Artikel ini dibuat dalam rangka menanggapi komentar Andri di kolom Tanya-Jawab cak Moki (peringatan: halamannya sangat panjang). Jika dianggap serius, ya ini memang serius. Jika dianggap tidak serius, masa iya? Jika ini dianggap kurang kerjaan, hei, apalagi kerjaan penulis jika tidak menulis?
Saya dahulukan menjawab 'pertanyaan no. 3', yang nampaknya ditunggu-tunggu sekali.
3. Tentu anda bisa membedakan antara senyawa organik dan non-organik, herbal dan non herbal, antara senyawa yang dihasilkan tubuh dan tidak?
Sebelumnya, pertanyaan ini muncul akibat tanggapan saya:
sebab tidak mengandung bahan-bahan kimiawiBahkan tubuh anda sendiri tersusun dari bahan kimia. Bantu saya, sebutkan SATU saja benda yang tidak mengandung senyawa kimia.
Jangan sebut Tuhan dan mahluk ghaib, Tuhan bukan materi dan tidak seorangpun tahu cukup banyak tentang mahluk ghaib. Out of discussion.
Berhubung anda bertanya, jadi baiklah saya tunjuk bahwa pengertian anda tentang istilah 'kimia' dan 'organik' tidak menggunakan definisi dasarnya. Baca ini: zat kimia dan senyawa organik. Mungkin 'organik' yang anda maksud merujuk ke 'sampah organik' alias sampah basah?
Dan tentu saja saya sudah menjawab pertanyaan anda. Bahkan sebelum ditanyakan. Saya katakan 'tubuh anda sendiri tersusun dari bahan kimia'. Kembali ke anda, tentunya anda mengerti kan maksud saya? Sayangnya pertanyaan no.3 dari anda menjawab pertanyaan saya barusan dengan 'tidak'.
Dari sini harapan saya kecil sekali bahwa definisi anda tidak bias. Jika istilah 'kimia' dan 'organik' tidak dipegang di dasarnya, bagaimana anda menjelaskan tentang 'alami' dan lainnya? Kalau melirik entri wikipedia tentang 'natural', produk yang anda tawarkan termasuk tidak alami karena termasuk 'manufactured objects', walau menurut wiktionary bisa tetap natural dengan definisi tanpa bahan tambahan.
Senyawa yang dihasilkan tubuh? Apa ini dikaitkan dengan organik yang tadi? *kenapa jadi ke sini, ya?* Kemampuan tubuh untuk mensintesa ini kan urusannya dengan esensial dan non-esensial. Tidak ada hubungannya dengan herbal dan organik. Tentu saja dengan catatan: mengikuti definisi dasar.
Selanjutnya saya hanya menyertakan pernyataan anda yang akan saya tanggapi. Tidak terbatas pada komentar yang saya rujuk dengan taut, tapi juga sesudahnya.
1. Contoh perbedaan antara akar dan penyebab
Contoh kecil dalam kasus Diabetes, tindakan yang dilakukan oleh Kedokteran barat adalah menangani masalah ini adalah dengan menyuntikan Insulin- buatan jelas kimiawi” dalam arti tidak alami”-, mengapa insulin karena insulin lah yang bertanggung jawab dalam mengatur kadar gula dalam darah.
Sedangkan yang dilakukan oleh kedokteran timur “eastern medicine” yang terkenal dengan ramuan herbal/nutrisi-nya adalah dengan memberikan nutrisi-nutrisi yang sangat dibutuhkan oleh “pankeras” yakni penghasil insulin alami, agar dapat kembali pulih dan akhirnya bisa kembali menghasilkan insulin, yang tentunya sekali lagi alami karena hasil produksi tubuh itu sendiri dan bukan yang lain.
Jika insulin dengan nama senyawa xxx dan susunan molekul yyy, apa yang membedakan xxx 'tidak alami' dan xxx yang 'alami'? Apa bedanya air (H2O) yang alami dan tidak alami? Antara air yang ada di laut dengan air hasil reaksi sel tunam? Jika air yang kita bicarakan adalah H2O, apapun asalnya air ya tetap air.
Senyawa ya senyawa. Insulin ya insulin. Datangnya dari mana, insulin tetap bernama insulin. Kalau insulin alami berbeda dengan insulin sintetik, berarti insulin sintetik tersebut namanya tidak insulin lagi.
Type 1 diabetes was previously called insulin-dependent diabetes mellitus (IDDM) or juvenile-onset diabetes. Type 1 diabetes develops when the body's immune system destroys pancreatic beta cells, the only cells in the body that make the hormone insulin that regulates blood glucose.
This form of diabetes usually strikes children and young adults, although disease onset can occur at any age. Type 1 diabetes may account for 5% to 10% of all diagnosed cases of diabetes. Risk factors for type 1 diabetes may include autoimmune, genetic, and environmental factors.
Baik sekali jika nutrisi dapat menyelesaikan segala masalah dari akarnya. Sayangnya ini tidak berlaku untuk diabetes tipe 1, yang berasal dari kelainan genetik dan bersifat autoimmun. Tubuh menyerang organnya sendiri sehingga tidak mampu memproduksi insulin. Anda mau bikin terapi gen dengan nutrisi? Atau anda tetap salahkan penderita diabetes tipe 1 karena asupan nutrisinya tidak tepat walaupun tidak ada hubungannya karena itu sudah bawaan lahir?
Cara terapi nutrisi terkesan terlalu memudahkan. Tidak semua penyakit berasal dari 'kesalahan' nutrisi. “Ya tentu”, jawab anda? Lalu mengapa anda membuat generalisasi? Buatlah batasan rasional dalam membuat klaim. Ini penting untuk keselamatan anda sendiri.
2. Tidak perlu pusing dengan pernyataan diatas ^^…, pengobatan dalam artian diatas adalah penyembuhan, mengapa?? karena telah saya kemukakan sebelumnya dalam tradisi pengobatan/penyembuhan Tiongkok, penyakit itu timbul akibat terganggunya keseimbangan organ-organ tubuh, yang diakibatkan oleh kekurangan NUTRISI sehingga jadi bermasalah dan tentunya masalah ini akan mengakibatkan pada munculnya beragam penyakit, sebagai contoh jika pankreas yang bermasalah sangat beresiko Diabetes, Pembuluh darah macet beresiko Stroke, jantung dsbnya. Dengan demikian penyembuhan akan dilakukan oleh TUBUH ITU SENDIRI dengan tercukupinya nutrisi yang dibutuhkan. Itulah mengapa kita kenal Terapi Nutrisi, yakni sebuah metodologi penyembuhan dengan herbal/nutrisi yang jelas alami karena organik, cara pengobatan timur (China dll).
*Maafkan paragraf yang apa adanya ini. Karena isinya hanya 3 kalimat, saya tidak tahu harus memotongnya di mana*
Seperti saya katakan sebelumnya, TIDAK semua penyakit timbul akibat terganggunya keseimbangan organ tubuh. “Memang tidak semua”? katakan saja demikian dan tidak membuat generalisasi.
