Setahun Berjalan

Genap setahun saya menulis di blog ini. Tepat setahun setelah posting pertama. Iya, benar, baru setahun. Jadi belum layak dikatakan dedengkot :mrgreen:

Dhika tentu bermaksud memuji jika menurutnya saya yang 'datang belakangan'lah yang menemukan harta karun.

[Dhika]: Dunia blog bukan masalah lama atau barulah…:)
[saya]: Memang bukan masalah lama atau baru. Tapi yang (saya temukan) malang melintang itu mestinya yang dateng duluan, meninggalkan jejak duluan, dan merobohkan ranting/pohon duluan sehingga ditemukan pengelana yang menyusul kemudian kan? :D
{Dhika]: Teorinya emang begitu, e ndilalah yang nemuin harta karun malah yang datang belakangan :)

Ngomong-ngomong, harta karunnya apa ya, Dhika?

Komentar untuk saya.

Sebagian (besar?) yang berbaik hati berkomentar atas blog ini, biasanya berkata bahwa tulisan saya sungguh serius (seperti kata mbak Eka waktu kami kopdar Jumat kemarin). Atau terlalu serius, sampai tiba sebuah e-mail teguran untuk saya (terimakasih untuk pengirimnya). Ng-ilmiah, kata sebagian lagi.

Sekali saya disangka jurnalis oleh jurnalis beneran :mrgreen: Wah, bahagia betul. Email itu seperti menampar saya yang tak kunjung menganggap serius permintaan suami untuk menyusun buku (maafkan daku, sayangku huhuhu… kusangka kau hanya ingin membesarkan hatiku). Menjadi penulis. Yang betulan. Dan sejak itu saya serius berbenah memperbaiki cara menulis. Semoga 'sangkaan' ibu jurnalis ini terpenuhi kelak :)

Dan beberapa kali saya disangka dokter. Beneran, saya bukan dokter! Saya adalah ibu biasa yang punya ketertarikan tinggi pada bidang kesehatan. Dan seharusnya ini tidak aneh, terlepas dari latar belakang pendidikan saya. Karena, menurut saya yang namanya ibu itu ya harus menguasai masalah umum seputar kesehatan keluarga.

Harus? Ya. Harus. Bagi saya harus. Keinginan saya adalah mewujudkan sosok ibu ideal dalam diri. Ibu yang tidak serba tahu (ibu toh bukan ensiklopedi), tapi tahu apa yang harus dilakukan untuk mencari tahu dan ke mana untuk mencari.

Nge-blog doang serius amat sih?

Julukan 'blogger serius' dari beberapa sahabat membuat saya tersenyum. Senang. Ya, saya memang serius. Senang sekali dimengerti (huhu… karena katanya 'Wanita ingin dimengerti') :mrgreen: Terimakasih SMS-nya, temans!

Saya sedang berlatih menjadi penulis. Blog ini adalah wadahnya. Tempat saya membiasakan diri untuk mengurai benang pikiran menjadi bentuk yang dapat dinikmati orang lain.

Sebagai bahan pertimbangan, tentu akan lebih mudah bagi saya untuk 'menyodorkan' isi blog saya sebagai contoh karakter tulisan ketimbang berpayah-payah menguras tempat penyimpanan tugas akhir saya (yang bentuknya tulisan juga). *apa ada ya editor yang mau baca cuplikan tugas akhir sebagai contoh tulisan?*

Menulis memang tidak sulit, sekadar 'grepe-grepe keyboard' (pinjam istilah mbu) juga bisa menghasilkan deret kata. Yang perlu usaha lebih adalah menjadikan untaian kata itu sesuai maksud kita DAN dimengerti oleh orang lain dalam bentuk yang sama.

Dari saya. untuk yang ingin belajar, oleh kita

Di antara komentar yang paling saya ingat adalah: enak dibaca. Wah! Kata-kata itu sungguh menghibur saya. Mas Guntar (gak papa ya buka rahasia dikit? :) ) pernah bertanya apakah saya memang melatih 'gaya' menulis dan punya kebiasaan khusus. Hmm… Saya tidak punya kebiasaan khusus yang istimewa. Sering menulis. Itu saja.

Menulis apa yang ingin saya sampaikan. Dibaca ulang. Ngga enak; susun ulang paragraf. Hapus, tambah. Baca lagi. Siklus berulang terus, sampai saya puas. Seringkali masih minta tolong suami untuk membaca, meminta masukannya tentang logika yang saya pakai dalam pemaparan (soal penggunaan silogisme, saya percaya suami saya lebih teliti karena kuliahnya di jurusan Matematika hihihi).

Setelah tulisan muncul di halaman depan, saya baca ulang. Kalau terdapat kesalahan yang luput, disunting ulang. Baca lagi. Ketemu bagian-bagian yang saya sukai atau tidak saya sukai. Saya ingat, lalu saya jadikan penuntun untuk menulis di kali lain.

Bagian berharga untuk saya pelajari tentu saja: KOMENTAR ANDA SEMUA. Sepakat atau tidak, yang penting bagi saya adalah alasan anda. Landasan berpikir yang anda ajukan akan memperkaya dan memperluas pandangan saya (semoga juga untuk pengunjung lainnya). Dan tentu, melatih saya untuk menanggapi keragaman pendapat dengan lebih arif.

Pasti, saya masih butuh (dan akan selalu begitu) banyak belajar. Jadi saya mohon bersabarlah dengan saya.

Rajin nge-blog hanya untuk yang kurang kerjaan?

Bagi anda yang berpikir bahwa saya kurang kerjaan (atau berlebihan waktu luang) sampai sempat-sempatnya menulis serius dan panjang di blog, harap anda tahu saja bahwa pekerjaan saya di luar urusan rumah tangga adalah menulis. Ya blogging ini. Pekerjaan bagi orang yang 'kurang kerjaan', mungkin begitu tampaknya bagi sebagian orang.

Biarlah. Masing-masing orang berhak untuk bergelut di bidang yang diminati, dan semoga kelak berkompeten dalam bidang itu. Jadi, masukan bagi saya untuk yang punya pendapat sinis seperti ini: Jangan sampai bidang kompetensi anda terbatas pada mencela pekerjaan orang lain. GET A LIFE! Yang anda cela tidak rugi apa-apa.

Untuk sementara ini saya hanya menulis di blog. Mudah-mudahan keinginan untuk menulis buku saya sendiri bisa segera terwujud. Pintu sudah terbuka. Langkah pertama sudah dibuat, sisanya adalah perjalanan. Doakan saya.

Terimakasih sudah menyertai saya selama ini. Semoga selalu ada yang bermanfaat yang bisa diambil dari bananaTALK. Maafkan kekurangan dan kata-kata saya yang tak mengenakkan hati. Selamat menikmati Ramadhan raya.

Nah, saya harus melanjutkan pelajaran saya. Permisi…