Saya dan Susu Formula

Sesuai janji kemarin, berikut ini akan saya tampilkan keseluruhan 'wawancara' dengan Mom & Kiddie (dengan suntingan seperlunya). Berikut ini adalah daftar pertanyaan yang diberikan oleh redaktur.

Ass.wr.wb,

Mba Lita, ini Dian dari Tabloid Mom and Kiddie. Kami tertarik pada tulisan Mba Lita tentang, "Katakan Tidak pada Susu Formula" di salah satu artikel Mba. Makanya kami ingin mengulas dan memuatnya pada edisi  mendatang, tepatnya tanggal 26 Agustus 2006 di rubrik Kids Room khusus untuk Neonatal. Berikut ini pertanyaannya:

  1. Bagaimana dengan pengalaman pribadi Anda sendiri sehubungan dengan produk susu fomula tersebut?
  2. Dari tulisan tersebut, ada ngga yang tertarik lalu mengikuti ajakan Mba agar tidak mengkonsumsi susu formula? bila iya saya minta contact personnya?
  3. Apa manfaatnya bagi ibu dan si kecil tanpa mengkonsumsi produk susu formula?
  4. Kalau sudah terlanjur mengkonsumsi susu formula, apa yang harus dilakukan? apakah harus menghentikannya? dan bagaimana konsekuensinya?
  5. Mba dengan tegas untuk menghentikan susu formula bagi balita, beranikah Anda untuk menjadi pelopor untuk katakan tidak pada susu formula? bila ya kenapa sebaliknya bila tidak juga kenapa?

Demikian surat ini dian sampaikan, tapi bilamana ada yang masih perlu ditanyakan kembali saya mohon bantuan Mba untuk menjawabnya. Atas perhatian dan kerjasamanya saya mengucapkan terima kasih

Hormat saya,
Redaksi Tabloid Mom and Kiddie
Dian Wisudani

Yang selanjutnya ini adalah jawaban saya terhadap pertanyaan dari Mom & Kiddie. Tulisan yang mendapat latar berwarna biru adalah yang dimuat di tabloid. Sisanya dipangkas namun saya muat di sini. Sedangkan tulisan dengan huruf miring seperti di paragraf ini adalah tanggapan dari saya terhadap artikel di Mom & Kiddie tersebut.

Yang pertama perlu saya koreksi adalah saya tidak anti pada produk susu formula. Artikel tersebut menentang praktik promosi produk susu formula yang makin merajalela dan cenderung menyalahi etika internasional yang berlaku mengenai pemasaran produk pengganti ASI. Dan bukan sebagai pernyataan bahwa saya menentang eksistensi susu formula.

Saya akui, keberadaan susu formula sangat membantu para ibu yang memang memiliki kelainan sehingga tidak dapat menyusui bayinya. Namun begitu, saya menyayangkan apabila keputusan untuk memberikan susu formula semata karena ingin bayi lebih ‘tenang’ (yang diduga karena kenyang) tanpa berusaha mencari tahu akar permasalahannya. Susu formula merupakan alternatif solusi terakhir, ketika berbagai cara (relaktasi, pengondisian mental ibu, perbaikan nutrisi, dan lain-lain) tidak berhasil.

Mom & Kiddie menurunkan artikel hasil wawancara dengan judul Apakah Bayi Baru Lahir Bisa Minum Susu Formula?, yang menurut saya kurang tepat dan kurang menyentuh permasalahan. Sebab jawaban dari pertanyaan tersebut sangat sederhana: BISA, sedangkan artikel tersebut lebih memberatkan pada praktik pemberian susu formula oleh rumah sakit kepada bayi baru lahir dan konsekuensinya. Kutipan berikut ini adalah pembuka dari redaksi.

