Archived entries for Teaching

New Tweet & Seat

This new academic year, I will exploit blog and Twitter more for my chemistry class. For that purpose, I made a new account (and lock the previous one) and asked the students to follow that one for news and updates about school stuff.

Since Edublogs.org only provides 20 MB quota (which is proven too small for my uploaded files) for Quick, it’s chemistry!, I’ll be using inirumahku.com server to house the files. There will be broken links but it’ll be fine. Posts are updated anyway.

Tweets are for short notice & urgent updates. If you’re my student (or not), you can follow me at litachem. I would appreciate if my students only address school-related questions to that account.

What’s the news?

I have just been assigned to be the new academic coordinator for international class. This is a huge trust and I hope I can meet the expectation. And this also means I have to drop/cancel some offers (which one has already been abandoned, I know, my sincere apology). I just wish God will strengthen & guide me through this to be a better person and bigger purpose.

So… buckle up! And wish me good things :)

Guru Ideal. Menurut Saya.

Setelah bicara murid, mari kita bicara guru. Elemen penting yang perubahannya bisa paling dikendalikan. Karena dimulai dari kita, si guru: diri sendiri. Guru ideal itu kaya apa sih?

Komunikasi lancar

Komunikasi adalah pembicaraan dua arah. Jika di kelas, antara guru dan muridnya. Komunikasi berarti ‘nyambung’. Bukan guru bermonolog dan murid ngobrol sendiri. Atau murid bertanya dan guru menjawab entah ke mana. Komunikasi memang tidak menjamin kompetensi. Tapi setidaknya dengan komunikasi yang baik, keinginan kedua belah pihak dapat tersampaikan dan dimengerti oleh yang dituju.

Dalam penyampaian bahan ajar, kompetensi tak pernah kalah penting dari komunikasi. Jika komunikasi baik namun kompetensi gurunya kurang, pengembangan potensi peserta didik tak dapat maksimal selain dapat berisiko ‘ilmu yang salah’.

Jika peserta didik telah dapat belajar mandiri, kesalahan dalam materi yang diajarkan oleh guru dapat ditanggulangi dengan baik dengan perbaikan dari sumber yang lain. Pada tahap ini, murid diharapkan untuk mampu menyampaikan dengan baik dan sopan pendapatnya dalam usaha ‘meluruskan kesalahan’ yang dibuat oleh guru pengajar dan kebesaran hati serta sikap terbuka dari guru yang bersangkutan.

Jika peserta didik belum dapat mandiri, maka diharapkan kelak ia mampu menemukan kebenarannya dan mampu memaafkan serta maklum bahwa guru bukanlah mahluk yang tak pernah salah. Guru dapat salah, namun kesalahan guru cenderung lebih sulit termaafkan dibandingkan dengan kesalahan yang sama yang dibuat oleh ‘orang lain’. Ini adalah salah satu sisi beratnya menjadi guru.

Tak berhenti belajar

Guru tak boleh berhenti belajar dengan alasan apapun juga. Saat ia berhenti belajar, saat itu pulalah ia sebaiknya berhenti menjadi guru. Guru harus tanggap pada perkembangan zaman dan keilmuan yang diajarnya. Peka pada isu sosial dan lingkungan namun punya prinsip yang kokoh sehingga tegar dalam toleransi terhadap perbedaan. Continue reading…

Murid Ideal. Menurut Saya.

Keberhasilan pendidikan (tak hanya di sekolah) bertumpu pada 3 sudut segitiga: murid (pelaku pembelajaran), orangtua, dan guru (sekolah). Ketika salah satu sudut tidak berfungsi optimal, segitiga akan menjadi timpang. Pelaku utama layak mendapat porsi pertama dibicarakan, jadi saya akan berbagi pendapat saya tentang idealnya murid.

Ideal tak harus super

Idealnya murid, menurut saya, tak perlu yang masuk kategori super alias segala bisa. Bahasa Inggris casciscus, Matematika gemilang, Fisika dahsyat, Kimia sedap, Biologi lancar jaya. Siapa tak ingin punya murid seperti ini. All-rounder. Raportnya pasti indah dan membanggakan.

Ibarat tanaman, kata seorang murid saya, sekolah bukan mendapat biji tapi pohon. Tak ‘perlu’ dirawat sudah tumbuh sendiri. Tak usah diurus sudah maju sendiri. Ikut lomba ini-itu dan menang. Maju olimpiade internasional saat masih belia. Tentu senang punya murid seperti ini. Mengharumkan nama sekolah dan mampu membuka jalannya sendiri. Tapi bukan itu yang dimaksud dengan pendidikan. Bukan itu yang terpenting dan menjadi tujuan pendidikan.

