Archived entries for Personal

Konfirmasi

Judul yang cocok jadi tema bagi saya hari ini. Konfirmasi tak hanya berlaku untuk berita buruk (merugikan satu pihak) namun juga berita baik. Sering kita tergopoh bahagia dan menyebarluaskan kabar gembira (menurut kita), lupa bahwa hal yang menyenangkan pun harus dikonfirmasi. Ulang, kalau perlu.

Yang sedang meluas di timeline Facebook saya adalah kabar masuk Islamnya seorang ahli genetika Yahudi karena terkesan dengan aturan masa ‘iddah (menunggu) yang ada di Islam. Namun kabar ini tergolong meragukan karena nama orang Yahudi tersebut tidak ada di universitas yang disebutkan, selain diturunkannya artikel tersebut dari satu-satunya website yang menayangkan berita ini.

Mohon dimaklumi kalau format tulisan ini kurang rapi. Dibuat di WP mobile app.

*catatan perjalanan seseorang yang kecele karena sudah kadung di perjalanan tapi salah informasi tentang tempat :D *

“Walikotanya Buat Jakarta Saja, Ya!”

Dulu, waktu ke Solo setelah beberapa waktu tidak ke sana, terkesan dengan perubahan kotanya. Cantik dan rapi. Lebih teratur dan bersih. Ada mall baru, tapi tidak bertumbuhan seperti jamur layaknya di Jakarta. Ada apartemen juga, tapi tidak banyak. Cukup adanya, sehingga saya bisa melontar komentar, “Gaul banget!”.

Lalu ayah mertua bercerita tentang pasar yang dipindah. Bagaimana proses pemindahannya, yang tidak pakai gusur-gusuran paksa dengan bantuan Pamong Praja. Saya terperangah, “Eh?? Keren banget! Mau dong walikotanya buat Jakarta aja!” Beliau hanya tertawa saja waktu itu. Dan aku meringis, “Wishful thinking. Yeah I know.”

Dan tak kusembunyikan terperangah, waktu pak walikota yang dengan canda kuminta dari warga Solo itu betul-betul didatangkan ke Jakarta untuk bertanding di Pilkada. Hastagah, bapak! Saya minta bapak lho dulu.

Kaya begini tho orangnya? Nggak nyangka, blas! Ngga ada potongan perlente pejabat. Kalau tidak karena foto yang beredar dan kemeja kotak-kotaknya, saya tidak akan langsung mengenali pak Joko Widodo yang diundang ke acara buka bersama alumni ITB tadi malam. Melihat dari dekat, aku langsung paham kenapa orang ini ramai diperbincangkan. Sosoknya ‘baru’. Ndeso!

Itu bukan ledekan atau hinaan. Dengan jabatan walikota dan pujian yang berdatangan tentang keberhasilannya di Solo, masuknya nama beliau sebagai salah satu walikota terbaik dunia, naik dari pedagang hingga calon gubernur ibukota negeri, beliau ya begitu-begitu saja. Biasa saja. Sungguh ke-ndeso-an yang aku kagumi. Mungkin karena aku yang orang kota dan sudah bosan dengan pulasan manis, penghargaan terhadap jabatan & penghormatan berupa kelayakan fasilitas.

Pak, bagaimanapun hasil Pilkada nanti, saya mohon, tetaplah sederhana ya, pak. Tetap lucu dengan kepolosan & senyum bapak yang tidak dipaksakan. Pak, saya memang pernah berharap (minta, sebetulnya) bapak akan dapat memimpin Jakarta dan memperbaiki carut marut di sini. Tapi saya juga sadar, semua butuh waktu. Proses, yang dapat menyakitkan dan tampak suram. Saya mohon, bapak tetap mau mendengar seperti bapak mau mendengar, melayani & menyuguhi warga Solo yang mendatangi kantor bapak. Ya ampun pak, mana ada orang demo dikasih suguhan snack. Bapak ini ada-ada saja. Bapak doang yang iseng begitu. Dan keisengan bapak merebut keharuan saya.

Semoga yang terbaik untuk bapak.

Melawan Dunia

Pagi ini sebagai teman merencanakan semester baru, ‘Melawan dunia’-nya Peterpan mengalun di headset saya.

Hanya bisa bicara, mereka tak beri jawaban.

Tak perlu dengar kata mereka, teruslah berjalan.

Menerima masukan itu memang baik, apalagi nasihat demi perbaikan diri. Cara penyampaian memang dapat membuat isi lebih getir daripada yang seharusnya. Tapi jangan lupa pada mimpi sendiri. Dan hidup kita pribadi yang tentukan jalannya. Orang lain tak akan henti berbicara, apapun yang kita lakukan, baik ataupun buruk.

Sekilas kemarin lihat ada yang bilang,

Orang suci punya masa lalu. Pendosa punya masa depan.

Semua orang punya liku sendiri. Mungkin kelihatan murung amat dunia dilawan. Ngga, kok. Dunia direngkuh, nikmati perjalanan. Tapi kalau dicemberuti, beri senyum saja. Yuk ah semangat.

Nasihat Pekan Ini

Ketika bercerita tentang kasihan dan tak tega, ditegurlah aku, “Kasihan sama diri lo sendiri dulu, baru sama orang lain.” Dan aku terdiam. Siapa aku untuk merasa ‘di atas’ sehingga merasa kasihan pada orang lain?

Ketika rasa sedang penuh dan menyesak keluar berupa bulir-bulir tak terkendali, maka dinasihatilah aku, “Bersabarlah, nak.” Nasihat yang sederhana, dan memang hanya itu yang perlu dikatakan. Namun usaha yang diperlukannya tak kenal batas dan waktu.

Ya Allah, mampukan aku.

Moving On

Q: How are you?
L: Fine.
Q: What had happened?
L: Life :)
Q: Why is that?
L: The answer is in the eye of the beholder.

No, I don’t give up. There were times when I did things for others. It will come time when I have to stand up and do things for myself. Being selfish, you may call. But hey, isn’t life is to be lived? What we decide or do would not always please everybody. In fact, we can’t please everyone. Then just move on and go on.



Copyright © 2004–2009. All rights reserved.

RSS Feed. Powered by Wordpress and based on Modern Clix : additional facelift by amYahya