<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress/2.0.7" -->
<rss version="2.0" 
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
<channel>
	<title>Comments on: Ajakan Menolak Imunisasi</title>
	<link>http://lita.inirumahku.com/health/lita/ajakan-menolak-imunisasi/</link>
	<description>Health, parenting, love, and life. MOTHERLY.</description>
	<pubDate>Fri, 25 Jul 2008 00:58:22 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.0.7</generator>

	<item>
		<title>by: sulo</title>
		<link>http://lita.inirumahku.com/health/lita/ajakan-menolak-imunisasi/#comment-17247</link>
		<pubDate><br />
<b>Warning</b>:  mktime() expects parameter 4 to be long, string given in <b>/mounted-storage/home97c/sub001/sc50075-ECXN/inirumahku.com/lita/wp-includes/functions.php</b> on line <b>24</b><br />
Thu, 01 Jan 1970 00:00:00 +0000</pubDate>
		<guid>http://lita.inirumahku.com/health/lita/ajakan-menolak-imunisasi/#comment-17247</guid>
					<description>- Banyak vaksin yg dibuat di tubuh hewan. Genetics studies -show that if you inject a foreign animal tissue into a -host, that the animal RNA can embed itself into the hosts -DNA and stay dormant for a few or many years. Stress atau -factor2 lain dalam kehidupan nantinya dapat memicu RNA -hewan tersebut yg kemudian membingungkan immune system -penerima (immune system perlu melawan RNA tersebut dan -berusaha untuk menghancurkannya tapi RNA itu adalah DNA -itu sendiri) dan bisa menghasilkan auto-immune disease.

Dari pemikiran tulisan di atas:
Sory oot, kalau anda baca antisusu.blogspot.com,
Seharusnya pasti anda berfikir 2 kali memberikan susu pada anak atau anda sendiri...susu itu mengandung antibodi ibu sapi untuk anak sapi, sama seperti ASI.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>- Banyak vaksin yg dibuat di tubuh hewan. Genetics studies -show that if you inject a foreign animal tissue into a -host, that the animal RNA can embed itself into the hosts -DNA and stay dormant for a few or many years. Stress atau -factor2 lain dalam kehidupan nantinya dapat memicu RNA -hewan tersebut yg kemudian membingungkan immune system -penerima (immune system perlu melawan RNA tersebut dan -berusaha untuk menghancurkannya tapi RNA itu adalah DNA -itu sendiri) dan bisa menghasilkan auto-immune disease.</p>
<p>Dari pemikiran tulisan di atas:<br />
Sory oot, kalau anda baca antisusu.blogspot.com,<br />
Seharusnya pasti anda berfikir 2 kali memberikan susu pada anak atau anda sendiri&#8230;susu itu mengandung antibodi ibu sapi untuk anak sapi, sama seperti ASI.
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
		<title>by: Imunisasi dan Vaksinasi: bahaya atau berguna??? &#171; Inspirasi Weblog</title>
		<link>http://lita.inirumahku.com/health/lita/ajakan-menolak-imunisasi/#comment-17186</link>
		<pubDate><br />
<b>Warning</b>:  mktime() expects parameter 4 to be long, string given in <b>/mounted-storage/home97c/sub001/sc50075-ECXN/inirumahku.com/lita/wp-includes/functions.php</b> on line <b>24</b><br />
Thu, 01 Jan 1970 00:00:00 +0000</pubDate>
		<guid>http://lita.inirumahku.com/health/lita/ajakan-menolak-imunisasi/#comment-17186</guid>
					<description>[...] http://lita.inirumahku.com/health/lita/ajakan-menolak-imunisasi/ [...]</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>[&#8230;] <a href="http://lita.inirumahku.com/health/lita/ajakan-menolak-imunisasi/" rel="nofollow">http://lita.inirumahku.com/health/lita/ajakan-menolak-imunisasi/</a> [&#8230;]
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
		<title>by: refi</title>
		<link>http://lita.inirumahku.com/health/lita/ajakan-menolak-imunisasi/#comment-17009</link>
		<pubDate><br />
<b>Warning</b>:  mktime() expects parameter 4 to be long, string given in <b>/mounted-storage/home97c/sub001/sc50075-ECXN/inirumahku.com/lita/wp-includes/functions.php</b> on line <b>24</b><br />
Thu, 01 Jan 1970 00:00:00 +0000</pubDate>
		<guid>http://lita.inirumahku.com/health/lita/ajakan-menolak-imunisasi/#comment-17009</guid>
					<description>Sebagai seorang muslim jangan sampai bayi ataupun tubuh kita makan atau diisi oleh barang yang HARAM.

