Berjuang untuk Menjadi Cerdas
Gerilya itu kini digemakan secara terbuka. Itulah yang terpikir oleh saya ketika membaca Kompas kemarin. Di sana diberitakan tentang komunitas maya, yang dibimbing oleh -kini- 10 (ya, sepuluh) belasan dokter spesialis dari berbagai bidang. Berjuang menjadi orangtua cerdas. Sebuah perjuangan bagi pencerahan orangtua, agar cerdas dan bijak dalam menangani masalah kesehatan keluarga.
Jika dilihat dari jumlah anggotanya (lebih dari 3000 orang), kemampuan milis ini dalam menggalang kekuatan seharusnya tidak lagi dianggap enteng. Seharusnya, ketika 3000 orang ini bicara dan berinteraksi dengan lingkungannya, baik orangtua lain ataupun dokter, maka titik-titik pencerahan akan bermunculan dan membesar seiring waktu.
Tentu saja kita bicara ideal, sebuah mimpi yang diangankan dan digagas pada mula milis ini dibentuk. Sebuah kepedulian akan pola pikir dan interaksi yang kurang sehat antara masyarakat dengan tenaga medis. Sebuah keprihatinan akan cara kerja pekerja medis yang ceroboh dan kurang rasional dalam pengobatan.
Nyatanya, selama gerilya ini, tantangan terbesar bagi para anggota dalam menerapkan ilmu yang didapat justru diterima oleh keluarga terdekat. Suami, istri, orangtua dan mertua (nenek-kakek si anak), tetangga, dan dokter, menjelma menjadi batu ujian pertama. Sama sekali tidak mudah, dan saya tidak bicara kosong karena saya merasakannya sendiri.
Ketika sudah berpuluh tahun mengenal tata laksana pemberian antibiotik yang -tidak diketahui bahwa itu- serampangan, maka saran "Minum air putih hangat yang banyak" sebagai ‘obat’ batuk akan terdengar konyol. "Batuk ya dekongestan, atau ekspektoran", begitu yang saya yakini pula ada di sebagian besar pikiran pembaca tulisan ini.
Ketika sudah terbiasa langsung ditolong dokter saat anak pilek dan mulai demam, maka saran "Terapi dengan menghirup uap air dan hanya berikan parasetamol ketika anak terlihat sangat gelisah" bisa jadi ditanggapi dengan pelototan bermakna, "Kamu gila ya?!". Ya, demam hanya gejala. Kita baru wajib ke dokter ketika demam sudah berlangsung lebih dari 72 jam dan tidak terlihat gejala lain. Jika kemudian muncul batuk-pilek, maka demam tersebut hanyalah ‘pendahuluan’ bagi selesma. Not to be worry about.
Ketika batuk membuat telinga (bagian dalam) ikut merah, maka tatapan bertanya saya pada beberapa botol obat dan kernyit dahi menjadi tak dihiraukan. Apa-apaan ini? For God’s sake, batuk yang agak lama memang dapat memerahkan sebagian telinga, and it’s just SO NORMAL! 150 ribu untuk telinga yang agak merah? Duh… ngenes!
Bukan, bukan saya mengajak untuk lengah. Bukan pula untuk bersikap anti terhadap obat, antibiotik, jamu, dan suplemen seperti yang mungkin terlihat. Saya hanya mengajak untuk bersikap rasional dan bijak. Bahwa solusi berupa pengobatan sifatnya sempit.
Tidak semua penyakit harus diobati dengan antibiotik. Gejala flu dan selesma tidak memerlukan vitamin C sebagai penawar. Mengentalkan ASI (dengan cara minum jamu) tidak selalu berakibat baik. Dan antibiotik merupakan berkah luar biasa yang dapat menjadi penolong jiwa HANYA JIKA diberikan pada kasus yang tepat dengan kriteria dan uji yang spesifik, tidak asal gempur seperti saat ini banyak dipraktikkan.
Bersabarlah! Kecuali tangan Tuhan yang seketika, maka penyembuhan membutuhkan waktu. Tak perlu pindah dokter hanya karena obat yang diberikan tidak menampakkan kemanjuran dalam 1-2 kali minum. Hei! Kita bicara tentang kemampuan manusia di sini! [sudahlah, jangan sodorkan dukun atau apapun pengobatan alternatif yang memindahkan penyakit ke medium lain itu kepada saya. Waraskah anda?!]
Jadi, mari berpikiran terbuka. Mari bersikap rasional. Mari berlaku hati-hati. Mari berlaku tegar, dengan tidak menyerahkan kehidupan dan mengalungkan medali tanggung jawab kepada dokter. Mari pikul bersama tanggung jawab terhadap generasi kehidupan sekarang dan masa depan. Mari berpartner dengan semua pihak. It takes two to tango, ‘dokter saja’ akan bertepuk sebelah tangan.
Bravo milis sehat!
Saya bangga menjadi anggotamu. Let’s do the tango. Ah, impian saya: tarian rakyat, massal!


OK, setuju mbokde Lita!, mari kita sebarkan ini ke masyarakat.
Aku termasuk orang goblok kalo udah ngomongin kesehatan, walaupun kalau sama dokter tetep saja ngeyel kalau masih ada kesadaran. Tapi kalau sakit sudah agak parah biasanya pasrah bongkokan pada dokter.
Saatnya masyarakat, dan aku sendiri, tahu kebenaranitu lebih murah daripada kenyataan.