Archive for May, 2007

Pernyataan Sikap terhadap Susu Formula (Bayi)

Ketika iseng-iseng melongok blog saya di Friendster (yang memang tidak terurus), yang salah satu tulisan salin-tempel (dari bananaTALK ini)nya adalah tentang promosi susu formula, saya dapati komentar dari seorang ibu (halo, mbak Alfita).

Komentar tersebut senada dengan tanggapan mbak Gita (halo mbak Gita, terimakasih atas obrolan langsungnya, ya) terhadap tulisan saya yang menentang promosi susu formula. Mbak Alfita dengan jelas meminta saya 'do it nicely' dalam 'syiar (ASI eksklusif)'.

Walaupun 'baru' dua orang yang menangkap pesan secara berbeda dari yang saya maksud, saya pikir ada perlunya saya memberi pernyataan terbuka (lagi). Sebagai penegasan. Daripada bolak-balik menjelaskan dan saya kadung dikenal sebagai pelopor 'katakan tidak terhadap susu formula'. Berabe nanti.

Sebagian di antara ibu sekalian merasa tersinggung atas tulisan-tulisan saya tentang susu formula, atau 'kampanye' saya seputar Air Susu Ibu (ASI) dan pemberian ASI eksklusif, atau mungkin mengira saya punya 'sesuatu' yang berkaitan dengan 'kampanye hitam' melawan susu formula merek tertentu. Rekan ibu tersayang di manapun anda, izinkan saya curhat kali ini.

Disclaimer: susu formula yang saya maksud dalam artikel ini adalah infant formula, (dengan pengertian infant: bayi berusia 0-12 bulan), yang berarti mengecualikan SEMUA susu 'yang diformulasi khusus' bagi anak umur 1 tahun ke atas -the so called growing-up milk or whatever.

Saya bukan ahli dan tidak sempurna sebagai ibu menyusui

Saya tidak merasa ahli dalam menyusui. Bahkan saya merasa sebagai ibu yang bodoh, karena saat melahirkan anak pertama saya bahkan tidak pernah mendengar istilah latch-on, ASI eksklusif, apalagi bagaimana seharusnya pihak rumah sakit mendukung ibu dan bayi dengan 'mempromosikan' ASI eksklusif alih-alih bertindak 'kalau tidak bilang ya berarti tidak keberatan jika bayinya diberi susu formula'.

Sungguh pengalaman yang berharga. Dan saya harap ibu-ibu lain tak perlu mengalami apa yang saya alami, 'hanya' untuk mendapat 'pelajaran' yang sama: persiapkan segala sesuatu sejak kehamilan (bahkan idealnya sebelum menikah dan hamil). Mulai dari diri sendiri, pasangan, anggota keluarga yang lain, bidan atau dokter yang akan menangani, sampai memilih rumah sakit yang mendukung pilihan menyusui.

Saya sepenuhnya mengerti, bahwa masalah dalam penyusuan tidaklah sesepele yang dipikirkan orang. Bahwa menyusui adalah sesuatu yang alami, tidak butuh teori, apalagi bimbingan orang lain. Sungguh -mati- saya menyesal pernah punya pikiran seperti ini. Dan saya turut sedih dan simpati atas para ibu yang sangat ingin menyusui bayinya namun apa daya ternyata tak mampu, dengan berbagai sebab.

Lalu, mengapa saya terkesan 'antipati' terhadap susu formula? Mari kita pisahkan dua hal. Susu formula adalah satu hal. Dan promosinya adalah hal lain. Kemudian kita konsentrasi pada yang kedua. Saya TIDAK PERNAH mengatakan atau mengajak untuk mengatakan "Say no to infant formula". Yang saya katakan adalah "Katakan tidak pada PROMOSI susu formula". 

Jangan ambil hati atau menganggapnya jadi masalah pribadi ketika saya mengecam praktik promosi yang dilakukan oleh produsen susu formula pilihan (favorit?) anda untuk buah hati tersayang. Saya tidak 'menyerang' anda. Seharusnya bukan anda yang marah, tapi produsen susu formula!

Saya tidak antipati terhadap susu formula, apalagi tidak berusaha memahami perasaan ibu yang memberi susu formula pada bayinya

Sungguh saya tidak bermaksud menyinggung satupun ibu yang memberi susu formula kepada bayinya. Dengan alasan apapun. Satu, karena keputusan tersebut adalah murni hak ibu. Dua, karena yang menjalani keputusan tersebut adalah ibu (dan anaknya). Tiga, yang paling ingin saya katakan saat ini, adalah karena saya termasuk salah satu dari anda!

Saya tidak punya dendam pribadi terhadap susu formula. Susu formula tidak melakukan kejahatan apapun terhadap anak saya. Ia hanya 'benda mati' yang menolong saya ketika dilanda frustasi saat menyusui, saat ASI berkurang dan dukungan untuk menyusui -saya rasakan- berkurang, dan justru meningkat untuk beralih ke pemberian susu formula.

Ya, saya JUGA memberikan susu formula pada anak pertama saya. Jadi para ibu yang memutuskan memberi susu formula kepada anaknya tak perlu merasa sakit hati karena tulisan saya yang seolah 'kurang mengerti perasaan ibu yang memberi susu formula pada bayinya'. I was in your shoes, too! Saya tidak mengambil oposisi darimu. Bagaimana bisa?

Saya merasakan (sebagian) yang dialami dua pihak 'target' promosi susu formula

Sebagai yang pernah merasakan dua keadaan: memberi susu formula pada anak pertama sejak lahir, dan samasekali tidak memberikan susu formula pada anak kedua (sampai sekarang), saya mengerti perjuangan masing-masing 'pihak'. Bahwa menyusui bukan tanpa halangan. Ini adalah kata kuncinya.

