Minuman Bebas Pengawet
Minuman bebas pengawet bisa dilihat dari botolnya.
Pengisian suhu tinggi pada botol khusus tahan panas perlu untuk menghindari pemakaian bahan pengawet. Botol biasa tak mungkin tahan.
Advanced sterilizing technology.
Dijamin bebas pengawet. TERBUKTI!
Iklannya terkesan ilmiah. Disertai pembuktian. Namun logika yang digunakan terasa dipaksakan. Tidak tepat sasaran.
Asumsi yang diberikan oleh adalah: jika botol yang digunakan bersifat tahan panas, maka minumannya bebas pengawet. Benarkah demikian? Mari, kita ikut-ikutan ilmiah.
Hubungan antara kemasan dan isi.
Jika benar berlaku demikian, maka seharusnya berlaku pernyataan ‘jika minumannya diberi pengawet, maka botol yang digunakan bersifat tidak tahan panas’. Kenyataannya tidak demikian. Botol dari bahan gelas lebih tahan panas daripada botol berbahan plastik. Tapi tidak berarti (minuman) isinya lantas berpengawet.
Botol yang tahan panas dengan minuman yang bebas pengawet sebenarnya tidak ada hubungannya (secara langsung). Kemasan susu pasteurisasi tidak tahan panas, tapi isinya tidak diberi pengawet (sehingga masa simpannya sangat singkat). Kemasan makanan kalengan tahan panas, tapi belum tentu isinya tidak diberi pengawet.
Advanced sterilization technology.
Sebenarnya yang dimaksud dengan advanced sterilizing technology itu apa? Advanced bagian mananya?
Sterilisasi dengan memanaskan air sepertinya tidak termasuk teknologi advanced. Tidak sophisticated. Mendidihkan air dengan bahan bakar minyak tanah pasti tidak asing. Pakai kayu bakar juga bisa, tak perlu teknologi tinggi.
Oh, mungkin yang dimaksud advanced itu adalah material botolnya? Mestinya jangan bilang advanced sterilization dong, tapi advanced packaging. Tapi, kalau dikatakan advanced sepertinya juga tidak. Jika sifat yang dipentingkan hanya tahan panas dan tidak mengandung material yang berbahaya, kemasan wadah air minum tidak perlu material yang advanced. Tidak perlu yang bersifat tahan asam/basa atau kedap cahaya.
Lha, jadi advanced di sini sebenarnya artinya apa sih?
Teknologi sterilisasi.
Ada banyak cara sterilisasi. Cara fisika misalnya dengan sinar ultraviolet (UV), radiasi, ozonasi, menggunakan ultrafiltrasi, dan dengan pemanasan. Cara kimia yaitu dengan diberi penyucihama, misalnya dengan larutan oksidator kuat (semacam hidrogen peroksida atau asam hipoklorit), alkohol 70%, dan yang populer: formalin.
Penggunaan zat kimia dalam industri makanan (dan minuman) harus sangat hati-hati. Sebisa mungkin senyawa kimia tidak bersentuhan langsung dengan produk makanan. Sehingga pilihan yang umum adalah sterilisasi secara fisika.
Penggunaan sinar ultraviolet, radiasi, dan ozonasi memerlukan kecermatan yang tinggi. Salah langkah bisa-bisa merusak susunan senyawa kimia dalam produk. Dengan menyingkirkan pilihan ini, yang tersisa adalah sterilisasi dengan membran dan pemanasan.
Sterilisasi menggunakan membran yaitu dengan melewatkan cairan pada membran. Ukuran pori membran dipilih sedemikian rupa sehingga mampu menyaring mikroorganisme. Filtrat (cairan hasil penyaringan) hasilnya diharapkan bebas dari mikroorganisme.
Seingat saya, teknologi membran sudah sangat maju sehingga virus pun bisa dipisahkan. Tapi untuk industri yang sifatnya bulk (volume produk besar dan harganya murah) rasanya pilihan ini bukan yang utama. Makin kecil ukuran pori, makin mahal harganya, makin banyak tahapan prosesnya, dan makin sulit perawatannya. Sehingga lebih cocok untuk industri yang sifatnya fine (volume produk kecil dan harganya mahal).
