Saya mendapat email ini di milis WRM, dari mbak Dinar Ardanti (halo, mom Dinar). Email ini berkisah tentang keluarga Istriyanto yang kehilangan anaknya saat berusia 7 bulan. Sedih dan trenyuh sungguh, tapi tidak mengurangi niat saya dari mengangkat beberapa masalah yang harus di'kunyah' dengan lebih cermat.
Menilai keberhasilan vaksin
Ada kisah menarik dari bu Santi Soekanto, tentang Despurrate Housewives. Sila baca sendiri. Apa hubungannya dengan imunisasi? Ada di akhir cerita tersebut: "Today, I didn't do it".
Keberhasilan imunisasi tidak nampak begitu jelas di mata awam, terutama non-petugas medis, apalagi petugas medis yang telah menjalani masa ketika tempatnya mengabdi mendapat 'limpahan' korban penyakit infeksi yang kini telah dapat dicegah oleh hadirnya vaksin.
Imunisasi tidak menyembuhkan, tidak pula menjamin 100% bahwa kita tidak akan terpapar oleh bakteri atau virus yang terkandung dalam vaksin. Seperti namanya, imunisasi bertujuan untuk membangun kekebalan tubuh atas infeksi penyakit tertentu. Caranya dengan mengenalkan bakteri atau virus yang telah dilemahkan, dalam dosis tertentu, agar tubuh memproduksi antibodi dalam jumlah yang memadai untuk melawan apabila di kemudian hari bakteri atau virus sejenis datang 'bertamu'.
Jaminan keberhasilan
Tidak ada jaminan 100%, tentu saja. Mana ada? Ini untuk vaksin apapun, dan kita berurusan dengan mahluk hidup, dengan segala keberagamannya, bagaimana bisa menjamin hasilnya 100%?
Apakah dengan memakai helm kita tidak akan terluka? Tidak, tapi helm akan membantu melindungi dan memperkecil risiko trauma pada kepala. Apakah 'keberhasilan' pemakaian helm terlihat jelas? Saya berani bilang tidak. Kenapa? Karena mereka selamat. Yang menjadi 'berita', yang laris diangkat sebagai topik di media cetak (dan elektronik), yang jadi 'subject' email yang 'bagus' untuk diteruskan ke teman-teman, umumnya berupa berita yang cenderung negatif.
Lalu bagaimana vaksin dinyatakan aman? Seperti obat dinyatakan aman. Kuncinya ada pada statistik. Kita bisa berkata itu hanya hasil permainan statistik oleh para produsen vaksin dan obat. Nyatanya kita memang bermain statistik setiap hari. Kalau dimanfaatkan dengan baik, statistik dapat menyelamatkan jiwa. Dan jika statistik hanya dijadikan alat untuk mendapat uang, uang dapat diperoleh.
Uang dan kekayaan orang lain
Satu dari sekian alasan gerakan anti-imunisasi adalah mengalirnya uang ke para produsen vaksin. Apa ada yang salah? Tampaknya menurut mereka, kita memasukkan uang ke kantong produsen vaksin dan menjadikan mereka kaya adalah salah.
Kenapa membuat orang menjadi kaya itu salah? Apalagi jika kita tidak rugi. Ah, saya ralat. Sebagian besar orang (yang menerima vaksin) tidak rugi, kecuali sebagian kecil yang 'rugi' karena tubuhnya memberi reaksi negatif terhadap vaksin.
Jika kita menolak mengeluarkan biaya hanya dengan alasan 'hanya memperkaya orang lain' atau 'bikin kaya juragan yang udah kaya', kecil kemungkinan kita bisa berbuat apapun. Kecuali mungkin, hidup di peternakan, perkebunan, atau lahan pertanian milik sendiri. Tidak perlu apa-apa dari orang lain. Masa iya?
Anda dapat membaca email lengkapnya di sini (format pdf) atau di sini (format rtf). Mohon JANGAN teruskan ke mana-mana TANPA anda sertakan uraian yang ada di artikel ini.
Berikut ini adalah bagian yang -bagi saya- lebih penting untuk dibahas.
Vaksin Hepatitis menyebabkan Hepatitis: Hepatitis yang mana?
1. Banyak kasus penyakit bayi/balita yang timbul setelah mereka disuntik imunisasi.
- Pasien lain di RS yang sama mengatakan pada saya, anak saudaranya sampai dengan usia 2 tahun belum pernah suntik Imunisasi Hepatitis namun, setelah ada dokter (spesialis anak) yang tahu, lalu disarankan diimunisasi Hepatitis, kemudian tidak lama setelah itu akhirnya anak saudaranya positif terkena Hepatitis akut, dan harus bolak-balik berobat ke dokter.
Indonesia adalah daerah endemik Hepatitis B. Rasanya ini sudah cukup untuk dijadikan alasan mengapa bayi baru lahir direkomendasikan untuk mendapat vaksin hepatitis B. Terutama pula karena para carrier virus Hepatitis B biasanya tidak sadar mereka telah terinfeksi, akibatnya dapat dengan mudah menularkannya kepada bayi.
Tentang terjangkit hepatitis setelah diimunisasi, tergantung jenis hepatitisnya. Hepatitis A menular lewat oral-fecal. Bisa saja anak diberi imunisasi hepatitis B, tapi tertular hepatitis A dari makanan yang terkontaminasi. Atau sebaliknya, diimunisasi hepatitis A tapi tertular hepatitis B dari kontak cairan tubuh dengan carrier (misalnya lewat luka terbuka). Atau diimunisasi hepatitis A tapi sebenarnya ibu adalah carrier virus hepatitis B dan menurunkannya ke anak, yang tidak terlindungi karena tidak diberi vaksin hepatitis B segera setelah lahir.
Imunisasi dan fisik anak
- Tetangga saya, sehabis Imunisasi campak, dua hari kemudian malah terkena campak. Tetangga kami yang lain, anak pertamanya rutin diimunisasi, namun fhisiknya malah lemah sering sakit-sakitan,
Fisik lemah belum tentu karena imunisasi. Faktor lain juga perlu dipertimbangkan. Bagaimana dengan pemberian ASI atau susu formula? Atau pola makan? Atau ada kelainan bawaan? Selain itu, anak yang sedang bertumbuh (6 bulan ke atas), wajar saja jika bolak-balik sakit ringan. Selesma, flu, diare, sistem kekebalan tubuhnya sedang belajar. Seiring usianya bertambah, ia akan semakin jarang sakit.
sedangkan anak keduanya sama sekali tidak pernah imunisasi namun malah sehat, hampir tidak pernah sakit (kalaupun sakit cepat sembuh/ringan)
Anak yang diimunisasi tidak dijamin selalu sehat. Anak yang tidak diimunisasi juga tidak dijamin selalu sehat atau selalu sakit. Bagaimana perbandingan kondisi kedua anak? Jangan hanya dilihat diimunisasi atau tidaknya.
Bahkan bayi yang diberi ASI eksklusif -yang notabene mendapat asupan antibodi dari ibu setiap menyusu- juga tidak dijamin selalu sehat. Pernyataan 'yang diimunisasi sering sakit dan yang tidak diimunisasi sehat' ini tidak memberikan keterangan 'sebab' yang kuat. Anak tidak menjadi sehat jika tidak diimunisasi.
Teman sekolah saya anaknya tidak pernah Imunisasi malah sehat, umur 10 bulan sudah lincah berjalan, dan juga boleh dibilang tidak pernah sakit (kalaupun sakit hanya ringan saja). dan banyak lagi kasus-kasus serupa yang tidak mungkin saya tulis satu persatu.
I condole with you. Akan jauh lebih banyak lagi deret nama yang dapat ditulis, yang terselamatkan oleh vaksin. Tanpa maksud untuk 'menghilangkan' mereka yang 'menderita' akibat vaksin.
Usia anak dapat berjalan bervariasi. Apakah jika saya katakan anak yang tidak diimunisasi baru bisa berjalan di usia 1,5 tahun, lalu menjadi dasar bagi pernyataan 'anak menjadi lambat berjalan karena tidak diimunisasi'? Tidak ada hubungannya antara imunisasi dengan berjalan. Berjalan kaitannya dengan kesiapan mental dan motorik anak.
(Jangan) hindari imunisasi!
