Sesuai janji kemarin, berikut ini akan saya tampilkan keseluruhan 'wawancara' dengan Mom & Kiddie (dengan suntingan seperlunya). Berikut ini adalah daftar pertanyaan yang diberikan oleh redaktur.
Ass.wr.wb,
Mba Lita, ini Dian dari Tabloid Mom and Kiddie. Kami tertarik pada tulisan Mba Lita tentang, "Katakan Tidak pada Susu Formula" di salah satu artikel Mba. Makanya kami ingin mengulas dan memuatnya pada edisi mendatang, tepatnya tanggal 26 Agustus 2006 di rubrik Kids Room khusus untuk Neonatal. Berikut ini pertanyaannya:
- Bagaimana dengan pengalaman pribadi Anda sendiri sehubungan dengan produk susu fomula tersebut?
- Dari tulisan tersebut, ada ngga yang tertarik lalu mengikuti ajakan Mba agar tidak mengkonsumsi susu formula? bila iya saya minta contact personnya?
- Apa manfaatnya bagi ibu dan si kecil tanpa mengkonsumsi produk susu formula?
- Kalau sudah terlanjur mengkonsumsi susu formula, apa yang harus dilakukan? apakah harus menghentikannya? dan bagaimana konsekuensinya?
- Mba dengan tegas untuk menghentikan susu formula bagi balita, beranikah Anda untuk menjadi pelopor untuk katakan tidak pada susu formula? bila ya kenapa sebaliknya bila tidak juga kenapa?
Demikian surat ini dian sampaikan, tapi bilamana ada yang masih perlu ditanyakan kembali saya mohon bantuan Mba untuk menjawabnya. Atas perhatian dan kerjasamanya saya mengucapkan terima kasih
Hormat saya,
Redaksi Tabloid Mom and Kiddie
Dian Wisudani
Yang selanjutnya ini adalah jawaban saya terhadap pertanyaan dari Mom & Kiddie. Tulisan yang mendapat latar berwarna biru adalah yang dimuat di tabloid. Sisanya dipangkas namun saya muat di sini. Sedangkan tulisan dengan huruf miring seperti di paragraf ini adalah tanggapan dari saya terhadap artikel di Mom & Kiddie tersebut.
Yang pertama perlu saya koreksi adalah saya tidak anti pada produk susu formula. Artikel tersebut menentang praktik promosi produk susu formula yang makin merajalela dan cenderung menyalahi etika internasional yang berlaku mengenai pemasaran produk pengganti ASI. Dan bukan sebagai pernyataan bahwa saya menentang eksistensi susu formula.
Saya akui, keberadaan susu formula sangat membantu para ibu yang memang memiliki kelainan sehingga tidak dapat menyusui bayinya. Namun begitu, saya menyayangkan apabila keputusan untuk memberikan susu formula semata karena ingin bayi lebih ‘tenang’ (yang diduga karena kenyang) tanpa berusaha mencari tahu akar permasalahannya. Susu formula merupakan alternatif solusi terakhir, ketika berbagai cara (relaktasi, pengondisian mental ibu, perbaikan nutrisi, dan lain-lain) tidak berhasil.
Mom & Kiddie menurunkan artikel hasil wawancara dengan judul Apakah Bayi Baru Lahir Bisa Minum Susu Formula?, yang menurut saya kurang tepat dan kurang menyentuh permasalahan. Sebab jawaban dari pertanyaan tersebut sangat sederhana: BISA, sedangkan artikel tersebut lebih memberatkan pada praktik pemberian susu formula oleh rumah sakit kepada bayi baru lahir dan konsekuensinya. Kutipan berikut ini adalah pembuka dari redaksi.
Banyak susu formula mengklaim memiliki semua kandungan seperti yang terdapat di dalam ASI. Tetapi, apakah bayi yang baru lahir boleh (perhatikan perubahan redaksi dari bisa -pada judul- menjadi boleh. IMHO, bisa dan boleh adalah 2 hal yang berbeda.) minum susu formula -seperti yang dipraktekkan oleh beberapa rumah bersalin. Akibatnya, bayi cenderung hanya mau minum susu formula yang persis diberikan di rumah bersalin itu. Bagaimana mengatasinya?
Susu formula bayi adalah cairan atau bubuk dengan formula tertentu yang diberikan pada bayi dan anak-anak. Susu formula dibuat sebagai makanan tambahan ASI. Susu formula memiliki peranan yang penting dalam makanan bayi karena seringkali bertindak sebagai satu-satunya sumber gizi bagi bayi.
Pada dasarnya, memang benar kandungan susu formula mengacu pada apa yang juga terkandung di dalam ASI. Bila di dalam ASI terdapat beragam nutrisi seperti DHA, AA/ARA dan nukleotida, begitu pula dengan susu formula. Tapi bila bicara mengenai masalah kualitas dan efek sampingnya, yaitu kedekatan secara emosional antara ibu dan anak, sudah jelas ASI memenangkan pertarungan ini.
Izinkan saya mengoreksi. Tidak semua susu formula dilengkapi dengan DHA, ARA, dan nukleotida sebagai nutrisi tambahan khusus.
Kalimat kedua dalam paragraf di atas mengesankan bahwa apa yang ada di dalam ASI juga dapat ditemukan di dalam susu formula. Ini tidak tepat.Yang berlaku adalah sebaliknya: apa yang ada di susu formula dapat ditemukan di dalam ASI, karena -seperti dijelaskan dalam kalimat sebelumnya- kandungan susu formula mengacu pada komposisi ASI.
Berikut ini tanggapan dari pihak rumah sakit (dokter dan perawat) juga paparan seorang ibu yang bayinya mengonsumsi susu formula, meski sempat menentang praktik promosi susu formula yang makin merajalela dan cenderung menyalahi etika internasional yang berlaku mengenai pemasaran produk pengganti ASI.
Saya hendak meluruskan. Kesan yang didapat dari paragraf ini adalah saya sempat menentang praktik promosi susu formula, namun akhirnya 'menyerah' dan memberikan (juga) susu formula kepada bayi saya. Urutan kejadian yang sebenarnya dapat disimak pada jawaban wawancara saya selanjutnya.
Saya memberikan susu formula kepada anak pertama (dimulai saat ia masih bayi dan tergolong baru lahir) pada saat saya belum tahu tentang ASI eksklusif. (Ampun, betapa menyesalnya saya! Hari gini?!) Setelah anak kedua -yang sukses diberi ASI eksklusif- lahir, barulah saya membuat pernyataan terbuka dalam menentang praktik promosi susu formula.
Kenyataan bahwa si sulung hingga saat ini masih mengonsumsi susu formula secara tandem dengan susu UHT tidak bertentangan dengan pendapat saya mengenai promosi susu formula yang menginvasi wilayah privat hak ibu untuk menyusui. Jadi kata 'sempat' itu tidak cocok penggunaannya dan saya menggunakan hak jawab saya untuk 'protes'.
Pengalaman pribadi
Ekstraksi vakum dan susu formula
Proses kelahiran anak pertama saya dibantu dengan ekstraksi vakum. Pihak RS (diwakili dokter) mengatakan bahwa ekstraksi vakum akan menyebabkan trauma pada kepala sehingga bayi tidak boleh diangkat dari tempat tidurnya selama beberapa hari. Dengan begitu, saya harus memerah ASI untuk diberikan dengan botol.
Pada saat itu ASI saya sudah keluar dengan baik, sayangnya saya tidak tahu bagaimana cara memerah ASI dengan baik sehingga hasil perahan sangat sedikit. Dengan terpaksa (karena merasa tidak punya pilihan lain), saya menyetujui pilihan untuk memberikan susu formula yang disediakan oleh pihak RS. Rupanya RS tersebut memiliki ‘prosedur baku’ untuk menyediakan susu formula merk tertentu, yang merknya dapat dilihat pada setiap keranjang bayi dan diinformasikan pada ibu sang bayi menjelang kepulangan.