Continue reading ‘Pernyataan Sikap terhadap Susu Formula (Bayi)’

Menulis Lagi

Maaf berpuluh maaf bagi yang bolak-balik mampir ke mari namun tidak menemukan tulisan baru sejak 24 April lalu. Mbak asisten izin mudik hampir 3 minggu lamanya. Dan anak saya yang pintar ini tidak sudi sang emak menduakannya dengan iBook dan sambungan internet, kecuali dia punya teman bermain selain saya. Ini yang repot, lha wong dia diajak main ke rumah temannya tidak mau!

Bermalam-malam (dan bersiang-siang) saya hanya 'sanggup' mencari referensi untuk ide tulisan yang berputar-putar di kepala. Sembari ditemani teman-teman yang baik, yang sudi menyapa menemani saya melawan kantuk. Tak sanggup menulis ketika harus dijeda hampir tiap 5 menit sekali. Waktunya untuk membaca dan recharge :)

Dan ketika Sabtu kemarin si mbak 'masuk kerja' lagi, ini dia hasilnya: tulisan yang baru. Seharian penuh saya mengerjakannya. Dari pagi sampai hampir pagi lagi. Sila nikmati. Doakan, supaya saya tetap konsisten menulis. Dengan lebih baik.

Menyoal Harga dan Suplementasi AA-DHA di Susu Formula Bayi

Maksud hati ingin menanggapi pertanyaan mbak Ifa. Apa daya ternyata panjangnya ampun-ampunan. Kasihan yang menyimak komentar. Baiklah dijadikan tulisan tersendiri saja.

Soal susu mahal dan susu murah yang disebutkan di komentar. Saya mendapat kesan bahwa yang mbak maksud adalah susu sapi cair biasa dan susu pertumbuhan. Apakah betul?

Kalau ya, mbak mungkin lebih puas menyimak artikel selanjutnya yang masih disusun (atau intip tulisan lama saya yang tampak 'mentah' di sini). Saya masih ingin melanjutkan bahasan susu formula bayi berkaitan dengan suplementasi dan harga. Ngga papa ya, mbak :) *maksa*

Sebelumnya, saya koreksi soal penyebutan tahun. Tidak perlu. Abaikan saja, tidak berhubungan dengan tahun. Belum ada penelitian yang terbaru –yang sebetulnya ditunggu- tentang dampak jangka panjang pemberian suplementasi asam lemak omega-6 (arachidonic acid, AA atau ARA) & asam lemak omega-3 (docosahexaenoic acid, DHA) dalam susu formula.

Jadi begini…

Komposisi susu formula (bayi) merujuk ke ASI

Sesungguhnya, susu formula bayi (infant formula) sejatinya dibuat sebagai pengganti atau pelengkap air susu ibu (ASI), bagi para ibu yang kesulitan (atau memilih tidak) menyusui bayinya. Namanya juga pengganti, jadi komposisinya harus merujuk ke 'yang akan digantikan'. Ya ASI itu tadi.

Kemudian, dari suatu penelitian, ditemukan bahwa dalam ASI terkandung AA dan DHA, yang –diduga- menyebabkan bayi-bayi yang diberi ASI mendapatkan selisih skor IQ beberapa poin lebih tinggi daripada bayi yang diberi susu formula 'biasa' (yang tidak diberi tambahan AA dan DHA).

Demi membantu para ibu yang tidak menyusui tadi, supaya bisa 'menyamakan kedudukan' dengan para ibu menyusui (dengan memberikan produk yang ‘diusahakan semirip mungkin dengan ASI’), supaya tidak khawatir karena bayinya tidak sepintar 'bayi ASI', maka ditambahkanlah AA dan DHA ke dalam susu formula.

AA dan DHA meningkatkan kecerdasan

AA dan DHA terbukti meningkatkan kecerdasan? Ya. Penelitian tentang dampak ASI terhadap kecerdasan bayi sudah memberi isyarat ini, dengan membandingkan subyek yang diberi ASI dan yang diberi susu formula 'biasa'.

Produsen susu formula bisa saja menggunakan argumen ini. Bahwa susu formula yang dibuatnya mengandung AA dan DHA sehingga dapat membantu meningkatkan kecerdasan anak. Yang perlu diingat (calon) konsumen adalah subyek penelitiannya: SESAMA peminum susu formula.

Yang diuji adalah bayi yang diberi susu formula dengan tambahan AA dan DHA, sedangkan acuan (standar)nya adalah bayi yang diberi susu formula 'biasa' (yang tidak diberi tambahan AA dan DHA). BUKAN antara bayi yang diberi susu formula (yang ditambah AA dan DHA) dengan bayi yang hanya diberi ASI.

Dengan demikian, adalah salah pengertian jika segelintir ibu memilih untuk berhenti menyusui dengan pertimbangan kandungan dalam susu formula tersuplementasi tadi lebih baik daripada ASI.

Selama ibu bisa memberikan ASI, ibu TIDAK PERLU* 'susah payah' menambal dengan susu formula bersuplementasi AA dan DHA. Apalagi dengan alasan 'agar mendapat AA & DHA'. SEMUA yang ada di susu formula telah ada di ASI, karena komposisi susu formula merujuk kepada ASI (nah, diulang lagi nih). Bagian informasi yang ini yang tidak diberitahukan oleh produsen susu formula.

Continue reading ‘Menyoal Harga dan Suplementasi AA-DHA di Susu Formula Bayi’




! Disclaimer

bananaTalk is a personal site in the form of weblog.

NOTHING contained in this site is or should be considered, or used as a substitute for, medical advice, diagnosis or treatment.

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-Share Alike 3.0 Unported License.

»