Ini adalah tulisan ketiga (terakhir) yang melengkapi rangkaian tulisan bu Julia (terdahulu: Ciri-ciri Autisme dan Gejala Awal Autisme) yang hanya saya salin-tempel di sini.
ANAK AUTISME ADALAH PENGUMPUL DATA
Ceramah sepanjang dua hari yang diberikan oleh Prof Buitelaar itu juga menyinggung bagaimana seorang anak autisme dalam mengembangkan inteligensianya. Inteligensia anak-anak kelompok autisme sebetulnya cukup beragam, mulai dari yang mental retarded hingga yang mempunyai inteligensia tinggi. Namun yang menarik disini adalah sekalipun anak itu merupakan anak autisme dengan IQ yang tidak tinggi sekalipun, ada yang mampu mengumpulkan informasi atau data sangat luar biasa. Misalnya ia mampu menyebutkan nama-nama burung hingga ratusan. Ia mampu membedakan dan menyebutkan setiap nama burung itu. Namun tidak lebih dari itu saja.
Pada anak autisme yang mempunyai inteligensia tinggi, biasa disebut sebagai Asperger. Kelompok ini adalah kelompok autisme yang mempunyai perkembangan fungsi yang tinggi yang kemudian disebut High Function. Nama Asperger sendiri diambil dari nama seorang dokter anak Hans Asperger dari Austria, adalah yang pertama kali mengemukakan kasus autisme ini. Kelompok ini memang mempunyai gangguan berbahasa, tetapi tidak mengalami gangguan perkembangan bicara. Perkembangan bicaranya sesuai dengan jadwal, atau dengan kata lain tidak mengalami keterlambatan bicara. Sekalipun tidak terlambat bicara, berbahasanya sangat kaku.
Anak-anak Asperger ini saat kecilnya sering disangka anak berbakat (gifted children), namun ternyata apa yang dikuasai lebih menjurus pada kemampuan meregistrasi atau pengumpul data, sehingga tidak bisa dikelompokkan sebagai anak berbakat. Kelompok Asperger ini seringkali justru sangat terlambat terdeteksi, karena selain ia mempunyai inteligensia yang baik, juga tidak mengalami keterlambatan bicara. Inteligensianya sering menutupi kekurangannya. Buitelaar mengakui cukup sulit membedakan anak-anak berbakat (gifted children) yang mempunyai inteligensia sangat tinggi namun mengalami gangguan bersosialisasi sebagaimana halnya dengan kelompok Asperger.
Gangguan bersosialisasi pada anak-anak berbakat (gifted children) menurut Buitelaar lagi, lebih banyak disebabkan karena bahasa yang dikuasai anak-anak berbakat sangat berbeda dengan anak-anak lainnya, atau teman sepermainannya. Seringkali anak-anak normal, teman sepermainannya tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh anak-anak berbakat (gifted) ini. Sekalipun antara anak berbakat (gifted children) dan kelompok Asperger mempunyai kesamaan berkemampuan mengumpulkan pengetahuan yang luar biasa, namun tetap Asperger sebagai kelompok autisme, adalah individu yang mengalami kegagalan dalam melihat konteks dan hubungan antar data dalam pengetahuan tersebut.
Ia memberikan contoh, andaikan ada dua anak yang satu adalah Asperger dan yang satu adalah anak berbakat (gifted child), mereka mempunyai minatan yang sama pada misalnya berbagai macam dinosaurus. Anak autisme hanya akan mengumpulkan data tentang berbagai macam dinosaurus, tentang kehidupannya, namun tak mampu menganalisa hubungan dinosaurus dengan kehidupan ini di mana justru kemampuan ini dimiliki oleh anak-anak berbakat (gifted child).
Anak autisme juga hanya mempunyai bidang minatan yang sangat sempit, berbeda dengan anak-anak normal, ataupun anak-anak berbakat (gifted) di mana bisa mempunyai bidang minatan yang luas. Buitelaar mencotohkan pada pasiennya yang setiap datang hanya menceritakan tentang mesin cucinya.
Perkembangan fantasi dan imajinasi anak-anak autisme juga sangat kurang. Sehingga andaikan anak ini diajak bermain fantasi ia tidak
akan bisa. Ia hanya mampu melakukan suatu kegiatan yang tidak menggunakan fantasi dan imajinasinya. Andaikan ia memperhatikan satu benda, misalnya sebuah mobil-mobilan ia hanya akan memperhatikan satu bagian saja, dan tak bisa memainkan mobilan itu sebagaimana anak- anak lainnya.