Hingga saat ini, anak pertama saya masih mengonsumsi susu formula. Berbagai cara telah dilakukan untuk mengalihkannya ke susu UHT, tapi ujungnya susu UHT hanya menjadi ‘camilan’ untuknya sementara susu formula jalan terus. Dengan begini, alternatif lain yang saya pilih adalah dengan mengganti merk. Alhamdulillah anak saya tidak bermasalah dengan susu formula ‘murah’. Dan saya sendiri tidak khawatir dengan gizinya, sebab usianya sudah lebih dari 2 tahun dan sudah dapat makan makanan meja (makanan yang sama dengan yang dimakan orang dewasa) dengan baik.
Belakangan ini saya baru tahu, bahwa trauma pasca kelahiran dengan ekstraksi vakum tidaklah menghalangi bayi untuk dapat disusui langsung oleh ibu. Tentu dengan membatasi pergerakan seperlunya, tidak sebebas perlakuan pada bayi yang dilahirkan spontan.
Selain itu, ternyata kesulitan memerah ASI yang saya alami seharusnya tidak menjadi alasan untuk memberikan susu formula andai saja saya bertanya (dan perawat membantu) bagaimana cara memerah ASI dengan benar. Tentu saja kesabaran dibutuhkan, karena pada percobaan pertama-tama kesulitan memang ada namun setelah terbiasa ASI akan memancar dengan baik.
Akibat mengonsumsi susu formula
Tidak ada akibat negatif yang spesifik -yang dapat saya amati- terhadap kesehatan anak pertama saya oleh pemberian susu formula sejak kelahirannya, kecuali efek terhadap mental ibu (baca: saya) bahwa saya memiliki jalan keluar ‘instan’ bila terdapat kesulitan (misalnya jumlah ASI berkurang). Apabila anak masih menangis setelah baru saja disusui, maka dia langsung diberi susu formula dengan anggapan dia masih lapar. Padahal bisa jadi anak membutuhkan hal lain, misalnya ingin bersendawa.
Bisa jadi masalah utama ada pada ke’kurang-gigih’an anak dalam menghisap. ASI memerlukan waktu beberapa jenak untuk dapat dikeluarkan dengan baik, dan akan terus keluar selama anak menghisap dengan kuat. Tapi jika anak diberi susu formula (dan dengan botol) maka anak tak perlu menunggu apalagi menghisap dengan kuat, susu akan keluar dengan mudah tanpa anak harus berusaha keras. Ini menyebabkan anak sedikit malas menyusu langsung.
Frekuensi menyusu langsung yang berkurang mengakibatkan produksi ASI juga berkurang, karena ASI tersedia berdasarkan prinsip ada permintaan, ada pasokan. Semakin sering anak minum susu dari botol, semakin mungkin ia malas menyusu langsung. (Ini memang sebuah siklus yang memerlukan usaha keras dalam memutusnya!)
Akibat lain yang dapat ‘diduga’ akibat pemberian susu formula sejak dini -berdasarkan pengalaman ibu-ibu lain- adalah pengenalan makanan (dan rasa) baru yang lebih sulit. Rasa ASI tidak selalu sama, bergantung pada makanan yang dimakan ibu dan komposisi ASI. Komposisi ASI ini sendiri juga berubah, seiring usia bayi. Perubahan-perubahan pada rasa dan komposisi ini membuat bayi terbiasa pada pergantian rasa, dengan demikian mengurangi risiko penolakan terhadap rasa saat anak dikenalkan pada makanan padat.
Belajar dari pengalaman lalu, persediaan membuat ‘malas’
Kegagalan saya untuk menyusui secara eksklusif bisa jadi pula merupakan ‘kesalahan’ saya sendiri. Saya mengira bayi menangis karena lapar, akibat ASI saya kurang. Saya menyalahkan diri yang tidak mampu memproduksi ASI sebanyak yang diperlukan. Dan ini adalah kesalahan fatal. Dengan pikiran semacam ini, produksi ASI juga akan berkurang karena stres dan pikiran negatif.
Pasca kelahiran anak kedua, tubuh saya memberi pembuktian, bahwa saya mampu menyusui secara eksklusif, bahwa saya mampu memberi pasokan penuh tanpa perlu disokong oleh susu formula.
Jadi kini saya menyadari sepenuhnya, bahwa adanya susu formula, bagi ibu yang mampu menyusui, merupakan hal yang wajib dihindari. Agar ibu tidak mempunyai alasan untuk malas mencari akar masalah dan memakai solusi siap pakai.
Walaupun ibu mampu menyusui dengan baik, tapi jika di rumah tersedia persediaan susu formula (dengan alasan untuk jaga-jaga), maka berbagai alasan akan bisa dipakai untuk membenarkan pemberian susu formula. Di antara alasan yang paling populer adalah:
- supaya susu tidak mubazir (sudah dibeli namun menjelang kadaluarsa jika tidak dipakai),
- ibu akan bepergian (padahal ibu dapat mengusahakan ASI perah, sekalipun ibu pergi untuk bekerja),
- ibu sakit (padahal flu atau selesma, bahkan penderita hepatitis tetap dapat menyusui dengan aman. Memang ada kontra indikasi bagi ibu untuk dapat menyusui, ini dapat disimak di artikel dari WHO, di antaranya adalah bagi ibu dengan AIDS. Dan penularan virus flu atau selesma dapat diminimasi dengan pemakaian masker oleh ibu saat menyusui dan berdekatan dengan bayi),
- ASI kurang atau berkurang (yang mungkin hanya karena ibu sedang gelisah, mengalami emosi negatif, kurang diperah –sehingga produksi kurang ‘terpacu’).
Gigih mencari akar masalah
Susu formula adalah pemecahan sekejap, yang tidak memberikan kesempatan pada ibu dan anak untuk ‘menderita bersama’, supaya ibu lebih terpacu untuk mampu menyelesaikan masalah ketimbang menggunakan solusi ‘penambal’.
Sakit saya mungkin mengurangi jumlah ASI yang diproduksi dalam satu saat. Dan ini saya tangani dengan memaksakan diri untuk tetap makan dan minum seperti biasa serta meningkatkan frekuensi menyusui. Kerewelan anak juga berlalu.
Ada kalanya memang anak rewel. Bisa dengan sebab tertentu (yang kita ketahui maupun tidak), atau memang sedang ‘waktu’nya rewel saja. Mengantuk pun cukup menjadi alasan bagi anak untuk rewel. Anak terbangun di malam hari juga semakin jarang, seiring bertumbuhnya usia anak akan mempunyai irama tubuh untuk mampu tidur lebih panjang di malam hari.
Yang mengikuti anjuran untuk tidak memberikan susu formula
Sebenarnya gerakan ASI eksklusif ini sudah lama digemakan oleh milis sehat dengan situs sehatnya yang dimotori oleh dr. Purnamawati SpA(K) menjadi inspirasi utama saya untuk belajar dan keluar dari jaman kegelapan kemalasan mencari informasi dalam mencari solusi.
Dalam mendukung gerakan ASI eksklusif, milis sehat (dan pendapat saya terwakili olehnya) tidak anti pada produk susu formula, juga tidak meminggirkan para ibu yang memberikan susu formula kepada anaknya. Pilihan orangtua bagi anaknya bersifat pribadi, sebagai bagian dari hak untuk mengasuh dan memberikan apa yang dikira terbaik bagi anak.
