Maksud hati ingin menanggapi pertanyaan mbak Ifa. Apa daya ternyata panjangnya ampun-ampunan. Kasihan yang menyimak komentar. Baiklah dijadikan tulisan tersendiri saja.
Soal susu mahal dan susu murah yang disebutkan di komentar. Saya mendapat kesan bahwa yang mbak maksud adalah susu sapi cair biasa dan susu pertumbuhan. Apakah betul?
Kalau ya, mbak mungkin lebih puas menyimak artikel selanjutnya yang masih disusun (atau intip tulisan lama saya yang tampak 'mentah' di sini). Saya masih ingin melanjutkan bahasan susu formula bayi berkaitan dengan suplementasi dan harga. Ngga papa ya, mbak
*maksa*
Sebelumnya, saya koreksi soal penyebutan tahun. Tidak perlu. Abaikan saja, tidak berhubungan dengan tahun. Belum ada penelitian yang terbaru –yang sebetulnya ditunggu- tentang dampak jangka panjang pemberian suplementasi asam lemak omega-6 (arachidonic acid, AA atau ARA) & asam lemak omega-3 (docosahexaenoic acid, DHA) dalam susu formula.
Jadi begini…
Komposisi susu formula (bayi) merujuk ke ASI
Sesungguhnya, susu formula bayi (infant formula) sejatinya dibuat sebagai pengganti atau pelengkap air susu ibu (ASI), bagi para ibu yang kesulitan (atau memilih tidak) menyusui bayinya. Namanya juga pengganti, jadi komposisinya harus merujuk ke 'yang akan digantikan'. Ya ASI itu tadi.
Kemudian, dari suatu penelitian, ditemukan bahwa dalam ASI terkandung AA dan DHA, yang –diduga- menyebabkan bayi-bayi yang diberi ASI mendapatkan selisih skor IQ beberapa poin lebih tinggi daripada bayi yang diberi susu formula 'biasa' (yang tidak diberi tambahan AA dan DHA).
Demi membantu para ibu yang tidak menyusui tadi, supaya bisa 'menyamakan kedudukan' dengan para ibu menyusui (dengan memberikan produk yang ‘diusahakan semirip mungkin dengan ASI’), supaya tidak khawatir karena bayinya tidak sepintar 'bayi ASI', maka ditambahkanlah AA dan DHA ke dalam susu formula.
AA dan DHA meningkatkan kecerdasan
AA dan DHA terbukti meningkatkan kecerdasan? Ya. Penelitian tentang dampak ASI terhadap kecerdasan bayi sudah memberi isyarat ini, dengan membandingkan subyek yang diberi ASI dan yang diberi susu formula 'biasa'.
Produsen susu formula bisa saja menggunakan argumen ini. Bahwa susu formula yang dibuatnya mengandung AA dan DHA sehingga dapat membantu meningkatkan kecerdasan anak. Yang perlu diingat (calon) konsumen adalah subyek penelitiannya: SESAMA peminum susu formula.
Yang diuji adalah bayi yang diberi susu formula dengan tambahan AA dan DHA, sedangkan acuan (standar)nya adalah bayi yang diberi susu formula 'biasa' (yang tidak diberi tambahan AA dan DHA). BUKAN antara bayi yang diberi susu formula (yang ditambah AA dan DHA) dengan bayi yang hanya diberi ASI.
Dengan demikian, adalah salah pengertian jika segelintir ibu memilih untuk berhenti menyusui dengan pertimbangan kandungan dalam susu formula tersuplementasi tadi lebih baik daripada ASI.
Selama ibu bisa memberikan ASI, ibu TIDAK PERLU* 'susah payah' menambal dengan susu formula bersuplementasi AA dan DHA. Apalagi dengan alasan 'agar mendapat AA & DHA'. SEMUA yang ada di susu formula telah ada di ASI, karena komposisi susu formula merujuk kepada ASI (nah, diulang lagi nih). Bagian informasi yang ini yang tidak diberitahukan oleh produsen susu formula.
Tentu saja. Sepanjang bisa menggaet konsumen (dengan memanfaatkan ketidaktahuan mereka) tanpa melanggar hukum sekaligus meningkatkan keuntungan, kenapa memilih repot-repot memberi informasi yang berpotensi menurunkan penjualan? Salah mengerti ya salah konsumennya sendiri, kok. Duh.
Mengacu ke yang saya jelaskan kemarin (dan di atas ini), karena mbak Ifa masih menyusui Razzan, si ganteng tidak urgen untuk diberi susu formula bersuplementasi AA dan DHA ini. Begitu…
Dampak suplemen AA dan DHA terhadap IQ dalam jangka panjang
Food and Drug Administration (FDA) sempat tidak mengizinkan penambahan AA dan DHA ke dalam susu formula yang dibuat oleh produsen susu di Amerika Serikat selama beberapa lama. Ini karena efek keamanan jangka panjangnya belum diketahui. Sedangkan negara-negara lain meloloskan penggunaan suplementasi ini dengan pertimbangan 'AA dan DHA ada di dalam ASI. Sehingga jika ASI aman maka seharusnya suplementasinya aman'.