Bahan - bahan yang terkandung dalam vaksin Halal atau Haram?? 

Mungkin bisa disebutkan kandungannya</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Sebagai seorang muslim jangan sampai bayi ataupun tubuh kita makan atau diisi oleh barang yang HARAM.</p>
<p>Bahan - bahan yang terkandung dalam vaksin Halal atau Haram?? </p>
<p>Mungkin bisa disebutkan kandungannya
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
		<title>by: Lita</title>
		<link>http://lita.inirumahku.com/health/lita/ajakan-menolak-imunisasi/#comment-16341</link>
		<pubDate><br />
<b>Warning</b>:  mktime() expects parameter 4 to be long, string given in <b>/mounted-storage/home97c/sub001/sc50075-ECXN/inirumahku.com/lita/wp-includes/functions.php</b> on line <b>24</b><br />
Thu, 01 Jan 1970 00:00:00 +0000</pubDate>
		<guid>http://lita.inirumahku.com/health/lita/ajakan-menolak-imunisasi/#comment-16341</guid>
					<description>Dear Fenty, paragraf keduamu sebetulnya sudah cukup menjelaskan posisi :)
Ketika sistem kesehatan sangat baik, bisa diharapkan tingkat kesehatan penduduknya juga baik. Tingkat penularan penyakit lebih rendah dan tingkat kejadian infeksi rendah pula.

Seperti yang saya yakin Fenty juga tahu, vaksin telah banyak membantu di masa lalu. Ketika cacar api telah musnah dari muka bumi (walau galurnya tetap disimpan untuk keperluan penelitian) dan beberapa negara telah dinyatakan bebas polio, ini adalah pertanda baik bahwa vaksin telah melakukan tugasnya.

Negara-negara maju telah menghapus (atau tidak lagi mewajibkan) beberapa vaksin yang saat ini masih wajib diberikan di negara berkembang dengan alasan yang sederhana: di sana penyakitnya sudah tidak ada. Jika tidak ada yang harus dilawan, memang vaksin tidak diperlukan lagi. 

Ini juga erat kaitannya dengan herd immunity, ketika anak yang tidak divaksin turut mendapatkan 'perlindungan' karena teman-temannya divaksin. Namun jika SEMUA orangtua berpikiran tidak akan memberi vaksin pada anaknya dengan alasan 'toh temannya divaksinasi', yang terjadi adalah tidak ada anak yang divaksinasi dan semua anak terbuka terhadap infeksi (yang dapat dicegah oleh vaksin). Karena itu, IMHO, ketika belum dinyatakan 'punah' atau bebas dari penyakit tertentu, vaksin sebaiknya tetap diberikan.

Urusan vaksin (dan hampir semua urusan kita sehari-hari lainnya) adalah pertimbangan antara risk and benefit. Ketika risk tinggi namun benefitnya lebih berat, maka akan rasional jika benefit tetap dipilih. Ketika di negara maju penduduknya sudah berada dalam posisi 'benefit kurang, risiko ada', maka di negara berkembang posisinya masih 'benefit tinggi, risiko ada'.

Yang menjadi masalah, sebagian penduduk negara berkembang 'lupa posisi'. Ketika sebagian vaksin tidak lagi diwajibkan dan wacana telah berkembang ke arah yang Fenty ajukan, di sini kondisinya 'belum sampai'. Ketika banyak orang berpikir 'vaksin tidak berguna dan cuma bikin sakit' maka dampaknya adalah wabah. Dan sesudah wabah baru heboh. PIN.

Semoga dengan tingginya kesadaran vaksinasi, Indonesia lekas bebas polio (dan penyakit lainnya) sehingga semakin sedikit vaksinasi yang perlu dilakukan dan tingkat kesehatan semakin tinggi (dus dana penanggulangan penyakit bisa difokuskan pada pendidikan dan sarana transportasi, misalnya).