Anjuran pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan ini diikuti oleh banyak ibu (saya tidak tahu persisnya berapa orang) yang mengikuti milis tersebut. Di antaranya adalah saya sendiri. Tentu saja, menurut etiket, kami (saya) tidak akan mempublikasikan alamat e-mail kepada pihak ketiga untuk alasan apapun tanpa persetujuan yang bersangkutan. Dan khusus yang bersangkutan dengan para pengunjung situs saya, tidak ada yang secara pribadi mengatakan langsung kepada saya bahwa ia berhenti memberikan susu formula (dengan alasan apapun).
Satu-satunya yang saya saksikan berhenti memberikan susu formula khusus (yang harganya muahalll itu) mengikuti anjuran saya adalah ibu saya sendiri. Saya punya adik berumur 5,5 tahun. Sejak lepas dari ASI eksklusif, ibu memberinya susu formula seharga 120ribuan –tiap 800 gram- dan jika ditotal, dalam sebulannya pengeluaran untuk susu saja bisa mencapai 500 ribu lebih. Setelah saya menjelaskan serinci yang ibu butuhkan agar ibu yakin, kini ibu lebih suka memberi adik susu pasteurisasi, susu UHT, atau susu ‘biasa’ yang relatif murah.
Manfaat apabila anak tidak mengonsumsi susu formula
Untuk bayi yang belum mengenal makanan padat, tidak mengonsumsi susu formula berarti mengurangi kemungkinan terinfeksi oleh kuman akibat kurang sempurnanya pembersihan botol (yang seharusnya direbus selama beberapa menit) atau tidak sterilnya air minum.
Untuk ibu, menyusui secara eksklusif berarti jaminan kualitas susu terbaik dan kepraktisan yang tinggi. Mengurangi kesibukan secara signifikan yang diperlukan oleh pemberian susu formula, mulai dari pembersihan botol susu, penakaran, penyesuaian temperatur, hingga homogenisasi (pengocokan larutan susu) sebelum akhirnya dapat diberikan kepada anak. Kesibukan ini tentu sangat tidak nyaman apabila dilakukan pada malam hari ketika ibu butuh istirahat setelah beraktivitas sepanjang hari. Ibu terburu-buru, anak keburu haus. Bandingkan dengan pemberian ASI yang telah siap minum.
Bagian berikut ini tampil di kolom tersendiri (lepas dari kotak tulisan wawancara yang memasang foto saya) dengan judul Trik Menghentikan Susu Formula Jika Sudah Terlanjur. Sumber tulisan ini bukan hasil penelitian dan pemikiran saya pribadi, namun saya yang merasa 'menyetor' tulisan ini agak heran ketika kolom ini tidak menampilkan sumber tulisan. Mungkin redaksi lupa?
Jika sudah terlanjur
Tergantung usia anak
Apabila anak masih berusia di bawah 1 tahun, pemberian susu formula dapat dikurangi untuk kemudian dihentikan dengan cara relaktasi (menyusui kembali). Berbagai kesulitan dalam laktasi dapat dikonsultasikan ke pusat laktasi atau dengan berbagi saran sesama ibu menyusui.
Dengan mempersering pemberian ASI, produksinya akan bertambah. Dengan demikian, secara bertahap, anak tidak lagi tergantung terhadap susu formula. Dan ketika anak sudah dapat menyusu secara penuh kepada ibu, persediaan susu formula di rumah harus disingkirkan/dibuang agar tidak muncul rasa ‘sayang’ akibat susu yang tidak dipakai.
Dan jika berbagai cara telah ditempuh namun tidak memberi hasil, pilihan terakhir adalah susu formula. Tidak terdapat cara lain yang lebih baik bagi anak usia di bawah 1 tahun.
Jika anak sudah berusia di atas 1 tahun, pengurangan konsumsi susu formula dapat dilakukan pertama-tama dengan mencampur susu formula dan susu UHT (atau susu pasteurisasi). Perbandingan antara susu formula dan susu UHT ini kemudian lama-lama diperkecil hingga akhirnya anak dapat berpindah penuh ke susu UHT.
Cara ini merupakan cara yang dipilih oleh kebanyakan ibu dengan alasan pembiasaan rasa. Namun jika anak tidak memiliki masalah dengan rasa dan dapat menerima pergantian ‘mendadak’, maka pemberian susu formula dapat langsung dihentikan (tanpa bertahap) dan diganti dengan susu UHT.
Konsekuensi penghentian susu formula
Bagi anak usia 1 tahun ke atas, konsekuensi penghentian pemberian susu formula lebih nampak pada keuangan (lebih hemat, relatif terhadap mayoritas susu formula yang lebih mahal daripada susu UHT) dan kepraktisan (menyingkat waktu penyiapan).
Soal penghematan, konsumsi susu formula merk tertentu memang lebih murah (dalam jumlah dan takaran yang sama) dibandingkan dengan susu UHT. Selain itu sisa susu yang belum diminum setelah kemasan susu UHT dibuka memang harus disimpan di lemari pendingin, tidak seperti susu formula yang hanya memerlukan wadah yang rapat.
Karena itu, saya mengatakan bahwa susu UHT memberi manfaat optimal dengan memperhitungkan segala segi, tidak hanya dari segi harga. Optimal karena kelebihan harga daripada produk susu formula tertentu diimbangi dengan kesegaran dan keutuhan susu yang tidak dapat diberikan oleh susu formula yang mayoritas berbentuk bubuk.
Pelit atau cerdas?
Sebenarnya intinya bukan hanya pada harga yang cenderung mencekik –untuk kebanyakan merk terkenal dari produsen besar dengan reputasi internasional- tapi pada esensi bahwa setelah satu tahun, kebutuhan nutrisi anak akan bertumpu pada makanan, bukan pada susu.
Yang perlu perhatian lebih adalah kelengkapan gizi makanan, bukan kelengkapan gizi susu, karena susu hanyalah penyempurna piramida makanan. Bahkan anak yang tidak suka minum susu pun tidak akan terancam kekurangan gizi, karena bagian kebutuhan kalsium (dan nutrisi lain yang terdapat secara alami dalam susu segar) masih dapat dicari dari produk turunan/olahan susu (semacam keju, yogurt, puding susu, dan lain-lain) dan sayur atau buah lain.
Susu tidak perlu yang mahal dengan formulasi dan tambahan nutrisi khusus (dengan nama dagang berbagai macam), karena pada intinya semua susu sama saja. Sebisa mungkin dicari yang kesegarannya tinggi, higienis, dan kandungan gizinya lengkap. Semua ini bisa didapat dari susu pasteurisasi. Apabila halangannya pada harga, cara penyimpanan, dan umur produk yang terbatas, maka susu UHT adalah pilihan yang optimal dari berbagai sisi.
Ini bukan soal pelit, tapi jika pemenuhan gizi secara optimal dapat dilakukan dengan usaha (dana) yang lebih murah, kenapa harus memilih cara yang mahal? Yang penting kan manfaatnya, bukan merknya.
Beranikah?
Insya ALlah berani, jika tidak saya tidak akan mempublikasikan tulisan tersebut yang dapat dibaca oleh umum, termasuk kalangan produsen susu formula. Namun dengan segala hormat, rasanya berlebihan jika sayalah pihak yang dijadikan pelopor. Terlebih, karena saya sendiri terinspirasi oleh semangat penggalakan ASI eksklusif yang dilakukan oleh banyak pihak (dan pertama kali saya ketahui dari milis sehat). Jadi, mungkin saya lebih pada posisi sebagai wakil ketimbang pelopor.
Akhir dari wawancara. Fotonya belakangan ya.
Tambahan: tulisan menarik mengenai sejarah susu formula dapat ditemukan di sini.