Tentang IQ. Penelitian tentang ‘suplementasi AA dan DHA dapat meningkatkan kecerdasan anak’ belum didukung oleh penelitian jangka panjang. Maksudnya, saat hasil itu diumumkan, anak yang menjadi subyek penelitian belum mencapai usia dewasa.
Kita tahu, IQ tidaklah statis. Ia dapat turun atau naik, bergantung pada apa yang dialami sepanjang hidup manusia. Sehingga hasil penelitian tersebut juga ada batasannya: anak memiliki skor IQ lebih tinggi daripada anak lain (yang diberi susu formula tanpa tambahan AA dan DHA), hingga rentang waktu tertentu.
IQ sendiri –katanya- tidak lagi menjadi acuan utama kepintaran anak. Mungkin lebih gampang ngetesnya, iya. Tapi apakah mewakili seluruh potensi kecerdasan anak? Tidak.
Mengapa susu bersuplementasi mahal?
Soal harga susu, ini (umumnya) berbanding lurus dengan suplementasi. Sejak adanya suplementasi AA dan DHA, harga susu formula memang naik, setidaknya 15% (demikian kata artikel terbitan American Academy of Pediatrics/AAP).
Susahnya, di Indonesia terasa langka susu formula yang tidak diberi suplemen AA dan DHA. Jadi konsumen nyaris tidak punya pilihan selain membeli susu formula bersuplementasi AA & DHA. Bukan memilih jika tidak ada pilihan, bukan?
Suplemen memang bikin harga beda, nama produsennya juga
Nah, selama tdk ada penelitian yang membuktikan bahwa susu mahal tidak ada kelebihan sama sekali dibanding susu murah (sori jadi pake istilah mahal-murah
), saya mewakili ibu2 pemberi susu mahal ke anaknya tidak bisa terima"
Saya tidak bermaksud bilang susu formula biasa tidak berbeda dengan susu mahal (susu formula yang disuplementasi). Nyatanya memang berbeda, tidak bisa dianggap tak ada, dari suplementasi yang terkandung di dalamnya. Makin tinggi 'level' satu produk susu formula (berdasarkan pemeringkatan produsennya, tentu saja), biasanya makin banyak suplementasinya.
Walaupun saya nyatakan harga berbanding lurus dengan suplementasi, fakta di lapangan adalah: ada susu formula dengan kandungan setara namun berbeda harga tergantung -salah satu faktornya- 'ketenaran' produsennya.
Anda tentu paham (dan maklum?) bahwa susu formula produksi dalam negeri (Sari Husada misalnya) lebih murah daripada produksi luar negeri/berlisensi (Wyeth misalnya). Karena kandungannya lebih 'baik'? Tidak selalu berlaku demikian. Tanya kenapa? ™
Antara perlu dan ingin
Keluarga yang mampu dan MUNGKIN tidak membutuhkan (secara mendesak) susu jenis ini -karena ibu mampu menyusui, serta kondisi dan asupan gizinya baik- dapat menjangkau harga yang dipatok tinggi.
"Mampu kok beli yang mahal. Jadi mengapa tidak? Apakah salah?"
Ini bukan sedang membahas 'salah atau benar'. Tapi 'perlu atau tidak perlu'. Jika masalahnya adalah INGIN, bukan BUTUH, case closed. Penjelasan apapun menjadi tidak berkaitan dan tidak akan menjawab.
Bahasan tentang suplementasi pada susu lanjutan? Mohon bersabar, saya masih berusaha berdamai dengan selesma yang melanda
*Tidak perlu, tapi kalau inginnya begitu ya monggo. Keputusan ada di tangan orangtua.
**Disclaimer di artikel yang lalu juga berlaku di artikel ini.
Referensi:
- Why is there interest in adding DHA and ARA to infant formulas? (link)
- What is the evidence that addition of DHA and ARA to infant formulas is beneficial? (link)
- Why are those ingredients added? (link)
- Infant formula (link)
- Choosing an infant formula (link)
- DHA and ARA, do the babies need them in infant formula? (link)
- Breast milk = brainy babies? (link)
- Kentucky Study Shows Breast-Feeding Increases Babies' IQ (link)
- IOM report addresses safety testing of new infant formula ingredients (link)
- Human milk oligosaccharides protect infants from enteric infections. (link)



Tapi untuk urusan harga, memang kesannya produk susu ini seperti produk teknologi. Semakin bagus (kualitas) maka harganya semakin mahal, meski ga semua begitu sih.
*tepok jidat*
Ya ampun, saya ngga pernah kepikiran begitu. Rasanya memang begitu, ya.
Ada konsumen yang mirip Nokia, asal mahal, walau fiturnya sama dengan merek lain yang lebih murah.
Banyak yang harganya tidak semahal Nokia, fiturnya banyak, dan desain ponselnya menarik.
Konsumen?
Ada yang merek apa aja boleh lah, asal fitur dan layanan purnajualnya layak.
Ada yang fanatik mati sama Nokia. Pokoknya yang paling baru ya dibeli.
Perkara fiturnya diperlukan atau tidak, itu masalah belakang.