Banyak susu formula mengklaim memiliki semua kandungan seperti yang terdapat di dalam ASI. Tetapi, apakah bayi yang baru lahir boleh (perhatikan perubahan redaksi dari bisa -pada judul- menjadi boleh. IMHO, bisa dan boleh adalah 2 hal yang berbeda.) minum susu formula -seperti yang dipraktekkan oleh beberapa rumah bersalin. Akibatnya, bayi cenderung hanya mau minum susu formula yang persis diberikan di rumah bersalin itu. Bagaimana mengatasinya?

Susu formula bayi adalah cairan atau bubuk dengan formula tertentu yang diberikan pada bayi dan anak-anak. Susu formula dibuat sebagai makanan tambahan ASI. Susu formula memiliki peranan yang penting dalam makanan bayi karena seringkali bertindak sebagai satu-satunya sumber gizi bagi bayi.

Pada dasarnya, memang benar kandungan susu formula mengacu pada apa yang juga terkandung di dalam ASI. Bila di dalam ASI terdapat beragam nutrisi seperti DHA, AA/ARA dan nukleotida, begitu pula dengan susu formula. Tapi bila bicara mengenai masalah kualitas dan efek sampingnya, yaitu kedekatan secara emosional antara ibu dan anak, sudah jelas ASI memenangkan pertarungan ini.

Izinkan saya mengoreksi. Tidak semua susu formula dilengkapi dengan DHA, ARA, dan nukleotida sebagai nutrisi tambahan khusus.

Kalimat kedua dalam paragraf di atas mengesankan bahwa apa yang ada di dalam ASI juga dapat ditemukan di dalam susu formula. Ini tidak tepat.Yang berlaku adalah sebaliknya: apa yang ada di susu formula dapat ditemukan di dalam ASI, karena -seperti dijelaskan dalam kalimat sebelumnya- kandungan susu formula mengacu pada komposisi ASI.

Berikut ini tanggapan dari pihak rumah sakit (dokter dan perawat) juga paparan seorang ibu yang bayinya mengonsumsi susu formula, meski sempat menentang praktik promosi susu formula yang makin merajalela dan cenderung menyalahi etika internasional yang berlaku mengenai pemasaran produk pengganti ASI.

lita dan daudSaya hendak meluruskan. Kesan yang didapat dari paragraf ini adalah saya sempat menentang praktik promosi susu formula, namun akhirnya 'menyerah' dan memberikan (juga) susu formula kepada bayi saya. Urutan kejadian yang sebenarnya dapat disimak pada jawaban wawancara saya selanjutnya.

Saya memberikan susu formula kepada anak pertama (dimulai saat ia masih bayi dan tergolong baru lahir) pada saat saya belum tahu tentang ASI eksklusif. (Ampun, betapa menyesalnya saya! Hari gini?!) Setelah anak kedua -yang sukses diberi ASI eksklusif- lahir, barulah saya membuat pernyataan terbuka dalam menentang praktik promosi susu formula.

Kenyataan bahwa si sulung hingga saat ini masih mengonsumsi susu formula secara tandem dengan susu UHT tidak bertentangan dengan pendapat saya mengenai promosi susu formula yang menginvasi wilayah privat hak ibu untuk menyusui. Jadi kata 'sempat' itu tidak cocok penggunaannya dan saya menggunakan hak jawab saya untuk 'protes'. :mrgreen:

Pengalaman pribadi

Ekstraksi vakum dan susu formula

Proses kelahiran anak pertama saya dibantu dengan ekstraksi vakum. Pihak RS (diwakili dokter) mengatakan bahwa ekstraksi vakum akan menyebabkan trauma pada kepala sehingga bayi tidak boleh diangkat dari tempat tidurnya selama beberapa hari. Dengan begitu, saya harus memerah ASI untuk diberikan dengan botol.