Terakhir, soal netralitas. Dear Fenty, di sinilah saya memosisikan diri dan blog saya sebagai 'opinionated'. Banyak kali saya terang-terangan menyatakan keberpihakan dan sesekali saya menyembunyikannya. Tak harus selalu berpihak, dan tak harus selalu netral. 

Saya menyadari keberbedaan blog dari pers/jurnalisme yang memiliki aturannya sendiri, yaitu menyuguhkan pro-kontra dalam bentuk berimbang agar pembaca yang menyimpulkan sendiri. Sedangkan blog ini memang saya (kami) buat untuk menyuarakan opini saya pribadi (as you can read in disclaimer).

It is the press's conduct to inform, to give their readers both side of the story. And it is also the government's obligation to  educate and inform the citizen as well. And here, I am using my right as a citizen :)
I am so sorry if I disappoint you but we may not have the same expectation. Thank you for sharing your thoughts :)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Dear Fenty, paragraf keduamu sebetulnya sudah cukup menjelaskan posisi <img src='http://lita.inirumahku.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /><br />
Ketika sistem kesehatan sangat baik, bisa diharapkan tingkat kesehatan penduduknya juga baik. Tingkat penularan penyakit lebih rendah dan tingkat kejadian infeksi rendah pula.</p>
<p>Seperti yang saya yakin Fenty juga tahu, vaksin telah banyak membantu di masa lalu. Ketika cacar api telah musnah dari muka bumi (walau galurnya tetap disimpan untuk keperluan penelitian) dan beberapa negara telah dinyatakan bebas polio, ini adalah pertanda baik bahwa vaksin telah melakukan tugasnya.</p>
<p>Negara-negara maju telah menghapus (atau tidak lagi mewajibkan) beberapa vaksin yang saat ini masih wajib diberikan di negara berkembang dengan alasan yang sederhana: di sana penyakitnya sudah tidak ada. Jika tidak ada yang harus dilawan, memang vaksin tidak diperlukan lagi. </p>
<p>Ini juga erat kaitannya dengan herd immunity, ketika anak yang tidak divaksin turut mendapatkan &#8216;perlindungan&#8217; karena teman-temannya divaksin. Namun jika SEMUA orangtua berpikiran tidak akan memberi vaksin pada anaknya dengan alasan &#8216;toh temannya divaksinasi&#8217;, yang terjadi adalah tidak ada anak yang divaksinasi dan semua anak terbuka terhadap infeksi (yang dapat dicegah oleh vaksin). Karena itu, IMHO, ketika belum dinyatakan &#8216;punah&#8217; atau bebas dari penyakit tertentu, vaksin sebaiknya tetap diberikan.</p>
<p>Urusan vaksin (dan hampir semua urusan kita sehari-hari lainnya) adalah pertimbangan antara risk and benefit. Ketika risk tinggi namun benefitnya lebih berat, maka akan rasional jika benefit tetap dipilih. Ketika di negara maju penduduknya sudah berada dalam posisi &#8216;benefit kurang, risiko ada&#8217;, maka di negara berkembang posisinya masih &#8216;benefit tinggi, risiko ada&#8217;.</p>
<p>Yang menjadi masalah, sebagian penduduk negara berkembang &#8216;lupa posisi&#8217;. Ketika sebagian vaksin tidak lagi diwajibkan dan wacana telah berkembang ke arah yang Fenty ajukan, di sini kondisinya &#8216;belum sampai&#8217;. Ketika banyak orang berpikir &#8216;vaksin tidak berguna dan cuma bikin sakit&#8217; maka dampaknya adalah wabah. Dan sesudah wabah baru heboh. PIN.</p>
<p>Semoga dengan tingginya kesadaran vaksinasi, Indonesia lekas bebas polio (dan penyakit lainnya) sehingga semakin sedikit vaksinasi yang perlu dilakukan dan tingkat kesehatan semakin tinggi (dus dana penanggulangan penyakit bisa difokuskan pada pendidikan dan sarana transportasi, misalnya).</p>
<p>Terakhir, soal netralitas. Dear Fenty, di sinilah saya memosisikan diri dan blog saya sebagai &#8216;opinionated&#8217;. Banyak kali saya terang-terangan menyatakan keberpihakan dan sesekali saya menyembunyikannya. Tak harus selalu berpihak, dan tak harus selalu netral. </p>