Kalau dengar cerita ibu teman saya, beberapa teman kadang suka mengedepankan gaya daripada kegunaan.
Ponselnya hanya dipakai untuk menelepon dan mengirim pesan, tapi fitur yang diminta harus selengkap-lengkapnya.
Perkara dipakai atau tidak, bukan itu yang penting.
Lha mengeset WAPnya aja gak ngarti! Dipake ng-internet juga ngga.
Tetep aja “Harus bisa dipakai untuk ng-internet!”
Mahal? Ah itu sih beres. Asal ada duit, ngga mahal kan?
*gubrak*
Ya deh.
Kalau buntutnya begitu, ulasan tentang kelebihan dan kekurangan beserta ‘efisiensi’ harga produknya jelas ngga ngaruh.
Pokoknya ™ Hehehe…
Makasih, mas Hedi
Memang untuk beberapa orang masih beranggapan kualitas berbanding lurus dengan harga. Apalagi klo disuruh milih produk lokal vs import, biasanya lebih percaya yang import punya. Klo udah dari Wyeth, pokoknya bagus…
Klo udah gini penjelasan apapun ga akan masuk. Yang ada justru cari referensi yang mendukung pilihannya
Hai, lita! Kasih komentar lagi ya. Hehe.
Zahra sampai sekarang tidak suka susu bubuk khusus anak usia 1 tahun ke atas. Padahal kalau aku cicipi, rasanya enak. Tapi, kalau Zahra diberi susu UHT, minumnya langsung banyak dan cepat habis pula.
Zahra masih minum ASI, ditambah susu UHT. Memang lebih mahal ketimbang susu bubuk. Cuma, daripada tidak minum susu tambahan lain.
Suatu hari aku jalan2 ke mall Bandung, mampir ke tempat ibu dan anak, biasa lah .. ganti popok dan menyusui Zahra. Eh, ditanya seorang ibu, Zahra diberi susu tambahan apa? Aku bilang diberi susu UHT. Eh, dia kaget, katanya (kurang lebih) “Kasihan donk, dikasih susu gituan. Kasih susu untuk pertumbuhan anak aja.” Rasa-rasanya mukaku memerah dan jadi ga enak gitu deh. Jadi merasa bersalah ke Zahra dan seketika .. merasa jadi ibu yang jahat! Hiks …
Kalau ditanya masalah biaya, insya Allah buat anak sih ada aja. Mau susu semahal apa, kalau memang cocok sama anak, pasti diusahakan ada. Cuma, dari informasi yang aku dapatin, bukannya tidak apa-apa memberikan susu UHT. Toh, Zahra sudah lebih dari 1 tahun usianya sekarang. Masi ASI pula. Jadi, .. gimana? Aku salah atau gimana? Mestikah beralih ke susu bubuk? Padahal Zahra tidak suka susu bubuk anak-anak, meski sudah dibelikan.
BTW, beberapa hari lalau di salah satu stasiun TV swasta nasional, ada tuh .. promosi susu mahal terselubung. Hiks, sedih liatnya.
Lit, saya kok IQ nya jongkok walaupun sudah di beri ASI? Kalau dibilang bisa masuk smu 8 + lolos UMPTN + bisa kerja di one of indonesian big company, itu keknya hoki lagi gede kali yeh?
dunia ibu yang satu ini emang gak jauh-jauh dari susu bayi
mungkin perlu dibikin bendel postingan nya deh, suatu saat nanti pasti kepake artikel² spt ini. *top*
Fina
Fina mungkin kelewat lihat posting yang lalu, ya?
Disclaimer di sana bilang, definisi bayi (infant) adalah usia 0-12 bulan.
Jadi bahasan ini ngga berlaku buat Zahra dong ya, kan Zahra udah lewat dari setahun umurnya
Aku lagi nyiapin bahasan tentang susu lanjutan (untuk anak 1 tahun ke atas). Tunggu aja ya.
Ibrahim masih suka minum susu bendera, tapi lebih sering minum susu sapi segar yang diantar tukang susu.
Saking sukanya, seharian bisa bolak-balik ke kulkas. Kalau tidak dibatasi, 1 liter abis deh buat dia doang.
Daud ngga kenal susu bubuk. Buat dia, susu kalau ngga ASI ya susu cair dari kulkas: tinggal tuang/colok sedotan, langsung glek
Total harga susu cair memang bisa lebih tinggi daripada susu bubuk, tergantung mereknya.
Tetep, aku milih susu cair daripada susu bubuk. Sama
Tuu.. kan, sedih banget ngga sih kalau masih banyak ibu yang berpikir begitu?
Padahal kalau pola makannya baik, susu cair biasa sudah cukup. Gizi anak di atas satu tahun kan lebih bertumpu pada makanan padat ketimbang susu -yang SEHARUSNYA konsumsinya maksimal 500 mL sehari. Daripada ‘ngejar’ gizi lewat susu (yang porsinya jelas lebih sedikit), lebih baik menyusun menu padat gizi. Lebih logis, kan?
Untuk Zahra, aku yakin Fina pasti sudah mengusahakan yang terbaik.