:), puanjang pool….
terus ndi oleh2e?
inget asi inget nanda waktu lahir. nanda cuma kebagian colostrumnya doang. selebihnya ya minum susu kaleng. waktu itu jg dari pihak klinik tdk ada usaha untuk membantu memerah asi ibunya nanda. untung masih ada usaha dari saudara yg ngebantuin tp nampaknya terlambat. soal interpiu itu, ibu kan punya hak jawab. kirimin aja komentar ibu ke redaksi.
posting ini bukan konsumsiku nih… mungkin untuk sekedar tau sih ga pa-pa…
cuman kayaknya mending kalo dah waktunya tiba deh… dan moga waktunya itu datang dengan cepet… **ngebeet kaleee**
btw… lam kenal ja
Dhika
Lha kan di posting sebelumnya udah dikasih peringatan: ‘agak panjang’
Maap, oleh-oleh makanan udah abis. Oleh-oleh cerita aja ya? Seperti dipesen ama mbak Eka (bunda Rafa) sama mas Guntar
Danu
Tanggapan saya sudah dikirim ke redaksi sebagai CC dari tulisan ini
Duck
Hehehe… yang ngebet, jangan ugal-ugalan yak. Patuhi aturan ‘lalu lintas’, keep it safe dunia akhirat
Salam kenal juga, Duck.
mumet aku bacanya.
sampe diteng2h lupa, mana yg dari tabloid, mana yg kritikan …
baca ntar aja ah, abis kul
(artikelnya) panjang tapi puwas !!!
thanks mbak lita
Wah…makasih atas masukannya, soalnya kami juga lagi menunggu sang buah hati pertama kami.
numpang tanya dong bulik, apakah semua ASI itu rasanya sama? soalnya saya, anak saya juga, ndak pernah mencicipi ASI [dari ibu] lain … maaf lo… :p
Mungkin gencarnya iklan susu formula, tren saat ini adalah dengan mengkampanyekan ASI kepada masyrakat. Ibaratnya adalah menghadang laju susu formula –yang menurut pak Arifwidi “membodohkan”!
Beberapa waktu lalu, di media –baik cetak maupun televisi– sudah bermunculan kampanye ASI ini oleh lembaga kesehatan dunia. Ini patut diacungi jempol.
Kompas –yang merupakan media besar nasional– juga telah menurunkan tulisannya beberapa waktu lalu tentang pentingnya ASI. Lengkap dengan alternatif-alternatif lain sebagai orang ’sibuk’. Tinggal kita lihat saja, bagaimana hasilnya
Ndoro kakung
Hmmm… saya pakai kirologi saja ya. Mohon dimaapken kalau salah. Lha wong saya sendiri ndak icip-icip ASI ibu yang lain
Begini, komposisi ASI itu ditentukan oleh beberapa faktor; diantaranya adalah umur anak, apa yang dimakan ibu, dan ‘bawaan’ dari ibu (saya memaksudkan antibodi dan bawaan genetik).
Nah, karena individu selalu unik, maka rasa ASI ya tidak sama antara ibu satu dengan ibu lainnya. Bahkan rasa ASI mungkin tidak sama setiap harinya.
Seberapa jauh perbedaan rasanya saya tidak tahu. Mungkin bisa ditanyakan kepada anak-anak yang masih menyusu pada ibunya tapi sudah dapat berkomunikasi dengan baik (alias dimengerti orang dewasa)
Ibu mertua saya pernah ditanya sama anak temennya, rasa ASI kaya apa. Lalu dikasih (ASI beliau) sedikit. Manis, katanya
Ini guyon apa serius tho, pakdhe? :p
Imponk
Kita harapkan yang terbaik.
Semoga… semoga…
Semoga makin banyak para ibu yang tercerahkan dan makin semangat untuk memberi ASI sebagai nutrisi terbaik bagi bayi mereka. Semoga peraturan/hukum di Indonesia nggak cuma jadi macan kertas yang mandul terhadap para pelanggar hak ibu dan bayi.
All the best wishes bagi generasi penerus
u go girl! :p
Terima kasih Bulik … seneng banget bacanya.
hue he he he…mustina kmaren aku kirim undangan meliput ya ke redaksi tabloid itu. mumpung sesi 2 kmaren tentang ASI & feeding pada anak. kok maen potong gitu yah? tujuan pernyataannya jadi tersamar
Sejak gabung di milis sehat…aku juga jd jadi tau klo susu formula itu bukan segala-galanya (baca : musti dikasih ke anak usia 1 th ke atas)
panjang nian…padahal udah disunting yak?
“Yang perlu perhatian lebih adalah kelengkapan gizi makanan, bukan kelengkapan gizi susu ”
klo dianggap susu formula adalah sbg suplemen tambahan, boleh dong kita pake susu formula, dalam kasus kekurangtahuan si ibu akan kadar kelengkapan gizi yg harus dicukupi?
aRdho
Ahie… dibilang ‘girl’ ama aRdho, serasa muda kembali
Mbilung
Saya juga seneng ada yang seneng baca tulisan saya, pakdhe. Terimakasih ya, saya jadi tambah semangat
nYam
Euh… pengen ikutan PESAT yang lain. Doain bisa yah!
Undang aja ke sesi yang lain. Pasti tetep cocok sama tema tabloidnya
Hanum
Belajar bareng, yuk!
Alhamdulillah, bertambah lagi ibu yang tercerahkan. Selamat bergabung, bu Hanum
Paririan
Coba disimak lebih teliti, yang dimuat cuma yang di-highlight biru. Sisanya dipotong editor alias gak dimuat
Aku rada gak ngerti pertanyaanmu: “Jadi boleh dong?”. Maksudnya, kalo ngga tau ya ngga papa, gitu?
Aku ngga melarang konsumsi susu formula. Cuma bilang (untuk 1 tahun ke atas) nggak perlu. Itu saja
Atau maksudnya, susu formula dianggap sebagai tambahan karena ASI kurang? Untuk anak di bawah 1 tahun, memang tidak ada pilihan selain susu formula. Di atas 1 tahun, susu formula tidak diperlukan lagi.
Atau, maksudmu susu formula itu sebagai penambal kekurangan akibat pola makan yang kurang memenuhi syarat gizi, sebaiknya susu tidak dijadikan solusi instan.
Memang lebih mudah memberi susu ketimbang mikirin menu apa yang mau dimakan si kecil. Tapi ini bisa ‘mendidik’ anak untuk berpikir: “Wah enak nih. Kalo aku gak mau makan, dikasih susu sama ibu. Males makan ah, capek. Susu kan tinggal glek”.
Untuk hal ini, dua anakku pernah begini
Gerakan tutup mulut emang paling bikin pusing ibu-ibu! Sampe akhirnya aku nyadar: di saat-saat tertentu, mereka cuma bosen sama nasi!
Piramida makanan tak serumit menghitung kalori, sekadar tahu perbandingan porsi, misalnya antara karbohidrat (nasi, pasta, kentang, apapun itu), protein, sayuran, buah, susu, dan lemak.
Karena porsi susu dalam piramida itu kecil dibandingkan karbohidrat, sayuran, protein, dan buah, lebih baik dana rumah tangga dikonsentrasikan pada yang porsinya lebih besar daripada berfokus ke susu.
Membelanjakan 500 ribu sebulan untuk susu formula sedangkan anggaran untuk menu sehat sangat mepet dan cenderung kurang memenuhi syarat adalah tidak rasional. Boros yang tidak pada tempatnya. (buat aku boros dalam menimba ilmu dapat ditoleransi :p )
Di sinilah tugas ibu sungguh berat: harus mau belajar, setidaknya mengetahui kalau dirinya tidak tahu. (jadi ingat diri sendiri, hiks…)
Bagus banget
Mo nanya nih, ada temen yang anaknya sudah 15 bulan (12 kg)asupan makanannya hanya dari susu formula karena tidak mau makan sama sekali. Anak ini memang dari lahir sudah di’tambal’ susu formula disamping ASI. Sejak umur 7 bulan ASInya berhenti karena asma sang ibu sedang parah. Mungkin ASInya menjadi pahit karena ibunya minum obat.
