Archived entries for

The Greener Grass

It gives you comfort. Yet it gets smaller. Your wings are crippled, now. You’re afraid of so many things you used to face with strong attitude and bold heart. Since when you’ve become so coward?

I’m scared of critics. I winced every time my name is mentioned. Thinking, “What is it? Is it something bad I do?” I’m scared of people’s thought. While who knows what they are thinking now. They could be busy about themselves and not bothering a single thing about me. So why?

I’m scared of speaking my mind. I no longer dare to talk blatantly with firm tone, defending my belief. I tend to think it over. And over. And over. And in many times, it ended in silence. “Better not talk than to cause problem.” There. I got drown in it too much, I almost forgot how to talk.

I’m scared of people. Almost looks like everything ‘there’ is better than here. Absurd point of view, I know. But scared people can’t be said as truly sane.

It’s too shallow to be said as a contemplation. So, no, this is just a mumbling. I need to get this out. There, I just admitted that I’m scared.

Curtwit

Beberapa waktu lalu di Twitter muncul ungkapan, “Kalau guru saja tidak menguasai semua mata pelajaran, mengapa murid harus?” Tweet ini segera menuai RT alias diamini oleh banyak teman-temannya. Saya, yang seringkali iseng, menimpali agak serius. “What makes the difference between the common and the specialist is 75%.” Hebatnya murid saya, ngerti lho disindir halus begini.

Nilai ketuntasan minimal untuk mata pelajaran utama adalah 75. Dengan demikian kurang tepat ya kalau dikatakan murid harus menguasai semua mata pelajaran. Karena istilah ‘menguasai’ itu, menurut saya, lebih tepat untuk ditujukan pada mereka yang berkompetensi setidaknya 85%. Menurut saya, lho. Boleh beda ya.

Tapi saya mengerti yang sebetulnya anak-anak saya ini maksud. Mereka lelah. 16 mata pelajaran, nilai minimal yang harus diperjuangkan adalah 75. Kalau belum mencapai nilai tersebut, dikatakan belum tuntas alias harus ujian remedial. Ujian remedial, yang sejatinya untuk membantu, seringkali jadi terpelintir. Ujian remedial tidak dipandang sebagai kesempatan berharga, namun tuntutan, atau ungkapan masa bodoh. “Ya sudahlah. Paling juga remedial. Ngapain belajar capek-capek.” Lhooo…

Eh saya tidak bermaksud bicara tentang remedial. Ini semangat yang bagus dari kurikulum KTSP. Tentang pelaksanaannya, ya masih banyak kurangnya. Apalagi saya.

Kembali ke tweet. Saya uraikan tentang piramida belajar yang memang lebih banyak jenis pelajaran di dasar piramida ketimbang ketika menjelang puncak, yang berarti secara keilmuan sudah terspesialisasi. Dan seterusnya. Muncul komentar ‘curtwit’. Dan sayapun tertawa. Continue reading…

Membuka Payung

Ada saat-saat di mana remaja tidak klop dengan orangtuanya. Terutama soal pikiran dan pemikiran. Karena saat ini saya sudah menjalani keduanya, saya dapat bicara tentang keduanya. Dan terkadang dimintai pendapat oleh murid-murid saya.

“Bagaimana ya supaya orangtua saya mengerti bahwa saya sebetulnya tidak ingin sekolah semahal ini? Dan setinggi yang orangtua saya inginkan? Saya tidak inginkan kenyamanan dan harta. Saya ingin mengabdikan diri sebagai pekerja sosial. Saya yakin rezeki dan nasib saya ada di tangan Tuhan. Sepenuhnya saya berserah dan saya mencintai jalan ini.”

Saya yakin 100% tidak semua guru pernah mendengar ini dari muridnya. Di tengah terpaan kepraktisan, pikiran seperti ini langka. Apalagi pasca zaman ‘Rich Dad Poor Dad’. Ngapain gue sekolah repot-repot, jadi pinter. Ntar juga gue jadi karyawan. Mending bisnis deh, jadi bos.

Saya tidak mencela pembinaan wirausaha, kok. Itu sangat baik. Namun alasan yang menjadi dasarnya tidak masuk akal. “Ngapain susah-susah sekolah kalau mau jadi pengusaha. Yang drop out saja bisa sukses.” Lho memangnya hanya orang putus sekolah yang bisa jadi pengusaha? Apakah sekolah menghalangi dari wirausaha? Tidak pernah demikian. Yang ada adalah pikiran yang tidak terbuka.

Payungnya dibuka dulu, yuk!

In remembrance of one of so many insightful conversation with my students.

Bottle neck

Being silent for too long can be ill for health. It’s when you have to withhold everything within. Takes a great force to keep them intact.
Bottlenecking is even better…

When to Shut Up

Love a quote when I glanced at my Twitter timeline. “Some people speak from experience. Some people, from experience, don’t speak.”

The latter might bring collateral ‘damage’, too. Other people could think that there’s no (more) problem while it still happens underneath the surface, eating from within. Or the big danger that happens to society when the wise is silent while stupidity talks louder.

God, give me the wisdom to distinct when to speak and when to stay silent. Give us patience & strength. Guide us through.



Copyright © 2004–2009. All rights reserved.

RSS Feed. Powered by Wordpress and based on Modern Clix : additional facelift by amYahya