" HiB itu apa? "
Kemarin tetanggaku -seorang bidan- datang ke rumah untuk mengambil baju yang dijahitkan. Kesempatan untuk tanya-tanya, pikirku. Kamis ini jadwal imunisasi Daud tapi kangmas tak bisa pulang untuk mengantar ke rumah sakit. Jadi kalau bisa imunisasi di bidan, tentu sangat memudahkan (plus lebih murah pasti).
Pertanyaan utamanya memang bukan "Bidan bisa mengimunisasi atau tidak?". Aku khawatir vaksin yang dimaksud di jadwal itu tidak dimiliki sang bidan. Jadi begitulah kutanya, "Bisa imunisasi tiga sekaligus tidak, Bu? DPT, Polio dan HiB?". Dan apa reaksinya?
Aku sudah memperkirakan kemungkinan sang bidan tidak punya persediaan vaksin HiB, tapi tidak mengharap pertanyaan "HiB itu apa?" dari beliau. Nah lho! Aku sempat bengong sebelum menjawab. "Ngg, HiB itu Haemophilus influenza tipe B". "Sepertinya (vaksinnya) cuma ada di rumah sakit ya?", tambahku cepat-cepat, takut dikira menggurui.
Sepertinya beliau pikir aku salah mengerti tentang ‘tiga’ yang kusebut, lalu bilang, "DPT itu kan sudah tiga; Diphteria, Pertusis, dan Tetanus?". "Mm, iya, tapi jadwal dari dokternya memang tiga: DPT, Polio, dan HiB", kataku sembari melempar ‘tanggung jawab’ ke dokter 
Oh, tulisan ini tidak hendak menganalisa profesi atau kelayakan bidan. Mari kita bicarakan yang lebih penting: berkenalan dengan bakteri HiB.
Haemophilus influenza tipe B adalah bakteri yang sangat mudah menular, dan dikenal dapat menyebabkan meningitis, epiglotis (infeksi anak tekak), pneumonia, otitis media (radang saluran-tengah telinga), sinusitis, infeksi kulit dan tulang, dan lain-lain. Dan yang juga penting: TIDAK berhubungan dengan virus penyebab influenza, walau namanya agak mirip.
Sebelum adanya vaksin HiB, bakteri ini adalah yang paling sering menyebabkan meningitis (radang selaput otak) bakterial pada balita. Sekitar 60% infeksi HiB berujung pada meningitis, sebagian besar terjadi pada anak usia 18 bulan ke bawah. 5% bersifat fatal dan 15% penderita yang selamat mengalami kerusakan syaraf berupa tuli dan hancurnya kemampuan kognitif (intellectual impairment).
Bakteri ini menular melalui bersin, batuk, atau kontak dengan sekret pernafasan (you know; ingus), dengan masa inkubasi -mungkin- sekitar 2-4 hari. Gejala yang nampak adalah batuk, demam, menggigil, berkurangnya nafsu makan, mengantuk luar biasa, muntah-muntah, dan sakit kepala. Punggung atau leher yang kaku dapat menjadi pertanda awal.
Nah, kenapa bidan mungkin tidak menyimpan vaksin HiB? Karena selain tidak termasuk imunisasi wajib, harganya MAHAL! (jangan pakai takaran kantong yang pendapatannya 10jt sebulan!)
Vaksin ini mahal karena masih diimpor, -katanya- pabrik obat di Indonesia belum bisa membuatnya secara massal (ruah) supaya harganya menjadi murah. Dan harga mahal ini merupakan satu alasan kuat untuk belum diberlakukannya HiB sebagai imunisasi wajib di Indonesia (muter-muter ya?).
Eh ya, by the way
(bahasa Indonesia nggak cool), harga vaksin HiB ini tidak kurang dari Rp. 180 ribuan. Vaksin HiB kombinasi dengan DPT (maksudnya kedua vaksin diproduksi dan terkandung dalam ampul yang sama) harganya lebih mahal. Apalagi HiB kombinasi DPaT (DPT gak pake demam, gampangnya, walau tidak menjamin anak tidak akan demam). Total dengan polio oral (imunisasi DPT selalu bergandengan dengan polio), bisa Rp. 300 ribuan.
Vaksin termahal? Bukan. Harga vaksin HiB tidak jauh beda dengan MMR (Measles, Mumps, Rubella; Campak, Gondongan, dan Campak Jerman). Kabarnya, vaksin pneumococcus (lupa merknya) untuk mencegah pneumonia lebih mahal lagi. Harganya? Rp. 800 ribu. Haduh haduh… Padahal, kasus pneumonia paling sering justru pada ‘kelas’ ekonomi bawah, yang lingkungan tempat tinggal dan pemeliharaan rumahnya kurang menjamin kehidupan yang sehat.
Taut sumber:
- HiB, Australian Government, Dept. of Health and Ageing
- Vaksin HiB
- Sejarah HiB
- Artikel di Pikiran-Rakyat
- HiB: information for parents


pake yang HiB 2 kali atau 3 kali Ta? dulu Naila pake yang 3 kali, kombinasi dgn DPT. merk dagangnya ActHiB. ada yang cuma perlu dua kali, tapi di dokternya Naila ga ada.