<p>Saya menyadari keberbedaan blog dari pers/jurnalisme yang memiliki aturannya sendiri, yaitu menyuguhkan pro-kontra dalam bentuk berimbang agar pembaca yang menyimpulkan sendiri. Sedangkan blog ini memang saya (kami) buat untuk menyuarakan opini saya pribadi (as you can read in disclaimer).</p>
<p>It is the press&#8217;s conduct to inform, to give their readers both side of the story. And it is also the government&#8217;s obligation to  educate and inform the citizen as well. And here, I am using my right as a citizen <img src='http://lita.inirumahku.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /><br />
I am so sorry if I disappoint you but we may not have the same expectation. Thank you for sharing your thoughts <img src='http://lita.inirumahku.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
		<title>by: Fenty</title>
		<link>http://lita.inirumahku.com/health/lita/ajakan-menolak-imunisasi/#comment-16338</link>
		<pubDate><br />
<b>Warning</b>:  mktime() expects parameter 4 to be long, string given in <b>/mounted-storage/home97c/sub001/sc50075-ECXN/inirumahku.com/lita/wp-includes/functions.php</b> on line <b>24</b><br />
Thu, 01 Jan 1970 00:00:00 +0000</pubDate>
		<guid>http://lita.inirumahku.com/health/lita/ajakan-menolak-imunisasi/#comment-16338</guid>
					<description>Thanks for your advice about Dr Mercola :) I only found his website last night. Most of my decision of vacs came about after reading various journal articles during my time in university.  I've got a restless mind (spending too much time with kids) and need more stimulating reading but can't access pubmeds until back to uni :(</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Thanks for your advice about Dr Mercola <img src='http://lita.inirumahku.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  I only found his website last night. Most of my decision of vacs came about after reading various journal articles during my time in university.  I&#8217;ve got a restless mind (spending too much time with kids) and need more stimulating reading but can&#8217;t access pubmeds until back to uni <img src='http://lita.inirumahku.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' />
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
		<title>by: Fenty</title>
		<link>http://lita.inirumahku.com/health/lita/ajakan-menolak-imunisasi/#comment-16337</link>
		<pubDate><br />
<b>Warning</b>:  mktime() expects parameter 4 to be long, string given in <b>/mounted-storage/home97c/sub001/sc50075-ECXN/inirumahku.com/lita/wp-includes/functions.php</b> on line <b>24</b><br />
Thu, 01 Jan 1970 00:00:00 +0000</pubDate>
		<guid>http://lita.inirumahku.com/health/lita/ajakan-menolak-imunisasi/#comment-16337</guid>
					<description>Makanya berpulang dari banyaknya ketidakpastian, hampir sama dengan pasti atau tidaknya anak kita mendapat komplikasi dari penyakit2 tsb.  Penyakit2 anak memang sangat berbahaya utk anak2 dibawah 2 thn, dan vaksin tidaklah bekerja dengan sempurna untuk anak dibwh 2 thn karena IS dan otak anak dibawah sangatlah immature. ASI menunjangkan development of child's IS karena dgn ASI, anak mendapatkan immunity pasif yg melindungi dari penyakit2 tsb.  Message saya adalah memberikan ASI untuk anak 0-2thn adalah yg terbaik bagi seorang ibu untuk kesehatan anaknya.

Memang banyak ortu yg memilih untuk menunda, then again, pada usia 2 thn, IS anak sudah lebih berkembang dan bisa melawan penyakit2 tsb. Saya tidak ingin mengajak siapapun untuk anti-vaccine.  Kalau kami tinggal di indo mungkin saya memvaksinasikan kedua anak kami tapi kami beruntung tinggal di negara dimana health system is very good and all is for free.