Gimana dengan plot kurva pertumbuhannya? Normal, kan? Jadi ngga usah khawatir dengan ungkapan ‘kasihan’ itu.
KITA ngga bersalah kok Fin, apalagi jahat. Hanya sebagian ibu masih kurang pengertian aja
Sedih, manakala ibu yang menyusui justru tidak terdukung.
Sedih, ketika upaya promosi dan pemasaran susu formula (PASI) ‘menyeret’ sebagian ibu berhenti dari menyusui.
Sedih, banget, ketika opini yang ada sekarang amburadul tak karuan, tak sesuai dengan logika.
PR masih banyak. Yuk dukung para ibu yang mau dan masih menyusui.
Jangan sedih lagi ya, Ping. Lain kali, bilang aja “ASI dan asupan makanan padat sehari-harinya sudah mencukupi kebutuhan Zahra. Tidak perlu tambahan susu lanjutan” dengan percaya diri.
Mau ikut kampanye ibu menyusui? Nanti kalau perencanaan tentang satu event dari Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) sudah matang, aku kabari deh
Adi Wirasta
Adi, ‘meningkatkan’ itu kan relatif terhadap kondisi awal dong, ya.
Kalau kondisi awalnya ‘jeblok’, walau naik, ketika dibandingkan dengan yang lain (yang kondisi awalnya ‘berdiri’) kan jadi tidak signifikan kenaikannya.
*mode sarkastis*
Sori sori… becanda
Ah, kau terlalu merendah diri. Nyindir apa nyindir, neeeehh?
MySyam
Hehehe… maksud hati sih tidak mengkhususkan blog jadi bertopik susu.
Apa boleh buat, sedang semangat menulis tentang ini. Mumpung ingat, sayang kalau keburu lupa
Iya, berencana dibuat bundel online
baca yang ngasih komen ada yang lucu terutama udah minum ASI kok IQ jongkok.. sebenarnya ga juga sih… yang jelas bakat dasar OK tetapi kayaknya yang kurang fight spirit yang kurang…
bagaimanapun ASI is the best dari yang Allah berikan kepada kita
salut buat Lt… komplit abiz referensinya..
memang nama produsen yg top menentukan juga top-nya harga. sama seprti elektronik ya mbak ?
dosen faalku sudah pernah membahas tentang ini, dan katanya iklannya itu cuma hoax.
Tapi agak lupa penjelasannya seperti apa, sudah 3 tahun yang lalu. Yan jelas, jangan mudah tertipu iklan.
Kecerdasan tidak ditentukan dari susu apa yang diminum si anak. Peran keluarga sebagai pendidik pertama dan terdekat, terutama ibu, adalah yang terpenting dalam membentuk kecerdasan anak. Bukan berarti tidak memberikan nutrisi tepat, sehat, dan seimbang buat anak ya.
ASI itu udah yang paling bagus. Gratis malah, berarti gimana donk, Ta?
Lah, suplementasi apapun ke susu bubuk, tetap ga akan sebagus ASI, kan? Malah, bikin susu bubuknya tambah mahal! Hehe.
Pernyataan tentang hubungan antara IQ dan AA-DHA kayaknya
sengajadibuat tertutup ya…Barangkali lebih fair jika dibuat begini (mengabaikan variabel lain terkait kecerdasan) : ” AA-DHA terbukti berpengaruh terhadap kecerdasan bayi, aktifasinya melalui kinerja enzim, dan itu ada dalam ASI. Adapun AA-DHA dalam susu formula tidak dapat dibuktikan berpengaruh terhadap kecerdasan, lantaran dalam susu formula tersebut tidak memiliki enzim aktifasi”.
Pernyataan diatas mengandung pengertian bahwa tambahan suplemen AA-DHA dalam susu formula sejatinya tak guna dibanding ASI.
Jika informasi ini yang dikedepankan, masa sih masih mudah terpengaruh? So, mengesampingkan ASI demi merk (iming-iming), menurut saya bukan hanya tidak perlu, namun juga salah *maaf, ditega-tegakan aja nih*
Pilihan akhir, sila putuskan sendiri setelah menilai pembanding
Nambah:
Kayaknya ada usulan dibuat PDF-nya Bu *tagihan terselubung*
Kalo inget soal fanatisme AA dan DHA pada susu, daku jadi ingin ketawa malu.
Waktu pindah ke Jepang kemarin dulu itu -dan tiga bulan kemudian kehabisan susu bawaan dari Indonesia- saya nyari2 susu formula Jepang. Hikari sudah 2.5 tahun. (ASI saya sudah macet saat Hikari umur 4 bulan)
Di supermarket, si Papap kekeuh harus beli susu yang ada AA dan DHA-nya.
Suatu kali kami ke dokter, si dokter melihat susu Hikari di botol. Bliow bertanya KENAPA KITA MASIH PAKE SUSU FORMULA? Selidik punya selidik, semua anak Jepang berhenti minum susu formula (kalaupun mereka minum) saat umur 1 tahun. Setelahnya, mereka minum susu cair biasa yang dikemasan kerdus itu loh.
