I realized that not everybody really understands how to behave promptly in public medical services such as hospital and general practitioners. So I will share some of important things and you may add to them.
Obey the rules stated.
Right. Ever find any? Here’s my advice; look for and take a good look at ANY sign on any board or any wall or wherever they are. They might contain pointing signs, standard procedures, names (yes you need them if you are going to complain), or things you think as not important.
Well, let the importance level be decided later after you read it. If they say don’t smoke, then don’t. If they say children under certain age are not allowed to enter some area, then don’t. Remember, the rules are made on purpose, to prevent anything you don’t want to happen.
Avoid bringing your children.
Leave your children under supervision, ask for someone else’s help and take a shift. Or, simply just don’t bring your children unless they are the one who needs medical care. Don’t make excuse and tell yourself it’s just visiting your friend who has just gave birth. It’s NOT just. Kids can be really annoying sometimes, even on their best mood of the month (or as you think).
They can beg on buying things, complaining about how loooong the visit is (while you are having a nice conversation with other visitor, gee…), wanting to play, dragging themselves on the floor, or anything else. That must not be a pleasant voice for the sick patients.
And if you are allowed to bring your child(ren) or they are the sick, make sure that you equipped them well. Bring their milk, biscuits, toys, doll, but make sure it’s proper. Policewoman suit for little girl is nice. Without the whistle, mind me. Don’t trigger hilarious events such as nurses run around looking for you when your daughter blowing the whistle in serious attempt.
Respect the patients’ privacy.
I think it’s necessary for calling or asking the patient if they want to be visited. No, this is serious. Paying attention is very nice. But what if they don’t need your attention? Don’t say the patients are such loner or not social or whatever. Not everyone needs flowery attention on every moment.
Once my lecturer got hospitalized without anyone in the department knew about it. When we protested, she just said, "I got hospitalized so I can rest from seeing you guys. What’s the point if we keep seeing each other?", hence the students silenced. Got my point?
Follow the standard operation procedure.
2 weeks ago when we brought Daud for vaccination, we saw something unusual. A woman -in about 40s- came in a rush, bringing her shopping bags barged into the receptionist table. She asked for an X-ray shot. The expected reaction would be a frown and a question, "Pardon me, what do you need?". While I might say, "What’s going on?".
What had happened was some kind of accident, and I guessed she was (one of?) the victim. Some men came in minutes after the lady was taken care of. But I thought she wouldn’t need much worry because she could walk and bring her shopping items by herself.
The right procedure to get your radiogram is seeing a doctor, a general practitioners at first. Let them examine you and explain the problem to you. IF it is necessary, they will forward you to a specialist. IF it is necessary to support their diagnose, they will ask for your X-ray photo. They will write a letter for you to be given to the laboratory or hospital. Then, finally, you can barge in like that women with a letter in your hand.
Not knowing that procedure? Then ask! Let the person in charge do their job, and let them work. Procedures are made to protect your and the practitioners’ safety, in health and law. Polite question when you think they are taking too long (out of normal time taken for the specific action) can be tolerated. But don’t ask every 2 minutes!



kok gak ada bendera merah putih spt postingan sblmnya. Membuat diriku agak lama membaca artikel ini.
Untuk yang kedua, kalo anaknya gak mau ditinggal ama simboknya gimana tuh? biasanya kan nangis. Kadang si anak gak mau maem kalo bukan ama ibunya, meski yang jadi penunggu sdh akrab.
yang ketiga, aku stuju. Dua kali aku ngendon di rs, dua kali itu pula aku merasakan bahwa RS jadi tempat piknik yang kayaknya menyenangkan bagi orang lain, but gak bagiku yg lagi KO.
* semoga aku gak salah paham ama artikelnya *
Setuju banget, jangan bawa anak ke MARKAS ORANG SAKIT, kecuali si anaklah yang sakit atau memang perlu mengunjungi dokter untuk keperluan lain (imunisasi dll).
Terus untuk kunjungan ke si sakit, setuju juga. Aku selalu tepar setelah jam kunjungan selesai.. capek banget ngeladenin tamu dalam keadaan ga 100% fit, seperti pas habis ngelahirin.
Herannya, masih banyak orang yang menganggap bisa dikunjungi/mengunjungi pasien kapan saja adalah sebuah priviledge. Padahal menurutku, itu adalah sebuah kerugian, terutama buat si pasien.
Betul, pasien butuh komunikasi untuk menambah semangat sembuh, sekaligus distraction dari penyakitnya. Tapi pasien juga butuh istirahat.
Tata krama dan atur di rumah sakit sudah diperlakukan mirip seperti orang awam kita naik pesawat. Mau landing malah berdiri, mau take off juga gitu…jalan² seenaknya sendiri, pokoknya kaya dia yg tahu deh…seperti ibu yg umurnya sekitar 40-an tahun itu kali
*terharu setelah ada terjemahannya*
Tanteh litah emang baik deh
kelak tulisan ini akan menjadi bahan perbincangan banyak orang.
kalau blm punya anak gimana
No comments.
Baru tahu, ada dua versi bahasa semacam ini. Bagus juga.