Saya suka membaca artikel2 ibu tapi kalau bisa ibu memberikan kedua sisi dari pro-kontra tanpa emosi dan pembaca dapat memilih sendiri karena pilihan mereka berasal dari 'informed choice'.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Makanya berpulang dari banyaknya ketidakpastian, hampir sama dengan pasti atau tidaknya anak kita mendapat komplikasi dari penyakit2 tsb.  Penyakit2 anak memang sangat berbahaya utk anak2 dibawah 2 thn, dan vaksin tidaklah bekerja dengan sempurna untuk anak dibwh 2 thn karena IS dan otak anak dibawah sangatlah immature. ASI menunjangkan development of child&#8217;s IS karena dgn ASI, anak mendapatkan immunity pasif yg melindungi dari penyakit2 tsb.  Message saya adalah memberikan ASI untuk anak 0-2thn adalah yg terbaik bagi seorang ibu untuk kesehatan anaknya.</p>
<p>Memang banyak ortu yg memilih untuk menunda, then again, pada usia 2 thn, IS anak sudah lebih berkembang dan bisa melawan penyakit2 tsb. Saya tidak ingin mengajak siapapun untuk anti-vaccine.  Kalau kami tinggal di indo mungkin saya memvaksinasikan kedua anak kami tapi kami beruntung tinggal di negara dimana health system is very good and all is for free.</p>
<p>Saya suka membaca artikel2 ibu tapi kalau bisa ibu memberikan kedua sisi dari pro-kontra tanpa emosi dan pembaca dapat memilih sendiri karena pilihan mereka berasal dari &#8216;informed choice&#8217;.
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
	<item>
		<title>by: Lita</title>
		<link>http://lita.inirumahku.com/health/lita/ajakan-menolak-imunisasi/#comment-16332</link>
		<pubDate><br />
<b>Warning</b>:  mktime() expects parameter 4 to be long, string given in <b>/mounted-storage/home97c/sub001/sc50075-ECXN/inirumahku.com/lita/wp-includes/functions.php</b> on line <b>24</b><br />
Thu, 01 Jan 1970 00:00:00 +0000</pubDate>
		<guid>http://lita.inirumahku.com/health/lita/ajakan-menolak-imunisasi/#comment-16332</guid>
					<description>Saya pikir 'menunda' sudah cukup, karena memang ketahanan tubuh kita saat bayi jauh lebih lemah daripada saat dewasa. Menurunkan risiko memang bukan memastikan tidak akan kena. Tapi 'menunda' yang anda maksud juga bukan memastikan nantinya akan kena :)

Vaksin untuk dewasa juga ada, walaupun lebih sedikit karena kebanyakan penyakit yang rentan diderita anak-anak tidak menjadi rentan bagi orang dewasa (risiko fatalitas dan severity-nya jauh berkurang).

Sebaliknya. Ada juga vaksin yang hanya ada untuk orang dewasa tapi tidak ada untuk anak-anak karena anak masih memiliki imunitas bawaan dari ibu.

Betul, banyak vaksin yang dibuat di animal host. Tapi ini tidaklah sama dengan memasukkan animal TISSUE ke dalam tubuh manusia. 'Bisa' ini lagi-lagi juga tidak memastikan.

Betul, vaksin MEMANG racun. Racun dalam jumlah kecil yang dimasukkan ke dalam tubuh manusia untuk merangsang kerja sistem kekebalan tubuh. MEMANG begitu daya kerja vaksin :)
Reaksi kekebalan tubuh inilah yang kita perlukan, agar ketika racun SEBENARNYA masuk (dalam keadaan hidup, full force, tidak direncanakan, dan jumlahnya tidak terkendali) tubuh mengenali bentuknya dan sudah punya memori akan reaksi terhadapnya (dan tidak 'buang waktu' dan risiko dengan 'build from scratch').
Monggo sila simak bagaimana cara vaksin bekerja. Seingat saya, saya juga sudah pernah mengulasnya :)

Tentang ingredients lainnya. Ini juga terdapat di sekitar kita.
IMHO jangan langsung 'tersedak' dengan kehadiran (presence) karena JUMLAH juga penting. Apakah jika ada merkuri dan timbal di kehidupan kita maka itu PASTI berbahaya? Tidak. Tergantung jumlahnya.

Ini yang membedakan antara kita dalam keadaan sakit dan sehat. Kita sehat tidak berarti tidak ada toksin atau infeksi. Kita tetap sehat karena kita mampu menanggulangi. Ada ambang batas toleransi tubuh. Dan ini yang tidak dikatakan oleh link tersebut.

