Archived entries for Ladies corner

Dealing with PMS

Double kill is when a woman is having a PMS (pre-menstruation syndrome) yet her certain colleague(s) failed to read her gesture and put even more pressure on her. Snap, snap!

Some of my friends in university could tell when if their female colleagues were having PMS, just so they could stay away from trouble. This is a good effort from male species!

Well, to make it balance, then the female species should take precautions to cope with their PMS problem. Here are my advice:

Being solitude for a while is an option, if you could live without crowd. I know, it’s fun with BFFs. But although they’re close, they could get hurt too, you know. Just in case, spare your beloved people hearts.

Hold your fingers off from social media applications. This is a must. Being angry will make you easier to being wounded and getting angrier. You might make annoying status. You might tweet horrendously. If not, you’re likely to be more cynical than any other days. Maybe you didn’t really matter everyone else. At least, it matters to you.

Hold your tongue. Just give 2-3 inhale time before snapping at anyone due to their annoyance. Yes, they’re bitches. But think. Don’t say things you will regret in mere minutes. (we couldn’t possibly know if it’s regrettable in next 10 years, I guess) You’re better than that.

Drink & eat properly. I always get cranky when I’m hungry. And sleepy. This could get worse if you’re having PMS. Some works with chocolate bar(s) or drink. I’m fine with a cup of tea. Of course, extra chocolate treats would be nice :D Water always works to cool off. So grab some drink if you feel the pressure builds inside your chest.

Take a rest. Go to bed, if possible. Sleep it off. The hormone rush is already hard to deal with without being tired. We get weaker around this certain time. We will be excused. We should be. Because it will be on someone else’s cost if we’re not.

Pray. Dzikir or whatever your faith tells you. If all else fails, this should not.

It’s just a thought anyway. You can use it if you think it’s useful. If not, leave it at rest. I just need to vent off.

Bunda, Mengeluhlah

Terkesiap saya melihat sekilas permulaan sebuah ‘notes’ di Facebook. Berujar tentang betapa kecewanya sang penulis saat melihat/mendengar keluh seorang ibu, bahwa ia mencurahkan seluruh waktu dan energinya untuk anak dan keluarga dan kini merasa agak letih. Dan bosan.

Mengapa kecewa? Apakah ibu tidak boleh menjadi manusia biasa? Selama ia tidak menyemburkan kekecewaan dan letihnya pada bayi atau balita yang sedang diasuh, dan memilih untuk berkeluh pada sahabatnya, tidakkah itu pilihan yang sehat? Bahwa ia masih merasakan tanggung jawab penuh atas apa yang mungkin dapat menyakiti anaknya (walau belum dapat sepenuhnya mengerti apa yang dirasakan ibu)?

Ibu memang pahlawan. Ibu memang manusia super. Yang mendasari itu semua, ibu adalah manusia. Perempuan yang penuh perasaan. Adalah sepenuhnya wajar jika ia berujar letih saat merasakan letih, yang berkeluh bosan saat dirasanya bosan.

Apa yang salah? Yang salah adalah yang berharap terlalu tinggi pada ibu. Yang menganggap bahwa ibu tak boleh bosan dan letih. Yang berpikir bahwa ibu itu sejenis dewi, segala sempurna hingga setitik egopun tak boleh dimunculkan dari dirinya.

Lucu, padahal dalam kisah/legenda dewa-dewi, mereka justru adalah yang egois, bermain dengan menggunakan kehidupan manusia. Mungkin perumpamaan saya saja yang salah. Tidak seharusnya saya menggunakan dewi sebagai umpama. Entahlah. Tapi tidak seharusnya pula mansia biasa dianggap harus segala sempurna, bukan?

Saya memang hanya melihat ujung awal artikelnya. Secuil pula. Tak sepantasnya saya menghakimi sesuatu yang tidak saya lihat secara utuh. Begitu pula sepertinya ketika kita hendak menilai seseorang. Dan ibu tidaklah terkecuali.

Selamat Hari Ibu

Mama, bunda, ibu, dalam bahasa apapun kita memanggilnya, ibu adalah manusia mulia telah dititipi dan menopang kehidupan kita sejak titah takdir ditentukan. Payahnya selama 9 bulan lebih saat mengandung tak tergantikan oleh rintih sakit yang kita derita. Lemah tubuhnya saat mengandung tak urung mempertahankan kehidupan kita yang membebaninya bertambah-tambah setiap hari.

Dan ketika kecil kita, hingga remaja, sampai dewasa kini, tak terhitung kata yang tersembur untuknya. Yang melukai, mengiris dalam namun disembunyikannya dalam diam dan senyum. Pemakluman luar biasa dan kecintaan tak berujung adalah alasan mengapa kita tak dikutuknya karena durhaka.

Dengan kerongkongan yang tercekat karena tangis, saya berharap ibu memaafkan dan tetap memahami kenakalan saya yang sudah lewat masa pemakluman.