Pada saat itu ASI saya sudah keluar dengan baik, sayangnya saya tidak tahu bagaimana cara memerah ASI dengan baik sehingga hasil perahan sangat sedikit. Dengan terpaksa (karena merasa tidak punya pilihan lain), saya menyetujui pilihan untuk memberikan susu formula yang disediakan oleh pihak RS. Rupanya RS tersebut memiliki ‘prosedur baku’ untuk menyediakan susu formula merk tertentu, yang merknya dapat dilihat pada setiap keranjang bayi dan diinformasikan pada ibu sang bayi menjelang kepulangan.

Hingga saat ini, anak pertama saya masih mengonsumsi susu formula. Berbagai cara telah dilakukan untuk mengalihkannya ke susu UHT, tapi ujungnya susu UHT hanya menjadi ‘camilan’ untuknya sementara susu formula jalan terus. Dengan begini, alternatif lain yang saya pilih adalah dengan mengganti merk. Alhamdulillah anak saya tidak bermasalah dengan susu formula ‘murah’. Dan saya sendiri tidak khawatir dengan gizinya, sebab usianya sudah lebih dari 2 tahun dan sudah dapat makan makanan meja (makanan yang sama dengan yang dimakan orang dewasa) dengan baik.

Belakangan ini saya baru tahu, bahwa trauma pasca kelahiran dengan ekstraksi vakum tidaklah menghalangi bayi untuk dapat disusui langsung oleh ibu. Tentu dengan membatasi pergerakan seperlunya, tidak sebebas perlakuan pada bayi yang dilahirkan spontan.

Selain itu, ternyata kesulitan memerah ASI yang saya alami seharusnya tidak menjadi alasan untuk memberikan susu formula andai saja saya bertanya (dan perawat membantu) bagaimana cara memerah ASI dengan benar. Tentu saja kesabaran dibutuhkan, karena pada percobaan pertama-tama kesulitan memang ada namun setelah terbiasa ASI akan memancar dengan baik.

Akibat mengonsumsi susu formula

Tidak ada akibat negatif yang spesifik -yang dapat saya amati- terhadap kesehatan anak pertama saya oleh pemberian susu formula sejak kelahirannya, kecuali efek terhadap mental ibu (baca: saya) bahwa saya memiliki jalan keluar ‘instan’ bila terdapat kesulitan (misalnya jumlah ASI berkurang). Apabila anak masih menangis setelah baru saja disusui, maka dia langsung diberi susu formula dengan anggapan dia masih lapar. Padahal bisa jadi anak membutuhkan hal lain, misalnya ingin bersendawa.

Bisa jadi masalah utama ada pada ke’kurang-gigih’an anak dalam menghisap. ASI memerlukan waktu beberapa jenak untuk dapat dikeluarkan dengan baik, dan akan terus keluar selama anak menghisap dengan kuat. Tapi jika anak diberi susu formula (dan dengan botol) maka anak tak perlu menunggu apalagi menghisap dengan kuat, susu akan keluar dengan mudah tanpa anak harus berusaha keras. Ini menyebabkan anak sedikit malas menyusu langsung.

Frekuensi menyusu langsung yang berkurang mengakibatkan produksi ASI juga berkurang, karena ASI tersedia berdasarkan prinsip ada permintaan, ada pasokan. Semakin sering anak minum susu dari botol, semakin mungkin ia malas menyusu langsung. (Ini memang sebuah siklus yang memerlukan usaha keras dalam memutusnya!)

Akibat lain yang dapat ‘diduga’ akibat pemberian susu formula sejak dini -berdasarkan pengalaman ibu-ibu lain- adalah pengenalan makanan (dan rasa) baru yang lebih sulit. Rasa ASI tidak selalu sama, bergantung pada makanan yang dimakan ibu dan komposisi ASI. Komposisi ASI ini sendiri juga berubah, seiring usia bayi. Perubahan-perubahan pada rasa dan komposisi ini membuat bayi terbiasa pada pergantian rasa, dengan demikian mengurangi risiko penolakan terhadap rasa saat anak dikenalkan pada makanan padat.

