Archive for May, 2008

Seputar Menjadi Guru: Menjadi atau Bertahan

Ini sudah pernah dimuat Adi Wirasta (teman sekelas saya di I-9 SMA 8 dulu) di blognya. Tapi kurang sreg rasanya kalau tak ditampilkan di blog saya sendiri. Hitung-hitung pemanasan mulai ngeblog lagi. Maaf, betul-betul maaf saya baru sanggup blogging sekarang.

1. Bagaimana supaya bisa jadi guru?

Bertanya.
Mau jadi guru di mana? Kalau kita alumni situ, biasanya diprioritaskan sama sekolah yang bersangkutan. Masih kuliah tapi pengen ngajar di situ pun mungkin bisa. Persyaratan guru sekolah negeri dan swasta biasanya berbeda. Dan metode penerimaannya juga tidak sama. Tanyakan saja langsung pada sekolah yang diminati.

Berniat. Kalau cuma nanya doang tapi gak diteruskan usahanya ya gak jadi (guru) dong, ya.

Memenuhi syarat. Kembali ke yang pertama tadi. Tanya, syaratnya apa saja? Kita punya, ngga? Kalau ngga punya, masih bisa dipenuhi 'sambil jalan', ngga? Atau harus musti kudu dimiliki sejak awal? *misal, skor IELTS, latar pendidikan tertentu, akta 4, dll.

2. Apa enaknya jadi guru?

Orgasmik hahaha…
Mendengar kalimat "Oooh… jadi begitu" itu 'nyandu'. Ada kepuasan pribadi untuk membantu orang lain mencapai/mengerti sesuatu :) Merasa berguna dan dibutuhkan. Itu perasaan yang tidak bisa digantikan. Seperti teman :p

Enak yang lain… bayarannya? Hehehe…
Jadi guru ngga selalu memelas, kok.(Catat: TIDAK SELALU, jadi kedua kasus -makmur dan berkekurangan- keduanya ada di waktu yang bersamaan) Betul, antar daerah tidak sama. Antara PNS dan guru honorer juga tidak sama (tentunya). Antara guru sekolah swasta dan negeri juga tidak sama.

3. Kenapa kita harus jadi guru?

Tidak ada yang mengharuskan. Tapi kalau tidak ada yang menjadi guru, anakmu mau disekolahkan ke mana? Homeschooling? Pedagogi (ilmu mengajar) gimana? Belajar dulu? Sama aja, toh. Kita belajar ke guru dulu :) (Just FYI, we -my husband and I- are pretty much disagree on the idea of homeschooling, despite the benefits there are also the risks)

Semua punya alasan masing-masing. Alasanku: aku pengen kimia jadi lebih disukai dan bisa dipakai sehari-hari ngga terbatas hanya di kertas ujian.

Alasan lain: payback time. Balas budi. Alasan yang lainnya lagi: Sekolah sedang bersiap melepas guru-guru yang akan pensiun. Sekolah butuh, aku merasa bisa memberikan yang dibutuhkan.

Continue reading ‘Seputar Menjadi Guru: Menjadi atau Bertahan’

ASI Rasa Disko

Seorang teman 'boleh nemu' di ruang ngobrol (chat room) berbagi cerita di satu milis. Saya belum pernah bertemu dengannya, jadi hanya kesan yang ada dari teks dan foto yang bisa saya bagi: ceria, heboh, semangat, humoris, dan totaliter. Maksudnya, kalau mau ngasal gak tanggung-tanggung hehehe…

Yang membuat saya sangat terkesan dengan ceritanya adalah betapa acara hepi-hepi tetap jalan tanpa menanggalkan komitmen terhadap ASI eksklusif.

Aku dan Marcel suamiku udah lama nggak clubbing, nah pas ada ajakan dari temen-temen untuk pergi disko mulai deh kita tergoda. Apalagi aku… udah ngiler hidup mati aja hahaha* (ya ampun, Mel, dikau dulu nge-kost di club jangan-jangan, ya?)

Masalahnya kan aku masih nyusuin Kaei, kasian aja kalo tengah malem dia masih pake ASI perah. Jadinya demi niat clubbing *hahaha* (asli niat banget clubbing nih emak, kaya lagi ngidam aja), kan kebetulan clubnya di hotel, nah Marcel booking kamar deh di sono. Alexa ama mbaknya dan Kei tidur di sono, kita (kita? elu kali, Mel? hihihi…) ama temen-temen ke clubnya.

Tau akhirnya gimana?? Diskonya berhasil, cuma jadinya tiap 2 jam-an aku bolak-balik ke kamar untuk nyusuin (ya ampun, buka tutup dong ya gaunnya hahaha…). Yang ada aku sekalian pengencangan paha deh hahaha… Udah pake hak tinggi, bolak-balik dari club di upperground, ke kamarku di lante 27 *thx God dengan ditemukannya lift*….

Jadinya perjalanan diskoku hari itu adalah disko yang tercapek yang pernah kurasakan =)) Seru tapinyaaaa… (iya iya, Mel, kebayang ributnya kau lari sana-sini hihihi). Mamanya hore-hore, anaknya tetep di-ASI-in…wakwakwak… Tapi kalo disuruh lagi… ogaaaaaaaahhhhh. Sabar deh… ntar-ntar aja =)) ampuuun!

Boleh tidak sih sebetulnya having fun ketika masih menyusui? Hmmm… Prinsipnya sih, asal gizi ibu baik, hati ibu senang, ASI lancar, yang penting bayi tetap dapat ASI. Mau diseling berenang kek, yoga kek, aerobik, paralayang, apa lah, lakukan saja hehehe… Sesuaikan saja etikanya dengan agama (misalnya), adat, atau kesepakatan yang berlaku di keluarga :)

Walau cerita langsung soal dugem dan ASI eksklusif ini baru saya dengar dari Mel seorang, entah bagaimana saya yakin PASTI Mel tidak sendirian. Pasti banyak juga ibu-ibu yang tetap bisa hepi-hepi (dengan pilihan caranya sendiri-sendiri) tanpa menyerah dari memberikan ASI eksklusif. Go ASI :)




! Disclaimer

bananaTalk is a personal site in the form of weblog.

NOTHING contained in this site is or should be considered, or used as a substitute for, medical advice, diagnosis or treatment.

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-Share Alike 3.0 Unported License.

»


FireStats icon Powered by FireStats