Apa yang anda maksud sebagai 'keseimbangan organ tubuh'? Apakah jika sedang sakit maka organ tidak seimbang? Dan ketika sehat maka organ seimbang? Apanya? Beratnya? Posisinya? Kerjanya?
Atau yang anda maksud adalah metabolisme? Metabolisme yang tidak bermasalah juga tidak menjadi jaminan seseorang akan selamanya sehat. Bagaimana jika ia terpapar HIV? Atau nyamuk pembawa virus dengue menggigit dan jadilah ia menderita demam berdarah? Anda akan tetap menyalahkan kekurangan nutrisi?
Anda katakan “Kekurangan nutrisi hanya salah satu penyebab, bukan segala penyebab”? Katakan saja demikian, jangan memberi generalisasi.
Alami karena organik. Saya tidak sependapat dengan anda. Mari saya bantu menjelaskan kata-kata anda menggunakan sedikit pengalaman saya ketika bergaul dengan ilmu kimia.
Jika organik maka alami?
Organik adalah senyawa kimia yang mengandung unsur C (karbon), dengan beberapa senyawa yang dikecualikan. Dengan demikian air tidak termasuk senyawa organik. Tapi tetap alami, dong? Dia kan ada di atmosfir dan di tubuh kita. Lalu apa yang organik tapi tidak alami? Gula, sintetik (bedakan dengan pemanis sintetik) tapi tetap organik.
Lalu apa masalah antara saya dengan anda? Anda menggunakan istilah 'bentukan', sedangkan saya hampir selalu menggunakan istilah 'dasar', (kembali ke bagian awal menjawab pertanyaan no. 3). Bahan kimia bisa alami bisa tidak. Senyawa organik bisa alami bisa tidak.
4. Produk nutrisi yang kami tawarkan diproduksi oleh T (maaf saya tidak ingin meliput promosi), Berikut ini beberapa alasan yang anda minta, semoga juga menjadi perhatian bagi yang lain =
Kelebihan Produk T
1. Khasiatnya Nyata
T merupakan kelanjutan sejarah panjang pengobatan china yang berusia 5000 tahun yang telah diuji manfaat dan khasiatnya serta telah disempurnakan dari generasi ke generasi.Formula T yang merupakan modernisasi warisan pengobatan tradisional yang sudah teruji keamanannya dari efek samping, dan sudah terbuktio manfaatnya untuk kesehatan dan khasiatnya untuk kesembuhan.Khasiatnya untuk kesembuhan.
Saya menduga anda berusaha ‘bermain aman’. Dengan tidak mengklaim pengobatan tapi juga ingin menyampaikan bahwa suplemen anda dapat membantu menyembuhkan.
21 U.S.C. 343(r)(6) makes clear that a statement included in labeling under the authority of that section may not claim to diagnose, mitigate, treat, cure, or prevent a specific disease or class of diseases.
Dan tentunya anda juga tahu bahwa suplemen DILARANG mengklaim fungsi obat yaitu menyembuhkan. Kan?
2. Membangun keharmonisan tubuh dan mengatasi penyakit dari akarnya
Sebagaimana prinsip pengobatan cina, nutrisi T juga menggunakan oprinsip pentingnya keharmonisan tubuh dalam menangani berbagai masalah kesehatan, sehingga nutrisi tersebut diberikan untuk memberi kemampuan pada tubuh untuk berfungsi secara maksimal mengalahkan penyakit.
Ya. Seperti makan biasa saja.
3. Bukan efek samping tapi nilai tambah
Setiap produk nutrisi T tidak bermanfaat hanya untuk satu penyakit tapi berbagai penyakit yang berkaitan dengan kekurangan nutrisi tersebut. Yang menarik, bukan efek samping yang muncul, tapi bahkan memberikan efek penyembuhan/manfaat tambahan. Sehingga anda tidak tidak perlu kaget jika anda mengkonsumsi satu produk untuk penyakit tertentu tetapi tiba-tiba anda merasakan dua manfaat sekaligus. Misalnya anda minum Antilipemic Tea untuk mengurangi berat badan ternyata selain berat badan berkurang, rematik dan asam urat anda hilang, atau anda minum Double Cellulose untuk sakit maag, ternyata selain maag anda membaik wasir dan ambein juga sembuh.
Saya cermati kata 'tiba-tiba' dari anda. Hati-hati, khasiat produk herba tidak nampak sekejap mata dalam waktu singkat. Sedangkan kata 'tiba-tiba' –seperti saya harapkan semua orang tahu- mengandung makna terjadi dalam waktu singkat dan biasanya mengejutkan.
Bukankah di label produk anda juga tercantum klaim jangka waktu ‘memberi efek’ ; ‘efek akan terlihat/terasa setelah sekian hari/minggu mengonsumsi secara teratur’? Tidakkah efek produk herba memang subtle, berubah perlahan-lahan dan tidak ‘tiba-tiba merasakan’ seperti yang anda katakan? Saya malah diperingatkan untuk berhati-hati terhadap 'perbaikan tiba-tiba'.
4. Alami Tanpa Bahan Pengawet Produk
T dibuat dengan bahan alami sehingga mudah diserap oleh tubuh, bahkan begitu alaminya produk T, produk dikemas tanpa bahan pengawet.Silahkan anda buka botol kemasan T maka anda tidak akan menemukan silica gel pengawet obat didalamnya. Pada standar FDA Amerika, produk kesehatan/nutrisi umum boleh mengklaim produknya alami walaupun kandungan alaminya hanya terkandung 10% sedangkan T sepenuhnya alami.
Anda suka humor juga. Silica gel bukan untuk mengawetkan. Gel itu berfungsi untuk menyerap air/kelembapan dari udara guna menjaga tingkat kekeringan dus kualitas barang di dalam kemasan. Soal 'efek samping' yang mengawetkan, kemasan yang tertutup dengan baik juga menjaga keawetan produk. Tidak ada urusan antara jel silika dengan pengawetan makanan.
'Begitu alaminya sehingga produk dikemas tanpa bahan pengawet'? Yang tidak alami juga bisa dikemas tanpa bahan pengawet, kok. Ini kan masalah kemungkinan terkontaminasi dan menjadi ‘makanan’ bagi pertumbuhan mikroorganisme patogen.
5. Kemasan dan Cita Rasa Modern
Banyak yang sudag mengakui keunggulan dan khasiat obat cina, tapi mereka mengeluh rasanya pahit dan tidak enak dimulut. Hal ini tidak akan anda temukan di produk T, karena semuanya, kecuali Antilipemic Tea, sudah dikemas dalam kapsul atau tablet yang higienis. Calcium powder Produksi T bahkan lebih mirip rasa susu atau biskuit ditumbuk daripada kebanyakan rasa kalsium yang terasa seperti seng atau berbau logam.