Murid ideal bukan secemerlang apa murid di sebanyak mungkin bidang yang bisa diraih.
Tapi tentang proses belajarnya sendiri. Tentunya, evaluasi proses belajar terekam berupa nilai di raport, baik kemampuan akademik maupun psikomotor dan perilaku di kelas. Yang paling penting adalah anak belajar dan menjadi lebih baik melalui proses pembelajarannya.

Matang jiwa

Pendidikan adalah tentang menghantar peserta didik dalam menjadi pribadi yang lebih baik. Dari sisi akademik, kepribadian dan kematangan jiwa. Ketika akademik sempurna namun kepribadian rapuh, tekanan ujian dapat membuat anak stres berlebihan. Atau bersikap pongah karena mengukur teman dan gurunya dari sisi akademik saja. Yang di ’bawah’nya tak berharga. Hidup berorientasi nilai.

Jangan salah, tak hanya yang pintar saja yang begini. Yang tidak tergolong murid cemerlang juga diam-diam ada yang pongah. Menurut sebagian ini, tak penting didapatnya dari mana. Yang penting nilainya baik dan lulus. Tak heran ada yang masih dapat membusungkan dada menyebut nilai ujian nasional dengan bangga padahal semua temannya juga tahu bagaimana ia mendapatkannya.

Ketika anak memiliki kepribadian kuat dan jiwanya matang, kekurangan akademik dapat diatasinya dengan baik dengan memasrahkan diri pada usaha yang lebih banyak dan kelonggaran hati yang lebih besar andaikan nilai yang didapat masih tidak mencapai target yang diinginkannya. Murid golongan ini punya kadar gengsi yang cukup. Cukup gengsi untuk malu menyontek dan berbuat curang. Dan cukup mau menahan gengsi untuk mengakui bahwa dirinya masih ’kurang’ sehingga bersedia bertanya dan minta bantuan. Continue reading…

UN dan Ujian Kejujuran

Setelah melalui pekan-pekan menegangkan, saya mulai mengurai kekusutan satu per satu. Ujian nasional adalah topik terhangat. Baik UN maupun hasilnya, sama-sama memiliki banyak sisi yang dapat digali untuk belajar. Guru -dan tentunya penentu kebijakan sistem pendidikan Indonesia- harus introspeksi. Murid tak kalah wajib untuk menilai ulang ke dalam diri.

Untuk pertama kalinya -setelah entah berapa lama- SMA Negeri 8 Jakarta tidak meluluskan beberapa siswanya. Begitu juga banyak SMA yang diunggulkan lainnya. Penyebab ketidaklulusan bukan hanya nilai UN, tapi juga Ujian Sekolah. Jika lulus UN namun tidak lulus US, penilaian yang diberikan tetap ‘tidak lulus’.

Tahun ini pula, pertama kalinya UN digelar dalam 3 kesempatan. UN -jadwal- utama, UN susulan, dan UN ulangan. Bagi murid SMA yang dinyatakan tidak lulus per 26 April 2010 kemarin, diberikan kesempatan untuk melakukan ujian kembali pada tanggal 10 Mei 2010. Karena itu, status ‘belum lulus’ lebih disukai karena kesempatan lulus UN belum tertutup.

Sebagian media menurunkan berita tentang menurunnya tingkat kelulusan sebagai tanda meningkatnya kejujuran. Jadi indikator jujur adalah tidak lulus? Lalu kalau murid saya lulus lalu saya/sekolah/sistemnya tidak jujur? Apakah ‘tidak boleh’ saya berhasil mengajarkan topik sehingga dimengerti & menghantar murid untuk berhasil juga di ujian?

Ironisnya, saya mengerti mengapa kesimpulan ini dilontarkan. Tekanan untuk lulus (sekali jadi) dan menjaga ‘nama baik sekolah’ (yang disetarakan dengan peringkat sekolah) sangatlah tinggi. Sekolah ditekan untuk mempertahankan peringkat, murid ditekan untuk lulus dengan nilai gemilang. Dan di ujungnya ada nurani anak didik dan guru, yang ditekan demi kepentingan ini semua. Membeli soal dan atau kunci jawaban hanyalah satu dari banyak metode kecurangan menuju lulus UN.