2. Menurut saya, Jika bisa Hindari Imunisasi, kalaupun perlu/terpaksa pilihlah imunisasi yang pokok saja (bukan imunisasi lanjutan/yang aneh-aneh) alasannya:
IMHO, tidak ada imunisasi yang aneh-aneh. Sedangkan imunisasi lanjutan bukanlah imunisasi di luar imunisasi wajib (yang ditetapkan oleh IDAI), tapi imunisasi yang diberikan sebagai tambahan (booster), di luar dosis 'wajib' atas alasan tertentu. Misalnya PIN polio, ketika anak yang sudah diimunisasi polio juga dianjurkan ikut.
- Kita "Mendzolimi", anak kita sendiri yang memang sedang masa pertumbuhan dan pertahanan tubuhnya masih lemah, malah kita suntikan penyakit (walaupun sudah dilemahkan) ke tubuhnya.
Betul, itu sudah dijawab sendiri. Bibit penyakit yang sudah dilemahkan ini dimasukkan ke tubuh dalam dosis yang sedemikian rupa sehingga cukup untuk merangsang sistem kekebalan tubuh agar membangun pasukan yang memadai. Bukan supaya sakit.
Justru karena kekebalan tubuhnya masih lemah, ia perlu 'diajari, siapa yang harus dikenali sebagai musuh dan bagaimana melawannya. Tidakkah lebih zhalim jika kita tahu bagaimana pencegahannya tapi kita memilih diam karena ketakutan (ketimbang ada dasar pemikiran lain, misalnya anak punya alergi terhadap putih telur atau tidak dapat menerima vaksin hidup)?
- Kita tidak pernah tahu kondisi anak kita sedang benar-benar sehat atau tidak, karena terutama anak yang masih di bawah 1 tahun biasanya belum bisa bicara mengenai kondisi badannya, sedangkan imunisasi harus dilakukan pada bayi/balita yang sehat (tidak sedang lemah fisiknya/sakit).
Koreksi sedikit. Anak yang sedang selesma atau flu tidak menjadi hambatan untuk diimunisasi. Selain itu, kita bisa kok menilai kondisi kesehatan anak. Jika tidak ada tanda fisik bahwa ia sedang sakit, jika ia tidak memiliki kelainan bawaan sejak lahir, jika insting ibu (biasanya nurani ibu lebih peka terhadap kondisi anaknya) tidak merasakan sesuatu yang aneh, jika perilaku anak tetap aktif dan riang, maka tidak ada masalah.
Biaya dan jaminan: tidak ada, mana ada?
Sesudah kita memasukan penyakit ke tubuh anak kita, biasanya kita juga harus mengeluarkan banyak biaya. (Jasa dokter/RS, harga imunisasi, dsb). Tidak ada jaminan (Dokter/RS/puskesmas) apabila setelah imunisasi anak kita bebas dari penyakit yang telah dimasukan ketubuhnya.
Memang tidak ada jaminan. Sudah saya jelaskan di awal tadi. Tampaknya para orangtua memang harus lebih aktif mencari informasi tentang vaksin, apa, bagaimana, dan sampai seberapa tinggi orangtua dapat berharap dari vaksin.
Tentu saja kita mengeluarkan biaya untuk layanan kesehatan. Sama saja seperti kita berbelanja. Dan tempat kita berbelanja juga umumnya tidak menjamin produk yang dijual. Konsumen yang dituntut untuk teliti terhadap barang yang dibeli. Mengapa kita tidak memberlakukan hal yang sama dengan produk kesehatan?
Contoh nyata yang terjadi pada anak saya, padahal anak saya sudah 2 kali imunisasi HIB ketika berusia +/- 5 dan 7 bulan ), padahal sebelumnya dokter bilang imunisasi HIB untuk menghindari penyakit Radang Otak, namun nyatanya anak saya malah meninggal akibat penyakit Radang Otak.
Again, I condole. Dan anak saya baik-baik saja setelah diimunisasi HiB secara simultan dengan DPT dan polio. Ini dapat menjadi pertimbangan bahwa tidak semua anak sama. Jika tidak semua anak dianggap memerlukan vaksin, maka tidak semua anak pula boleh dianggap tidak memerlukan vaksin.
Apakah kuman yang menyebabkan radang otak sama dengan yang terkandung dalam vaksin? Jika tidak, tentu dapat dimengerti.
Gerakan anti-imunisasi: global!
Menurut seorang rekan yang pernah membaca Literatur terbitan Prancis, justru Imunisasi sudah tidak populer di Amerika Serikat, dan terus berusaha dihilangkan dan tidak dipergunakan lagi, bahkan di Israel Imunisasi telah di STOP samasekali, padahal kita tahu negara-negara itu merupakan pelopor "industri", imunisasi.
Tanpa mengurangi rasa hormat, berita tersebut tidak benar, jika rekannya tidak berbohong. Literatur mana? Terbitan mana? Imunisasi tidak populer di AS? Tragis sekali. Anda bisa telusuri sendiri di internet dan situs resmi pemerintah AS, jadwal imunisasi tetap dikeluarkan setiap tahun. Bahkan anak-anak yang tidak melengkapi jadwal imunisasinya tidak diperbolehkan mendaftar di banyak sekolah (yang kemudian juga memancing reaksi dari para orangtua).
Atau, mungkin berita itu benar dan rekannya tidak berbohong, tapi yang dikutip sebagai sumber/literatur berasal dari 'golongan' anti-imunisasi. Tentu saja anda dapat mengharapkan segala informasi negatif tentang imunisasi ada di sana. Dan jika berawal dengan prasangka negatif, bukti nyata di depan mata pun sanggup (mereka) (di)jadikan mentah.
Vaksin flu bahkan dikembangkan di sana dan ada program vaksinasi flu setiap tahunnya. Israel adalah pelopor industri vaksin? Sejak kapan? Bagaimana ini bisa menjadi bukti bahwa imunisasi dihilangkan?
Menurut pengalaman saya jumlah kadar/isi setiap pipet/tabung imunisasi semua sama, jadi imunisasi tidak melihat berdasarkan berat tubuh/perbedaan Ras/warna kulit, padahal kalau Obat/Imunisasi itu Impor, tentulah kadarnya disesuaikan dengan berat/fisik orang Luar (Barat) yang jelas lebih basar dan kuat fisiknya dibanding orang Asia, namun kita malah sama-sama menggunakan dengan takaran yang sama. (akibatnya overdosis).
Maaf, vaksin wajib di Indonesia sudah diproduksi di dalam negeri, tidak lagi impor. Apakah sudah dibandingkan antara vaksin impor dan vaksin lokal? Berbedakah jumlahnya?
Yang penting diperhatikan sebelum memberikan vaksin tertentu adalah titer antibodi, bukan berat badan. Dan titer antibodi ini tidak berhubungan dengan berat badan, karena dinyatakan dalam konsentrasi.
Saya menanyakan langsung kepada penyelenggara program imunisasi (NIP, National Immunization Program) di CDC (Centers for Disease Control and Prevention) mengenai vaksin HiB ini, dan berikut adalah salinan jawabannya:
In general terms, a vaccine dose is based on AGE and the development of the immune system - NOT height and weight. The doses are either pediatric or adult.
Also, there are several different organisms that can cause meningitis (saya agak kesulitan dengan radang otak yang dimaksud dalam email tersebut, karena tidak ada keterangan apakah meningitis [radang selaput otak] atau ensefalitis [radang otak]). There are bacterial and VIRAL organisms that can cause meningitis. HiB is NOT THE ONLY ORGANISM that causes meningitis.
I would also remind you that NO MEDICATION, including HiB vaccine is 100% effective. And one last point - HiB vaccine is made with INACTIVATED (dead) bacteria, which can induce an immune response, but CANNOT cause disease.
Donna L. Weaver, RN, MN
Nurse Educator
National Immunization ProgramPenekanan pada beberapa kata berasal dari saya.
Nah, terbantah sudah dugaan bahwa radang otak tersebut diakibatkan oleh bakteri yang terkandung dalam vaksin HiB.
3. Jika tidak "urgent" sekali, hindari rawat inap di RS, karena banyak prosedur/step-step pengobatan yang akhirnya akan melemahkan tubuh pasiennya. (Contoh: keharusan berpuasa, pemasangan infus, pengambilan darah yang terus menerus, foto Rontgen, operasi, kemoteraphy, dsb). Jikalau perlu coba dulu dengan cara pengobatan alternatif/tradisional.
Tentu saja. Langkah itu memang seharusnya tidak ditempuh jika tidak penting DAN mendesak. Juga pilihan untuk pengobatan alternatif/tradisional. Apakah dilakukan juga jika tidak urgent?