Tentunya anda tidak bermaksud bilang ‘calcium powder’ produk anda lebih 'berasa susu' daripada susu itu sendiri. Ngomong-ngomong, rasanya kok tidak seperti yang anda katakan juga. Saya sudah pernah mencoba, kalau-kalau anda ingin tahu. Oh ya, rasa bersifat subyektif dan relatif.
6. Eklusif dan berkualitas
Sebagian besar produk T ekslusif dan semuanya berkualitas tinggi, sehingga anda tidak akan mendapatkan produk sejenis kecuali di T.Hanya Kalsium T mencapai penyerapan tertinggi didunia mencapai 95% sehingga sisanya mudah dibuang keluar tubuh dan tidak mengganggu fungsi kerja ginjal.Menyadari eklusifnya produk-produk tersebut, Mr. Li Jin Yuan menginvestasikan jutaan US Dollar hanya untuk mematenkan produk tersebut di berbagai penjuru dunia.
Eksklusif. Oh, jadi ini bicara tentang gaya hidup, gengsi, dan kebanggaan? Lebih eksklusif dari bahan alaminya, daripada dua ikat bayam, setengah liter susu sapi murni, satu batang brokoli, dan segelas yogurt tawar yang segar. Hmmm… jadi bukan soal alami, ya?
Eksclusive. In marketing, "exclusive" can refer to products that are only available from select distributors or retailers, and have never been released before, or only at a particular event.
Oh. Baiklah.
The term exclusive in linguistics refers to first-person non-singular pronouns that don't include the addressee, i.e. we excluding you.
*ouch, saya disingkirkan*
Oh. Jadi harus ada yang dikucilkan untuk memunculkan istilah eksklusif ini. Baiklah. Tidak terlalu gaul ya, produknya?
Sumber Nutrisi memang banyak tapi lihatlah 4 sehat lima sempurna pun tidak mencukupi kebutuhan nutrisi harian tubuh.
Patokan asupan nutrisi saat ini memang lebih baik 'piramida makanan', bukan 4 sehat 5 sempurna. Tapi ada kekurangan besar dalam pernyataan anda.
Suplemen pada dasarnya berfungsi untuk menambal kekurangan, sebagai tambahan, pelengkap. Tentunya ada ‘cetakan besar’ dan ‘pengisi pendahulu’ sehingga suplemen bisa dikatakan sebagai pelengkap dan dibuat dengan komposisi tertentu.
Bagaimana anda bisa membuat suplemen (pelengkap) jika anda 'menyanggah' ukuran cetakannya, bahwa ia seharusnya lebih besar? Jadi seharusnya dosis suplemen anda lebih besar juga, dong? Padahal yang ada sekarang ini bukannya sudah ‘paling optimal’? Bagaimana anda mengatakan bahwa suplemen mampu mencukupi sekian persen kebutuhan harian jika standar kebutuhan nutrisi hariannya sendiri malah disanggah sebagai tidak mencukupi?
Contoh dalam kasus kalsium, berapakah kebutuhan orang dewasa terhadap kalsium perharinya? 1000mg kalsium/hari
Berdasarka riset, kita akan dapat memenuhi kebutuhan kalsium kita (1000mg) sehari-hari jika kita mengkonsumsi makanan diantaranya :- 2 galon susu atau
- 23 pond (11,5 kg) bayam dan 17 pon (11,5 kg) brokoli atau,
- 23 pon (11,5 kg) kubissumber lain:
-13 kg daging sapi
- k kg daging kambing
- 7 kg daging ayam
- 8 kg nasiPAsti anda pernah melihat di TV iklan kalsium yang memiliki gambaran seperti diatas ^^….anda sanggung?? Jika pemenuhan kalsium dari makanan/minuman begitu besar volumenya dan mahal harganya, maka ada cara lain yang lebih sederhana, dan itulah yang kami tawarkan …^^
Pasti anda tahu fungsi dari kata ‘atau’, bukan? Ya betul; memberi pilihan. Menatap sekilas daftar di atas memang mengerikan, tapi toh kita bisa ‘breakdown’.
Jangan terlibat salah kaprah dengan kata galon. Galon sebagai satuan TIDAK sama dengan wadah air minum kemasan ‘galonan’. Jangan bayangkan dua galon sebagai dua tabung besar itu. Satu galon (US) cairan setara dengan 3,8 liter. Sebanyak dua kantong minyak goreng pabrikan ukuran besar.
Jadi sebanyak itu susu yang harus diminum untuk memenuhi kebutuhan kalsium harian? Kok tidak, ya. Di label produk susu tercantum keterangan gizi, bahwa sajian 1 liter susu dapat mencukupi kebutuhan kalsium dalam sehari.
Jadi harus minum seliter? Jangan buru-buru, saya belum selesai. Kembali ke kata ‘atau’. Kita punya kan, pilihan untuk minum segelas susu dan melengkapinya dengan yogurt, es krim, brokoli, wortel, daging, bayam? Bisa juga ditambah keju serta buah.
Anda juga tidak minum satu liter susu dalam sekali duduk glek. Batita bisa menghabiskan 1,5 liter susu dalam sehari jika diizinkan (tentu saja saya tidak mengizinkan!). Dan masih makan makanan lain yang juga mengandung kalsium. Sanggup? Sanggup saja. Mengapa orang dewasa tidak?
Iklan? Astaga… ke mana saja anda selama ini? Anda tentu tidak sepolos itu hingga tidak tahu bahwa iklan sangat sering berlebihan (dan melebih-lebihkan), kan?
Dari yang saya sebut, pemenuhan kalsium tidaklah sebegitu mahalnya. Tentu kalau pilihan anda bukan pada berkerat-kerat daging. Selain bukan pilihan yang menyehatkan, anda dijamin eneg duluan melihatnya. Kecuali anda Obelix.
Dengan pola makan ‘biasa’ (sesuai yang dianjurkan untuk mencapai pemenuhan kebutuhan nutrisi harian), biayanya tidak semahal jika harus mengonsumsi produk anda, kok. Lagipula selain kalsium, kan kita juga mendapat berbagai phytochemicals (Nah, kimia lagi. Di tumbuhan pula. Jadi kenapa harus menasbihkan kimia sebagai sintetik?) yang penting. Flavonoid, misalnya. Selulosa, juga. Eh, selulosa kan produk lainnya, ya? Vitamin, beta karotin, likopen, antioksidan lainnya, dan sebagainya.
Dengan biaya yang sama (jika ditukar dengan produk suplemen anda), lebih banyak yang didapat. Tentu bisa saja tidak sama, jika anda hanya memandang dari asupan SATU jenis (misalnya kalsium) saja. Hidup –untungnya- tidak sesempit itu.