Saya tidak ingin menuding siapa dan apa. Refleksi pertama adalah diri sendiri. Mungkin selama ini saya juga kurang memberi pujian pada mereka yang jujur. Yang berusaha sekuat yang mereka bisa, walaupun tertatih dan dari segi nilai ‘melata’. Tapi jika saya berkata ‘Honesty is the best policy’, sedangkan saya hanya dapat memberi penilaian kognitif, kejujuran tak mendapat ‘tempat’ di raport dan semua jadi gombal semata.

Tentunya tidak sedramatis itu di keadaan nyata. Banyak peluang bagi guru untuk memberi penghargaan bagi yang jujur dan ‘hukuman’ bagi yang belum bisa jujur (agar ‘terpaksa’ belajar jujur dan bertanggung jawab atas konsekuensinya). Tinggal bagaimana melaksanakannya. Tidak ‘tinggal’ juga, sih. Karena tidak mudah.

Ini adalah proses panjang semua pihak. Jujur bagi murid bisa berarti berakhir di ‘remedial’. Daripada ribet belajar lagi, ya lebih baik tidak ujian ulang, toh? Sekali-dua masih ada rasa bersalah. Banyak kali, sudah jadi kebiasaan saja. Kebas. Makin lama makin besar skala curangnya. Dan kita tinggal lihat di televisi tentang berita korupsi. Tak perlu lagi kita tanya kenapa.

Tak apa, kita besarkan hati mereka yang ‘terpojok’ dengan kejujurannya, dan bimbing mereka untuk kuat dan bersabar dengan prinsipnya. Bahwa nilai adalah di atas kertas. Bahwa ujian ulang tidak ‘bikin malu’. Bahwa kejujuran membekas di jiwa, sebagai nilai yang akan mereka bawa dan wariskan untuk generasi selanjutnya.

Pada akhirnya, saya hendak mengutip perkataan Marsya Christyanti, murid saya: “Terima kasih Tuhan, aku lulus ujian kejujuran.”

Kita butuh anak-anak seperti ini. Yang ‘naif’, idealis, dan tak takut berhadapan menentang dan menantang temannya sendiri untuk berbuat jujur. Malulah pada Marsya-Marsya yang bertebaran di negeri ini, jika kita, GURU, tidak punya kekuatan hati untuk memberi contoh berbuat jujur.

Semangat, nak! Selamat untuk yang sudah lulus UN. Bagi yang belum lulus, masih ada kesempatan. Semoga dikuatkan dan sukses UN ulangannya.

Tulisan ini dimuat juga di AksiGuru.org dengan judul yang sama.

Teori: Bukan Asal Cakap

Ribet, Langsung Praktik Saja, lah!

Sekilas lintas, ada saja murid yang berceletuk, “Ribet amat sih pake teori. Udah, ajarin ngitungnya aja gimana.” Atau sesuai dengan menggejalanya bimbingan belajar, “Ngapain susah-susah. Pake cara cepet aja!”. Negeri kita menjadi negeri instan, ketika komentar yang sering tersembur adalah “Gitu aja kok repot”.

Untuk apa repot antri, untuk apa paham teori, untuk apa susah-susah memakai jembatan penyeberangan. Pada kenyataannya, toh menyela antrian tak berbahaya, cepat dan tak selalu diprotes. Menyeberang di bawah jembatan penyeberangan juga tak apa, toh kendaraan bermotor punya rem, mau tak mau mereka pasti mengerem. Dan untuk apa tahu teorinya kalau kita sudah tahu bagaimana cara menghitungnya, apalagi ada cara cepatnya?

Teori dan Pengasahan Logika

Kurikulum nasional kita padat dan standar penilaiannya tinggi. Murid dituntut untuk menguasai banyak sekali pokok bahasan dari banyak mata pelajaran. Tak ada pilihan, tak ada keleluasaan di sekolah negeri.

Karena materi dan mata pelajaran yang harus diajarkan banyak sedangkan waktu belajar hanya 5 hari, murid harus banyak belajar sendiri. Terutama untuk yang ‘bisa dibaca sendiri’, biasanya bagian teori. Padahal hitungan bisa dilatih, sedangkan penguasaan teori butuh bimbingan dari gurunya.
Continue reading…



Copyright © 2004–2009. All rights reserved.

RSS Feed. Powered by Wordpress and based on Modern Clix : additional facelift by amYahya