Jumlah penderita polio dan penyakit menular lainnya yang menurun dan tidak terjadinya lonjakan kenaikan penyakit auto-immune di saat yang sama meyakinkan saya bahwa penyakit auto-immune tidak hanya disebabkan oleh satu faktor. Bagaimana tahunya bahwa itu adalah karena vaksin dan bukan oleh genetik? Jikapun oleh vaksin, berapa persen kejadiannya dan berapa persen risikonya?

All in all, I have personal opinion AGAINST Mercola so I would let his opinion alone :)
http://www.quackwatch.org/search/webglimpse.cgi?ID=1&#038;query=mercola</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Saya pikir &#8216;menunda&#8217; sudah cukup, karena memang ketahanan tubuh kita saat bayi jauh lebih lemah daripada saat dewasa. Menurunkan risiko memang bukan memastikan tidak akan kena. Tapi &#8216;menunda&#8217; yang anda maksud juga bukan memastikan nantinya akan kena <img src='http://lita.inirumahku.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Vaksin untuk dewasa juga ada, walaupun lebih sedikit karena kebanyakan penyakit yang rentan diderita anak-anak tidak menjadi rentan bagi orang dewasa (risiko fatalitas dan severity-nya jauh berkurang).</p>
<p>Sebaliknya. Ada juga vaksin yang hanya ada untuk orang dewasa tapi tidak ada untuk anak-anak karena anak masih memiliki imunitas bawaan dari ibu.</p>
<p>Betul, banyak vaksin yang dibuat di animal host. Tapi ini tidaklah sama dengan memasukkan animal TISSUE ke dalam tubuh manusia. &#8216;Bisa&#8217; ini lagi-lagi juga tidak memastikan.</p>
<p>Betul, vaksin MEMANG racun. Racun dalam jumlah kecil yang dimasukkan ke dalam tubuh manusia untuk merangsang kerja sistem kekebalan tubuh. MEMANG begitu daya kerja vaksin <img src='http://lita.inirumahku.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /><br />
Reaksi kekebalan tubuh inilah yang kita perlukan, agar ketika racun SEBENARNYA masuk (dalam keadaan hidup, full force, tidak direncanakan, dan jumlahnya tidak terkendali) tubuh mengenali bentuknya dan sudah punya memori akan reaksi terhadapnya (dan tidak &#8216;buang waktu&#8217; dan risiko dengan &#8216;build from scratch&#8217;).<br />
Monggo sila simak bagaimana cara vaksin bekerja. Seingat saya, saya juga sudah pernah mengulasnya <img src='http://lita.inirumahku.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Tentang ingredients lainnya. Ini juga terdapat di sekitar kita.<br />
IMHO jangan langsung &#8216;tersedak&#8217; dengan kehadiran (presence) karena JUMLAH juga penting. Apakah jika ada merkuri dan timbal di kehidupan kita maka itu PASTI berbahaya? Tidak. Tergantung jumlahnya.</p>
<p>Ini yang membedakan antara kita dalam keadaan sakit dan sehat. Kita sehat tidak berarti tidak ada toksin atau infeksi. Kita tetap sehat karena kita mampu menanggulangi. Ada ambang batas toleransi tubuh. Dan ini yang tidak dikatakan oleh link tersebut.</p>
<p>Jumlah penderita polio dan penyakit menular lainnya yang menurun dan tidak terjadinya lonjakan kenaikan penyakit auto-immune di saat yang sama meyakinkan saya bahwa penyakit auto-immune tidak hanya disebabkan oleh satu faktor. Bagaimana tahunya bahwa itu adalah karena vaksin dan bukan oleh genetik? Jikapun oleh vaksin, berapa persen kejadiannya dan berapa persen risikonya?</p>
<p>All in all, I have personal opinion AGAINST Mercola so I would let his opinion alone <img src='http://lita.inirumahku.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /><br />
<a href="http://www.quackwatch.org/search/webglimpse.cgi?ID=1&#038;query=mercola" rel="nofollow">http://www.quackwatch.org/search/webglimpse.cgi?ID=1&#038;query=mercola</a>
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
</channel>
</rss>