Dalam kesempatan seminar kali ini juga dipamerkan puluhan lukisan hasil karya Osi, seorang penyandang autisme berusia 18 tahun, putra dari pasangan Ir Buggi Rustamadji, MSc yang juga direktur sekolah lanjutan atas Fredofios, dan Ibu Soedarjati MA. Osi mampu menggambar dengan sangat baik, dengan warna-warna yang memikat, dan sangat realis. Temanya adalah apa yang dilihat dan dialaminya sehari-hari. Misalnya keramaian di kota, tempat menjemur baju, di restorant, saudara-saudaranya, ayah dan ibunya.
Teman Osi, Opik, adalah sesama penyandang autisme juga memamerkan karya-karya, tak kalah dengan karya Osi yang puluhan banyaknya. Namun yang menarik dari kedua pelukis penyandang autisme ini adalah, karya lukisannya bagai sebuah suatu laporan pandangan mata yang detil, sangat perfek, dan tanpa dibumbui oleh suatu unsur imajinasi. Di sinilah kekhususan dari perkembangan kognitif penyandang autisme. Sekalipun di dalam gambar- gambarnya itu juga berdiri gambar manusia, namun manusia-manusia yang digambarkan itu adalah detil yang melengkapi apa yang dilaporkan. Bukan sebuah karya imajinasi yang menjelaskan banyak arti. Akan berbeda misalnya dengan karya gambar seorang anak berbakat, di mana karya-karya penuh dengan fantasi dan imajinasi, bahkan seringkali tidak realis sama sekali.
Penutupan ceramah kali ini ditutup dengan pesan-pesan supaya kita mampu melihat gejala autisme dengan lebih baik dan kita mampu menentukan penanganan yang lebih tepat. Namun yang terpenting adalah kita harus berhati-hati dalam mencari sumber bacaan, karena saat ini sumber bacaan yang banyak dipublikasi justru datangnya dari kelompok-kelompok yang tidak bisa dipertanggung jawabkan keilmiahannya.
(Julia Maria van Tiel, pembina kelompok diskusi orang tua anak berbakat; anakberbakat@yahoogroups.com)



berarti anak autis itu kurang mempunyai kemampuan analitis ya mba?….hanya mengumpulkan data saja?…
iya memang sebenarnya anak autis itu kurang mempunyai kemampuan menganalisis,namun jika kita dapat memberikannya pengarahan,bahkan anak autispun bisa menjadi berbakat,siapa sangka dalam dirinya yang dominan tertutup itu terdapat bakat yang luar biasa?tidak hanya mengumpulkan data saja,mereka juga bahkan mampu,mereproduksi data yang telah mereka simpan itu,..
barangkali ini adalah ‘kabar gembira’ bagi orang tua yang memiliki anak yang menderita autis. artikel bagus!
anak kakak saya, juga menderita autis, sudah diterapi dan cukup berhasil. memang, daya kumpul datanya luar biasa. sekarang baru kelas 3 SD tapi sudah bisa mengerti tulisan & bahasa jepang.., bahasa inggris mulai fasih..
saya juga suka mengumpulkan data apa aja mba’
apa saya termasuk autis..
mengingat sosialisasi saya terbatas
anda jangan berkecil hati,walaupun sosialisasi anda kurang,bukan berarti anda autis,..kita lihat kembali ciri-ciri anak autis,..mereka itu kalau sedang berbicara dengan lawan bicaranya tidak melihat mata si lawannya itu,..nah anak autis juga kadang kalau diajak bicara brusaha atau bahkan tidak pernah memperhatikan,.jika ditinjau dari segi sosialisasi memang mereka tidak bisa bergaul.
intinya anda jangan berkecil hati,.mungkin anda kurang ngumpul2 bareng ma temen2,.atau juga kurang pembiasaan,atau bahkan masih memelihara rasa gengsi?rasa gengsi inilah yang kebanyakan sering membuat orang tidak percaya diri,dan jadinya mereka minder…maka,siapkanlah diri anda untuk menerima keadaan yang sebenarnya,dan selalu bersyukurlah dengan apa yang telah diberikan oleh Tuhan.
ALL
Pujian dan pertanyaan akan lebih pantas kalau disampaikan ke pembuat artikel ya, sebenarnya
Beny
Ben, sudah baca 2 artikel pendahulunya belum?
Menegakkan diagnosa autis tidaklah mudah. Sedari kecil sudah bisa terlihat, karena gangguan perkembangan ini cukup mengganggu proses pengasuhan oleh keluarganya.
Sosialisasi yang terbatas serta kesukaan mengumpulkan data tidak semerta-merta menunjukkan seseorang adalah autis.