Klo gini apakah bisa mulai mengalihkan susu formula ke susu UHT? Karena sampai saat ini si ibu masih minum obat untuk asmanya, jadi mungkin klopun relaktasi ada kemungkinan anaknya masih menolak ASI. Trus gimana dengan pemenuhan gizinya? emang mesti dipaksa makan ya?
thanks before…
Setelah baca ulang, koq gak disebut2 ttg susu kedelai? enak lho …..
Bisa gak buat yg paragraf ini :
“Dan jika berbagai cara telah ditempuh namun tidak memberi hasil, pilihan terakhir adalah susu formula . Tidak terdapat cara lain yang lebih baik bagi anak usia di bawah 1 tahun”.
—- tanya : kira2 susu formula dgn susu kedelai selevel gag (dr kandungan gizi —
Hedi
Bagus apanya? *gak mudeng. o’on mode: on*
Indah
Sudah 15 bulan harusnya status makanan padat sudah sebagai menu utama, bukan lagi pendamping ASI/susu formula. Kebutuhannya sudah melampaui yang bisa disokong oleh susu formula.
Baiklah, mungkin dia masih bisa ‘kenyang’ oleh susu. Tapi bagaimana dengan kelengkapan gizinya? Susu untuk anak di atas 1 tahun kan tidak dirancang untuk menggantikan makanan utama.
Selain itu, sistem pencernaannya juga jadi ‘malas’ karena tidak terbiasa untuk mengolah makanan padat (yang tentu memerlukan ‘kerja’ lebih dibandingkan makanan cair yang tinggal diserap).
IMHO, si ibu harus berusaha (untuk menggantikan kata ‘memaksa’) mengenalkan makanan padat. Memberikan susu bukan solusi untuk anak yang tidak mau makan. Coba, coba, coba, dan coba. Tidak harus nasi. Apa saja. Kalau memang maunya dimulai dari buah, ya dari buah.
Seperti kukatakan di tanggapan sebelumnya. Anak bisa belajar dari pengalaman. Kalau dia tahu (dan berulang-ulang terjadi) ketika dia tidak mau makan ibunya akan memberi susu, dia -kemungkinan besar- akan memilih susu dan MEMPERTAHANKAN supaya keadaannya tetap demikian.
Anak harus diajari, bahwa solusi untuk lapar adalah makan, bukan minum susu. *Pengalaman pribadi ‘gontok-gontokan’ sama Ibrahim dan Daud neh. Bayangin 3 kolerik bertarung! hihihi… menang ibunya dong
*
Selama pengenalan makanan padat ini, bisa dicoba untuk mengalihkan konsumsi susu formula ke susu UHT. Bertahap, tentu saja. Orang dewasa pun perlu waktu untuk adaptasi dengan ‘kebiasaan’ baru
Jungkir balik? Ya. Selamat berjuang :p Ibu jangan sampai kalah cerdik sama anak. Apa aja deh. Segala menu pun jadi.
Luthfi
Emang gak lagi ngebahas susu kedelai kok.
Begini aturannya: untuk anak di bawah 1 tahun, susu yang boleh diberikan adalah ASI dan/atau susu formula. Setelah usia 1 tahun, susu bukan lagi sumber utama nutrisi karena itu tidak memerlukan susu dengan formulasi khusus kecuali ada keadaan medis tertentu (dan disarankan oleh dokter) yang mengharuskan demikian.
Bukan masalah enak atau tidak, ini tentang pendamping/pengganti ASI yang TEPAT. Susu formula untuk bayi dirancang khusus untuk menyesuaikan dengan ASI dan sistem pencernaannya yang belum matang.
Tentang bahannya sendiri, susu formula ada pula yang soya-based alias dibuat dari bahan dasar kedelai (bukan susu sapi).
Susu apapun yang dipilih, sebaiknya ya yang dapat memenuhi kebutuhan gizi dengan baik. Dan untuk kasus susu, ya kalsium. Bentuk susunya pun tidak harus cair. Anak yang tidak mau minum susu bisa diberikan olahan/turunan susu. Atau jika dia alergi terhadap (bahan yang dikandung) susu, kecukupan kalsium bisa dipenuhi dari sumber lain misalnya makanan laut dan sayur-sayuran.
Sepertinya topik susu formula ini perlu dibuat posting tersendiri
Tunggu saja, ya.
wah sangat menyenangkan bacaannya mba… bisa jadi pelajaran untuk aku… (karena aku belum punya anak
) tapi mba klo susu ASI di perah itu sebaiknya disimpan dimana yah?
aku kan sudah lbh dari 1 tahun nih, aku dulu pernah alergi susu, katanya namanya laktosa intolerant , —- diare dan gatal2.
coba jawab punya M Yanti aah. ga pa pa kan jeng Lita? mumpung materi ASI masih hot di kepala neh.
penyimpanan ASI perah bisa di botol kaca, misalnya botol bekas selai, wadah tertutup baik yang bening ato yang warna. asal dibersihkan+steril sebelum dipake. ato bisa juga taro di plastik khusus ASI yang sekali pake.
nyimpennya buat sekali minum aja, kalo yang disimpen dah dikasih ke bayi dan ternyata bersisa, ya dibuang aja sisanya.
trus nyimpennya di suhu ruang antara 4-10 jam, di kulkas bagian bawah suhu 0-4 tuh 2-3 hari, freezer kulkas 1 pintu kurleb 2 minggu, kalo freezer kulkas dua pintu 3-4 bulan. sementara kalo punya freezer khusus, bisa 6 bulan. tapi smua itu tergantung kondisi tempat penyimpanan juga yah
btw, aku juga lom [boleh] punya anak. musti banyak blajar dari Jeng Lita neh ^_^ cerita sesi II dah kuposting yah
Yanti
Sudah dijawab mbak nYam ya
Intinya wadah harus bersih dan steril, lalu disimpan dalam keadaan dingin (kulkas atau cooler box juga bisa-jika dalam perjalanan). Gelas atau plastik, reusable atau disposable bukan masalah utama.
Luthfi
Alergi dan intoleransi itu TIDAK SAMA. Tentang intoleransi dan alergi, baca lagi postingku tentang alergi aja ya.
Kalau bermasalah dengan susu sapi (atau produk hewani secara umum), ya cari alternatif dari nabati saja. Dan karena dikau tidak tergolong anak-anak lagi (dalam artian udah baligh
), ya bahasan susu di posting ini tak berlaku untukmu
nYam
Boleh banget
Aku biasanya menyimpan ASI perah di gelas (kaca atau plastik, mana ajah) yang udah disterilkan lalu ditutup pake plastic wrap (itu lho, plastik yang biasa dipake buat mbungkus buah potong di supermarket). Trus simpen di pojokan kulkas bagian bawah.
Ngga serumit ibu-ibu yang bekerja karena tuh ASI biasanya umurnya gak sampe sehari (24 jam) udah diminta Daud. Dia seneng susu dingin, tenggak langsung tinggal buka plastic wrap-nya
Belajar bareng aja ah. Diriku masih banyak kekurangan, belum layak digugu
Makasih buat posting sesi 2 PESAT-nya.
sekali lagi: setuju dengan penekanan untuk terus memberi ASI pada bayi. dan setuju juga lagi: solusi untuk lapar adalah makan, bukan minum susu.