Belajar dari pengalaman lalu, persediaan membuat ‘malas’

Kegagalan saya untuk menyusui secara eksklusif bisa jadi pula merupakan ‘kesalahan’ saya sendiri. Saya mengira bayi menangis karena lapar, akibat ASI saya kurang. Saya menyalahkan diri yang tidak mampu memproduksi ASI sebanyak yang diperlukan. Dan ini adalah kesalahan fatal. Dengan pikiran semacam ini, produksi ASI juga akan berkurang karena stres dan pikiran negatif.

Pasca kelahiran anak kedua, tubuh saya memberi pembuktian, bahwa saya mampu menyusui secara eksklusif, bahwa saya mampu memberi pasokan penuh tanpa perlu disokong oleh susu formula.

Jadi kini saya menyadari sepenuhnya, bahwa adanya susu formula, bagi ibu yang mampu menyusui, merupakan hal yang wajib dihindari. Agar ibu tidak mempunyai alasan untuk malas mencari akar masalah dan memakai solusi siap pakai.

Walaupun ibu mampu menyusui dengan baik, tapi jika di rumah tersedia persediaan susu formula (dengan alasan untuk jaga-jaga), maka berbagai alasan akan bisa dipakai untuk membenarkan pemberian susu formula. Di antara alasan yang paling populer adalah:

  • supaya susu tidak mubazir (sudah dibeli namun menjelang kadaluarsa jika tidak dipakai),
  • ibu akan bepergian (padahal ibu dapat mengusahakan ASI perah, sekalipun ibu pergi untuk bekerja),
  • ibu sakit (padahal flu atau selesma, bahkan penderita hepatitis tetap dapat menyusui dengan aman. Memang ada kontra indikasi bagi ibu untuk dapat menyusui, ini dapat disimak di artikel dari WHO, di antaranya adalah bagi ibu dengan AIDS. Dan penularan virus flu atau selesma dapat diminimasi dengan pemakaian masker oleh ibu saat menyusui dan berdekatan dengan bayi),
  • ASI kurang atau berkurang (yang mungkin hanya karena ibu sedang gelisah, mengalami emosi negatif, kurang diperah –sehingga produksi kurang ‘terpacu’).

Gigih mencari akar masalah

Susu formula adalah pemecahan sekejap, yang tidak memberikan kesempatan pada ibu dan anak untuk ‘menderita bersama’, supaya ibu lebih terpacu untuk mampu menyelesaikan masalah ketimbang menggunakan solusipenambal’.

Sakit saya mungkin mengurangi jumlah ASI yang diproduksi dalam satu saat. Dan ini saya tangani dengan memaksakan diri untuk tetap makan dan minum seperti biasa serta meningkatkan frekuensi menyusui. Kerewelan anak juga berlalu.

Ada kalanya memang anak rewel. Bisa dengan sebab tertentu (yang kita ketahui maupun tidak), atau memang sedang ‘waktu’nya rewel saja. Mengantuk pun cukup menjadi alasan bagi anak untuk rewel. Anak terbangun di malam hari juga semakin jarang, seiring bertumbuhnya usia anak akan mempunyai irama tubuh untuk mampu tidur lebih panjang di malam hari.

Yang mengikuti anjuran untuk tidak memberikan susu formula

Sebenarnya gerakan ASI eksklusif ini sudah lama digemakan oleh milis sehat dengan situs sehatnya yang dimotori oleh dr. Purnamawati SpA(K) menjadi inspirasi utama saya untuk belajar dan keluar dari jaman kegelapan kemalasan mencari informasi dalam mencari solusi.

Dalam mendukung gerakan ASI eksklusif, milis sehat (dan pendapat saya terwakili olehnya) tidak anti pada produk susu formula, juga tidak meminggirkan para ibu yang memberikan susu formula kepada anaknya. Pilihan orangtua bagi anaknya bersifat pribadi, sebagai bagian dari hak untuk mengasuh dan memberikan apa yang dikira terbaik bagi anak.

