanda tanya lain ketika saya menemukan produk tersebut di toko swalayan kecil berlokasi dekat rumah. Seingat saya, produk S Stimuno ini diiklankan di televisi sebagai 'suplemen penguat sistim (ya, pakai 'i') imun'. Sedangkan pada kemasannya Stimuno menyatakan diri sebagai immunomodulator.

Lalu di mana masalahnya? Masalah terbesar adalah adanya 'kesenjangan' istilah. Jadi begini…

Immunomodulator bukanlah suplemen

Immunomodulator tergolong obat, pemicu reaksi sistem kekebalan tubuh yang beraksi secara spesifik (misalnya vaksin), dan non-spesifik. Dari penggolongan ini jelas bahwa produk S Stimuno tergolong non-spesifik, karena 'tujuan'nya tidak tentu. Tidak seperti vaksin, yang memicu pembentukan kekebalan terhadap virus atau bakteri tertentu.

Dari klaimnya sebagai immunomodulator (= obat golongan tertentu), sudah jelas bahwa Stimuno bukanlah suplemen. Selain itu, inkonsistensi lainnya ada pada pernyataannya sebagai fitofarmaka, sebagai 'hasil' pengujian ekstrak tumbuhan yang lolos uji klinis.

Fitofarmaka. Obat dari tumbuhan. Obat! Lho kok diiklankan sebagai suplemen?

Modulator tidak selalu berarti enhancer

Immunomodulator berfungsi untuk menormalkan kembali sistem kekebalan, ketika -pada saat dan keadaan tertentu- tubuh tidak berhasil menormalkan sistem kekebalannya sendiri. Sedangkan immune enhancer tentunya bersifat enhancing; meningkatkan (elevating).

Immunomodulator dapat bertindak untuk memperkuat (immunostimulator) atau menekan (immunosuppressive) reaksi sistem kekebalan tubuh. Sebentar, jangan menjawab dengan "Sudah jelas, kan? Pasti yang diinginkan ya immunostimulator, dong! Gimana, sih!".

Lho, klaim kan harus jelas. Batasannya harus pasti. Indikasi penggunaan jangan malah membuat penggunanya mengira-ngira dan menarik simpulan sendiri. Yang mana, dong? Kan ngga bisa dua-duanya sekaligus. Lagipula mana anda tahu mana peran yang dibutuhkan tiap orang?

Continue reading ‘Cacat Klaim Penguat Sistem Imun’

Daud Bilang Bunda

Setelah vakum beberapa lama karena sempat ngambek, Daud kembali menjalani toilet training. Dimulai dari pipis dulu, karena jadwal pupnya belum tetap. Tergantung menu makanan hari itu.

Lagipula, untuk urusan pup, pispot mengalami pergeseran fungsi. Ketimbang menjadi wadah 'buangan', Daud malah menggunakannya sebagai alat bermain sementara buangan dikeluarkan di lantai (waks!). Ya ngga papa, bunda sih tidak keberatan. Tapi kalau sedang main di rumah teman kan kasihan tuan rumah. Kembali ke pospak dulu, deh.

Pospak tetap dipakai, namun dilepas ketika dia akan pipis, lalu dipakai kembali setelah pipis. Selain saya dan ayahnya yang harus peka terhadap gejala Daud-ingin-pipis (pegang-pegang penis, tiba-tiba marah-marah tak jelas sebabnya, beringsut ke pojok atau tempat 'sepi' dan diam di sana, dll), ia juga diingatkan untuk memberitahu saya (atau ayahnya) jika merasakan sensasi ingin pipis.

"Daud, kalau mau pipis bilang bunda, ya", adalah pesan yang paling sering saya ucapkan selain "Hati-hati, nak!" dan "Pelan-pelan saja, tidak usah buru-buru nanti malah jatuh". Dibantu dengan penguasaan bahasa isyarat yang meningkat, urusan toilet training jadi lebih mudah. Maksudnya lebih mudah ditangani oleh kami, orang dewasa, belum tentu lebih mudah bagi Daud.

Dengan kejadian kecolongan di sana-sini, saya mulai awas jika kegiatan bermainnya tiba-tiba berhenti. Lalu menoleh ke saya dan mengisyaratkan 'bunda' kemudian duduk di pangkuan atau memeluk saya. Saya kira ini bukan pertanda, karena sifatnya yang ekspresif. Ternyata… itu memang pertanda.

Perhatikan kalimat pertama di paragraf keempat. Hal itu dilakukan Daud, secara literal. Yak, tepat sekali! Dia bilang 'bunda', ketimbang bilang (ke) bunda (bahwa ia ingin pipis). Duh, anakku. Bunda cuma bisa ngakak ketika menyadarinya.

Walhasil, sekarang kalau Daud bilang 'bunda', alih-alih saya tanggapi dengan, "Ada apa, sayang? Iya ini bunda" seperti sebelumnya, yang saya katakan adalah "Iya bunda. Kenapa? Daud mau pipis?" :D  




! Disclaimer

bananaTalk is a personal site in the form of weblog.

NOTHING contained in this site is or should be considered, or used as a substitute for, medical advice, diagnosis or treatment.

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-Share Alike 3.0 Unported License.

»