Jika pengobatan alternatif lebih dipilih, apakah reaksinya akan tetap sama jika hasilnya negatif? Atau mirip reaksi terhadap ramalan? Kalau berhasil, "Tuh, kan, manjur". Kalau tidak berhasil, "Ya namanya juga alternatif. Namanya juga usaha, boleh dong". Tidak 'adil', ya.
Berpuasa memang biasanya dilakukan sebelum operasi. Kalau lambung terisi, bisa ada kemungkinan buang air (besar/kecil) ketika operasi sedang berlangsung. Berhubung operasi harus dilakukan dalam keadaan aseptik, maka keluarnya kotoran dapat memperbesar kontaminasi kuman patogen ke luka operasi yang sedang terbuka. Ini bahaya.
Pengambilan darah secara periodik hanya dilakukan apabila tidak ada jalan lain untuk mengetahui kondisi pasien. Biasanya ini untuk mengawasi keadaan yang cepat berubah, dan bisa diamati segera dengan menganalisa darah. Misalnya trombosit, leukosit, dan sebagainya.
4. Jika perlu dengan tegas untuk menolak suatu tindakan medis yang akan dilakukan RS, jika kita yakini manfaatnya tidak benar-benar berpengaruh terhadap kesembuhan pasien.
Bagus. Memang harus begitu. Jangan hanya berserah dan melimpahkan tanggungjawab kepada dokter. Dengan demikian orangtua juga harus aktif memperkaya ilmu sehingga dapat berdiskusi secara sejajar dengan dokter, tidak hanya 'menerima sabda'.
Sayangnya, orangtua seringkali juga terima saja jika diresepkan vitamin macam-macam dengan alasan untuk kesehatan/memperkuat kekebalan tubuh, padahal manfaatnya juga tidak benar-benar jelas. Berat sebelah?
5. Jika perlu lakukan 2nd opinion pada RS/dokter lain yang setara/lebih baik.
Betul sekali.
6. Banyak tanya, biarlah kita dibilang "bawel", tanyalah setiap tindakan medis yang akan dilakukan, mengapa akan di lakukan, akibat-akibatnya, ada tidak cara-cara lain/alternatif lain yang lebih baik/tidak terlalu menyakiti pasien.
Setuju. Dan jika memang 'menyakiti' adalah cara terbaik yang dapat menguntungkan, bersiaplah untuk memilihnya.
7. Terus temani pasien (bisa bergantian dengan keluarga yang lain), karena setiap saat bisa ada tindakan medis yang memerlukan persetujuan, dan cermati semua pekerjaan perawatannya, jika ada yang habis/kurang jangan sungkan melaporkan ke tenaga medis yang ada segera.
8. Terus berdoa, karena segala sesuatunya telah ditetapkan oleh "Yang Maha Kuasa", manusia hanya bisa ikhtiar dan berusaha.
None other than agree. Saya salut pada keluarga ini yang sanggup berlapang dada dan mengajak pada kepasrahan.
Saya betul-betul berharap dapat membantu mencerahkan, alih-alih bikin suasana tambah runyam. Karena itu saya khusus minta bantuan ekstra dari cak Moki (yang dokter tulen). Saya salinkan sebagian tanggapan beliau:
"tapi kalau ternyata kejadian betulan kan ya kejam betul saya langsung menuding itu bohong"
*Ini kata-kata dari email sayaYa, saya sependapat.
Jika email tersebut kita anggap benar, saya masih sedikit penasaran.
Orang tua yang baru kehilangan anak tercinta, sangatlah manusiawi mengungkapkan kedukaannya. Mengapa melalui email berantai? Mengapa diakhiri dengan sikap toleransi (pementahan) pada point 7 dan 8?Rasa penasaran saya berikutnya adalah kesinambungan waktu.
Mungkin salah tulis atau saya salah memahami.
Coba kita perhatikan, si bayi malang dilahirkan pada pertengahan bulan Juni 2005, sedangkan email (original) 29 April 2005. Pada usia 7 bulan masuk RS (17 Maret 2005). Meninggal 12 April 2005. Emailnya apa adanya kan?Iya, cak, kata mbak Dinar -juga yang saya lakukan- itu tidak diedit, bahkan header-header yang timbul akibat tindakan 'forward' juga dibiarkan apa adanya. saya malah ndak memperhatikan tanggal itu hehehe…
Sekian, berikutnya pribadi (ehm). Sisanya cak Moki mengaku:
Akhirnya, monggo diposting. Lebih adil jika yang menulis Bu Lita, lebih merepresentasikan seorang ibu, mewakili kaum terpelajar.
Sejujurnya, saya tidak mampu menulis sebagus itu. Sungguh, bukan basa-basi.
Dan saya bangga seandainya banyak yang seperti itu.
Waks. Malu saya. Sungguh hanya ingin berbagi, kok. Saya prihatin jika banyak orangtua mengambil keputusan dengan tergesa-gesa hanya karena takut. Sesal kemudian betul-betul tidak berguna. Apalagi jika sudah menyangkut anak. Semesta di dunia. Terimakasih buanget ya, cak!
Anda yang ingin mengetahui langsung dapat membaca 10 Things You Need Know about Immunization di sini, atau bahkan bertanya langsung ke CDC Information Contact Center via email.
Artikel ini juga layak dibaca: Smallpox must have never existed! Circular logic. Big thanks, Eko

Mudah2an gak merembet ke LSM-LSM tak bertanggung jawab itu yang demennya ngebohongin rakyat demi duit para bule tak bertanggung jawab
Wah sip deh Bu Lita ‘dalil’-nya kuat.
Mba Lita… salam kenal dulu yaaa…:-)
Daku termasuk yang pernah punya pengalaman dengan imunisasi yang ‘gagal’. Gadis kecilku Naila, diimunisasi cacar air di DSA langganan kami, eh…ngga sampai 2 hari, Naila terpapar betulan sama cacar air. Komplen dong daku ke DSA-nya, secara imunisasi cacar air kan ngga murah…mana ngga ditanggung asuransi lagi *Huh*
Jawaban dari DSA-nya: ya berarti sebelum di-imunisasi, Naila memang sudah terkena cacar air, tapi DSA-nya kasih jaminan, klo cacar air yang diderita Naila ngga bakalan separah anak-anak yang ngga diimunisasi cacar air….Alhamdulilah sih, cacar air-nya Naila memang ngga parah. Ngga sampai 2 minggu, semuanya hilang ngga berbekas….
Sekarang tinggal adik2nya: Reyhan & Zahra yang blom imunisasi cacar air….Harga vaksinnya itu loh yg mahal…:-(… Kenapa ya asuransi ngga mau nanggung, padahal cost dari mencegah pastinya lebih murah daripada biaya perawatan orang sakit…:-(
btw. Webnya daku link yaaa…Boleh kan??
Sebelumnya salam kenal yaaa…
Saya termasuk yg pernah mengalami kejadian ‘kegagalan’ imunisasi. Si Sulung saya Naila, terpapar cacar air, hanya 1 hari setelah menerima imunisasi cacar air dari DSA langganan kami. Saya langsung komplen, tapi sang DSA menjawab, bahwa sakitnya Naila bukan disebabkan dari vaksin cacar air, tapi memang sebelum imunisasi Naila sudah tertular, dan bahwa imunisasi yang sudah dilakukan tidak sia-sia, karena cacar airnya Naila pastilah tidak akan se-parah cacar air anak2 yang tidak mendapat imunisasi cacar air… Alhamdulilah, Naila sakit ‘hanya’ 2 minggu dan sama sekali tidak berbekas…:-)
Hanya saja, banyak tindakan imunisasi yang tidak di-cover oleh asuransi, seperti cacar air itu, yang harga vaksinnya…fiuh..pengen sehat aja koq mahal…:-)
Kenapa yaa… asuransi ngga mau mengcover biaya imunisasi, padahal cost mencegah tentunya lebih ‘murah’ daripada biaya pengobatan….:-)
btw. blognya saya link yaa… saya suka tulisan2nya… and bantuin kasih saran dong, saya lagi bingung nih…mampir ke tempatku yaaa…:-)
usul Bu! pripun lak dibagian akhir dicantumin daftar pustakanya. agar cukup kuat buat bargaining dengan para penolak imunisasi itu. istilahe kiy, “nyoh! woconen dewe dalil2nya lak gak percoyo!”.
beneran ya ini bukan hoax kan? hehehe
Saya pernah juga kena dampak ‘imunisasi gagal’ ini…
ceritanya pas masa liburan smp dulu, saya nginap di rumah sodara. Kebetulan sodara saya itu kena cacar air. Tapi saya tetep kekeuh nginap, dengan keyakinan diri, tokh saya sudah diimunisasi, kebal donk…
seminggu setelah tidur bareng sodara cacar itu, saya pun kena cacar juga…
setelah menyumpah2 terhadap korupsi yang saya duga terjadi pada proses pengadaan vaksin cacar, mama dengan eneteng bilang, “kamu kan belum pernah diimunisasi cacar dil..? kok sok yakin gitu kemarin..?”