Anjuran pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan ini diikuti oleh banyak ibu (saya tidak tahu persisnya berapa orang) yang mengikuti milis tersebut. Di antaranya adalah saya sendiri. Tentu saja, menurut etiket, kami (saya) tidak akan mempublikasikan alamat e-mail kepada pihak ketiga untuk alasan apapun tanpa persetujuan yang bersangkutan. Dan khusus yang bersangkutan dengan para pengunjung situs saya, tidak ada yang secara pribadi mengatakan langsung kepada saya bahwa ia berhenti memberikan susu formula (dengan alasan apapun).

Satu-satunya yang saya saksikan berhenti memberikan susu formula khusus (yang harganya muahalll itu) mengikuti anjuran saya adalah ibu saya sendiri. Saya punya adik berumur 5,5 tahun. Sejak lepas dari ASI eksklusif, ibu memberinya susu formula seharga 120ribuan –tiap 800 gram- dan jika ditotal, dalam sebulannya pengeluaran untuk susu saja bisa mencapai 500 ribu lebih. Setelah saya menjelaskan serinci yang ibu butuhkan agar ibu yakin, kini ibu lebih suka memberi adik susu pasteurisasi, susu UHT, atau susu ‘biasa’ yang relatif murah.

Manfaat apabila anak tidak mengonsumsi susu formula

Untuk bayi yang belum mengenal makanan padat, tidak mengonsumsi susu formula berarti mengurangi kemungkinan terinfeksi oleh kuman akibat kurang sempurnanya pembersihan botol (yang seharusnya direbus selama beberapa menit) atau tidak sterilnya air minum.

Untuk ibu, menyusui secara eksklusif berarti jaminan kualitas susu terbaik dan kepraktisan yang tinggi. Mengurangi kesibukan secara signifikan yang diperlukan oleh pemberian susu formula, mulai dari pembersihan botol susu, penakaran, penyesuaian temperatur, hingga homogenisasi (pengocokan larutan susu) sebelum akhirnya dapat diberikan kepada anak. Kesibukan ini tentu sangat tidak nyaman apabila dilakukan pada malam hari ketika ibu butuh istirahat setelah beraktivitas sepanjang hari. Ibu terburu-buru, anak keburu haus. Bandingkan dengan pemberian ASI yang telah siap minum.

Bagian berikut ini tampil di kolom tersendiri (lepas dari kotak tulisan wawancara yang memasang foto saya) dengan judul Trik Menghentikan Susu Formula Jika Sudah Terlanjur. Sumber tulisan ini bukan hasil penelitian dan pemikiran saya pribadi, namun saya yang merasa 'menyetor' tulisan ini agak heran ketika kolom ini tidak menampilkan sumber tulisan. Mungkin redaksi lupa? :)

Jika sudah terlanjur

Tergantung usia anak

Apabila anak masih berusia di bawah 1 tahun, pemberian susu formula dapat dikurangi untuk kemudian dihentikan dengan cara relaktasi (menyusui kembali). Berbagai kesulitan dalam laktasi dapat dikonsultasikan ke pusat laktasi atau dengan berbagi saran sesama ibu menyusui.

Dengan mempersering pemberian ASI, produksinya akan bertambah. Dengan demikian, secara bertahap, anak tidak lagi tergantung terhadap susu formula. Dan ketika anak sudah dapat menyusu secara penuh kepada ibu, persediaan susu formula di rumah harus disingkirkan/dibuang agar tidak muncul rasa ‘sayang’ akibat susu yang tidak dipakai.

Dan jika berbagai cara telah ditempuh namun tidak memberi hasil, pilihan terakhir adalah susu formula. Tidak terdapat cara lain yang lebih baik bagi anak usia di bawah 1 tahun.

