Archived entries for Education

Open-note & kesempatan

Tadinya mau menulis serius tentang pelajaran. Eh kok kliyengan. Baru sempat 4 paragraf, mundur dulu. Save draft.

Ujian open-note tidak menjamin nilai bagus. Catatan OK, kalau tidak mengerti ya tidak maksimal penggunaannya.

Memang bukan soal nilai, tapi penguasaan ilmu dan hikmahnya. Diberi kesempatan pun kalau tidak pandai memanfaatkan ya lepas juga.

Teori: Bukan Asal Cakap

Ribet, Langsung Praktik Saja, lah!

Sekilas lintas, ada saja murid yang berceletuk, “Ribet amat sih pake teori. Udah, ajarin ngitungnya aja gimana.” Atau sesuai dengan menggejalanya bimbingan belajar, “Ngapain susah-susah. Pake cara cepet aja!”. Negeri kita menjadi negeri instan, ketika komentar yang sering tersembur adalah “Gitu aja kok repot”.

Untuk apa repot antri, untuk apa paham teori, untuk apa susah-susah memakai jembatan penyeberangan. Pada kenyataannya, toh menyela antrian tak berbahaya, cepat dan tak selalu diprotes. Menyeberang di bawah jembatan penyeberangan juga tak apa, toh kendaraan bermotor punya rem, mau tak mau mereka pasti mengerem. Dan untuk apa tahu teorinya kalau kita sudah tahu bagaimana cara menghitungnya, apalagi ada cara cepatnya?

Teori dan Pengasahan Logika

Kurikulum nasional kita padat dan standar penilaiannya tinggi. Murid dituntut untuk menguasai banyak sekali pokok bahasan dari banyak mata pelajaran. Tak ada pilihan, tak ada keleluasaan di sekolah negeri.

Karena materi dan mata pelajaran yang harus diajarkan banyak sedangkan waktu belajar hanya 5 hari, murid harus banyak belajar sendiri. Terutama untuk yang ‘bisa dibaca sendiri’, biasanya bagian teori. Padahal hitungan bisa dilatih, sedangkan penguasaan teori butuh bimbingan dari gurunya.
Continue reading…

Tutorial Online

Gauli saja!

Menyikut kecemburuan saya pada perangkat komunikasi (emang enak dicuekin, woy!), mengapa tidak saya rangkul sekalian saja supaya tujuan saya tercapai, toh? Cukuplah sirik-sirikannya di kelas saat saya sedang menerangkan pelajaran. Di luar itu, gadget dapat dijadikan teman karib dalam berkarya.

Sempat ditanyakan saat sesi tanya-jawab di penganugerahan dana hibah CSF 2009, “Apakah guru harus selalu mengikuti tren gaul media sosial murid? Melelahkan, bukan?”. Bukan! Eh… tentunya. Tapi tak ada yang tak memerlukan jerih payah, bukan? *bukan lagi*

Friendster sudah berlalu. Facebook masih berjaya dengan fitur album foto dan games. Twitter menjadi media jelajah yang belum banyak didatangi guru (atau saya saja yang belum cukup gaul, mungkin). Masih ada Tumblr, Posterous, Google Wave, dan lainnya yang akan segera bermunculan.

Jaim, dong!

Sebisanya, ikuti saja. Tak harus menjadi selebritas di setiap kanal. Setidaknya tahu benda apakah itu yang sedang digandrungi murid. Kalau bisa ikut ‘gaul’ di sana, lebih baik lagi. Memberi kesan bahwa guru terbuka sehingga mengurangi kesungkanan murid.

Dengan tahu banyak, murid juga merasa yakin bahwa gurunya tak ketinggalan jaman dan menjaga kekinian informasi yang diterimanya. Pastinya, tak sekadar kesan, harus dipastikan bahwa guru juga senantiasa menjaga kebaruan ilmu yang dimiliki.
Continue reading…



Copyright © 2004–2009. All rights reserved.

RSS Feed. Powered by Wordpress and based on Modern Clix : additional facelift by amYahya