*gubsrak!*
Dulu waktu kena cacar, saya tanya dokter. Kenapa saya tetap kena walaupun sudah imunisasi cacar. Katanya, kalo sampeyan ga diimunisasi cacar, mungkin pas kena cacar justru berpeluang besar terhadap kematian.
Jadi, jangan tinggalkan imunisasi!!!
Eko
Sad but true. Sayangnya, walau agak sulit membuktikannya, ya? Humanity and freedom to choose, they say. Yea rite.
Aswad
Maunya sih sekali ‘pukul’ langsung KO. Apa daya tidak selalu begitu, kan? Bahkan ‘dalil’ dari dokter kampiun sekalipun belum tentu bisa menandingi kekeraskepalaan (calon) pasien yang antipati. Cak Moki tuh sudah berpengalaman di lapangan. Ya, cak? Hehe…
Amalia
Maaf mbak, saya tidak siaga untuk langsung membebaskan komentar dari moderasi. Lain kali tidak perlu dua kali kok
Iya, waktu inkubasi beberapa penyakit infeksi (dan menular) memang agak lama. Kita sudah terpapar sebelum menyadari, jadi sebelum kita jatuh sakit kita juga sudah bisa menularkannya ke orang lain lagi.
Untunglah Naila baik-baik saja, ya.
Saya kurang tahu pasti mengapa asuransi tidak menutup biaya imunisasi, hanya menduga-duga. Bisa jadi karena imunisasi cacar air (salah satunya) tidak termasuk imunisasi wajib. Walaupun begitu, asuransi juga bisa menutup biaya imunisasi non-wajib, misalnya vaksin influenza. Tentu saja ini tidak berlaku di setiap perusahaan atau penyedia jasa asuransi.
Terimakasih untuk link-nya, mbak Amalia. Salam kenal juga.
Saya sudah mampir, dan bingung. Saran bagaimana lagi, ya? Mbak tampaknya lebih canggih daripada saya untuk urusan anak, deh hehehe… Kalah umur dan pengalaman, nih
Devie
Err… sebenernya sudah ada ya di hyperlink-nya.
Ya sudah, berhubung suami saya juga mengusulkan yang serupa, nanti saya buatkan posting susulan tentang artikel resmi yang ‘kokoh’ untuk dijadikan rujukan.
Sabar, ya
Anang
Artikel ini asli bukan hoax deh, mas
ManusiaSuper
Yeuh, bukan imunisasi gagal dong, diimunisasi cacar air aja ngga
Nekat bener tidur bareng. Walau sudah diimunisasi, tetap bisa ketularan lagi, lho hihihi…
Hedi
Wah, pengalaman pribadi ya. Ibu saya malah ngga inget dulu saya diberi imunisasi cacar air atau tidak. Pastinya, waktu kelas 3 SMP, saya ketularan dari teman. Alhamdulillah selamat
hebat mbak artikelnya, kalo isu imunisasi suatu penyakit dimana penyakitnya udah punah gimana mbak? nuwun
kalo de mah tetap melakukan imunisasi sebagai ikhtiar dalam melindungi anak. Kalo kebetulan tidak ada masalah di faktor biaya untuk melakukan tindakan preventif…kenapa juga tidak kita lakukan?
kebetulan Rafa mau masuk SD. dan ada beberapa SD yg menjalankan kurikulum internasional yang menolak anak baru jika belum lengkap imunisasinya. Jadi sekarang Rafa lagi mengejar booster imunisasi nih
Alhamdulillaah rasa curious saya terhadap fwd email yang saya dapat dari teman tsb dibahas jelas oleh mom Lita di sini dengan sumber2 dari yang berkompeten ^_^
matur kesuwun mom Lita atas kesediaan waktunya .. salam kenal ya mom Lita
Dinar Ardanti.
Bundanya Almaira Rindang Thara
wah..trims Mbak, lengkap sekali infonya.
Mba, Nasywa pernah kena campak pas umur 11 bln tertular ayahnya, waktu umur 9 bln memang blm sempat diimunisasi campak krn kondisi Nasywa yg sering sakit (batuk pilek). Menurut teman katanya ga perlu imunisasi lagi karena udah kebal dgn sendirinya, betul ga sih?
Pada imunisasi campak massal yll tidak saya ikutkan, trus terang saya takut terjadi hal-hal yg tidak diinginkan. Dan pas baca koran kemarin ternyata memang ada kasus akibat imunisasi campak massal itu.
tulisan pak dokter ini bisa dirujuk juga ^-^
wuaa…info lagi nih
baca dulu
iya tuh bu lita, aku baca emailnya rada-rada lieur…
aneh aja… tadinya aku pikir kecaman bakal ditujukan yang utama untuk rumah sakit, kok ya… jadi ke vaksinasi sih. gak nyambung aja menurut pemikiran aku yang gapkes…**gagap kesehatan**
Thanks infonya. mbak.
Memang utk seorang anak diimunisasi sebaiknya kondisinya dalam keadaan sehat. Flu dan pilek biasanya nggak berpengaruh agar seorang anak diimunisasi, tetapi sebaiknya dihindari. Karena ada juga kasus seorang anak menjadi demam setelah dilakukan imunisasi. Suatu reaksi tubuh yang normal terhadap benda lain yang masuk ke dalam tubuh.
jd pengen punya anak
test test baru jadi http://bimoseptyop.wordpress.com
Sejak kemarin baca, termangu, mau komentar apalagi, wong sudah lengkap sak link-linknya.
Sekelumit perjalanan imunisasi:
Hujan dan panas bukan hambatan untuk blusukan menyusuri jalan setapak, demi imunisasi. Berloncatan antar perahu yang berlabuh di tepian sungai hanya untuk mencari bayi, demi imunisasi. *hiks puitis*
Mohon dimaafkan jika ada yang ketinggalan kurang mendapatkan informasi lengkap, mungkin salipan di jalan.
Saya hanya bisa mengucapkan terimakasih untuk Bu Lita dan teman-teman lain yang ikut memberikan pemahaman seputar imunisasi.
Teriring do’a, semoga bermanfaat.
Wah banyak juga complain ttg imunisasi ya, baru2 ini malah dapet email katanya imunisasi penyebab autis, wadduhh bisa2 semua anak udah autis dong, di US kalau masuk sekolah yg ditanya surat imunisasi lengkap apa engga? Klo ga lengkap ga boleh sekolah, eh anakku pas dateng, langsung di suntik 4 kali sekaligus buat ngelengkapin semuanya… Alhamdulillah gpp. Disini juga ada imunisasi flu, udah di suntik tetep kena flu tuh…tapi ga separah yg ga di shot…
Iway
Semoga berguna.
Terimakasih
Sudah punah? Cacar (smallpox), misalnya? Belum tahu ada isu seperti itu, tuh. Bisa dibagi sumbernya?
De
Jadi, rasanya ngenes kalau tahu ada anak dari keluarga berada tapi tidak diimunisasi secara ‘layak’ karena kekurangtahuan (atau dalam beberapa kasus, ketidakpedulian) orangtuanya.
Setuju banget. Bagaimanapun, faktor biaya sangat menentukan
Wah, mas Rafa sudah mau SD, ya. Sudah bisa mengajari adiknya belajar macem-macem ya
Dinar Ardanti
Nah, sumber emailnya sudah hadir di sini hehe… Salam kenal juga, mom Dinar.
Sama-sama, terimakasih kembali. Ini memang kerjaan saya, kok. Bikin bahasan seputar yang saya tahu
Evi
Ada kasus? Saya belum dengar tuh. Bisa share beritanya?
Mmm… yang pernah saya baca sih, yang ditanyakan itu jarak antara imunisasi campak dan MMR atau jarak antara kena campak dan imunisasi MMR. Ketimbang imunisasi campak, saya lebih pilih MMR. Ada ‘bonus’ (eh ya ngga bonus sih, kan sudah satu ‘paket’) dua vaksin lain: gondong dan rubella.