SALUT!!! pahlawan ASI tanpa tanda jasa deh Ta, hebat banget
.
sama nih kayak Ibrahim, Naila ga suka susu UHT, yang coklat sekalipun. pengen nyoba dicampur ’susu mahal’nya dan dimasukin ke botol + dot ah
jamannya anakku yang pertama, ASI eksklusif cuma 4 bulan, abis itu dicampur susu formula, jus buah dan bubur susu, dan masih menyusu sampe umur 1,5 th. Sekarang badannya bongsor …
Anak kedua sama, tapi cuma menyusu sampe umur 6 bulan, ASI nya habis (kurang usaha juga dulu kayaknya). Sekarang badannya cungkring …. pengaruh dari ASI bukan ya? atau karena waktu hamil saya jarang makan masakan rumah ya?
Insya Allah bentar lagi butuh pengetahuan kaya’ gini deh… sekarang dicicil dulu, pengetahuannya.
Inget22 tentang susu kedelai, udah ada artikelnya belum? soalnya dulu pernah alergi susu biasa, alternatifnya minum susu kedele. tapi… punya pengalaman buruk soal susu yang satu ini. Dulu pernah waktu KKN buat susu kedele untuk anak2, eh, satu RT ibu2nya pada komplain semua. anak2 mereka pada muntah muntah… hehe.. apa yang salah ya? kali pas meres kedelenya, lupa cuci tangan…
Yanti
Wadoh wadoh… mana pahlawannya? *celingukan*
Ibrahim bisa ngebedain mana susu formula mana susu UHT. Susu formula pake botol, susu UHT langsung sedot dari kotaknya atau dari gelas. Heran, padahal udah lihai minum dari gelas tapi cuma susu formula aja yang HARUS pake botol dot. *garuk-garuk kepala, bingung gimana ngakalinnya lagi* Ada saran, mbak?
NengJeni
Bongsor atau kurus kayanya gak ada hubungan langsungnya ama ASI/susu formula deh mbak.
Lebih tepat begini: ASI dapat diserap dengan mudah, dosisnya pas sesuai kebutuhan. Sedangkan susu formula memerlukan kerja lebih dari tubuh, dosisnya (walau sesuai takaran) bisa jadi pas, kurang, atau lebih dari kebutuhan tubuh anak.
Pola makan ibu saat hamil bisa jadi ada pengaruhnya terhadap kebiasaan/pola makan anak. Tapi perkembangan anak tak melulu soal genetik; ada faktor bawaan, pengasuhan, dan nutrisi. Ketiganya membentuk dengan caranya masing-masing, menghasilkan individu yang unik.
Kurus atau bongsor, yang penting sehat dan mamanya bahagia. Ya kan? Yang udah lewat tak usah dirisaukan
Maju terus pantang mundur, mbak
Zuhra
Lupa cuci tangan? Bukannya abis itu hasil perasan masih diproses pakai pemanasan? Harusnya kalaupun ada kuman yang nebeng di tangan, mati dong? *binun*
Artikelnya ditunggu dulu ya, on progress
mbak lita,
saya melahirkan raka secara vakum ekstrasi. alhamdulilla neonatal dsa-nya mengizinkan saya utk menyusui. sampai saat ini msh full asi + mpasi.
saya juga pernah ditelpon oleh marketing sebuah produsen susu formula ber’nukleotida’ yg menyarankan saya utk mencampur 60 ml asi saya dg satu sendok takar susu formula tsb.
saya tolak.
belakangan saya ketahui bhw hal tsb telah melanggar SOP menelpon. untung saya sempat mengajukan keluhan dan ditanggapi. semoga tidak ada ibu-ibu yang kurang tegas a.k.a kurang pede dg kemampuan menyusui a.k.a kurang dukungan dll, kemudian terpengaruh oleh rayuan tsb.
btw, boleh saya link blognya?
salam,
inga
Inga
Alhamdulillah.
Mbak Inga beruntung sekali
Sip sip… Semoga teman-teman sesama ibu sekarang makin pede untuk menyusui dan menolak rayuan pemasar produk pengganti ASI ya
Boleh banget di-link. Terimakasih buat sharingnya.
hmm….tulisan yg cerdas.
Waktu imunisasi Rafi bulan lalu, berat badan Rafi cuma naik 200 gram dalam sebulan. Aku juga sadar karena memang saat itu Rafi baru mulai mpasi dan maem’y masih dikit2.
Bidan menyarankan untuk ditambah susu formula, aku bilang produksi ASInya masih banyak kok (karena kupikir susu formula adalah solusi untuk pengganti ASI yang sudah tidak dapat diproduksi lagi).
Masalahnya adalah Rafi belum mau lahap maem’y. Syukurlah seiring waktu kemudian aku coba kasih bubur buatan sendiri (sebelumnya bubur instan) Rafi mau maem dengan lahap
Jadi moms… jangan menyerah dengan solusi instan
Wuih, Tante Lita semakin tenarr…
:)
Ayub
Terimakasih… akhirnya mau juga komentar di bananaTalk
Indah
Sip! Jadi inti masalahnya adalah Rafi cuma mau makan masakan emaknya, hehehe… *lirik Daud yang masih bosen nasi*
Aswad
Wuih ih ih ih…
duh.. telat ngomen nih…
saya rasa sepertinya ada semacam kerjasama antara dokter dgn perusahaan susu formula dgn deal2 tertentu yg intinya untuk mendapatkan keuntungan bagi mereka hingga mereka mempromosikan susu formula apalagi yg “harga mahal” (maaf jika ini perkiraan yg extrim).
menurut mbak lita ???
:D
Met Kenal Mba, ASI memang yang terbaik, banyak cara untuk sukses ASI Ekslusif ya mba
, alhamdullilah saya lulus dengan dukungan keluarga di rumah dan rekan2 saya di kantor. Artikel yang mba buat TOP BGT SKL.
Te O Pe lah Mbak Lita…
ASI memang yang terbaik…..Karena dari sononya memang diciptakan begitu…
Tinggal kitanya aja yang kudu jeli tentang periklanan susu formula. Produsen kan cuma menyampaikan yang kadang bermakna ganda atau agak ‘diplesetkan’ dari fungsi sebenarnya. Mereka memoles bahasanya seakan akan memang iye banget….
lufi selama saya ada dirumah selalu saya usahakan minum ASI selain lufi memang lebih memilih ASI ketimbang susu formula. Saya akan mencoba susu UHT sesuai dengan saran ibu. Mudah2an lufi suka. Saya memang tidak punya waktu utk memeras ASI untuk minum lufi selama saya bekerja karena saya tidak memakai jasa babysitter. Saya percaya kalau anak selama ibunya masih ada dirumah harus di pegang oleh ibunya sendiri.
Bagus, Bu! Hiks….saya ngalamin sendiri, bantuan pihak rumahsakit untuk kita yang ingin menyusui begitu melahirkan bayi serasa sangat minim. Saya dulu koq kayak malah dimarah-marahin ya, karena ngotot pengen ngasih ASI, mana ASI belum lancar pula. Mestinya kan saya dibantuin gimana biar ASi lancar. Lha gimana ASI mau lancar, wong rumahsakit besar bertaraf internasional, tapi makanan yg dikasih untuk ibu yang baru melahirkan minim banget kandungan nutrisinya, mosok nasi goreng thok. Lha ya gak dukung banget deh. Coba ya rumkit2 itu, khusus ibu2 yang baru melahirkan, makanannya dikasih soup ayam atau daging yang banyak, terus sumber proteinnya legkap, dikasih susu sapi yang segar, dikasih buah yang banyak. Gak papa saya bayar 25 ribu lebih mahal untuk sewa kamar, asal dikasih makanan yang bergizi, wong dulu suami saya jadi bolak balik ke rumkit untuk bawain makanan yg bergizi buat saya. Kayaknya sengaja deh ya, biar ASI gak lancar keluar, terus dikasih semua dengan susu formula. Dah gitu pas pulang, ada pesan sponsor, “Minum susu formula bikin berat badan bayi cepat nambah lho, Bu. Anak ibu kan berat badannya dah turun 10%”. Hiks setelah dicaritahu, emang wajar bayi baru lahir berat badannya turun 10% sampai dengan seminggu setelah lahir, terus setelah itu perlahan-lahan naik. Omongan pesan sponsor itu jadi biang adu argumen antara saya dengan suami, suami ingin baby-nya cepet2 dikasih susu formula biar berat badannya nambah, saya ngotot pengen ngasih ASI thok. Hwaaalaaaaah, kapan ya sadarnya itu rumkit-rumkit……
Maaf maaf…koq jadi curhat ya….