Jika anak sudah berusia di atas 1 tahun, pengurangan konsumsi susu formula dapat dilakukan pertama-tama dengan mencampur susu formula dan susu UHT (atau susu pasteurisasi). Perbandingan antara susu formula dan susu UHT ini kemudian lama-lama diperkecil hingga akhirnya anak dapat berpindah penuh ke susu UHT.

Cara ini merupakan cara yang dipilih oleh kebanyakan ibu dengan alasan pembiasaan rasa. Namun jika anak tidak memiliki masalah dengan rasa dan dapat menerima pergantian ‘mendadak’, maka pemberian susu formula dapat langsung dihentikan (tanpa bertahap) dan diganti dengan susu UHT.

Konsekuensi penghentian susu formula

Bagi anak usia 1 tahun ke atas, konsekuensi penghentian pemberian susu formula lebih nampak pada keuangan (lebih hemat, relatif terhadap mayoritas susu formula yang lebih mahal daripada susu UHT) dan kepraktisan (menyingkat waktu penyiapan).

Soal penghematan, konsumsi susu formula merk tertentu memang lebih murah (dalam jumlah dan takaran yang sama) dibandingkan dengan susu UHT. Selain itu sisa susu yang belum diminum setelah kemasan susu UHT dibuka memang harus disimpan di lemari pendingin, tidak seperti susu formula yang hanya memerlukan wadah yang rapat.

Karena itu, saya mengatakan bahwa susu UHT memberi manfaat optimal dengan memperhitungkan segala segi, tidak hanya dari segi harga. Optimal karena kelebihan harga daripada produk susu formula tertentu diimbangi dengan kesegaran dan keutuhan susu yang tidak dapat diberikan oleh susu formula yang mayoritas berbentuk bubuk.

Pelit atau cerdas?

Sebenarnya intinya bukan hanya pada harga yang cenderung mencekik –untuk kebanyakan merk terkenal dari produsen besar dengan reputasi internasional- tapi pada esensi bahwa setelah satu tahun, kebutuhan nutrisi anak akan bertumpu pada makanan, bukan pada susu.

Yang perlu perhatian lebih adalah kelengkapan gizi makanan, bukan kelengkapan gizi susu, karena susu hanyalah penyempurna piramida makanan. Bahkan anak yang tidak suka minum susu pun tidak akan terancam kekurangan gizi, karena bagian kebutuhan kalsium (dan nutrisi lain yang terdapat secara alami dalam susu segar) masih dapat dicari dari produk turunan/olahan susu (semacam keju, yogurt, puding susu, dan lain-lain) dan sayur atau buah lain.

Susu tidak perlu yang mahal dengan formulasi dan tambahan nutrisi khusus (dengan nama dagang berbagai macam), karena pada intinya semua susu sama saja. Sebisa mungkin dicari yang kesegarannya tinggi, higienis, dan kandungan gizinya lengkap. Semua ini bisa didapat dari susu pasteurisasi. Apabila halangannya pada harga, cara penyimpanan, dan umur produk yang terbatas, maka susu UHT adalah pilihan yang optimal dari berbagai sisi.

Ini bukan soal pelit, tapi jika pemenuhan gizi secara optimal dapat dilakukan dengan usaha (dana) yang lebih murah, kenapa harus memilih cara yang mahal? Yang penting kan manfaatnya, bukan merknya.

Beranikah?

Insya ALlah berani, jika tidak saya tidak akan mempublikasikan tulisan tersebut yang dapat dibaca oleh umum, termasuk kalangan produsen susu formula. Namun dengan segala hormat, rasanya berlebihan jika sayalah pihak yang dijadikan pelopor. Terlebih, karena saya sendiri terinspirasi oleh semangat penggalakan ASI eksklusif yang dilakukan oleh banyak pihak (dan pertama kali saya ketahui dari milis sehat). Jadi, mungkin saya lebih pada posisi sebagai wakil ketimbang pelopor.

Akhir dari wawancara. Fotonya belakangan ya.
Tambahan: tulisan menarik mengenai sejarah susu formula dapat ditemukan di sini.