Cacat Klaim Penguat Sistem Imun
Saya pernah menulis tentang suplemen dari ekstrak echinacea dan pernyataan uji klinisnya. Saat ini sudah seharusnya saya meralat sebagian tulisan tersebut, mengingat produk S Stimuno (kenapa tidak ada di arsip data BPOM, ya?) yang saya sebut memang sudah lolos uji klinis dan dinyatakan sebagai fitofarmaka, dan bukan terbuat dari echinacea.
Namun kini timbul tanda tanya lain ketika saya menemukan produk tersebut di toko swalayan kecil berlokasi dekat rumah. Seingat saya, produk S Stimuno ini diiklankan di televisi sebagai 'suplemen penguat sistim (ya, pakai 'i') imun'. Sedangkan pada kemasannya Stimuno menyatakan diri sebagai immunomodulator.
Lalu di mana masalahnya? Masalah terbesar adalah adanya 'kesenjangan' istilah. Jadi begini…
Immunomodulator bukanlah suplemen
Immunomodulator tergolong obat, pemicu reaksi sistem kekebalan tubuh yang beraksi secara spesifik (misalnya vaksin), dan non-spesifik. Dari penggolongan ini jelas bahwa produk S Stimuno tergolong non-spesifik, karena 'tujuan'nya tidak tentu. Tidak seperti vaksin, yang memicu pembentukan kekebalan terhadap virus atau bakteri tertentu.
Dari klaimnya sebagai immunomodulator (= obat golongan tertentu), sudah jelas bahwa Stimuno bukanlah suplemen. Selain itu, inkonsistensi lainnya ada pada pernyataannya sebagai fitofarmaka, sebagai 'hasil' pengujian ekstrak tumbuhan yang lolos uji klinis.
Fitofarmaka. Obat dari tumbuhan. Obat! Lho kok diiklankan sebagai suplemen?
Modulator tidak selalu berarti enhancer
Immunomodulator berfungsi untuk menormalkan kembali sistem kekebalan, ketika -pada saat dan keadaan tertentu- tubuh tidak berhasil menormalkan sistem kekebalannya sendiri. Sedangkan immune enhancer tentunya bersifat enhancing; meningkatkan (elevating).
Immunomodulator dapat bertindak untuk memperkuat (immunostimulator) atau menekan (immunosuppressive) reaksi sistem kekebalan tubuh. Sebentar, jangan menjawab dengan "Sudah jelas, kan? Pasti yang diinginkan ya immunostimulator, dong! Gimana, sih!".
Lho, klaim kan harus jelas. Batasannya harus pasti. Indikasi penggunaan jangan malah membuat penggunanya mengira-ngira dan menarik simpulan sendiri. Yang mana, dong? Kan ngga bisa dua-duanya sekaligus. Lagipula mana anda tahu mana peran yang dibutuhkan tiap orang?
Jika memang bisa berfungsi sebagai keduanya, pada keadaan bagaimana ia bersifat pemicu dan kapan ia bersifat sebagai penekan? Apakah terhadap flu dan selesma dapat bertindak sebagai pemicu sistem kekebalan, sedangkan terhadap alergi dapat berlaku sebagai penekan reaksi sistem kekebalan?
Peningkatan kekebalan tubuh belum tentu kabar baik
Alergi adalah contoh nyata 'kabar buruk' reaksi berlebihan dari sistem kekebalan tubuh. Ketika suatu benda asing (makanan juga termasuk benda asing, lho) dikenali sebagai musuh berbahaya yang harus dilawan seketika juga. Seluruh pasukan disiagakan dan reaksinya mirip histeria massa yang paranoid (ups, berlebihankah?).
Ada saat-saat di mana reaksi kekebalan tubuh justru dihambat karena efeknya yang sangat mengganggu. Misalnya gatal-gatal, bengkak, atau timbul ruam ketika terpapar sesuatu (dingin, debu, makanan laut). Untuk meredakannya, dapat menggunakan (obat) antihistamin. Sedangkan histamin sendiri adalah senyawa yang dilepas oleh sistem kekebalan tubuh dalam rangka 'perang' terhadap antigen.
Batuk-pilek bukan alasan mengonsumsi
Sistem kekebalan tubuh berkembang sesuai usia. Jika banyak orangtua yang mengeluh balitanya seringkali sakit, bolak-balik batuk-pilek, demam, inilah jawabannya: sistem kekebalan tubuh anak sedang belajar.
Ibarat komputer baru, data yang tersimpan masih minim untuk dapat digunakan secara optimal sepanjang hidup. Butuh banyak masukan. Dan cara belajar sistem kekebalan selain dengan vaksin, ya dengan terpapar pada antigen (stimulating antibody generation; pemicu pembentukan antibodi).
Ada banyak macam virus penyebab common cold (= selesma), di antaranya adalah Rhinovirus yang menyumbang setengahnya. Tidak aneh jika kita beberapa kali pilek dalam setahun. Mereka bisa bergiliran. Bahkan belum tentu kita sudah pernah 'merasakan' kedatangan mereka semua, walau sudah pernah pilek 50 kali.
Pertanyaan dan harapan
Harapan berlebihan terhadap suplemen? Ya, suplemen memang tidak dapat mengobati atau digunakan sebagai terapi. Posisinya sebagai suplemen menjadikannya hanya sebagai 'pembantu': membantu menjaga kondisi tubuh, membantu memelihara kesehatan, dll.
Ya. Tapi kan immunomodulator itu obat, bukan suplemen? Gimana sih ini. Yang salah itu klaim fitofarmaka, klaim immunomodulator, atau klaim suplemen? Apa tiga-tiganya sekaligus? Atau semuanya betul dan saya memang ngawur?
Bukan, bukan saya tidak percaya pada pengobatan herbal. Sungguh, saya bingung menghadapi klaim bertumpuk-tumpuk ini. Mbok ya'o, produsen jangan suka bikin bingung konsumen!
Asli saya ndak ngerti. Mohon ajari. Adakah anda yang bersedia membantu saya? Pak/bu dokter, farmasis, siapa saja.
Tulisan tentang 'suplemen' imunomodulator ini sudah diangkat oleh Parentsguide edisi Januari 2007. Bravo, PG


pertamaaa… ?
kalau menurut saya, saya setuju, suplemen tidak bisa dijadikan obat. tetapi, asupan nutrisi dari suplemen bisa saja membuat tubuh kita mampu membangun sistem kekebalan sendiri, akibatnya dapat mengusir penyakit. jadi tidak langsung gitu.
kalau obat, mungkin langsung beraksi ke penyakitnya, alias membasmi “hamanya”, dibantu juga oleh tubuh. makanya biasanya dokter selain memberikan obat, juga ada yang suka memberikan vitamin, maksudnya supaya obat bekerja membasmi penyakit, lalu tubuh juga karena ada asupan vitamin kekebalan tubuhnya meningkat..
kalau saya mengenai pengobatan herbal.., wah percaya banget, karena sudah beberapa kali tertolong dengan herbal.
sayangnya.., di indonesia memang sering tidak jelas, produsen sering membuat iklan-iklan yang kurang mendidik. baik itu produsen suplemen atau obat yang terbuat dari herbal. malah ada suplement yang overklaim bisa mengobati berbagai jenis penyakit. mbuh ah ga ngerti.., saya bukan orang farmasi soalnya…