(member milist sehat juga)
mba’ lita, salam kenal.
salut sm perjuangan mba’.
alhamdulillah, aila lulus ASI. sekarang 23 bln & konsumsi UHT. mba’ boleh kan postingannya aku copy utk temen2x yg membutuhkan?
ceritanya aku lagi senang sosialisasi konsumsi susu UHT utk batita (diatas 1 thn). dlm prosesnya aku banyak dpt respon ibu2x yg ditentang oleh mertua bahkan orang tua & suaminya sendiri dlm memberi UHT pada batitanya dgn alasan susu utk batita adalah formula, susu yg baik adalah susu yg diseduh air panas, sosialisasi susu UHT ‘akal2xan’nya pabrik susu, dll.
mohon supportnya juga ya mba’, aku masih awam sekali…
terima kasih sebelumnya…
Indra
Menurut saya? Itu benar.
Off the record, tentu saja. Belum tentu akan dijawab dokter ybs. kalau beliau ditanya, sudah untung kalau kita (yang nanya) ngga didamprat :p
Dinny
Selamat ya, lulus ASI eksklusif 6 bulan!
Cron
Ngga ‘cuma’ sih, karena dengan begitu mereka dapat ‘bermain’ di area ‘abu-abu’, di garis batas yang tipis antara patuh dan melanggar hukum.
Selain kita wajib mencari tahu, produsen juga sebenarnya wajib untuk bermain sesuai aturan dan tidak memanfaatkan kelengahan konsumen.
Risa
Selamat mencoba, mbak Risa (duh saya jadi gak enak disapa ‘ibu’ nih :p ). Semoga Lufi suka susu UHT pilihan mamanya ya
Lif
Nasi goreng? Kalo pake telor, ditambah udang, daging cincang, sayuran (gak sekadar hiasan) dan minumnya susu, gak masalah kali ye hihihi…
Gak papa mbak, di sini menerima curhat kok
Semoga tetap kompak dengan keluarga ya. Suaminya ikut milis aja mbak, atau baca bananaTalk juga deh hehehe
Renee
Alhamdulillah. Asik dong Aila suka susu UHT, emaknya gak pusing mikirin beli susu mahal
Posting di-copy? Boleh
Sebenarnya, kalau mau lebih lengkap, mbak bisa lihat di blog mbak Luluk.
Memang tidak mudah ‘melawan’ dampak dari promosi dan pemasaran susu formula. Sosialisasi susu formula juga akal-akalan produsen susu formula
Susu yang diseduh air panas? Banyak gizi yang rusak dong?
Saling dukung saja ya. Yang paling penting adalah bagaimana supaya suami-istri saling mendukung dan melengkapi. Selamat berjuang, bunda Aila. Bagi-bagi cerita buat kami di sini
maaf mba (atau ibu) saya insya ALLAH dalam watu dekat akan menikah, mohon izin mengkopi isi blog ini buat “oleh-oleh” calon istri saya, bisa ga?
Rama
Wah, selamat ya
Boleh saja, asalkan tetap disebutkan sumbernya.
Untuk detilnya (selain penggunaan pribadi dan tidak dipublikasikan), silakan lihat penjelasan mengenai hak cipta yang saya pegang.
mba’ lita…uhuk, uhuk, uhuk…aku kembali berkonfrontasi dgn golongan anti UHT :’( sedihnya kali ini yg konfrontir teman kuliah sendiri! berat memang jadi yg ‘lain’. tapi suamiku bilang jangan menyerah, itung2x dakwah…gitu ya mba’???
mba’, ceritanya aku posting ttg ASI & susu UHT di blogku. mulai dgn artikel para ahli (disebutkan sumbernya, tentu saja), sambil aku belajar. nanti kalo sudah ‘lebih pintar’ kaya’ mba’ lita & mba’ luluk ;D, mungkin aku bikin rangkuman, ulasan, opini,…apapun itu namanya. maksudnya biar teman2x yg nyari artikel ttg topik tsb gak payah2x browsing. banyak yg appreciate, tapi gak sedikit pula yg ‘ngetest’…nasib jadi amatiran
Assalamualaikum Wr. Wb.
Dear Mbak Lita….
Salam kenal,
Wah artikelnya seru banget. Abiy bayi saya umur 5 bulan kemarin. Sampai dengan hari ini Alhamdulillah masih ASI eksklusif, walo saya bekerja.
Saya ingin tanya, nanti kalo Abiy udah 6 bulan ke atas MPASI-nya salah satu menunya adalah bubur susu. Saya maunya ssunya tetap ASI aja gimana caranya yah? Soalnya bubur susukan susunya ikut digodok. Apa ASInya gak rusak ya?
trus, kira-kira kapan ya saya mulai mengajarinya susu tambahan (Pasteurisasi/UHT) ke Abiy. Kalo masalah rasa kayaknya dia ga ada masalah, saya sering icip-icipi dia buah2an (apel puree, jeruk baby, pisang, wortel, dsb) dalam waktu beberapa minggu ini, mau aja tuh, mbak.
Makasih lho mbak,
Wassalam
Mama Abiy
Renee
Ya ya… pemberian susu UHT untuk anak kecil (batita) memang belum umum di masyarakat kita yang lebih akrab dengan susu formula.
Ngga papa, mbak. Perjuangan jalan terussss…
Tentu saja kita ngga bisa maksa orang lain seide dengan kita. Ikutan ya monggo, nggak ikutan ya sudah. Mungkin setelah melihat, mendengar, membaca, dan menyaksikan baru mereka akan percaya. Syukur kalau mau ikut melakukannya.
Lho lho… yang aku lakukan juga ngga jauh beda sama mbak Renee kok. Ngumpulin data, dicerna, disalin, ditambahkan opini pribadi. Ngga pinter-pinter amat.
Kalau sudah sering, lama-lama kan hafal juga dan kelihatan pinter hihihi… Ya tentu saja kalau dialami sendiri atau punya kesempatan untuk diskusi langsung dengan ahlinya akan lebih ‘menggigit’ tulisannya.
Amatir ngga amatir, yang penting berbagi. Betul begitu?
Yang semangat ya, mbak Renee.
Mama Abiy
Salam kenal juga, mbak Baity.
Mbak, kalau sudah dikenalkan makanan lain (walaupun icip-icip rasa doang), namanya bukan ASI eksklusif lagi dong ya
ASI eksklusif adalah hanya ASI, bahkan air putih pun tidak. Ya sudah, bukan ini yang dibahas.
Kalau hanya menggunakan ASI, ya memang ASInya jadi ikut direbus. Rusak? Ya rusak juga, mungkin tidak seluruhnya. Kalau mau pakai cara lain, pakai air saja dan dibuat agak kental. Jika sudah akan diberikan untuk Abiy, baru dicampur ASI. Dihangatkan dulu juga kali ya, biar klop (kan buburnya anget hehe…).
Sampai dengan usia satu tahun, bayi hanya boleh diberi ASI atau susu formula saja, bukan susu yang lain. Nanti kenalan sama susu pasteurisasi/UHTnya kalau sudah umur setahun.
