Guru Ideal. Menurut Saya.
Setelah bicara murid, mari kita bicara guru. Elemen penting yang perubahannya bisa paling dikendalikan. Karena dimulai dari kita, si guru: diri sendiri. Guru ideal itu kaya apa sih?
Komunikasi lancar
Komunikasi adalah pembicaraan dua arah. Jika di kelas, antara guru dan muridnya. Komunikasi berarti ‘nyambung’. Bukan guru bermonolog dan murid ngobrol sendiri. Atau murid bertanya dan guru menjawab entah ke mana. Komunikasi memang tidak menjamin kompetensi. Tapi setidaknya dengan komunikasi yang baik, keinginan kedua belah pihak dapat tersampaikan dan dimengerti oleh yang dituju.
Dalam penyampaian bahan ajar, kompetensi tak pernah kalah penting dari komunikasi. Jika komunikasi baik namun kompetensi gurunya kurang, pengembangan potensi peserta didik tak dapat maksimal selain dapat berisiko ‘ilmu yang salah’.
Jika peserta didik telah dapat belajar mandiri, kesalahan dalam materi yang diajarkan oleh guru dapat ditanggulangi dengan baik dengan perbaikan dari sumber yang lain. Pada tahap ini, murid diharapkan untuk mampu menyampaikan dengan baik dan sopan pendapatnya dalam usaha ‘meluruskan kesalahan’ yang dibuat oleh guru pengajar dan kebesaran hati serta sikap terbuka dari guru yang bersangkutan.
Jika peserta didik belum dapat mandiri, maka diharapkan kelak ia mampu menemukan kebenarannya dan mampu memaafkan serta maklum bahwa guru bukanlah mahluk yang tak pernah salah. Guru dapat salah, namun kesalahan guru cenderung lebih sulit termaafkan dibandingkan dengan kesalahan yang sama yang dibuat oleh ‘orang lain’. Ini adalah salah satu sisi beratnya menjadi guru.
Tak berhenti belajar
Guru tak boleh berhenti belajar dengan alasan apapun juga. Saat ia berhenti belajar, saat itu pulalah ia sebaiknya berhenti menjadi guru. Guru harus tanggap pada perkembangan zaman dan keilmuan yang diajarnya. Peka pada isu sosial dan lingkungan namun punya prinsip yang kokoh sehingga tegar dalam toleransi terhadap perbedaan. Continue reading…