Maaf, ngga membantu. Ada yang bisa membantu dengan lebih layak?
Ananta
Terimakasih untuk rujukannya. Tulisan dr. Apin malah kelewat sama saya (padahal link ke blognya ada di arsip taut saya).
Seneng deh ketemu penggemar Adachi sensei
Ekowanz
Monggo, sila dinikmati dan dikunyah pelan-pelan biar ngga keselek
Maaf lho emailnya belum rampung juga ditanggapi. Harus blusukan nyari ke jurnal dan tempat-tempat yang masih asing buat saya. Gimana kalau tanya cak Moki juga? Atau pak Dani Iswara?
*siap-siap lempar tanggungjawab*
Ira
Ahaha… ada istilah baru, ya. Aku baru denger tuh ‘gapkes’.
Yaa… menyalahkan dokternya karena memberi vaksin. Sekali ‘tembak’ kan dua tuh :p
Fertob
Anak demam setelah imunisasi vaksin hidup (misalnya BCG, DTP) itu justru yang normal. Aneh kalau tidak demam
Soal selesma saat akan imunisasi, dibahas di tulisan dr. Arifianto yang disetor Ananta.
Bimo
Asli baru jadi, ya? Masih kosong
Cak Moki
Hauhauhau… mengharukan. Itu kalau dibikin sinetron ala jaman TVRI jaya, mestinya pakai musik latar yang membangkitkan iba, rasa nelangsa dan titik air mata simpati ya, cak? Hehehe…
Aslinya dokter itu profesi pengabdian tho, cak? Ya ndak papa pake gaya puitis
Evy
Wah, di sini disuntik 2 kali sekaligus aja udah dibilang kejam lho, bu. Yang komentar begitu bukan orangtua aja, dokternya juga! Ckk.. ckk.. ck… Katanya, “Tega bener orangtuanya. Kan kasihan bayi disuntik 2 kali sekaligus”.
Untung dokter anakku lebih ‘terdidik’. Dia setuju aja waktu aku minta imunisasi simultan buat Daud.
Eh anak ibu mah udah gede ya? Heheheh… gak sebanding.
Galur virus selesma dan flu itu bukannya banyak ya, bu? Jadi gak heran kalo masih tetep kena flu. Vaksinnya berapa untuk virus yang mana, eh yang dateng lain lagi hihihi…
Email soal imunisasi penyebab autis itu sudah beredar sejak akhir abad 20 lho, bu. Bolak-balik di-forward masuk milis. Sampe bosen yang nanggepin. Akhirnya paling cuma dirujuk, “Baca email nomer sekian” atau disalinkan jawabannya dari arsip
Ngenesnya, kalau search di Google pakai kata vaksin dan autis, email menyedihkan ini ada di halaman pertama. Berebut dengan situs PuteraKembara (yang berusaha memberi pemahaman yang benar seputar autisme) dan… cuilan blog ini hehe…
Banyak beneeeerrrr PR dokter jaman sekarang, ya. Harus melek IT dan lebih canggih ketimbang mereka yang pemahamannya melenceng sana-sini dan (yang lebih parah lagi) menyebarkannya ke orang lain.
Selamat berjuang, para dokter!
Cherrie
Maaf maaf… komentarnya masuk ke kotak spam. Dan tanpa sepenuhnya saya sadari, saya sudah klik ‘delete all spam’ sebelum sadar bahwa ada komentar ’sungguhan’ milik mbak (mbak, kan?) di sana.
Maaf sekali lagi, ya. Boleh kok komentarnya ditulis ulang (semoga ngga BT duluan).
Tentang imunisasi cacar.
Cacar api (smallpox) dinyatakan punah dari muka bumi pada tahun 1980. Jikapun ada, maka bentuknya adalah biological weapon alias senjata biologis untuk kepentingan perang atau terorisme.
Sedangkan vaksinnya, yang ada sekarang cuma vaksin varicella (cacar air). Vaksin cacar (smallpox) diberikan dengan menggores kulit, dan goresan itu saat ini hanya bisa didapati pada golongan usia -umumnya- 30-an ke atas (jika memang pernah diimunisasi cacar api, tergantung pada tahun 1980 usianya berapa).
Informasi resmi tentang smallpox bisa dilihat di sini:
What you should know about smallpox outbreak, Smallpox vaccine: what you need to know, FAQ about smallpox, dan FAQ about smallpox vaccine.
Nah, berkaitan dengan beberapa blogger di sini yang bersaksi mendapat vaksin cacar, sila dikonfirmasi cacar mana yang dimaksud
Lita, sudah kubuatkan artikelnya buat bahan buku-nya..ttg pertolongan pertama luka/trauma di wajah… di blog aku ya, semoga berkenan
Manfaat imunisasi memang tidak perlu dipertanyakan. Karena ini merupakan program kesehatan secara internasional dan sudah terbukti bermanfaat. Mungkin yang perlu diperhatikan adalah pola penyakit yang sudah berubah. Perubahan ini tentunya harus diikuti oleh strategi perencanan vaksin yang harus disesuaikan dengan pola penyakit. Saya, juga baru ingat, sebelum tahun 2004, vaksinasi campak hanya sekali dilaksanakan. Tapi, saat ini kalo tidak salah vaksinasi campak dilaksanakan 2 kali setahun.
Halo, Jeng Lita, apa kabar?
Begitu baca postingan ini, aku langsung terpecut utk komen (hehe). Tp pertama, email ini udah pernah aku terima setahunan yll. Udah dibahas jg dng temen2. Disini, aku cuma mo nyumbang suara (sumpah, gak bakal pake nyanyi), tp agak panjang. Gak papa ya…
Pendapatku, imunisasi itu wajib! Seluruh generasi mendatang bisa habis diserang penyakit hanya krn sekarang kita menolak imunisasi. TAPI, poin berikut ini yg jarang dikasih ke publik: informasi ttg side effect dan rasio keamanan vaksin harus diberikan kpd ortu. DAN, informasi itu jg harus fair menyebutkan bahwa satu vaksin yg aman utk 9 anak belum tentu aman utk anak ke-sepuluh (tergantung rasionya). Pengalaman ini aku dapetnya pahit banget.
Selama setahun lebih, anakku sakit2an (sampai harus diopname) semenjak dia diimunisasi dpt 1. Pdhl, sejak lahir sampai 3 bulan, dia sehat segar bugar. Dokter yg menangani pd waktu itu tak percaya kalau anakku mulai sakit sejak dikasih dpt. Menurutnya, semua vaksin itu aman dan sudah terbukti. Krn aku jg gak ‘melek info imunisasi’, aku gak punya nyali utk mendebatnya. Stlh lbh dr setahun dgn kondisi yg terus memburuk (bb turun, penyakit bolak balik datang) dan gonta-ganti dokter, Alhamdulillah, aku dipertemukan dng dokter yg terakhir. Si dokter ini -stlh mendengar riwayat sakit anakku- langsung ambil tindakan: Tes Lab! Ya Allah, ternyata anakku itu sensitif thdp bahan2 di vaksin2 tertentu!
Sejak itu aku rajin memburu info ttg imunisasi. Dan ternyata jawabannya adalah ‘vaksin itu sebagian besar (dng rasio yg cukup tinggi) aman utk kebanyakan anak. Sayangnya, kata kebanyakan itu gak pernah diinformasikan ke ortu/konsumen. 100 anak bisa selamat dng DPT, tp 1 anak mungkin tidak. Bagaimana kalau itu anak kita? Krn itu sekarang pendapatku ttg imunisasi ada di 3 poin berikut: 1) imunisasi itu harus 2) tapi informasi mengenai side effect dan rasio aman/tdk aman jg harus diberikan ke ortu 3) ortu dan dokter wajib(!) mengecek apakah anaknya termasuk ke golongan minoritas yg tidak cocok thd bahan vaksin ttt.
Sampai skrng rasa sakit hati thd generalisasi keamanan vaksin masih ada. Jng sampai ortu lain sama butanya dng aku!
to mariskova,
saya tertarik dengan pendapatmu poin ke-3:”ortu dan dokter wajib(!) mengecek apakah anaknya termasuk ke golongan minoritas yg tidak cocok terhadap bahan vaksin tertentu”. Tes lab apa yang dilakukan sehingga dapat diketahui kl anakmu sensitif dgn bahan2 vaksin itu dan bagaimana menerjemahkan hasil lab itu. Pengalaman yg sama waktu anak saya diimunisasi campak saat usia 9 bulan, selang tidak berapa lama dia panas dan harus diopname di RS.