Jawaban kami pada si dokter, “kan ada AA dan DHAnya…”
Si dokter tersenyum dikulum (sumpah, walo senyumnya sopan dan manis, saya tiba-tiba merasa bego banget).
Kata Pak dokter, “AA dan DHA terdapat di makanan lain. Misalnya, ikan (dan seterusnya dalam bahasa Jepang yang saya cuma ngerti 50% hehe). Jadi… tak perlu lah mencari-cari si AA dan DHA di susu formula. Tak perlu. Iranai.”
Abis itu kita beralih ke susu biasa. Lebih murah. Lagian, kayaknya sih anak jepang pinter-pinter aja tuh gak pake susu begituan hehehehehe….
Yusuf Solo
Iya tuh pak, semangatin dong temen saya. Kelewat kalem kayanya, sampe kurang pede gitu.
Masa jago basket gak pede. Eh, gak ada hubungannya ya?
Telmark
Iya, seperti kata mas Hedi. Saya malah baru ‘ngeh :p
Mana URL-nya?
Agam
Waduh, hoax. Dosennya gape ng-internet, ya?
Fina
Err… kayanya aku memberikan pernyataan yang cukup rancu ya? :p
Maap kalau keliatan ngga konsisten.
Aku pribadi sih membedakan antara ‘pintar’ dan ‘cerdas’. Pintar (dengan patokan IQ) adalah bagian dari cerdas.
Pintar menyelesaikan soal matematika belum tentu bisa menyelesaikan persoalan nyata yang sebetulnya -kalau dimodelkan secara matematika- mirip. Ngga selalu sesuai antara angka hasil tes dengan kenyataan kehidupan.
Gimana, gimana maksudnya? *bingung*
Suplementasi? Gimanapun ngga akan sebaik ASI.
Gimana cara bikin susu formula yang unik untuk kebutuhan setiap bayi, yang unik sesuai kondisi kesehatan dan maturitas organ tubuhnya, yang unik rasanya (berubah-ubah), yang tak kenal basi, yang punya banyak faktor imunitas dan sin-pre-probiotik (lagi baca buku tentang ASI untuk praktisi medis hehehe…), dll.
Mahal sih pasti, buat bayar iklan (terselubung maupun tidak, langsung maupun tidak) dan penelitian
Cak Moki
Bentar cak, saya baca lagi referensinya…
*tepok jidat*
Oh iya, tidak semua studi menyatakan bahwa AA dan DHA dalam susu formula memberi keuntungan jangka panjang.
Dan ini bagian ‘positif’ yang dirujuk mbak Ifa kemarin (walau bukan di artikel yang sama):
Seperti yang diuraikan di artikel tentang 'Waspadai Promosi Susu Formula' di Kompas, ya.
Eh... bundel? Permintaan dicatat.
*makin panjang saja daftar PR saya nih, kapan abisnya yak*
Mariskova
Pengalaman pribadi ya, jeng. Dalem. Hehehe…
Dikulumnya dengan susah payah banget kali ya, sampe-sampe si mbak berasa banget gitu
Di sini, anak kecil gak minum susu formula, emaknya ditanya, “Kenapa gak dikasih susu formula?”
Weqeqeqeq… Tibalik, nya’?
iklan susu mahal yang bilang demi pertumbuhan brain-soul-ama apa ya? body kali ya? nah itu aku suka gregetan sendiri. kalo emang bener tu susu sehebat itu, coba ya kurung satu anak selama 10 tahun, kasih susu itu ajah. kalo ntar begitu keluar, dia sepinter Edison, pribadinya ya deket-deket lah ama sahabat Nabi, trus badannya sekuat Rambo.
lagian, selisih dana susu mahal-murah kan bisa buat tambahan piknik, nyicil rumah, ato beli sepeda
Hahahaha… daku ketawa ngakak merasakan asapnya (Jeng/Om?) nYam.
Saya juga tertonjok waktu liat iklan susu brain-soul-body.
Brain n body, masih bisa lah tipu-tipu dikit.
Lah soul?
Anak saya yang doyan lompat-lompat (baca: guling2) di tangga, kalo dikasih susu itu, bisa langsung se-tenang para monks di biara kah?
Jeng. Tulen. Lagi hamil kok
hamil lagi lit…?
sumpeeee…???
*tepok jidat*
Halah mbak, itu mbak Mariskova kan nanyain nYam: jeng atau mas?
Ya kujawab, ‘Jeng. (bukti:) Lagi hamil’.
Geetooo… bisa dikopi, jeng?
Aku sampe bingung liat emailnya hihihi
halo mba lita, lam kenal.
kenal email mba dari milis sehat en asiforbaby…
sufor tuh sekarang seperti didewakan deh, di supermarket dtaruh di lemari kaca khusus. Ada SPG khusus, beraneka macam hadiah.
