Archived entries for

Oleh-oleh Acer Guraru Award 2011

Datang ke On|Off ID 2011 membuat saya merasa tua. Ya Allah, Pesta Blogger pertama itu tahun 2007, ya? Sudah berbuat apa saja saya selama ini? Adakah buahnya?

Selain haha hihi karena bahagia (salah satunya; senang difoto bareng Hanny) -ini bukan lebay- bertemu blogger-blogger (kenalan) lama, orang-orang yang selama ini saya follow di Twitter dan belum/pernah tahu wujudnya di dunia nyata, kedatangan itu mengiris-iris hati. Ampuuun, saya jadi juri Acer Guraru Award sudah dua kali, tapi blog saya isinya mana?!

Jury & the winners

Foto ini adalah saya bersama pak Agus Sampurno, pemenang Guraru Award 2011 dan pak Urip, jauh-jauh dari Kalimantan atas undangan Acer, pemenang Guraru Award 2010. Bertemu keduanya untuk pertama kali (semoga bukan terakhir kali). Continue reading…

Worry Less Starts Now

Not a very cheerful and encouraging post to start a new Gregorian year. But that’s one of my unwritten resolution: being more honest to myself. Worry less about what people think about me. And wish I could be better than what people think I am. Happy new year, mates!

The Greener Grass

It gives you comfort. Yet it gets smaller. Your wings are crippled, now. You’re afraid of so many things you used to face with strong attitude and bold heart. Since when you’ve become so coward?

I’m scared of critics. I winced every time my name is mentioned. Thinking, “What is it? Is it something bad I do?” I’m scared of people’s thought. While who knows what they are thinking now. They could be busy about themselves and not bothering a single thing about me. So why?

I’m scared of speaking my mind. I no longer dare to talk blatantly with firm tone, defending my belief. I tend to think it over. And over. And over. And in many times, it ended in silence. “Better not talk than to cause problem.” There. I got drown in it too much, I almost forgot how to talk.

I’m scared of people. Almost looks like everything ‘there’ is better than here. Absurd point of view, I know. But scared people can’t be said as truly sane.

It’s too shallow to be said as a contemplation. So, no, this is just a mumbling. I need to get this out. There, I just admitted that I’m scared.

Curtwit

Beberapa waktu lalu di Twitter muncul ungkapan, “Kalau guru saja tidak menguasai semua mata pelajaran, mengapa murid harus?” Tweet ini segera menuai RT alias diamini oleh banyak teman-temannya. Saya, yang seringkali iseng, menimpali agak serius. “What makes the difference between the common and the specialist is 75%.” Hebatnya murid saya, ngerti lho disindir halus begini.

Nilai ketuntasan minimal untuk mata pelajaran utama adalah 75. Dengan demikian kurang tepat ya kalau dikatakan murid harus menguasai semua mata pelajaran. Karena istilah ‘menguasai’ itu, menurut saya, lebih tepat untuk ditujukan pada mereka yang berkompetensi setidaknya 85%. Menurut saya, lho. Boleh beda ya.

Tapi saya mengerti yang sebetulnya anak-anak saya ini maksud. Mereka lelah. 16 mata pelajaran, nilai minimal yang harus diperjuangkan adalah 75. Kalau belum mencapai nilai tersebut, dikatakan belum tuntas alias harus ujian remedial. Ujian remedial, yang sejatinya untuk membantu, seringkali jadi terpelintir. Ujian remedial tidak dipandang sebagai kesempatan berharga, namun tuntutan, atau ungkapan masa bodoh. “Ya sudahlah. Paling juga remedial. Ngapain belajar capek-capek.” Lhooo…

Eh saya tidak bermaksud bicara tentang remedial. Ini semangat yang bagus dari kurikulum KTSP. Tentang pelaksanaannya, ya masih banyak kurangnya. Apalagi saya.

Kembali ke tweet. Saya uraikan tentang piramida belajar yang memang lebih banyak jenis pelajaran di dasar piramida ketimbang ketika menjelang puncak, yang berarti secara keilmuan sudah terspesialisasi. Dan seterusnya. Muncul komentar ‘curtwit’. Dan sayapun tertawa. Continue reading…

Membuka Payung

Ada saat-saat di mana remaja tidak klop dengan orangtuanya. Terutama soal pikiran dan pemikiran. Karena saat ini saya sudah menjalani keduanya, saya dapat bicara tentang keduanya. Dan terkadang dimintai pendapat oleh murid-murid saya.

“Bagaimana ya supaya orangtua saya mengerti bahwa saya sebetulnya tidak ingin sekolah semahal ini? Dan setinggi yang orangtua saya inginkan? Saya tidak inginkan kenyamanan dan harta. Saya ingin mengabdikan diri sebagai pekerja sosial. Saya yakin rezeki dan nasib saya ada di tangan Tuhan. Sepenuhnya saya berserah dan saya mencintai jalan ini.”

Saya yakin 100% tidak semua guru pernah mendengar ini dari muridnya. Di tengah terpaan kepraktisan, pikiran seperti ini langka. Apalagi pasca zaman ‘Rich Dad Poor Dad’. Ngapain gue sekolah repot-repot, jadi pinter. Ntar juga gue jadi karyawan. Mending bisnis deh, jadi bos.

Saya tidak mencela pembinaan wirausaha, kok. Itu sangat baik. Namun alasan yang menjadi dasarnya tidak masuk akal. “Ngapain susah-susah sekolah kalau mau jadi pengusaha. Yang drop out saja bisa sukses.” Lho memangnya hanya orang putus sekolah yang bisa jadi pengusaha? Apakah sekolah menghalangi dari wirausaha? Tidak pernah demikian. Yang ada adalah pikiran yang tidak terbuka.

Payungnya dibuka dulu, yuk!

In remembrance of one of so many insightful conversation with my students.



Copyright © 2004–2009. All rights reserved.

RSS Feed. Powered by Wordpress and based on Modern Clix : additional facelift by amYahya