OK, makasih Bu Lita, saya sudah lama kagum dengan isi blog ibu. Berbobot dan memperluas wawasan…Lam kenal aja…
hidup imunisasi!!!! *lagi bingung mau komen apa hehehe*
Evy
Maturnuwun sanget, bu dokter. Sudah saya kunjungi
Jhonrido
CMIIW. Baru-baru ini memang ada KLB (kejadian luar biasa), outbreak campak. Untung mencegahnya meluas, maka diselenggarakan PIN campak. Dan untuk pola yang disebutkan itu, mungkin karena itu pula jadwal imunisasi diperbarui setiap tahun.
Mariskova
Huee, jeng Mariskova. Baik, jeng
Terimakasih banyak untuk sharingnya. Ini penting banget, ibu-ibu sekalian.
Alergi terhadap bahan aditif di vaksin (pengawet, penstabil) memang jarang, tapi bisa serius sekali. Dan -menurut pengalaman saya sendiri- memang tidak disaring dulu oleh paramedis di sini. Maksudnya ngga ditanya-tanya, “Anak ibu alergi putih telur? Atau alergi terhadap pengawet anu?”. Lha kalo bayi baru lahir trus ibunya ditanya-tanya begitu, anak pertama pula, apa ngga keder duluan dan jadi ngga mau mengimunisasi anaknya. Sudahlah kesadaran kesehatannya masih setengah-setengah, naluri mencari informasi juga rendah, gampang dihasut pula.
Mungkin karena itu pula dokter pada ngga nanya, ya?
Jadi masukan nih, mbak, untuk artikelku tentang informasi wajib baca seputar imunisasi. Terimakasih lagi, ya. Untung bunda Hikari gigih dan ngga gagap informasi, ya. Jadi Hikari pasti akan baik-baik saja
Jadi rada mikir, berapa banyak ya dokter yang seperti dokter Hikari yang terakhir itu? Mengorek ke akar masalah ketimbang hanya melihat yang kelihatan.
pokoke hidup imunisasi!!!
salah satu kelemahan distribusi vaksin waktu yang lalu adalah pada cold chain-nya, yang kemudian diatasi dengan penggunaan data logger untuk memonitor suhu sepanjang rantai distribusi. otoritas perlu memperketat pengawasan distribusi vaksin dan melakukan audit secara lebih keras. salam.
Hsl kesimpulan uji statistik yg diambil dr byk data emang bisa beda dengan kesimpulan seorang ibu yg ditarik berdasar beberapa data saja yah.
waduh, mbak lita sepertinya comment comment ada banyak yang “pedas”. sepertinya anda “sakit”. beda dari orang kebayakan memang “unik”, tapi belum tentu “benar” lho…. anda hidup dalam “persepsi” anda sendiri. selamat yah…..RSJ menunggumu
Saya hanya ingin tidak seperti temen2 yang lain, saya hanya ingin komentar bahwa isi dari site ini bagus dan tampilannya juga bagus. nice site!
Sukses selalu
Grapz

Aduh maaf, mbak dokter kodok… Komentarnya kok menyalip di tikungan
Hidup! Ya memang yang diimunisasi hanya yang masih hidup saja, toh?
Apa kabar Dora?
*ngumpet ah*
Aroengbinang
Sangat berpengaruh pada efektivitas vaksin ya, pak?
Lalu bagaimana dengan administrasi vaksinnya itu sendiri? Ada seorang ibu yang mengeluh vaksin di PIN campak kemarin tidak menggunakan jarum suntik sekali-pakai, jadi diganti tiap 4-5 orang. Mengkhawatirkan. Bukankah sangat rentan penularan penyakit? Ini juga perlu pengendalian yang lebih ketat, tampaknya.
Undil
Jika email tersebut berdasarkan kejadian nyata, saya bersimpati pada keluarga tersebut. Bukan hal yang aneh jika kedukaan menghalangi dari kejernihan.
Salam kenal, pak Undil
Tari
Sejauh yang saya lihat, komentar yang negatif hanya dari anda. Apakah anda sudah membaca dengan teliti dan mengerti apa yang saya tulis?
Tapi terimakasih atas peringatannya. Akan saya ingat lain kali saya merasa sakit.
Azwar
Terimakasih, pujiannya diteruskan ke admin
[OOT]

khas tulisan yg dah pantes bikin buku..
:D
kayaknya gak perlu editor lg deh..
→ alurnya enak dibaca bu..makasi pencerahan kesehatannya..jgn kapok2 ya..
makasihh banyak mba lita buat sharingnya….
makasiiiiii banget…
Tuhan Berkati Mba ya…:)
Assalamu’alaikum Bu Lita. Senang sekali saya bisa mampir kesini. Saya tahu blog Ibu dari shoutbox di blogspot saya. Kesimpulannya: kita berada di pihak yang berbeda. Saya, yang kebetulan berasal dari latar belakang kesehatan, pro dan mengkampanyekan imunisasi. Sedangkan Ibu, yang memang bukan berlatar belakang kesehatan, namun memiliki kepedulian amat sangat terhadap kesehatan, kontra dan mengajak untuk menolak imunisasi.
Adalah hal yang sangat wajar memang, adanya pro-kontra terhadap berbagai hal di masyarakat. Saya sama sekali tidak mempermasalahkan ini. Hanya ingin sedikit berbagi pandangan saja, terhadap tulisan Ibu di sini.
Saya, dan seluruh dokter-dokter spesialis anak-bahkan pakar imunisasi dunia, memiliki pandangan yang sama dengan Ibu, bahwa imunisasi tidak memberikan proteksi 100%. Saya pribadi juga sepaham, bahwa angka keberhasilan imunisasi, SALAH SATUNYA, dilihat dari angka statistik. Hei, statistik bisa berbohong juga lho! Sampai ada buku terkenal yang menjadi salah satu koleksi saya: “How to Lie with Statistics”. Tapi statistik yang bagaimana yang digunakan oleh imunisasi? Saya tidak tahu persis, latar belakang pendidikan ibu yang sarjana teknik kimia ITB (dulu cita-cita saya masuk ITB, tapi tidak kesampaian, jadinya terdampar di UI) apakah memasukkan mata kuliah statistik dan metodologi penelitian dalam salah satu persyaratannya. Kami yang lulusan dokter (S-1) mendapatkannya. Begitu juga ada pengembangan dari ilmu statistik ini yang namanya “Evidence Based Medicine” (EBM). Belum banyak dokter di Indonesia yang paham EBM ini, sehingga mereka–maaf–mudah tertipu oleh hasil penelitian dan angka-angka statistik yang ditunjukkan oleh perusahaan farmasi, untuk menggunakan produk mereka, dan memperkaya mereka (maklum ya, kita hidup dalam sistem kapitalistik). Apa EBM itu? Silakan buka situs Prof. Iwan Darmansjah (www.iwandarmansjah.web.id).
Imunisasi telah terbukti efektivitasnya melalui ilmu EBM ini.
Sekarang kita masuk ke dalam kasus yang Ibu sampaikan.
Imunisasi/vaksinasi hepatitis yang diberikan pada anak bukan hepatitis B saja, tetapi hepatitis A juga. Masalahnya, hanya hepatitis B yang diberikan secara gratis (program pemerintah di Posyandu), mengingat keterbatasn dana pemerintah. Padahal hepatitis A tidak kalah pentingnya. Untuk jadwal kapan pemberian ini, silakan buka situs Ikatan Dokter Anak Indonesia (www.idai.or.id). Bisa saja pada kasus anak yang mengalami hepatitis B atau A, tidak lama setelah mendapatkan imunisasi, bukan akibat vaksinnya. Karena vaksin hepatitis B dan A bukan berasal dari virus hidup, melainkan virus yang dimatikan. Maka sama sekali tidak mempunyai potensi infeksiusitas. FYI, vaksin ada 2: hidup yang dilemahkan (live attenuated) dan dimatikan. Vaksin hidup TIDAK BOLEH diberikan pada anak yang mengalami penyakit dengan gangguan daya tahan tubuh (penyakit kanker, HIV-AIDS, dll), karena vaksin yang diberikan justru berpotensi menimbulkan penyakit. Meskipun secara teori hanya ada 1 macam vaksin yang bisa menimbulkan ini: polio. Tapi vaksin mati BOLEH diberikan pada anak-anak dengan gangguan sistem imun. Penjelasannya masih cukup panjang, silakan buka situs kami di www.sehatgroup.web.id untuk mendapatkan informasi shahih mengenai teori vaksin ini.