Hallo Mbak Lita… suda lama niy gak buka blognya, ternyata byk artikel baru. Menanggapi kalimat mbak Lita:
“Yang diuji adalah bayi yang diberi susu formula dengan tambahan AA dan DHA, sedangkan acuan (standar)nya adalah bayi yang diberi susu formula ‘biasa’ (yang tidak diberi tambahan AA dan DHA). BUKAN antara bayi yang diberi susu formula (yang ditambah AA dan DHA) dengan bayi yang hanya diberi ASI” .. oi oi ternyata ada juga penelitian yang membandingkan antara anak ASI dan anak yg diberi susu formula plus AA/DHA.. saya pernah menghadiri simposiumnya. Untunglah, dari sekian banyak penelitian hasilnya konsisten semua, maksudnya, grafik aspek yang diukur (biasanya aspek kognitif, koordinasi, gitu2 deh.. sori agak lupa) pada anak yang diberi ASI tetap lebih tinggi (baca : lebih baik) dari anak yang diberi susu formula. Cum amungkin perhitungan statistiknya diatur or gimana ya, saya gak gitu ngerti deh.. ujung-ujungnya kesimpulannya pasti deh, perkembangan anak yg diberi susu formula tidak berbeda bermakna dengan yang diberi ASI.. Walaah.. padahal gambar grafiknya menurut penglihatan mata saya cukup jauh deh jaraknya.
Intinya memang ASI yang terbaik. Nambahin lagi aja, proporsi AA / DHA (sekarang ketambahan pula yg namanya immunofortis, ntah apa lagi itu) dalam susu formula kan dah tetap tuh segitu2 aja per kaleng, meneketehe kebutuhan jabang bayi sebenarnya berapa, kalo kelebihan or kekurangan emang produsennya peduli? Padahal harganya dah di set muahaaal thoo?
Nah padahal proporsi AA / DHA di ASI berubah terus mengikuti umur bayi, bahkan proporsi AA/DHA di ASI ibu berbagai belahan dunia berbeda beda loooh… mungkin pengaruh genetik dan geografis, serta diet makanan tiap bangsa kali yaah..yang jelas sudah pasti diciptakan se-cocok mungkin dengan kebutuhan bayinya.. pokoknya ASI is the best!
nYam
Brain, body and soul? Prestine
10 tahun? Ya gak bisa dong jeng, itu kan susu untuk balita. Pas si anak keluar, udah gak valid lagi untuk dihubungkan dengan susunya. Dus produsen berkelit *kedip-kedip*
Beli sepeda? Iya ya, sebanyak itu ya?
Windy
Halo mbak Windy. Salam kenal juga.
Err… susu formula diletakkan di lemari khusus bukannya untuk mengurangi risiko pengutilan (akibat harganya yang mahal), ya? Selain itu, kalau disimpan dan dijaga ketat kan bisa membuka peluang bagi yang jaga untuk dititipi promosi oleh produsen
Ketty
Iya nih mbak Ketty kelamaan absen, jadi ketinggalan deh
Soal immunofortis sudah kubahas di posting bulan lalu, tentang suplementasi pre/probiotik di susu formula. Tapi udah ada niatan dibahas lagi, dengan nuansa yang beda.
Mohon bersedia menunggu… Andai seminggu lebih dari 7 hari… *ngarang*
Tentang kalimat yang mbak kutip itu, tentu saja asalnya dari referensi yang kupakai. Atau aku yang kurang teliti membacanya, ya? Makasih ya mbak, tambahan/koreksinya.
Ah, statistik mah bisa ditafsir tergantung siapa yang pegang datanya, mbak. ‘Tidak signifikan’ itu juga kan bergantung pada rentang toleransi dan sensitivitas yang bisa diset sendiri. Jadi ya… menurut mereka, itu perasaan mbak aja. Buat mereka ngga sejauh itu
Aku jadi agak penasaran… mbak Ketty ini bekerja di produsen makanan bayi atau farmasi kah?
Wah aku gak kerja di produsen makanan bayi or susu formula, cuma karena pekerjaan saya, kadang-kadang saya datang ke tempat simposium para dokter, trus kalau ada waktu ya ikut dengerin aja, meskipun bukan dokter. Simposium yang saya hadiri waktu itu di tahun 2005. Aneh juga data penelitiannya dak beredar di on line jurnal, sudah saya coba cari (data on file kali hehehe).
Mbak Lita,
Mungkin benar bahwa ketenaran produsen (dan juga brand) sebagai salah satu penyebab susu produksi perusahaan multinasional (ga enak ah nyebut susu mahal) lebih tinggi harganya. Ini yang disebut nilai Branding. Walaupun, komposisinya tidak jauh beda dengan susu produksi perusahaan dalam negeri kok (kalau rela mata jereng silakan bandingin sendiri satu per satu). Penyebab lain, mungkin itu harga yang dipasang sebagai pengganti ongkos research, umumnya perusahaan susu multinasional yang banyak dan menjadi pioneer dalam melakukan riset soal AA DHA dan suplementasi lain2 dalam susu, tentu saja riset ini dimaksudkan untuk menghasilkan formula yang lebih baik dari sebelumnya.
