Archived entries for Education

Generasi Penuntut

Prosecutor generation, tampak keren kalau memang yang berhubungan dengan hukum yang dimaksud. Sayangnya bukan. Ini ‘penyakit’ remaja saat ini. Penuh tuntutan.

Mau tahu tuntutannya? Negara ini seharusnya bisa memberi fasilitas untuk kita berkembang. Orangtua harusnya mengerti maunya kita. Sekolah harusnya bisa membuat kita begini begitu. Begitu banyak kalimat ‘seharusnya’ yang diakhiri dengan ‘kita’. Pandangannya adalah ‘apa untungnya buat gue?’. Bukan ‘apa yang bisa gue lakukan’. Basis pemikirannya adalah self-centered.

Generasi yang kritis, tapi kurang mandiri. Bahkan untuk urusan belajar dan hubungan dengan orangtua. Lemah. Begitu inginnya dibiarkan untuk mengambil keputusan sendiri, tapi begitu takut kehilangan kenikmatan hidup. Orangtua dikatakan mengekang, tapi begitu khawatir jika supir keluarga terlambat menjemput pulang sekolah. Ingin bebas dari orangtua, tapi tak dapat ‘uang THR’ ribut tentang hak. Manja.

Generasi manja yang tak tahu siapa/apa yang mereka bela. Tak fasih tentang konsekuensi. Tak tahu beda kritis dari mengeluh. Diberi beban untuk latihan lalu mengeluh ia tentang ‘life sucks’. Diberi batasan disiplin lalu memaki ia tentang ‘school sucks’. Bermasalah dengan pacar lalu berujar ‘every man is a jerk’ atau ‘life is a bitch’. Orang di ‘luar’ dibela, tapi dirinya tidak. Tidak membela kebebasan diri dengan kemampuan yang akan membekalinya untuk berdiri di kaki sendiri. Continue reading…

Curtwit

Beberapa waktu lalu di Twitter muncul ungkapan, “Kalau guru saja tidak menguasai semua mata pelajaran, mengapa murid harus?” Tweet ini segera menuai RT alias diamini oleh banyak teman-temannya. Saya, yang seringkali iseng, menimpali agak serius. “What makes the difference between the common and the specialist is 75%.” Hebatnya murid saya, ngerti lho disindir halus begini.

Nilai ketuntasan minimal untuk mata pelajaran utama adalah 75. Dengan demikian kurang tepat ya kalau dikatakan murid harus menguasai semua mata pelajaran. Karena istilah ‘menguasai’ itu, menurut saya, lebih tepat untuk ditujukan pada mereka yang berkompetensi setidaknya 85%. Menurut saya, lho. Boleh beda ya.

Tapi saya mengerti yang sebetulnya anak-anak saya ini maksud. Mereka lelah. 16 mata pelajaran, nilai minimal yang harus diperjuangkan adalah 75. Kalau belum mencapai nilai tersebut, dikatakan belum tuntas alias harus ujian remedial. Ujian remedial, yang sejatinya untuk membantu, seringkali jadi terpelintir. Ujian remedial tidak dipandang sebagai kesempatan berharga, namun tuntutan, atau ungkapan masa bodoh. “Ya sudahlah. Paling juga remedial. Ngapain belajar capek-capek.” Lhooo…

Eh saya tidak bermaksud bicara tentang remedial. Ini semangat yang bagus dari kurikulum KTSP. Tentang pelaksanaannya, ya masih banyak kurangnya. Apalagi saya.

Kembali ke tweet. Saya uraikan tentang piramida belajar yang memang lebih banyak jenis pelajaran di dasar piramida ketimbang ketika menjelang puncak, yang berarti secara keilmuan sudah terspesialisasi. Dan seterusnya. Muncul komentar ‘curtwit’. Dan sayapun tertawa. Continue reading…

Budaya Cium Tangan

Ketika anak-anak diajari dan diharapkan untuk mampu berargumentasi dengan baik, orangtua tentu sudah seharusnya berharap anak-anak akan menuntut hal yang sama dari orangtuanya. Alasan ‘pokoknya’ tidak laku. Pemberian alasan yang sederhana, logis dan tepat (secara waktu, tempat dan sesuai usia) itu penting.

Selarik tweet berbunyi ‘Budaya cium tangan mematikan dialektika antara guru dan murid serta orangtua dan anak’ cukup menggelitik urat usil saya. Apa iya, sih?

Ya. Untuk norma dan nilai, kami memilih untuk tidak kompromi. Kepada orang yang lebih tua harus sopan, bagaimanapun tidak suka. Anak-anak jadi belajar menahan diri. Merevisi cara bicara agar ‘sesuai’ dengan taraf kesopanan yang kami berlakukan.

Tidak, untuk hal-hal lain. Mereka tetap boleh bertanya, mempertanyakan dan menolak. Tentu mereka juga harus bersiap diri untuk diskusi yang panjang. Dan tak selalu kami yang ‘menang’. “Mandinya nanti saja, aku masih mau main.” Masuk akal. Tanya saja mau main sampai jam berapa, dan pandu ia untuk mengatakan sendiri janjinya. Nanti pada waktunya, ditagih.

Kenapa mandi? Ya nggak apa-apa, sih. Contoh paling mudah saja. Buat PR juga bisa, atau membereskan ceceran pritilan mainan Lego. Continue reading…

Guru Ideal. Menurut Saya.

Setelah bicara murid, mari kita bicara guru. Elemen penting yang perubahannya bisa paling dikendalikan. Karena dimulai dari kita, si guru: diri sendiri. Guru ideal itu kaya apa sih?