Kembali lagi, bisa saja anak tersebut telah mengalami hepatitis asimtomatik (tanpa gejala). Ketika daya tahan tubuh menurun, penyakitnya baru tampak. Karena sebagian besar hepatitis tanpa keluhan (carrier, saya yakin Bu Lita juga paham mengenai ini). Jadi tidak ada sangkut-paut dengan vaksinasinya. Justru benefit pemberian vaksin mampu mencegah menjadi hepatitis kronik, atau sirosis hepatis.
Aduh, kerjaan masih menunggu. Segini dulu, insya Alloh diteruskan lagi (kecuali kalau comment saya ini Bu Lita hapus dari sini, hehehe).
Memang banyak hal ilmu kedokteran yang jika dipahami separuh-separuh, kemudian langsung disampaikan, maka akan menyesatkan. Mungkin ibaratnya sama dengan menyebarkan hadits dho’if (lemah), bahkan palsu. Jadi saya sebagai dokter, berharap agar informasi kedokteran yang hanya dipahami separuh-separuh, kemudian disebarkan dengan tendensi nada negatif. Khawatirnya justru akan berujung pada mudharat dan mafsadat (kerusakan)
Mohon maaf jika kurang berkenan.
Al haqqu min robbikum, fa laa takuunanna minal mumtariin. Kebenaran itu datangnya dari Robb-mu, maka janganlah kamu meragukannya.
Wassalamu’alaikum wr wb
Arifianto
Addduuuuhhh mas dokter. Bacanya jangan judulnya doang dong please… Saya sama sekali tidak mengajak para orangtua untuk menolak imunisasi, kok. Saya justru sedang menjelaskan di mana letak kelemahan-kelemahan ajakan itu. Kita tidak berseberangan, justru saya getol mengingatkan untuk imunisasi. Coba dibaca lagi pelan-pelan ya mas, jangan dilongkap-longkap ah
Mbak Lita…tks banget atas ulasan tentang imunisasi serta anggapan seputar imunisasi, tulisannya mudah dipahami dan penjelasannya pun gamblang sekali dan yang pasti menambah ilmu.
Mengenai pengalaman imunisasi, Alya sudah mendapatkan imunisasi BCG sesuai jadwal imunisasi. Tetapi saat usia 1,1 th, Alya didiagnosa terkena infeksi TB. Duh sempet merasa sedih banget dan punya perasaan gagal menjadi ibu yang baik karena tidak bisa menjaga kesehatan anaknya, tetapi akhirnya berpositif thinking bahwa . Sempet kesel juga meskipun sudah pernah imunisasi tetapi masih terpapar juga, ternyata saya baru tahu bahwa daya kekebalan vaksin BCG untuk mencegah TBC hanya 20%. Tetapi betul yang dikatakan mbak Lita bahwa bagaimanapun juga imunisasi tsb tetap penting untuk memperkecil kemungkinan tertular dan memperingan gejala penyakit tsb.
Trus mengenai poin 4 & 6, setuju sekali tetapi pengalaman saya prakteknya agak susah apalagi biasanya keluarga pasien dalam keadaan panik. Ini pengalaman kita menjelang bulan puasa kemaren, suami saya terdiagnosa terjangkit DBD yang sangat parah, trombositnya menurun dengan tajam dan sempet tranfusi trombosit 3x, alhamdulillah tidak sampai mengalami Dengeu Shock Syndrome. Terus terang saat itu kami kesulitan mencari RS, rata -rata hampir setiap RS sudah sangat penuh. Selama dirawabt setiap akan memasukkan obat injeksi kedlm infus saya selalu tanya kepada , obat apa dan untuk apa? tetapi susternya cuma menjawab ini obat anu untuk menaikkan trombosit dan karena awam sekali dengan obat-obatan saya juga agak bingung, emang ada ya obat untuk menaikkan trombosit? dan tentu saja saat itu obat-obatan tsb lolos ketubuh suami saya. Begitu juga setiap saat saya menanyakan kadar trombositnya, mereka menjawab dengan agak ketus. Setelah hari ke3 saya minta tes darah lengkap diulang di lab. yang punya nama, dari pemerisaaan lab terlihat bahwa kadar gula suami saya sangat tinggi sekali, mencapai 500 mg/dl. Kita sempet shock karena merasa tidak pernah mengetahui hal ini dan merasa kecolongan. Terus terang suami saya belum pernah melakukan medical check up sebelumnya. Kebetulan pada hari ke 4 saya menanyakan total biaya pengobatan ke bag. admin, dan yang membuat saya terkaget kaget, sampai hari ke 3 biaya pengobatannya sudah mencapai 25 Jt. Dan dari penjelasan admin, porsi terbesar biaya tsb adalah obat dan tranfusi. Setelah browsing kesana kemari dan mendatangi beberapa internist yang lain , untuk sementara saya mendapatkan penjelasan mengapa suami saya yang sakit DB harus komplikasi dengan DM dan terpaksa menjalani perawatan sampi 18 hari di RS & menelan biaya hampir 40 Jt, ternyata ada obat yang sangat mempengaruhi kadar gula dalam darah dan yang seharusnya tidak boleh diberikan kepada orang yang punya potensi atau menderita Diabetes Melitus dan harganya pun sangat mahal. Padahal obat tersebut biasanya digunakan didunia kedokteran untuk mengobati penyakit Lupus dan Perdarahan di pembuluh darah Otak. Memang suami saya mungkin mempunyai bibit DM tp tidak seharusnya seorang dokter ceroboh dalam memberikan obat-obatan, apalagi obat-obatan yang jelas banget menyebutkan efek sampingnya. Tapi kami ikhlas dan tidak memperpanjang masalah ini, kami yakin ini adalah ujian dari Allah Swt buat keluarga kami dan suami saya khususnya. Alhamdulillah suami saya diberi kesembuhan oleh Allah SWT dan alhamdulillah tanpa harus diet layaknya penderita DM, kadar gula suami saya relatif normal.
Sorry ya mbak Lita, sharingnya kepanjangan mudah-mudahan berguna buat yang lainnya supaya lebih hati-hati dalam memilih RS & Dokter , serta lebih membekali diri terhadap informasi dibidang kesehatan.
Salam
Luky
waduuuuuh… bu lita bikin saya jadi was2. apalagi baca comment dr tmn2. perihal anak saya dean umur 2 bln, baru diimunisasi DPT kemarin. saya pilih imunisasi yang tanpa demam dengan tarif yang relatif tinggi perbedaannya jika dibandingkan imunisasi DPT disertai demam. tapi hasilnya, hari ini justru anak saya badannya panas. pertanyaan saya; ditipukah saya ???? atau apa yang salah dengan anak saya?? waduuuuuuuuhhhhhhhhhhh…
Hehehe, lagi jam istirahat.
Waduhh, maaf ya. Kebiasaan buruk, baca belum kelar sudah dikomentari. Sekali lagi mohon maaf.
Sekalian saya komentari lagi ya terusannya..
Keberhasilan imunisasi dipengaruhi oleh beberapa faktor, al:
1. Status imun anak/bayi tsb. Mengapa dalam pemberian imunisasi ada rentang waktunya? Karena jika rentang pemberian terlalu dekat, misal pada anak yang mendapatkan ASI eksklusif sampai 6 bulan, kadar antibodi terhadap campak masih ada dalam ASI, sehingga pemberian vaksin campak kurang berpengaruh. Begitu juga pada kondisi daya tahan tubuh lemah akibat penyakit kanker, HIV/AIDS, atau kurang gizi, reaksi antigen-antibodi yang diharapkan tidak terbentuk.
2. Faktor genetik anak/bayi. Ini berkaitan dengan ilmu imunologi, namun pengaruhnya sangat jarang dan sedikit sekali dalam populasi.
3. Kualitas dan kuantitas vaksin. Mulai dari penyimpanan di suhu yang tepat agar vaksin tidak rusak, cara pelarutan, cara penyuntikan, dan frekuensi pemberian.
Silakan komentar saya sebelumnya dibaca dengan perspektif berbeda, yakni mengomentari golongan kontra imunisasi, dan Ibu Lita tidak termasuk di dalamnya.
Maaf ya Bu Lita.
Al haqqu min robbikum, fa laa takuunanna minal mumtariin.