Terhadap kesehatan dua hal utama yang akan kita lakukan :pertama, Mencegah, dan kedua adalah Mengobati. Dan kedua-duanya bisa dilakukan dengan TERAPI NUTRISI. Kami “T” telah menyusun berbagai kesaksian terkait dengan kesehatan dan gangguannya ini, dari yang biasa sampai yang sudah di vonis operasi sekalipun.
Baiklah. Sekarang anda menyatakan yang seharusnya tidak anda katakan. Bahwa terapi suplemen (nutrisi yang dimaksud tentunya suplemen produk anda kan?) dapat mengobati.
Salah satunya bisa anda dapatkan di url berikut: http://totalwellness.xxx.com/xxx/waspada-kanker-payudara/
Soal wellness. Istilah ini hanya ada di dunia 'pengobatan alternatif'. Entah pengobatan itu bisa dibuktikan secara empiris (nyomot istilah dari cak Moki) atau tidak. Di dunia medis kedokteran, wellness ya sehat. Tapi di dunia pengobatan alternatif, wellness tak sekadar sehat namun harmonis. Baiklah.
Oh, ini cuma soal URL dan judul situs serta nama komunitas? Baiklah.
Saya terkesan mencari kesalahan? Niat saya memang mengorek dan mempertanyakan. Diam (tidak berkomentar) pun tidak berarti menyetujui. Bisa saja setuju, bisa saja tidak tahu, bisa saja tidak berminat, atau bisa pula tidak begitu peduli.
Sila ditanggapi dan dikoreksi. Terimakasih.

Kalau ibu saya bilang sih lebih baik yang alami.
Maksudnya, jangan cuma lihat pengalaman orang, tapi jalani dan alami sendiri sebagai pengalaman terbaik. Tapi untuk hal-hal baik saja, jangan ingin alami sendiri hal yang negatif.
*numpang ngejunk di postingan serius*
panjang amat. kalo gua jawabnya cuma “situ jualan tianshi kan? nice try, though”
lit, mau gw bantuin ga?
berhubung tahun kemarin gw dah out dari sana… klo mau, gw infokan segudang informasi deh…
boleh milih, yang pro atau yang kontra… yang seputar produk ataupun seputar informasi yang fraud…
tapi klo blog mu dirajam jutaan orang jangan salahkan saya ya :p
Hericz
Aku setuju banget sama ibumu.
Satu tambahan: umur kita terbatas.
Kita bisa belajar dari pengalaman orang lain, tidak harus dialami sendiri
*bales junk dengan serius*
Priyadi
Kalo cuma gitu doang, Ibrahim juga bisa, mas.
Tinggal bilang, “Nggak. Makasih.”
Eh, Daud juga bisa, ding. “Nggak.”
Tahu kenapa kita menolak.
Beritahu kenapa kita menolak.
Tahu apa yang salah.
Beritahu sebelah mana yang salah, dan yang benar bagaimana.
Lagipula dia bertanya, kok. Tentunya aku masih ingin bersikap sopan dengan memberi jawaban
Kenji
Boleh diposting di sini, supaya bisa dipelajari bersama-sama
Mantafff…terima kasih atas penjelasan dan tentunya jawaban atas pertanyaan saya sebelumnya ^^
Sayang sekali…, level kita berbeda dan tentunya bidang yang kita geluti juga berbeda, saya Mahasiswa Perbankan Syariah yang menjalani bisnis network marketing, Tianshi - tepat sekali tebakan Bung Priyadi-, sekaligus OP sebuah warnet di Jakarta Selatan dan anda, yang mana tentunya semua orang disini sudah mengetahui dan mengenal baik siapa anda.
Barat dan Timur memang cenderung berbeda dan berlawanan, namun, saya pikir itu hanya proses waktu saja, begitu salah satu sudah terbuka untuk menerima dan mempelajari yang lain tentu perbedaan dan kotradiksi itu juga akan semakin hilang dan pupus…
Saya memang masih “anak ayam” dalam bidang yang satu ini, namun, bukan berarti dengan kondisi yang demikian saya tidak bisa berbagi!, ada banyak cara untuk berbagi dan itu yang sudah saya lakukan. Biarlah selanjutnya kedewasaan yang berbicara…, saya yakin kita semua memang belum berada di batas akhir kemampuan dan peradaban yang kita bentuk, kita semua masih berproses..sekali lagi masih berproses…
Opini memang tiada akhir, itu kata yang pernah saya ucapkan di suatu forum waktu berbicara tentang Calon Independen terkait pilkada DKI, biarlah fakta yang berbicara dan kedewasaan yang memfilter!, sekali lagi itu juga saya ucapkan di forum ini.
Fakta tentang kebesaran Tianshi dengan produk-produk herbalnya sudah mendunia, dan begitu juga dengan Western Medicine…mana yang lebih baik, biarlah fakta yang berbicara..!
Terima kasih sekali lagi untuk semua dan Ibu Lita tentunya atas perhatian dan tanggapannya ^^
Maaf, usaha ngeles seperti ini tidak baik bagi kesehatan olah pikir anda.
Anda mengemukakan A. Saya bahas A, setuntas yang saya bisa.
Lalu kini anda beralasan level dan bidang yang digeluti berbeda.
Seperti hit and run, lempar batu sembunyi tangan.
Ah, tentu saja anda tidak bersembunyi, toh berbaik hati ke sini.
Kalau begitu sejak awal saja anda tidak usah mengangkat apa yang anda bahas dan lebih konsentrasi pada ‘pendidikan bisnis’ (begitu katanya tentang network marketing, kesaksian pribadi dari orang-orang dekat yang pernah masuk ke dalamnya), bidang yang anda akui geluti dan kuasai.
Dan saya tidak akan mengutik-utik karena di luar kompetensi saya.
Akan tampak tidak lucu jika saya sok tahu soal bisnis padahal tidak mengerti.
Terimakasih sudah mampir.
He he he…bisa saja Bu Lita ini^^
Jujur… saya lelaki sejati Loch, never hit and run, jika itu yang sempat terfikir oleh Ibu, hanya saja keterbatasan saya, yang memang bukan seorang mumpuni dibidang kesehatan, membuat saya tidak bisa berkomentar banyak dan memuaskan berbagai pihak…
Ingatlah, sebagaimana anda yang besar dan terbentuk di Western Medicine, banyak pula mereka yang mendalami eastern medicine dan bangga akan bidangnya tersebut, dan ingat pula tiada disalah satu pihak yang tidak ilmiah… Jadi tolong dari sekarang anda membuang jauh pikiran-pikiran yang tidak seharusnya itu. saya rasa apa yang anda kenakan itu sudah sepatutnya melindungi hati dan pikiran anda dari hal yang tidak-tidak. Saya yakin ber-su’u Dzan bukan hal yang dianjurkan dalam agama yang anda dan saya anut…
Terima kasih semoga anda mengerti maksud saya.
Ya itu mas maksud saya.