Komunikasi lancar

Komunikasi adalah pembicaraan dua arah. Jika di kelas, antara guru dan muridnya. Komunikasi berarti ‘nyambung’. Bukan guru bermonolog dan murid ngobrol sendiri. Atau murid bertanya dan guru menjawab entah ke mana. Komunikasi memang tidak menjamin kompetensi. Tapi setidaknya dengan komunikasi yang baik, keinginan kedua belah pihak dapat tersampaikan dan dimengerti oleh yang dituju.

Dalam penyampaian bahan ajar, kompetensi tak pernah kalah penting dari komunikasi. Jika komunikasi baik namun kompetensi gurunya kurang, pengembangan potensi peserta didik tak dapat maksimal selain dapat berisiko ‘ilmu yang salah’.

Jika peserta didik telah dapat belajar mandiri, kesalahan dalam materi yang diajarkan oleh guru dapat ditanggulangi dengan baik dengan perbaikan dari sumber yang lain. Pada tahap ini, murid diharapkan untuk mampu menyampaikan dengan baik dan sopan pendapatnya dalam usaha ‘meluruskan kesalahan’ yang dibuat oleh guru pengajar dan kebesaran hati serta sikap terbuka dari guru yang bersangkutan.

Jika peserta didik belum dapat mandiri, maka diharapkan kelak ia mampu menemukan kebenarannya dan mampu memaafkan serta maklum bahwa guru bukanlah mahluk yang tak pernah salah. Guru dapat salah, namun kesalahan guru cenderung lebih sulit termaafkan dibandingkan dengan kesalahan yang sama yang dibuat oleh ‘orang lain’. Ini adalah salah satu sisi beratnya menjadi guru.

Tak berhenti belajar

Guru tak boleh berhenti belajar dengan alasan apapun juga. Saat ia berhenti belajar, saat itu pulalah ia sebaiknya berhenti menjadi guru. Guru harus tanggap pada perkembangan zaman dan keilmuan yang diajarnya. Peka pada isu sosial dan lingkungan namun punya prinsip yang kokoh sehingga tegar dalam toleransi terhadap perbedaan. Continue reading…

Murid Ideal. Menurut Saya.

Keberhasilan pendidikan (tak hanya di sekolah) bertumpu pada 3 sudut segitiga: murid (pelaku pembelajaran), orangtua, dan guru (sekolah). Ketika salah satu sudut tidak berfungsi optimal, segitiga akan menjadi timpang. Pelaku utama layak mendapat porsi pertama dibicarakan, jadi saya akan berbagi pendapat saya tentang idealnya murid.

Ideal tak harus super

Idealnya murid, menurut saya, tak perlu yang masuk kategori super alias segala bisa. Bahasa Inggris casciscus, Matematika gemilang, Fisika dahsyat, Kimia sedap, Biologi lancar jaya. Siapa tak ingin punya murid seperti ini. All-rounder. Raportnya pasti indah dan membanggakan.

Ibarat tanaman, kata seorang murid saya, sekolah bukan mendapat biji tapi pohon. Tak ‘perlu’ dirawat sudah tumbuh sendiri. Tak usah diurus sudah maju sendiri. Ikut lomba ini-itu dan menang. Maju olimpiade internasional saat masih belia. Tentu senang punya murid seperti ini. Mengharumkan nama sekolah dan mampu membuka jalannya sendiri. Tapi bukan itu yang dimaksud dengan pendidikan. Bukan itu yang terpenting dan menjadi tujuan pendidikan.

Murid ideal bukan secemerlang apa murid di sebanyak mungkin bidang yang bisa diraih.
Tapi tentang proses belajarnya sendiri. Tentunya, evaluasi proses belajar terekam berupa nilai di raport, baik kemampuan akademik maupun psikomotor dan perilaku di kelas. Yang paling penting adalah anak belajar dan menjadi lebih baik melalui proses pembelajarannya.

Matang jiwa

Pendidikan adalah tentang menghantar peserta didik dalam menjadi pribadi yang lebih baik. Dari sisi akademik, kepribadian dan kematangan jiwa. Ketika akademik sempurna namun kepribadian rapuh, tekanan ujian dapat membuat anak stres berlebihan. Atau bersikap pongah karena mengukur teman dan gurunya dari sisi akademik saja. Yang di ’bawah’nya tak berharga. Hidup berorientasi nilai.

Jangan salah, tak hanya yang pintar saja yang begini. Yang tidak tergolong murid cemerlang juga diam-diam ada yang pongah. Menurut sebagian ini, tak penting didapatnya dari mana. Yang penting nilainya baik dan lulus. Tak heran ada yang masih dapat membusungkan dada menyebut nilai ujian nasional dengan bangga padahal semua temannya juga tahu bagaimana ia mendapatkannya.

Ketika anak memiliki kepribadian kuat dan jiwanya matang, kekurangan akademik dapat diatasinya dengan baik dengan memasrahkan diri pada usaha yang lebih banyak dan kelonggaran hati yang lebih besar andaikan nilai yang didapat masih tidak mencapai target yang diinginkannya. Murid golongan ini punya kadar gengsi yang cukup. Cukup gengsi untuk malu menyontek dan berbuat curang. Dan cukup mau menahan gengsi untuk mengakui bahwa dirinya masih ’kurang’ sehingga bersedia bertanya dan minta bantuan. Continue reading…



Copyright © 2004–2009. All rights reserved.

RSS Feed. Powered by Wordpress and based on Modern Clix : additional facelift by amYahya