Arifianto
Dani Iswara
Hati-hati, pak. Kalau saya GR, bisa berabe. Nanti pak dokter saya bagi jatah editing, lho
Ngga, ngga kapok kok. Mau ya kalau saya gandeng bikin buku bareng bu dokter Evy? Kalo rame-rame sekalian cak Moki gimana? Hehehe…
Tiesmin
Sama-sama, mbak. Saya senang bisa membantu
Luky
Terimakasih atas sharingnya, mbak Luky.
Dari beberapa dokter yang sangat perhatian soal TB, mereka berpendapat banyak kasus salah diagnosa. Jadi sebetulnya bukan TB, tapi diberi perawatan TB. Semoga Alya bukan yang termasuk salah didiagnosa ya, mbak.
Semoga suami mbak baik-baik saja, ya. Hidup dengan ‘bakat’ DM tetap bisa dinikmati seperti orang sehat lainnya, asalkan dengan kehati-hatian ekstra. Terutama soal makan, gaya hidup, dan obat-obatan. Syukurlah suami mbak sekarang sudah sehat kembali. Semoga sehat selalu sekeluarga. Dan semoga keluarga lain dapat belajar dari pengalaman yang sudah mbak bagi di sini.
Bunda Dean
Waduh bunda, saya tidak bermaksud bikin was-was.
Maksudnya, bunda pilih vaksin DTaP (Diphtheria, Tetanus, acellular Pertussis) ketimbang DTP (Diphtheria, Tetanus, Pertussis) ya? DTaP bukannya samasekali tidak menimbulkan demam lho, bun. Hanya menurunkan kemungkinan timbulnya demam. Jadi kalau setelah DTaP tetap demam, ya tidak apa-apa. Seringkali demamnya tidak setinggi yang ‘dihasilkan’ oleh DTP.
Bunda Dean bisa baca tentang Vaccine Information Statement untuk DTaP di sini. Saya kutipkan:
Tenang ya, bu. Belum tentu ditipu, kok. Kalau kondisi pengantaran hingga penyimpanan terjaga baik (cold chain maintained), vaksin akan tetap dalam keadaan baik/tidak rusak.
Tidak perlu was-was lagi, ya
Arifianto
Dimaapken, dok. Kalem aja
Salam kenal bu Lita. Mantap bener nih uraiannya…
Saya jadi inget DSA anak saya yang dulu gak mau ngasih HIB pada waktunya (2 bulan) dengan alasan yang tidak jelas.
Katanya suruh nunggu 5 bulan aja. Aneh ya.
Jadilah kita langsung pindah DSA aja dah. Dan untungnya sampe sekarang DSA yang ini so far so good. Dia ngikutin banget jadwal imunisasi IDAI dan CDC.
Kadang jadi parents emang dilema kok ya. Kalo ngebaca kasus2 gini jadi serem, tapi ya emang tugas kita untuk selalu belajar dan belajar ya. Baca sana sini supaya kita juga gak gampang percaya begitu saja dengan rumours yang beredar.
Thx banget nih atas ulasannya yang very very very good!
OOT
hayo, sedang bikin buku ya…
Saya sebenarnya banyak nulis, hanya terlalu medis dan memang diperuntukkan khusus kalangan kesehatan atawa pemerhati kesehatan. Semacam panduan teknis medis.
Kalo dianggap bisa bantu, tentu saya bantu. *dengan catatan tidak dikejar deadline*
Kalau nulis model friendly, hehehe ampun dah, baru belajar je
Dear mba Lita,
.
saya maturnuwun sanget lhoh, dapet ketemu blog nya mba Lita. Sebab terus terang saya ibu baru yang masih learning by doing, ikutan milis maksudnya mau nambah ilmu..eh malahan sering ketemu hoax, yang betul2 meyakinkan
Tapi Alhamdulillah nemuin blog nya mba Lita, jadi adem lagi…karena imunisasi anak saya, 6.5bln sedang berjalan. Sekarang hati saya dah tenang deh… Yang penting sebagai ortu dah berusaha memberikan yang terbaik buat anak.
Bravo 4 U ^_^
Salam Hangat,
untuk seluruh Ibu dimanapun berada yang sangat mencintai putra-putrinya.
AKHIRNYA TERUNGKAP !
ternyata..
IMUNISASI sangat BERBAHAYA!
lindungi anak-anak kita dari bahaya imunisasi
sebelum hal mengerikan terjadi…
bagi ibu yang berminat untuk mendapatkan FAKTA NYATA tentang BAHAYA IMUNISASI ini, silahkan hubungi [deleted -admin]
segera akan saya kirimkan sekitar 75 halaman yang menguak sebuah rahasia yang terpendam lama tentang BAHAYA IMUNISASI ini.
SALAM HORMAT,
IBU SURYANI
*Semoga ALLAH selalu melindungi kita dari orang-orang yang dzalim kepada keluarga kita, dan semoga ALLAH selalu melindungi kita dari kurangnya ilmu.karena kurangnya ilmu dapat menyebabkan malapetaka.semoga anak kita tidak menjadi korbannya.
Bahkan ibu sendiri berdoa semoga dilindungi dari kekurangan ilmu. Bagian tulisan saya yang mana yang tidak membantah kekurangan ajakan anti-munisasi ini?
Ada baiknya ibu membaca tulisan saya baik-baik sebelum berkomentar.
Salam imunisasi, yang menyelamatkan jiwa anak saya dari penyakit yang saya bawa.
ada yang ndak nyambung tuh mba….
atau jangan-jangan belum baca sampe kelar kali yaaaa
salam kenal mba lita,
weleh mba, pantesan aja mba dikira dokter oleh banyak orang, wong penjelasan mengenai imunisasi aja ya pool gt hehehehe, salute ya mba. Terusin ya mba aku seneng bacanya, aku jd makin makfum atas info2 kesehatan biar ga salah persepsi, toh kan kita semua menginginkan yang terbaik untuk anak2 kita tercinta.
semoga informasi yang mba berikan menambah wawasan kita semua sebagai orang tua
salam kenal mba Lita n dr arifianto…
saya sedang menggali tentang kesehatan walo saya bukan org kesehatan, saya org teknik perkapalan di sby. btw menarik sekali info yang disampaikan menambah pengetahuan saya akan imunisasi. sesuai benar dgn yg sebelumnya pernah saya terima… tetapi beberapa waktu ini saya sempat berpikir tentang bahaya imunisasi dan penangan kesehatan dari para medis yang ada. dari sekian kasus yang ada d internet dan media massa, menunjukkan ada masalah yg menyesakan dada dan membuat khawatir.
salah satu kasus balita meninggal di palu setelah imunisasi dlm jgk waktu 2 x 24 jam di palu menimbulkan pertanyaan besar akan kepedulian terhadap 1 jiwa anak indonesia. medis hanya menyampaikan bhw anak tsb telah terkena radang otak…? apa ada penyakit yang menyerang sedemikian cepatnya. hati saya miris mendengar berita ini..
di atas tlh di paparkan bhw jaminan atas keberhasilan imunisasi memang tdk 100%, masih ada celah ketidak berhasilan. namun mana yag patut dicermati??? apakah imunisasi (vaksinnya) ato bagaimana proses penanganan thd pemberian imunisasi (tes laborat bagi anak2) agar diketahui apa anak ini memiliki karakter yg berbeda dari yg lain?????
juga tentang adanya bahaya vaksin yang juga dibuat dari bahan2 kimia ’selain virus yang telah dilemahkan’ yang menghambat perkembangan beberapa syaraf di tubuh calon2 penerus bangsa ini????? tlg ini ditanggapi…..
maaf mungkin terlalu panjang………………
Bisa dirinci, pak, kapan kejadiannya dan bagaimana cerita lengkapnya? Ada link ke berita versi online-nya?
Imunisasi apa dan didiagnosa apa? Apakah penyakit yang diderita (yang menyebabkan kematian) diakibatkan oleh virus/bakteri yang dikandung vaksin?
Tentang ‘apakah ada’. Pada dasarnya semua butuh waktu. Bisa saja telah lama terinfeksi, lalu menjadi non-aktif dalam tubuh (tapi tetap ada), kemudian dapat muncul sewaktu-waktu ketika pemicunya tepat. Rentang waktu yang ‘dibutuhkan’ juga dapat ditentukan oleh banyak hal; mikroorganisme (jenis dan tingkat keganasannya), kondisi awal, pertolongan pertama, penanganan lanjut, akurasi diagnosa (termasuk akurasi uji yang dilak