Mbak lita boleh nimbrung+minta advice-nya ya?! Anakku udah 1th dr lair sampai detik ini msh asi klo ditinggal kerja pake susu soya-isomil (krn alergi merah2 kulitnya). Dia gak mau ngedot pake botol. Skrg mo tak cariin susu formula tentunya yg cocok+terbaik untuk si kecil (rasa+gak nyebabin alergi). Pinginnya sih ngasih yg pake aa-dha gitu tp kyknya ga cocok (merah2),akhirnya ke procal yg biasa sdh 2 kotak dan gpp. Tapi sbg ibu kan pinginnya dia dpt-in yg terbaik (dibeliin susu yg ok ada,dha,ara,spingomelin,immunifortis dllll..sampe bingung milihnya yg iklannya sering muncul di teve). Biar asupan gizinya terpenuhi. Tapi setelah baca tulisan mbak lita jd lebih PeDe. Aku dukung mbak Lita asi is the best. Susu formula merk apa sih yg formulasinya ok. Tks
Ketty
Yang memulai dengan ’susu mahal-susu murah’ itu mbak Ifa, kok. Seperti yang dikutip
Yap, begitulah yang kupikirkan. Penelitian kan hampir selalu mahal yeee…
Nesha
Ng? Kan mbak sendiri sudah bilang, ASI is the best.
Lalu kok nanya susu formula yang komposisinya OK? *bingung*
Gimana kalau ASInya diperah? Jadi si kecil tidak perlu pakai susu formula.
Bebas alergi, dan pastinya lebih murah.
Mungkin tambah investasi pompa (kalau tidak bisa/suka memerah manual), botol penyimpan, dan cool box kalau membawa ASI yang diperah di kantor.
Kemarin ketika ikut talkshow dengan dr. Utami, beliau ‘bercerita’. Bahwa sebetulnya tidak ada ‘waktu’ bagi konsumsi susu formula. ASI dan makanan padat yang sesuai dengan usianya PASTI akan memenuhi kebutuhan gizinya.
ASI terproduksi menurut kebutuhan anak dan kondisi pencernaannya. Seberapa yang diproduksi, segitu pula yang dibutuhkan anak.
PeDe aja lagi
Coba perah ASInya dulu, sebelum menimbang kembali susu formula merek apa yang akan diberikan.
Sip sip… selamat ya mbak Nesha, karena masih menyusui
Iya…. mending diperah….. istriku juga pernah ngalamin pergi pagi (kerja) dilanjut kuliah sampe malem, tapi nggak pernah putus ngasih ASI karena bisa diperah dan disimpan di freezer. Kalo bayinya mau minum dan si ibu ngga ada di tempat tinggal ambil asi bekunya dan dicelup se plastik2nya ke air panas, jangan direbus. Kalo bisa sih katanya kasih pake sendok, jangan pake dot, takut dia bingung puting katanya…..
Awalnya susah siperah dan terasa sakit, tapi lama kelamaan jadi ketagihan, karena kalo nggak diperah payudaranya membengkak dan terasa sakit sekali. Terakhir sih nemu pompa yang nyaman untuk memerah asi, walau harganya lumayan mahal sekitar 500rb-an.
kok aku gak ngebaca reply mu ya jeng..? cuma liat di halaman depan, tapi gak komplit kan.
jadi sebenernya siapa yang lagi hamil?
jadi dunks, anak ketiga…hehehhe
Ahem. Karena ini modenya threaded comments, jadi komentar tayang ngga selalu urut berdasarkan waktu.
Coba mbak scroll ke atas, sabar bentar kalo rada panjang :p
Lihat alur komentar yang ada di bawah komentar mbak Mariskova.
Nah, ada kan tuh.
Kan mbak tadi komentar di alur yang sama. Lupa ya?
Tenang tenang… aku gak hamil kok.
ooo jadi yang lagi hamil bukan dirimuuwwh….hihihihihihiii
udah nyambung deh
Berarti insya Allah 2 bulan lagi .. Alma sudah mulai bisa diberikan UHT ya ^_^
terima-kaish ya mom Lita tuk informasinya
ah menurut saya mas adi wirasta ini merendah utk meninggi… kan ngak semua orang loh bisa masuk smu 8, masuk umptn dan kerja di one of indonesian big company….
Ira
Ini bales-balesan komen gak jelas. Ckk ckk ckk..
Untung akhirnya nyambung juga.
*disambit sendal sama mbak Ira*
Dinar
Bisa, kalau mau.
Kalau mau ASI saja (dan makanan padat, tentunya) juga tidak apa-apa.
Sudah mencukupi, kok.
Sama-sama, mom Dinar
Nia
Satir mbak, hehehehe…
Waduh mbak, makasih banyak, saya merasa terhormat sekali menjadi salah satu ‘asbabun nuzul’ tulisan kali ini
Gitu kok ya telat baca, ini juga lom selesai bacanya mbak. Lumayan lah buat info tambahan ke adiknya Razzan nanti *yang lagi hamil muda*.
halo mba lita..salam kenal.. ngutip dari pernyataan nya cak moki nih:
” AA-DHA terbukti berpengaruh terhadap kecerdasan bayi, aktifasinya melalui kinerja enzim, dan itu ada dalam ASI. Adapun AA-DHA dalam susu formula tidak dapat dibuktikan berpengaruh terhadap kecerdasan, lantaran dalam susu formula tersebut tidak memiliki enzim aktifasi”
brarti enzim nya itu emang hanya ada di ASI ya? apa tubuh bayi umur 0-12 bulan blum bisa produksi enzim aktifasi sendiri?