Dan untuk ibu bumi, yang menyokong kehidupan manusia sejak lahirnya, bahkan sebelum hadirnya Adam di permukaannya. Yang rintihnya lepas dari perhatian, yang kita perlakukan seperti ‘seharusnya memang begitu, berikan semua yang dia punya’, yang jarang kita ingat walau kita di pelukannya selama hayat masih dikandung jasad.

Syukur saya, kita, merasakan cinta ibu dalam berbagai bentuk, cara, jalan, dan warna. Semoga ibu dirahmati sepanjang hidupnya dengan berkah serba berkecukupan, kelak diampuni dosanya, dan dinaungi kesenangan abadi saat bersua dengan Allah.

Selamat hari ibu. Untuk semua :)

ASI Rasa Disko

Seorang teman 'boleh nemu' di ruang ngobrol (chat room) berbagi cerita di satu milis. Saya belum pernah bertemu dengannya, jadi hanya kesan yang ada dari teks dan foto yang bisa saya bagi: ceria, heboh, semangat, humoris, dan totaliter. Maksudnya, kalau mau ngasal gak tanggung-tanggung hehehe…

Yang membuat saya sangat terkesan dengan ceritanya adalah betapa acara hepi-hepi tetap jalan tanpa menanggalkan komitmen terhadap ASI eksklusif.

Aku dan Marcel suamiku udah lama nggak clubbing, nah pas ada ajakan dari temen-temen untuk pergi disko mulai deh kita tergoda. Apalagi aku… udah ngiler hidup mati aja hahaha* (ya ampun, Mel, dikau dulu nge-kost di club jangan-jangan, ya?)

Masalahnya kan aku masih nyusuin Kaei, kasian aja kalo tengah malem dia masih pake ASI perah. Jadinya demi niat clubbing *hahaha* (asli niat banget clubbing nih emak, kaya lagi ngidam aja), kan kebetulan clubnya di hotel, nah Marcel booking kamar deh di sono. Alexa ama mbaknya dan Kei tidur di sono, kita (kita? elu kali, Mel? hihihi…) ama temen-temen ke clubnya.

Tau akhirnya gimana?? Diskonya berhasil, cuma jadinya tiap 2 jam-an aku bolak-balik ke kamar untuk nyusuin (ya ampun, buka tutup dong ya gaunnya hahaha…). Yang ada aku sekalian pengencangan paha deh hahaha… Udah pake hak tinggi, bolak-balik dari club di upperground, ke kamarku di lante 27 *thx God dengan ditemukannya lift*….

Jadinya perjalanan diskoku hari itu adalah disko yang tercapek yang pernah kurasakan =)) Seru tapinyaaaa… (iya iya, Mel, kebayang ributnya kau lari sana-sini hihihi). Mamanya hore-hore, anaknya tetep di-ASI-in…wakwakwak… Tapi kalo disuruh lagi… ogaaaaaaaahhhhh. Sabar deh… ntar-ntar aja =)) ampuuun!

Boleh tidak sih sebetulnya having fun ketika masih menyusui? Hmmm… Prinsipnya sih, asal gizi ibu baik, hati ibu senang, ASI lancar, yang penting bayi tetap dapat ASI. Mau diseling berenang kek, yoga kek, aerobik, paralayang, apa lah, lakukan saja hehehe… Sesuaikan saja etikanya dengan agama (misalnya), adat, atau kesepakatan yang berlaku di keluarga :)

Walau cerita langsung soal dugem dan ASI eksklusif ini baru saya dengar dari Mel seorang, entah bagaimana saya yakin PASTI Mel tidak sendirian. Pasti banyak juga ibu-ibu yang tetap bisa hepi-hepi (dengan pilihan caranya sendiri-sendiri) tanpa menyerah dari memberikan ASI eksklusif. Go ASI :)

Dandan Untuk Siapa?

Beberapa hari lalu, ketika saya sedang membuka-buka katalog produk perawatan tubuh dan kosmetika, seorang rekan (laki-laki) berkomentar. "Perempuan itu HARUS dandan ya, bu?". He? Saya jawab pertanyaan itu dengan pertanyaan kembali, "Tergantung. Menurut bapak, perempuan berdandan memangnya untuk apa?"

Sebelum saya katakan jawabannya -dan mungkin sebagian besar dari anda sudah tahu jawabannya- sudilah para pembaca Banana Talk berbagi pendapatnya di sini. Pertanyaannya mudah kok, hanya dua. Menurut anda:

  1. Mengapa perempuan berdandan?
  2. Untuk siapa perempuan berdandan?

Anda laki-laki? Anda boleh menjawab. Anda perempuan? Anda berhak menjawab :) Yuk mariiiii…



Copyright © 2004–2009. All rights reserved.

RSS Feed. Powered by Wordpress and based on Modern Clix : additional facelift by amYahya