Mas kan berpromosi dengan mengangkat bahasan kesehatan, ya saya bahas bagian kesehatan beserta istilahnya.
Kemudian mas beralasan perbedaan level dan bidang yang digeluti.
Karena saya anggap ini ngeles, maka seperti biasanya orang ngeles: belok.
Asalnya topiknya apa, belok ke arah lain.
Level di mana? Pelevelan oleh siapa?
Saya tidak punya latar belakang medis kok, sila baca ‘about me’.
Jadi pernyataan ‘anda yang besar dan terbentuk di western medicine’ itu juga tidak tepat.
Bangga tidak apa-apa.
Saya juga tidak bilang anda (dan pengobatan alternatif) seluruhnya tidak ilmiah kok.
Hanya saja terkadang klaimnya terlalu tinggi dan menjadi sukar dibuktikan.
Kesaksian tidak cukup kuat untuk dijadikan sebagai rujukan, mas.
Kalau ’sekadar’ kesaksian bisa jadi sandaran ilmiah, Masaru Emoto tentunya termasuk scientist.
Sayang (atau untung?)nya tidak.
Soal su’uzhan. Anda pernah dengar istilah skeptis tentunya? Simak lagi di sini.
Saya memelihara sikap skeptis, dengan demikian mempertanyakan apa yang disodorkan kepada saya.
Wajar, dengan pengalaman sains/rekayasa yang saya dapat.
Pikiran tidak seharusnya yang mana? Yang ngeles? Sudah saya jelaskan kan, ya.
Saya tidak menduga apapun tentang anda, selain dari apa yang anda beri: latar belakang ilmu perbankan dan sedang mempromosikan produk.
Saya hanya membaca teks, dan menanggapi teks.
Jadi sekarang membahas jilbab saya? Pindah topik ke etika agama?
Jadi sekarang membahas SAYA? Bukan kesehatan, promosi, dan ilmiah lagi?
Maturnuwun Bu
Wah soal “kimia” dah dibahas teramat jelas. Saya sebenarnya mau memberi penjelasan soal farmakologinya terkait masalah “metabolisme”, namun karena pengalaman di darat akan berakhir dg “beda”, saya jadi malas. Maaf tak ada apapun yang bisa didapat dari “permbuletan”, istilah njenengan “lempar batu sembunyi tangan”.
Entah kenapa dihembuskan dikotomi barat-timur di dunia medis yang sebenarnya tidak pernah ada. Niaga?
hehehe, maaf pendek aja ya
“Entah kenapa dihembuskan dikotomi barat-timur di dunia medis yang sebenarnya tidak pernah ada. Niaga?”
Masih menggunakan pola yang lama rupanya ^^, yo wis masing2 lah :p
Coba anda ketik di google, dengan kata kunci “eastern medicine” atau “western medicine” dan lihatlah apa yang akan anda temukan. mudah kan :p
coba bandingkan 2 keyword ini di: “human” vs “computer” di google.com
barusan saya coba dan human mempunyai 466,000,000 hasil sedang computer mempunyai 711,000,000 hasil, apakah ini relevan? tentu tidak.
saya anggap thread ini OOT. Kalau melenceng lebih jauh lagi saya cut.
:)
hehe udah lama saya gak komentar disini. Still, i would like to remind you guys, yang sedang berdiskusi…
ya silakan berdiskusi dan berargumentasi, tapi tetep berpegang ke ide awal atau topik utama saja ya.
Stick on the main ideas please
Mungkin memang betul ada berbedaan level , apapun itu maksudnya, … juga bidang yg digeluti sangat mungkin juga berbeda.. namun karena mas Andri Yarusman sedang membahas masalah yang berkaitan dengan kesehatan atau medis maka seharusnyalah pernyataan-2 mas Andri bisa dipertanggungjawabkan secara medis, baik itu melalui referensi medis ‘Timur’ atau ‘Barat’. Dengan begitu perbedaan level ataupun bidang menjadi irrelevant (karena pada awalnya memang bahasan yang ada sampaikan diluar bidang kompetensi anda sbg Mhs Perbankan).
Sepertinya istilah ini juga kurang tepat… tapi memang sih pernyataan sebelumnya terkesan ngeles .
So, saya harap semua tetep pada context ya. No prejudice, sama seperti yg mas Andri bilang bahwa sebaiknya kita tidak ber Dzan, demikian juga saya minta mas Andri tidak ber Dzan bahwa Lita mempunyai Dzan… (ngerti kan maksudnya?) . Karena diskusi ini menggunakan media textual, jadi kita mulai dari yg terbaca/tersurat, dan karena tentu kita ingin agar diskusi ini obyektif jadi sebaiknya kita tidak mengira-ira apa yang tersirat. Karena yang tersirat belum tentu sama, bahkan utk org2 yg sama-2 menggunakan bahasa indonesia. Misalkan ada yg kurang jelas silakan dikonfirmasikan dulu, sebelum membentuk ya itu tadi … Dzan.
Pengobatan Timur saya yakin mempunyai sejarah yang panjang, metoda yang tertata, dan juga record-2 yang banyak, yang tersimpan dalam buku-2 Kitab Pengobatan Cina (ini aja ya istilahnya … kalo ada yg tahu istilah bakunya tolong dikoreksi
). Apakah metode pengobatan timur ini Ilmiah, tentu saja TIDAK, lha wong Teori Ilmiah ditemukan jauh sesudah Pengobatan Timur ini establish kok, ya kan?
Cak Moki, CMIIW, Record pengobatan/medis/tabib dimulai dari Cina, kemudian jaman Islam, dan kemudian Jaman Modern. Nah jaman modern ini doang yg pake Metode Ilmiah untuk perkembangannya.
Apakah metode Timur lebih baik dari Barat? atau sebaliknya? Saya kok tidak melihatnya sebagai 2 kubu yang berlawanan ya? menurut saya itu adalah satu rangkaian Evolusi dari suatu Pengetahuan. Dan menurut saya, tidak semua metode pengobatan timur obsolete.
Nah, silakan berdiskusi, meskipun pengobatan Timur tidak ilmiah, alangkah baiknya kalau setiap kita mengutarakan pendapat selalu didasari dengan rujukan yang kuat. Apalagi kalau hal tersebut diluar kompetensi kita, misal. untuk mengklaim bahwa Nutrisi dari Timur (yang berdasar dengan kitab Medis Kuno dari Timur, dengan Metoda Produksi Barat) ini aman dari efek samping tentu harus didukung dengan hasil riset statistik misalnya… atau penelitian yang lain.
. Tentu kita bukan sedang mencari menang kalah kan? atau mencari leads/sales kan? saya harap kita sedang membahas dengan tujuan untuk mencari kebenaran, betul? kalau itu yang dicari kan tentu tidak ada yang menang dan kalah.