dear mbak lita… lam kenal, ikutan nimbrung yah
alhamdulillah anakku dua-duanya bisa dapet ASI exclusive, anak yang pertama dah 2 tahun 9 bulan, dulu ASI terus berhenti pas adiknya lahir (umur 2 tahun 3 bulan). Sejak umur 9 bulan maksud hati pengin memberi tambahan susu karena produksi ASI yang semakin berkurang tapi dia gak begitu suka, sudah berganti-ganti merk dari yang ada AA, DHAnya dan yang biasa paling banter sekali minum cuma habis 60 mL. Makin dia beranjak besar sekarang saya sempat wondering “wah ni anak kalo ga suka susu gimana.. nanti pertumbuhannya tidak optimal, karena tidak ada AA DHA yang masuk”
Dear mbak Faida,
Saya salinkan jawaban saya di milis Sehat, ya.
Tidak ada yang spesial dengan AA dan DHA di susu formula.
Apalagi ‘harus’ membuat bunda Faida khawatir pertumbuhan anak menjadi tidak optimal jika anak tidak suka susu formula.
Tenang aja ya, bunda.
artikel menarik…
saya save, lalu print, dan istri saya membacanya….
http://tajib.wordpress.com/2007/06/20/anak-saya-lahir/
terimakasih, dan salam kenal….
salam kenal semua,
Menyedihkan baca detik finance hari ini, HARGA SUSU MELEJIT 100% (http://www.detikfinance.com/index.php?url=http://www.detikfinance.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/06/tgl/27/time/115443/idnews/798337/idkanal/4).
Para Ibu2 harus semakin pintar lagi mengelola uang belanja yang sudah ditekan di semua sisi, belanja makanan, listrik, PAM yg juga rencana mau naik, pendidikan semakin mahal…..(Jgn heran kalau lama2 tingkat bunuh diri kaum hawa meningkat tajam.)
tabik,
felicia
Mbak Lita, kan sekarang lagi banyak tuh di koran, “tidak mampu beli susu, ganti dengan air tajin”. Memang bisa ya, air tajin jadi subsitusi untuk susu?
*ga ngerti kedokteran, kesehatan, belum jadi ibu, tapi sering nemu bacaan ini di koran*
Tidak bisa, mbak Erma. Justru itu yang dikhawatirkan, ketika para ibu memilih beralih dari susu ke air tajin.
Sebetulnya masalah kenaikan harga susu tidak perlu sangat dipusingkan oleh para ibu yang menyusui bayinya.
Untuk bayi <1 tahun, ASI SAJA sudah cukup, tidak perlu ditambah susu formula.
Tentu, bayi >6 bulan sudah mendapat MPASI. Tetap saja, sandaran utama nutrisi anak <1 tahun adalah ASI.
Setelah >1 tahun, nutrisi disandarkan pada makanan padat. Susu hanya pelengkap. Tidak ada juga tidak apa-apa.
Mau memberikan pun tidak perlu susu formula, cukup dengan susu cair biasa.
Lalu kenapa sekarang ribut dengan kenaikan harga susu?
Saya tidak tahu. Salah kaprah berjamaah, mungkin? :p
bu lita / temen yg lain
jadi sebenernya susu murah atau mahal itu sama aja nggak sih???
thanks
Sama, menurut saya sih. Anak saya yang pernah minum susu mahal dan anak temen yang pernah minum susu murah, sama-sama bisa nyambung tuh kalo ngobrol
assalamualaikum …..bu lita… mulai umur berapa anak boleh mulai diberikan susu uht?
Winayou
‘alaykum salam. Tunggu sampai usianya sudah 1 tahun, ya
mau ikut nanya nih, mungkin sedikit oot sih. yang mau saya tanyakan bagaimana kandungan gizi seperti susu sapi segar dibanding dengan susu formula yang ada AA dan DHAnya, apakah susu sapi segar itu ada kandungan macem AA dan DHAnya juga, (maaf bukan mau menyamakan asi dengan susu sapi lho) sekedar tanya aja, soalnya saya orang awam dan kebetulan sekali putri saya suka sekali dengan susu sapi segar, cuman ditambah gula sedikit aja, sehari dia bisa menghabiskan 1 liter.
oke deh, itu dulu dan makasih buat pencerahannya
Daddynya Aisha & Daffa
Pak Fery, putrinya umur berapa, ya?
500 mL (dua gelas) saja sudah mencukupi asupan gizi dari susunya.
Kalau sudah di atas 1 tahun, susu 1 liter sehari itu berlebihan lho, pak
AA & DHA? Ada di makanan sehari-hari; kacang-kacangan, sayuran, daging, ikan juga mengandung AA & DHA. Tak hanya ASI dan susu formula. Jadi tak perlu khawatir. Jika pola makan anak baik, insya Allah kebutuhan anak tercukupi tanpa harus minum susu yang difortifikasi dengan suplemen.
Semoga membantu, ya.