Kerugian produk akibat panas.
Yang paling fatal dari iklan ini adalah menerangkan bahwa minuman disterilkan dengan cara pemanasan. Kenapa? Karena minuman yang diiklankan tersebut mengandung vitamin, senyawa kimia yang rusak oleh panas!
Penambahan vitamin yang dilakukan setelah cairan didinginkan juga bukan solusi yang tepat. Kandungan vitamin dalam minuman pasti kecil, yang membuatnya mustahil untuk ditambahkan dalam bentuk kristal atau serbuk ke tiap botol. Lalu pengadukannya bagaimana?
Bila vitamin tersedia dalam bentuk larutan yang ditambahkan pada cairan yang telah disterilisasi, lalu apa fungsinya sterilisasi? Larutan vitaminnya disterilisasi dulu, begitu? Dengan proses tanpa panas sehingga tidak merusak? Kenapa tidak melarutkan vitamin lebih dulu baru kemudian cairan disterilisasi?
Saya harap anda tidak bingung. Singkatnya begini; konsekuensi proses yang dipilih (minimal) ada dua.
Jika kandungan vitamin hendak dipertahankan, maka sterilisasi dengan pemanasan harus dilakukan dalam waktu yang sangat singkat misalnya dengan UHT (Ultra High Temperature). Rasanya kok boros ya? Boros energi, boros uang, boros proses. Tidak efisien. Dan bukan proses ini yang dijelaskan oleh iklan itu. Lagipula UHT itu lebih cocok untuk produk susu.
Jika yang dipilih memang proses sterilisasi, lalu bagaimana dengan kandungan vitamin yang diklaim? Sekadar informasi bahwa vitamin yang ditambahkan jumlahnya adalah sekian namun sebenarnya sebagian (semoga tidak semua) telah rusak akibat pemanasan? Pembohongan dong namanya. Judulnya saja vitamin water.
Tidak tepat sasaran.
Jika yang diklaim adalah isi, kenapa yang dibahas adalah botolnya? Bagi produsen yang berpikiran jauh ke depan, pemilihan kemasan yang baik tidak semata oleh kegunaannya sebagai wadah. Kemasan juga harus ramah lingkungan dan dapat diolah kembali.
Desain dan material kemasan yang dipilih diharapkan mampu berfungsi optimal dalam melindungi isi, sekaligus memudahkan proses daur ulang dan penguraian. Yang demikian ini lebih mudah dicapai bila ambang temperatur rusaknya kemasan tidak terlalu tinggi.
Proses daur ulang yang memerlukan temperatur yang sangat tinggi tentu tidak ekonomis dan membuat pelakunya menghindar. Jika demikian, bumi ini harus menanggung sampah yang tidak dapat dipungut kembali dan sukar diurai. Pasti bukan efek yang diinginkan bagi pengusaha yang berwawasan lingkungan (Maap sodara-sodara, saya ini mantan asisten kuliah Pengelolaan Limbah Industri, hehehe).
Material kemasan yang bersifat tahan panas bukan isu utama. Seperti halnya minyak goreng yang tidak beku di temperatur lemari pendingin itu tidak penting.
Jadi bagaimana?
Saya tidak tahu. Saya cuma ingin berbagi pertanyaan-pertanyaan yang muncul di pikiran saya. Selanjutnya, terserah anda. Mau percaya atau tidak, mau beli atau tidak, iklannya benar atau bohong, itu di luar bahasan saya. Bahkan saya tidak mampu membuktikan apakah minuman tersebut (dan lainnya) bebas pengawet atau tidak. Saat ini saya hanya ingin ngomyang
Oh ya, saya mohon koreksi dari para pembaca, terutama yang berkutat di bidang teknologi proses atau teknologi pengolahan pangan.


Wealah Mbak, saya sudah sampe berkerut lha kok akhirnya ngomyang, ndobos kayak saya.
“Pertanyaan-pertanyaannya” sangat bermanfaat, buat saya ini informasi.