Yang plain aja ya, yang full cream. Kecuali punya masalah kegemukan, susu low fat nanti saja kalau sudah 2 tahun. Tergantung anaknya juga sih ya, ada yang ngga suka low fat. Kalau begini, kurangi asupan lemak dari makanan supaya total lemak harian tidak bertambah.
*Total kebutuhan kalori sehari-hari dicari sendiri ya, mbak. Saya tidak punya tulisannya di sini
*
Semoga membantu, mama Abiy.
Makasih mbak….
Hehehe, iyaya.. udah bukan ASI eksklusif. Abis ga tega liat mukanya yang memelas, mata yang penuh harap, bibir yang diisep-isep kalo liat orang lain maem.
Oke mbak..
makasih infonya.
maaf baru buka blog mbak lita lagi.
jadi baru balas sekarang.
Wassalam
salam kenal mba lita
wah seneng banget bisa ktemu blog mba n baca2 artikel mba yg bagus2 ini. sayah jg lagi persiapan mental utk memberikan ASI exclusive nanti, skarang saya lagi hamil 8 bulan. Well… kadang saya yakin seyakin2nya klo saya mampu, tapi kadang brubah lagi.. Masih ada rasa kawatir klo awal2 nanti ga mau kluar ASI nya, dan konsistensi saya pd saat saya kembali bekerja. Hehehe.
Mungkin mba ada tips utk selalu tetep konsisten dalam kurun waktu minimal 6 bulan itu supaya sukses ASI exclusive nya utk ibu bekerja ?
Thanks yah mba..
salam, hanny
di link ya…
(oh ya, salam kenal… ini ira, ibu dari anak usia 5,5 bulan yang udah kenal susu formula. alhamdulillah gak banyak…)
Hanny
Salam kenal juga, mbak Hanny.
Khawatir pasti ada ya, namanya juga manusia, apalagi ibu-ibu (hihi… kaya ibu itu galur manusia jenis lain aja). Pokoknya, percaya diri aja, asupan nutrisi diperbaiki, dan bekal ilmu ditambah terus
ASI ngga langsung keluar di jam-jam pertama setelah melahirkan itu wajar lho, jadi jangan lupa ingatkan petugas medis yang menangani kelahiran kalau mbak mau early latch on dan memberi ASI eksklusif ya.
Waks, tips buat ibu bekerja ya? Berhubung saya ibu rumahan, jadi tipsnya berdasarkan pengalaman ibu-ibu lain aja ya
1. Nikmati aja.
Stres di pekerjaan pasti ada dan mungkin berpengaruh pada produksi ASI. Apalagi capek setelah bekerja seharian. Tapi begitu ASI nampak agak berkurang, jangan dijadikan beban pikiran, karena buntutnya adalah ASI yang MAKIN berkurang.
2. Belajar memerah ASI dengan benar dan nyaman.
Pakai pompa mesin atau pompa manual memang bisa, tapi -katanya- kalau memerah pakai tangan hasilnya lebih optimal. Selain praktis (tidak memerlukan sterilisasi segala macem, cukup cuci tangan dengan cermat dan botol susu yang steril), payudara bisa benar-benar ‘dikosongkan’.
3. Menyiapkan penyimpan ASI perah di kantor dan selama di perjalanan.
Kalau di kantor ada kulkas, bisa dimanfaatkan. Yang tidak kalah penting adalah bagaimana membawa ASI hasil perahan di kantor ke rumah supaya tidak rusak. Kebanyakan ibu membawa coolbox. Ya memang agak repot. Hebat ya mereka
4. Menyiapkan wadah penyimpan ASI.
Mau botol kaca, botol plastik atau kantung plastik disposable khusus, yang pasti harus steril dan memudahkan pemakaian.
5. Pelajari tatacara penyimpanan ASI.
Bagaimana menyimpan ASI perah yang baik, berapa lama ASI perah dapat bertahan, bagaimana memperlakukan ASI dingin/beku sebelum diberikan ke bayi, dll.
6. Siapkan ruangan untuk memerah ASI di kantor, jika memungkinkan.
Beberapa ibu yang beruntung mendapat fasilitas ruang laktasi dari perusahaan. Sedangkan ibu lain gigih berjuang walau hanya ‘punya’ toilet. Dan segolongan ibu berkesempatan ‘membajak’ ruang pertemuan selama istirahat siang atau saat tidak dipakai. Lebih seru kalau punya teman yang juga menyusui ya
7. Persiapkan anggota keluarga yang lain untuk turut mendukung.
Baby-sitter, asisten, suami, kakak, ibu, siapa saja yang ada di rumah dan akan mengasuh bayi secara langsung/tidak langsung. Paling penting, tentu saja dukungan suami. Moral, fisik, dan finansial tentunya (coolbox kan gak gratis yak hihihi…)
8. Konsisten.
Gigih, keukeuh, ngotot, apapun lah, pokoknya ASI eksklusif layak diperjuangkan
9. Kalau ada masalah, jangan ragu untuk bertanya.
Ke ibu lain yang juga punya masalah sama (dan sukses mengatasinya), ke teman dekat, ke suami, ke dokter, ke Google…
10. dan lain-lain.
Halo para ibu bekerja, ikutan sumbang tips dong!
Semoga membantu ya, mbak Hanny.
Ira
Silakan mbak Ira. Terimakasih ya.
Mbak Lita, memang top. penjelasannya lengkap.
Boleh nambahin kan? berdasarkan pengalaman pribadi.
Persiapan pertama saya,…
hehe….
Mencari tempat tinggal yang dekat dengan kantor. Alhamdulillah jam istirahat bisa pulang sebentar
Kedua
Setelah masuk kantor kembali (masa cuti habis). Langsung lapor atasan, dan minta dispensasi untuk bisa pulang di jam istirahat
(mungkin kalo semua kantor di Indonesia sudah menyiapkan tempat penitipan bayi, syarat yang pertama dan kedua ini bisa diabaikan)
Persiapan selanjutnya, sama seperti yang mbak lita sampaikan, truss ditambah:
Sebelum cuti habis, latihan memerah ASI. Saya sedia pompa manual, tapi memang benar kata mbak lita, perah dengan tangan lebih afdol.
Pompa tetap sangat membantu, disaat-saat si Abiy sedang mimi ASI (sambil dipangku) ASI yang sebelah bisa ikut diperah (kalo pake tangan lebih sulit)
ASI akan lebih mudah keluar jika sebelahnya diisep si Abiy, kayak bejana berhubungan (memang iya ya mbak?). Cuma saya harus ekstra pengawasan, apalagi sekarang Abiy sudah penasaran pengen ikut bantuin mompa, takut kejepit. hehehe…
Sedia botol sebanyaknya (bener kata mbak lita, dukungan financial dari suami). Saya sedia 8 botol. ASI saya simpan di botol per 60 mL (setengahnya dari botol standar). Hal ini saya lakukan unduk menghindari kerusakan ASI. Kalo penuh-penuh, sebelum habis kadang Abiy kekenyangan, so sisanya terbuang (sudah ga layak untuk Abiy, takut udah rusak).
Jam-jam perah saya kira-kira: jam 6 pagi sebelum berangkat, jam 11 siang (karena pulang saya perah di rumah, ga di (maaf) toilet kantor), jam 4 sore (pulang kantor), jam 7 malam, jam 11 malam, dan jam 3 pagi.
Pokoknya perah terus selagi bisa, tapi Abiy tetap bisa mimi langsung lho!!
saya pegang prinsip ASI, semakin sering di keluarkan, semakin banyak diisi gudangnya. Sya lupa baca dimana: kutipannya “ASI itu kayak menuang ceret yang terus diisi, jadi ga pernah abis”.
Gitcuu mbak….
mudah-mudahan sedikit membantu.
Good luck mbak Hany.