Archived entries for Parenting & nursery

Generasi Penuntut

Prosecutor generation, tampak keren kalau memang yang berhubungan dengan hukum yang dimaksud. Sayangnya bukan. Ini ‘penyakit’ remaja saat ini. Penuh tuntutan.

Mau tahu tuntutannya? Negara ini seharusnya bisa memberi fasilitas untuk kita berkembang. Orangtua harusnya mengerti maunya kita. Sekolah harusnya bisa membuat kita begini begitu. Begitu banyak kalimat ‘seharusnya’ yang diakhiri dengan ‘kita’. Pandangannya adalah ‘apa untungnya buat gue?’. Bukan ‘apa yang bisa gue lakukan’. Basis pemikirannya adalah self-centered.

Generasi yang kritis, tapi kurang mandiri. Bahkan untuk urusan belajar dan hubungan dengan orangtua. Lemah. Begitu inginnya dibiarkan untuk mengambil keputusan sendiri, tapi begitu takut kehilangan kenikmatan hidup. Orangtua dikatakan mengekang, tapi begitu khawatir jika supir keluarga terlambat menjemput pulang sekolah. Ingin bebas dari orangtua, tapi tak dapat ‘uang THR’ ribut tentang hak. Manja.

Generasi manja yang tak tahu siapa/apa yang mereka bela. Tak fasih tentang konsekuensi. Tak tahu beda kritis dari mengeluh. Diberi beban untuk latihan lalu mengeluh ia tentang ‘life sucks’. Diberi batasan disiplin lalu memaki ia tentang ‘school sucks’. Bermasalah dengan pacar lalu berujar ‘every man is a jerk’ atau ‘life is a bitch’. Orang di ‘luar’ dibela, tapi dirinya tidak. Tidak membela kebebasan diri dengan kemampuan yang akan membekalinya untuk berdiri di kaki sendiri. Continue reading…

Baru Tiga

Ayah menggunting lipatan kertas yang jika dibuka seperti orang-orang saling bergandengan tangan. 4 orang. Daud melihatnya sambil tersenyum senang. Lalu menggamit tangan bunda. Dan ayah.

Sejenak kemudian dilepasnya tangan kami. Lipatan kertas tadi dilipat sehingga yang terlihat hanya 3 orang. “Tiga. Ayah, aku, bunda!”, katanya.

*bunda menghela nafas* Iya, nak. Masih kurang satu di sini. Sabar, ya.

Macet itu Asyik

Bunda: “Wah, macet, yah. Jumat sore pula.”
Daud: “Asik… macet.” *sambil senyum-senyum*
Bunda: “Eh? Daud kok asik, nak?” *merasa salah dengar*
Daud: “Asik. Kan jadi lama.”

Ya… begitulah cara pandang lain dari kemacetan. Bisa dinikmati oleh anak-anak karena bisa lebih lama bareng orangtuanya. Walaupun 15 menit kemudian sih dia ketiduran. Sampai pagi. Yang pegel ya emak-bapaknya.

Belajar Memilih & Membuat Pilihan

Ayah mengajak Daud mandi, sementara bunda menyiapkan piyama. Karena bunda suka kuning, ya… bunda ambil yang kuning (selain karena piyama kuning ada di tumpukan paling bawah).

Habis mandi, Daud pilih-pilih piyama sendiri dan ambil yang biru.

Bunda: “Itu lho, nak, sudah bunda ambilkan.”
Daud: “Tapi aku mau yang ini.”
Bunda: “Baiklah.”
Daud: “Hmm… Ya sudah.” *taruh piyama biru kembali ke lemari, lalu mengambil piyama kuning yang disiapkan bunda*
Bunda: *awww….*

Sederhana saja, kok. Tidak ada yang istimewa. Kadang Daud mau ‘mengalah’ mengikuti pilihan orangtuanya, kadang berkeras dengan kemauannya sendiri.

Kalau sekadar pakaian, yang penting sesuai dengan keperluannya. Walau ada kalanya bosaaan… karena kaos yang dipilih yang itu-itu lagi. Bukan apa-apa, kaos itu umurnya sudah lebih dari 2 tahun. Untungnya mau berhenti pakai ketika dikatakan padanya kaos itu akan disumbangkan, sudah kekecilan. Continue reading…

Jangan Cepat Dewasa, Nak

Ada segurat sedih melihat anak yang sedang tidur di malam hari. Terbayang harinya yang sibuk belajar, bermain, dan mengeluarkan segala daya dirinya. Tidak lagi dengan bantuan saya. Tangan saya tak lagi diperlukan untuk membuatnya berdiri, membimbingnya berjalan, mewarnai, membuka halaman buku, mengetikkan tuts di keyboard…

Ada seulas hasrat agar anak tak cepat dewasa. Inginnya dapat memeluk dan menciumi harum pipi dan tubuhnya. Tak maulah anak beranjak besar diperlakukan seperti bayi begini. Pasti risih baginya dipeluk cium, apalagi kalau ketahuan temannya. “Aduh bunda, aku kan sudah besar. Ngga boleh cium!”. Aih nak, bundamu kan mahram, yeee… boleh, tauuu…

Ada seutas haru menyaksikannya menekuni buku, berusaha mengerjakan sendiri entah apa itu yang ingin dilakukannya, berupaya ‘membaca’ (walau belum bisa membaca) dan bertanya hal ini itu yang tampak sulit baginya. Dan tawa berderai bersama suara renyahnya saat ia keliru menirukan kata, “Eh… salah ngomong”, ujarnya.

Bukan tak ingin kamu bertumbuh dan berkembang, nak. Kami hanya tak rela merasa tidak diperlukan lagi di langkah-langkahmu. Ya… hanya kekhawatiran lucu dari orangtua yang menyayangimu. Menatap punggungmu saat berangkat pergi ke sekolahmu saja airmata sudah menggenang, “Anakku sudah besar”, sembari tersenyum.

Maafkan kami jika khilaf memperlakukanmu selalu sebagai bayi kami, bahkan hingga kamu dewasa nanti. Di hati kami, kamu selalu anak. Yang disayang segenap jiwa. Karena tubuhmu pernah menyatu dengan darah bunda, nak. Karena kamu pernah hidup bersangga sepenuhnya dalam tubuh bunda. Dan karena 2 tahun awal hidupmu tersambung dengan tubuh bunda melalui air susu bunda.

Maafkan jika kami terlalu sayang. Raihlah dunia dan rengkuh ia dalam genggamanmu, nak. Namun jangan biarkan ia meraja di hati. Hanya Tuhanmu yang boleh bertahta di sana.



Copyright © 2004–2009. All rights reserved.

RSS Feed. Powered by Wordpress and based on Modern Clix : additional facelift by amYahya