Kalo cuma klaim-2 saja tentu tidak bisa diterima keabsahannya, kalo sekedar ngomong kan cuma modal napas sama mulut. Hati-hati, karena kita sedang membicarakan masalah yang sensitif, salah-salah bisa keracunan atau overdose
(tenang saja para pembaca yang budiman, saya selalu memonitor bananaTALK
, kalau jadi flame-wars atau debat kusir yg ga jelas nanti saya cut deh … jadi selamat menikmati bananaTALK).
+bananADMIN
Bu Lita, iki yang saya janjikan… ringkas aja ya, habis panjang pisan.
tapi sebelumnya, seperti yang telah dideklarasikan mas Yahya, saya ga bermaksud ngeflame loh
1. Penyerapan Calcium 95% –> sebenarnya ini sedikit absurd
sampai akhirnya saya pensiun pun, saya hanya mengandalkan “kepercayaan” atas 95% itu. Kenapa? karena sampai saat ini pun saya tidak pernah menemukan “artifact” atas 95% itu. Saya pernah menelusuri jejak pembuktian ini, tapi ujung2nya ya hanyalah sekerumunan kata-kata motivasional yang tidak sesuai dengan apa yang saya kategorikan sebagai “artifact”
Pernah suatu hari, saya serius mencari bukti2 ini. Ada salah satu kalimat motivasional yang menarik… ” ini sudah dibuktikan di ITB” saya kejar orang tersebut (kebetulan crossline), apa yang saya dapatkan? “iya pak, di teknik kimia ITB telah dibuktikan Calcium ini terserap 95%” di teknik kimia ITB? hihihihihi, bu Lita aja deh yang cerita siapa di sana yang terlibat langsung dengan penelitian Kalsium
Anyway di sini saya tidak bermaksud menjatuhkan kalsium itu ya. Bagus kok, saya sendiri pernah pakai, jadi saya berani katakan ini bagus. Jauh lebih bagus dari yang esterfescen murahan itu, dari yang “kerang”2an, bahkan saya berani bilang lebih bagus dari yang beasal dari USA itu loh… Dulu Saya sering melihat sendiri “keajaiban” yang terjadi akibat Kalsium Mujarab ini. MAcem2 dah, tapi nanti dibilang promosi… Anyway and Busway, saya percaya guru saya Bu Lita ini bukan bermaksud langsung menjelek2an dan menjatuhkan T ini. Saya berharap juga
posting bu Lita ini bisa menjembatani miss match informasi terutama antara pemikiran LOGIKA dan pemikiran MOTIVASIONAL ini…
2. Produk Herbal, Organik… ???
Ini yang paling sering ambigue di perbincangan nutrisi… dan saya tidak akan komentar detail di sini, nanti 10x bisa lebih panjang dari postingan bu Lita.. (nanti IP saya di banned lagi
) JAdi saya cerita soal ambiguenya aja mengenai informasi produk itu di sini
Calcium itu diambil dari tulang sapi mongol –> Jadi Kalsium itu ga mungkin herbal bos. Saya ga ngerti kemarin2 ada yang ngotot ngeklaim itu herbal… saya di sana 3 tahun aja ga pernah bilang produk ini herbal.. herbal itu tumbuh2an. Masa seh sapi biji nya di tanem, terus bulan depan numbuh sapi
anyway kata herbal itu memang jadi semacam trend dan merk dagang, akhirnya banyak produk yang “maksa” dapat cap herbal. Saking maksanya kadang yang memasarkannya lupa pendefinisian herbal :p
Calcium itu diambil melalui proses ekstraksi. Jadi mereka menggunakan solvent. Proses rincinya memang dirahasiakan, wajarlah, itu kan patent mereka. Tapi sesuatu yang menggunakan solvent, addictive, dll itu sudah tidak bisa diklaim sebagai organik. Beberapa bulan lalu saya sempat posting tentang penyalahgunaan cap “organik” di suatu produk, eh malah dapat paket makian dan omel2an gitu. coba cek ke wikipedia aja tentang organic food.
Oh iya, Calcium itu mengandung ASPARTAME… zat ini sebenarnya tidak berbahaya, tapi terus terang dengan keberadaan aspartame ini, sebenarnya sudah mengeleminasi hak suatu produk untuk ngaku2 sebagai produk 100% alami. Produksi aspartame itu melewati 3 proses utama, fermentasi, sintesis, dan purifikasi. detilnya mungkin ibu Lita bisa posting satu topik tentang aspartame
rame loh
wah.. banyak banget komentar saya neh, jadi ga enak sama empunya blog
intinya seh, saya ga mau jelek2n siapapun di sini. menurut saya ini masalah murni seputar “organik” dan “alami” suatu produk, ga ada sangkut pautnya dengan proses pemasaran produk itu melalui MLM atau tidaknya.
Eh bener tenan tempo hari juga ada yang bilang kalsium ini herbal, saya sampai geli sendiri.. tapi ya sudahlah ndak apa2, kalau dibahas malah jadi panjang karena orangnya kekeuh bilang kalsium itu herbal, wekekeke
Mantaff…terima kasih atas tanggapan dan reaksi kepeduliannya, setidaknya forum ini tidak akan muncul melainkan dari postingan saya sebelum di Blog Cak…
Perkembanganya positif, terlebih dengan pewarnaan dari rekan-rekan yang kemudian ikut berbagi disini.
Banyak yang saya pelajari disini, dan semoga saya pun tidak sendiri dalam posisi itu. Walau mungkin setelah ini IP saya di BAN tidak mengapa?, saya rasa kita saat ini sudah lebih terbuka tentang suatu metodologi pengobatan alternatif, yang selama ini kurang kita pahami. Semoga dengan begitu kesadaran akan pentingnya kesehatan dan betapa sederhana sebenarnya suatu proses perawatan, pencegahan, dan pengobatan/penyembuhan terhadap suatu gangguan kesehatan dapat kita pahami.
Maaf jika banyak perkataan saya yang tidak pada tempatnya dan mungkin melukai perasaan rekan sekalian…Thx a lot!
benar sekali, gak ada bedanya air alami dan air hasil buangan AC.
yang membedakan adalah “larutan benda anu di air alami” dan “laruta benda atu di air buangan ac”
jadi air kencing alami n air kencing sintetis (HAYOOH! SAYA MAU TAU YANG BISA BIKIN DENGAN SUHU HANYA 37 DERAJAT CELCIUS SAJAH!) ya kalo kandungannya sama ya sama aja.
sama juga dengan tanaman organik and tanaman non-organik…yang membedakan ya cuman pupuknya dihasilkan dari mana, apakah reaksi-super-efisien-nan-efektif-tapi-ternyata-amat-njlimet di perut sapi/kambing/ayam/manusia atau dari reaksi-sangat-amat-boros-energi-n-bisa-berbahaya-buat-alam-sekitar di pabrik pupuk sintetis!
n ternyata tau gak..banyak makanan organik yang gizinya KURANG dari gizi makanan yang dikasi pupuk sintetis…karena…ya karena pupuk untuk makanan organik membutuhkan PUPUK KANDANG yang jumlahnya tergantung jumlah sapi…mau banyak, ya banyakin sapi…tapi mengancam lahan subur..karena sapi bisanya makan rumput, bukan kayu hutan….ato kita kumpulin aja ya dari feses wildebeest…ada jutaan lho di afrika sana….man…jutaaan ton dagin sapi alami tapi rakyat sana banyak yang lapar (gara-gara intan n minyak bumi pula!)