Setelah 7 tahun bolak-balik psikolog anak saya didiagnosis asperger 2 tahun lalu tapi saya coba abaikan, aneh2 saja 7 tahun didiagnosis ga ada hasil yg jelas tiba2 ada istilah baru yg … ga tau deh.Baru saya sadari januari tahun ini, itu pun tiba2 teringat waktu saya sedang pelatihan motivasi. semoga dengan saya menemukan blog ini saya bisa curhat, tukar pikiran dan sebagainya.
Ibu, untuk berbagi pengalaman dengan orangtua lain yang mungkin punya pengalaman yang sama, ibu bisa kunjungi PuteraKembara dan bergabung dengan mailing list-nya sekalian. Banyak ahlinya, dan yang pasti akan ditanggapi dengan lebih layak ketimbang cuma ada saya di sini
Wah informasi yang sangat berguna sekali mba..
oya, salam kenal mba…blognya bagus bangettt…
artikel yang cukup bagus.. thanks ya
Kelompok yang tidak bertanggung jawab itu seperti apa contohnya Mbak Lita?
Buchin
Hati-hati kalau mengutip, mas. Yang tidak bisa dipertanggungjawabkan itu adalah klaimnya, jika ditinjau dari sisi ke-ilmiah-an. Tidak berarti kelompok tersebut tidak bertanggungjawab
Informasi lebih lengkap, sila hubungi bu Julia via blognya. Beliau lebih tahu kelompok mana yang dimaksud ketimbang saya
kamar seperti apa yang harus dipersiapkan untuk anak autis?
benda atau sesuatu yang bagaimana sebaiknya yang diberikan untuk anak autis?
mohon bantuannya karena saya membutuhkan data untuk mendesain kamar anak autis.
Sila tanyakan langsung ke bu Julia atau bergabung dengan milis anak berbakat dan mendapat curahan pengalaman dari orangtua lainnya.
Maaf saya tidak bisa membantu karena saya bukan ahlinya.
saya ingin tahu lebih lanjut ttg autis. seandainya anak autis diobati dengan sistem hiperbarik (oksigen 100% murni) apakah ada dampak lain bagi si anak ?
mau menanyakan kalau anak ciri cirinya mau nya makan aja dan umur 3 thn blm bisa memanggil org dan kurang bisa berkosentrasi apakah ini termasuk autis ? perkembangan raga nya biasa tp utk memanggil papa dan mama aja masih salah, setiap kita ajarkan keliatannnya dia menghapalnya sehingga kalau laki laki pasti dipanggil papa dan perempuan di panggil mama , Mohon petunuk dan saran terima kasih
dear Mom,
Ini bukan komentar, tapi hanya ingin berbagi : anak saya mahasiswa, dengan “kelakuan” kembali seperti perubahan dari TK ke SD; Mamanya suruh tungguin diluar ruang kuliah atau dia kabur pulang ke Bandung (dia kualiah di Jakarta).
“Vonis” psikoloog adalah anak ini gifted atau autis positif???
Saya ingin konsultasi lebih jauh, tapi harus mulai dari mana.
God help me please.
Yours
kepada seluruh pembaca yang budiman
tolong bantu kami dalam menangani ” keterbatasan” anak saya : satrio, 3 tahun, yang sampai saat ini belum mau dan mampu mengucapkan sepatah katapun.
padahal dia sudah mengikuti teraphy selama hampir satu tahun. secara medis ( hasil uji lab ABDi - Alat bantu Dengar Indonesia, pendengaran anak saya normal )
saya sangat sangat ingin mendengar anak saya mengucapkan ” bapak “….. meski hanya sepatah….
cukup …” bapak…
tolong kami
terima kasih
hai semua…saya mulai tertarik terhadap anak2 autis dan saya sedang mencari alamat tempat terapi autis yang ada di mangga dua atau gunung sahari dan sekitarnya….saya pernah dengar bahwa tempat terapi itu dapat program dari amerika….skalilagi trima kasih ya sebelumnya…….
penderita authis di indonesia sampai saat ini ada berapa?????thanks
saya seorang gadis pernah mengalami stres berat dan mengalami mimpi2 buruk, ketakutan yang besar dan tidak sdarkan diri sampai akhinya saya dibawa kerumah sakit. selama sebulan saya tidak terkendali(tidak bisa komunikasi dengan baik), saya juga seperti orang sakit jiwa,karena emosi saya tidak bisa dikendalikan. apakah saya penderita aiutis? atas perhatiannya saya ucapkan terimaksih.apa yang sebaiknya saya lakukan?
Bolehkah saya memsang link blog anda pada blog kami??
trimaksih sebelumnya
salam peduli autis
riswanto
www.autisfamily.blogspot.com
Autis memang sangat menarik untuk dibahas terutama bagi yang memiliki anak autis.
Judul tulisan ini manarik perhatian saya dan membaca karena implisit sesuai salah satu ciri anak saya.
salam,
rf