Kadang2 ada juga yg bener2 emergency tapi gak dipercaya. minta segera dilayani, malah dikira dia behave unwell.
tiap tempat pasti ada aturannya ya bu. pernah kejadian ada sepupu yang ingin imunisasi anaknya tapi oleh perawat yg jaga disuruh pulang lagi krn hari itu bukan jadwal imunisasi. si perawat bilang drpd anak ibu ketularan penyakit mending pulang. mudah2an aja ya semua perawat di rumkit ngikutin peraturan yg ada & ortu yg ditolak tidak sakit hati.
yup, setuju!!jangan pernah bawa anak kecil, apalagi kalau sedang bermaksud untuk ngecengin suster…ntar dikira dah kawin..heheheh…
btw tulisan yang sanagt berkualitas bu Lita =)
Luthfi
Kalau anak tidak mau ditinggal, ya emaknya tidak usah membesuk. Pasien juga pasti bisa mengerti.
Jangan paksakan diri apalagi membuat orang lain terzhalimi haknya hanya karena kita ingin mendapat pahala
Yanti
Waktu melahirkan anak kedua, aku ngga mau dijenguk.
Ternyata walau aku gak dijenguk, tapi pasien lain yang sekamar dijenguk banyak orang!
Padahal aku dan Daud waktu itu bisa dibilang rooming-in. Kasian dia, terganggu ribut-ribut pembesuk, mana pasiennya juga ikutan rame pula
Hedi
Ada penumpang pesawat yang begitu, ya? Saya belum pernah menyaksikan sendiri
Hericz
*terharu dipuji Herry*
Semoga yang diingat hanya yang baik-baik dan bermanfaat saja
Irma
Belom punya anak ya jangan bawa adik
3 aturan yang lain berlaku juga untuk bujang kok, mbak.
Nofie
Thank you for not commenting
Aswad
Husnuzhan: mungkin dari penilaian tenaga medisnya keadaan si sakit itu ‘penting’ namun ‘tidak mendesak’ jadi dia mendahulukan yang ‘penting dan mendesak’.
Moral of the story: well-behaved gives you a better chance to be served well by others
Danu
Bener itu kata perawatnya. Semoga disampaikannya juga dengan cara yang enak sehingga gak bikin sakit hati.
Benisuryadi
Lha, kayanya saya ngga ngebahas masalah ngecengin suster deh…
Terimakasih pak Beni, semoga berguna
menyangkut orang sakit, di rumah atau rs, maka…
1 | saya kadang butuh info dulu apakah ybs butuh rehat total
2 | apakah ybs dalam kondisi bisa/siap/senang menerima kunjungan (beberapa kali info ini berguna karena ternyata ybs malu dengan penyakitnya, atau lagi ingin menyendiri, dslb)
3 | dalam hal ybs tidak sadar/koma di icu, maka kunjungan saya adalah untuk keluarga yang menunggui
4 | dalam kasus tertentu, kunjungan saya lakukan justru setelah ybs sembuh/pulih
5 | sebisanya jangan berlama-lama menjenguk di rs spy kamar pasien tetap segar dan tak terjebak membentuk forum penjenguk sambil membiarkan pasien ybs menjadi pendengar terpaksa
6 | sebisanya peka terhadap gelagat: menahan diri tak mengajukan pertanyaan yang bikin capek ybs maupun keluarganya di rs karena sudah puluhan kali mereka harus menjawab soal yang sama (kok bisa sih, mulai kapan, apa gejalanya, etc), padahal mereka tak menyediakan press release
Kere kemplu
Akuuuuurrrr!! Saya setuju dengan simbah, terutama untuk nomer 6. Walau… kadang-kadang ada juga sih yang hobinya cerita, jadi seneng kalo ditanya. Kalau setiap ceritanya disimak, lama-lama ada perubahan kecil di sana-sini. Entah dikurangi, ditambahi, atau diberi efek dramatis tertentu
Hii…
Wah bagus sekali blogsitenya,,, salam kenal buat mba Lita
Saya yang perawat betulan saja terkagum2….
Benar sekali etika di RS/pelayanan kesehatan mesti ditingkatkan deh. Kebetulan saya sedang bekerja di Timur Tengah (Kuwait),,, betapa disini antri RS (di Ruang Gawat Darurat/Poli) sudah pakai monitor dan tiket, sehingga rapi dan teratur (nda perlu petugas teriak2). RS yahhh bagus sepi dan pengunjung dibatasi.
Kalau ibu hamil ingin melahirkan (keluarga dan suami) diluar sama sekali tak boleh masuk tuhhhh
Tetap interest yahh di public empowerment for health and nursing
Thks
Hiii
Salam kenal dan nice job….untuk Mba Lita yah
Betul sekali sepertinya perilaku dan sikap pasien, keluarga dan pengunjung RS di Indonesia semestinya bisa lebih dibatasi. Kebetulan saya seorang perawat yang sedang bekerja di Timur Tengah/Kuwait, disini mereka strik sekali tentang jam besuk, terlebih di RS Bersalin (suami/keluarga) menunggu di luar terpisah gedung, di R.Gawat darurat/dan poli psn menunggu dengan ambil tiket elektrik dan melihat monitor saja, tidak perlu dipanggil dengan pengeras suara.
Pasien diprioritaskan dan complain pasien terhadap pelayanan, dokter/perawat di nomor 1 kan (padahal biaya berobat gratis-lahir normal dan saecar bayar hanya 60 rb rupiah)….
Thats all,,, keep in spirit in health and nursing side yahhh
Nur Martono
Wah, ada perawat betulan. Jadi malu hehehe…
He? Suami ndak boleh menunggui istri?
Hmmm… Tidakkah istri butuh dukungan? Walau tidak sedikit juga istri yang tidak keberatan suami tidak mendampingi di sisi ‘ranjang perjuangan’
Terimakasih atas dukungannya
Hehehe, iya, memang setogyanya begitu kalau mau mengunjungi atau dikunjungi waktu sakit