Go to school and say hell to “alami versus kimiawi”
’nuff said!
ko, makanan organic itu memiliki value added yang lebih besar dari makanan biasa (red : non organic)
meskipun perbedaannya hanya di pupuk dan pestisida, atau di sumber makanan dan minuman ternak…
dalam hal ini hitungan gizi jadi no 2.. yang penting pure alami (red : organic ; bingung kan) dan bagi beberapa orang itu sudah gaya hidup sehat.
kita orang2 “chemical related” memang sering stress di sini, dan bisa dibayangkan betapa stress orang-orang kedokteran dan orang-orang ahli nutrisi…
Berikut adalah kosakata plesetan yang penting dalam pemasaran :
)
1. Kimiawi = racun , berbahaya (trauma dari SMU kali ya
2. Organic = kualitas tinggi
3. Herbal = Alami
makanya jangan bingung klo ada orang bilang “ini bebas kimia”, itu artinya ini aman dimakan… Klo ada yang bilang “ini herbal” , maksudnya bahan2nya alami bukan reaksi sintesis… “ini organic” artinya barang mahal…
lucu ya…
Sila baca yang berikut ^^ :
“Memang budi daya secara alami akan menghasilkan bahan pangan tergolong tidak menarik dari sisi penampilan. Prof Dr Ir Ali Khomsan MS, ahli gizi Institut Pertanian Bogor (IPB), dalam suatu diskusi membenarkan bahwa bahan pangan organik, terutama sayuran mempunyai performa yang tidak menarik, banyak yang berlubang, dimakan ulat dan serangga.
Namun, jika ditinjau dari kualitas cita rasa, pangan organik memang lebih baik. ”Dari sisi cita rasa, bahan pangan organik juga lebih lezat.Sayuran dan buah organik lebih renyah, lebih manis, dan tahan lama. Sedangkan yang bukan, kandungan airnya tinggi sehingga rasanya kurang manis dan lebih cepat busuk,”paparnya.
Selain itu, Ali Khomsan mengungkapkan,bahan pangan organik tertentu seperti sayuran dan buah, kandungan mineral lebih baik dibandingkan bahan pangan konvensional. Beberapa penelitian menunjukkan, sayuran seperti kubis, selada, tomat, kandungan mineral kalsium,fosfor, dan magnesium jauh lebih tinggi dibandingkan dengan sayuran anorganik.”
SUMBER : http://www.litbang.depkes.go.id/aktual/kliping/organik020407.htm
ini sifatnya kutipan dari interview untuk surat kabar… bukan full paper..
ga valid
lagipula itu artikel dibuat untuk support pertumbuhan industri pangan organik di indonesia kok… bukan sesuatu yang scientific
jadi tetep intinya adalah “penggemukan sapi jantan besar2an ” (atawa dalam bahasa inggrisnya: the grand fattening of bulls, as in bullish-market or bullshits!)
Valued Added! Bleh! Jadi inget pas orang-orang evolusi bilang bahwa orang kulit putih memiliki value added lebih tinggi daripada orang kulit hitam…..based on assumptions that black guys are closer to ape-nity than humanity, so white people launched a campaign to white people that white people is “value-added” compared to black people….
Value-Added? GO TO SCHOOL AND GRADUATE! And then let’s talk about your value-added (not you Ken, hell, you have one degree higher than me…)
Money makes everyone wears a mask….
he he he…terima kasih…^^
Alhamdulillah, saya masih kuliah ko’, kuncinya sinergi, sinergi dan sinergi plus dengan semangat untuk terus belajar dan mendewasakan diri…thx anymore
what the hell.. (bukan wadehel yang dah matik itu ya
)
(kok malah OOT)
I’ll double it soon… jadi beda 2 degree deh ko
one day, if you really kecebur dalam dunia bisnis… any kind of business…
dua kunci yang harus kau bisa pahami… VALUE ADDED + DIFFERENTIATION –> ibarat kata ini level SD nya bisnis
wah, baru beberapa jam udah rame gini. yang jelas gak ada tuh dikotomi antara western dan eastern. itu cuma istilah politis (atau dagang). banyak ahli kedokteran yang berasal dari ‘eastern’ kok. dan sebenarnya gak ada ‘mainstream’ vs ‘alternatif’, yang ada cuma yang terbukti secara medis dan yang belum/tidak.
tapi yang jelas ngomong seperti begini ciri2nya tetap sama:
1. yang satu jualan, yang satu lagi tidak
2. yang satu bicara secara ilmiah, yang satu lagi mengandalkan testimonial
3. yang satu mengandalkan sumber ilmiah, yang satu lagi mengandalkan brosur dagangan
4. yang satu mengandalkan dikotomi baik itu timur-barat, islam-non islam, atau mainstream-alternatif, yang satu lagi tidak
kalo saya sih sudah tahu mana yang lebih saya percayai.
Mbak Lita, mungkin nggak konek ato konek dikit ama topik yang lagi dibahas, tolong angkat topik tentang pemanasan global dong! I do care about that! Atau mungik udah pernah dibahas ya? Soale aku ngikutin blog ini baru sejak 3 bulan lalu. Oh iya, aku dah melahirkan anak kedua. Doain Breastfeeding nya sukses yaa..
Soal Global Warming, sila bertandang ke sini: Junk Science.
Bukan dalam daerah ‘kekuasaan’ saya, mbak hehe..
Maaf. Topik di bananaTALK memang sengaja dibatasi sesuai kapasitas saya yang belum seberapa :p
Selamaaattt…
Yuk. Saya juga masih menyusui, nih.
Semoga sukses ASI eksklusif 6 bulan dan terus sampai.. maunya sampai kapan?
Sampai anak menyapih sendiri?
Yang semangat, ya
Salam untuk si kecil. Peluk cium; senangnya bisa mendapat YANG TERBAIK
whoops, gak salah referensi tuh
. steve milloy itu shill-nya industri minyak & tobacco: http://www.sourcewatch.org/index.php?title=Steven_Milloy , http://en.wikipedia.org/wiki/Steven_Milloy
referensi global warming yang paling bagus ya di http://realclimate.org, one of my favorite blogs
Oh. OK, thanks.
See, I’m not ‘that’ well informed outside my preferences :p
Cak Moki
Tiada kesan tanpa kehadiranmu.
Pendek juga tak apa-apa.
Walah.
Yahya
Thanks, hunn. After some thought, it WAS not well-fitted :p
Kenji
Terimakasih sumbang ‘info dari dalam’nya
Aku ngga punya dendam apa-apa dengan T, kok.
Dengan orang-orangnya juga, sama kamu juga ngga Kenj
Mau T kek, C kek, A kek, N kek, manapun.
Bukan upaya menjatuhkan pemasaran atau menjatuhkan citra dengan black campaign.
Ini soal logika, definisi, dan klaim saja.
“Lo jual, gua beli”, kata orang Betawi mah.
Jualan ya silakan.
Asal jangan menipu dengan informasi yang menyesatkan (misleading atau ambigu).
Posting lebih panjang? Gampang.
Bikin posting tersendiri aja di blogmu, bikin trackback ke sini.
Kan serunya jadi bisa bagi-bagi
Ketty
Kekeuh memang senjata pamungkas yang efektif untuk membungkam.
Ouch.
Zenstrive
Ya, isu alami vs. kimiawi tidak semudah itu dipecahkan.
Ada masalah lingkungan (ide ‘alami’ bisa menimbulkan masalah lingkungan juga lho), politik, daya dukung alam, kekuasaan, dan uang adalah ujung yang tidak dapat disepelekan.
Priyadi
“Beberapa jam” itu terhitung dari jam 3 pagi lho, mas
Soal ciri-ciri… hmmm… kok iya juga ya? Terutama bagian dikotomi.
Paling ngga ngerti dengan ‘pengobatan Islami’.
Kalau yang dimaksud adalah ruqyah, aku ngerti.
Tapi kalau yang dimaksud adalah terapi yang ternyata sejenis dengan yang berasal dari Ayurveda, pengobatan Cina, pseudoscience dari Masaru Emoto (dia lagi deh… Maap bukan maksud sentimen sama dia sorangan. Masih ‘anget’ kesan dari Pesta Buku kemarin, ketika banyak penerbit buku-buku Islam jor-joran promosi buku The True Power of Water. walah…), mengompres luka pakai merkuri ditambah doa-doa, di sisi mana labeling ‘Islami’ ini berdasar?
Apakah harus berupa mukjizat, sesuatu yang sukar dijabarkan secara ilmiah, dan mengandung rapal dzikir tertentu baru bisa dikatakan pengobatan Islami?
Bagaimana dengan keluasan Islam dalam menyikapi akal manusia dan perkembangan zaman?
Kalau diberi argumen ilmiah (dan klaim itu akhirnya kandas), lalu dituding ‘kafir’, ‘tidak percaya mukjizat’, ‘mendewakan akal’, ‘kurang iman’, dan sebagainya.
Ngga ngerti. Apa hubungannya, coba? *geleng-geleng*
Lah kok malah curhat.
Ah dirimu kan sudah lebih dulu merasakan cerca-cerca itu, toh
wah, kesan dari ‘pesta buku’ yang mana nih? kok gak diceritain? ato kelewat baca?
Pesta Buku Jakarta yang di Istora Senayan 1-10 Juni kemarin.
Memang belum cerita, sedang berusaha ‘menghabiskan’ buku yang dibeli :p
Berusaha keras, walau tampaknya kurang keras untuk tak tergoda oleh hal lain.
Seperti bikin posting ini, misalnya.
Yang menarik, satu stan penerbit mempromosikan buku barunya, “The Untrue power of water”.
Sayang stand-nya di dalam. Kan lebih seru kalau bersebelahan dengan yang promosi bukunya Masaru Emoto
He he he…perbedaan cara pandang yang ga pernah bertemu..^^
Satu pertanyaan de buat rekan sekalian, kenapa ya semakin tua dunia ini semakin banyak pula penyakit yang bermunculan, banyak penyakit yang tidak pernah dikenal oleh buyut-buyut kita dulu, ternyata sekarang menjadi sesuatu yang heboh dan menakutkan??
Eh tanya kenapa??
5. yang satu objektif, yang satu lagi konspiratif
he he he..ikutan dagh :
6. skeptisme sinis versus edukasi empatif
… but for what this statement?!, lebih dewasa kalau kita melihat FAKTA dan FAKTA daripada ber-statement yang tendensius indualistik ini !
O ya tentang “eastern dan western medicine” itu memang ada perbedaan, walau sama-sama terkait metodologi pengobatan/penyembuhan. Di barat sendiri sudah banyak Universitas terkemuka yang membuka fak. khusus membahas bidang ini?, sekali laghi dua kebudayaan yang berbeda akan menawarkan hal yang berbeda pula…, lebih baik terima saja fakta ini kalau tidak mau tertinggal perkembangan…^^
koreksi: 6. yang satu skeptis, yang satu lagi gullible
kalo soal fakta mungkin anda yang harus ngaca. sebenernya yang dituntut para skeptis ini hanyalah fakta semata dan anda BELUM PERNAH mengemukakannya. fakta bukanlah anekdot atau testimonial. fakta harus dilandasi kajian ilmiah yang menyeluruh. sekarang mana kajian ilmiah yang melandasi klaim yang anda katakan? dan tentunya ini bukan berasal dari brosur produk yang diberikan oleh upline anda.
anda kembali terjebak dengan dikotomi eastern dan western yang anda ciptakan sendiri. anda praktis mengatakan metoda anda pasti benar karena ’sudah banyak universitas terkemuka yang membahas bidang ini’. tapi kenyataannya bagus tidaknya sebuah metoda tidak ditentukan dari ‘eastern’ atau ‘western’-nya. hanya karena sebuah metoda berasal dari ‘eastern’, bukan berarti pasti benar. kebenaran suatu metoda harus berdiri sendiri tanpa harus melihat asalnya.
Lagi-lagi terima kasih atas kesimpulan sementaranya ^^…
Soal fakta, dalam ilmu STATISTIK terkait TEORI, menurut yang anda tahu mana yang didahulukan FAKTA atau TEORI?, kenyataannya banyak teori yang kemudin mentah akibat Fakta tidak membenarkan apa yang dikatakan oleh suatu Teori, itulah apa yang saya maksud dalam tanggapan saya kemarin, bahwa kita semua ini belum berada di garis batas akhir “finish” sehingga bisa menggangap apa yang kita ketahui saat ini adalah yang terbaik, untuk mendapat yang terbaik tentu sikap “Open Mind” akan sangat membantu…
Itulah mengapa juga aneh kalau dikatakan suatu pembuktian dan kesaksian tidak menjamin suatu hal itu adalah ilmiah?? ko kalau ga ilmiah bisa terbukti?? mana sebenarnya yang harus didahulukan bukti atau alasan, padahal bukti itu banyak dialami oleh mereka yang sampai sekarang pun bisa menjadi saksi hidup, nah silahkan bagi Western Medicine untuk mengolah sebuah bukti efektifitas dari Eastern Medicine ini…
Saya tidak akan mengutip kesaksian atau semacamnya disini, karena hanya akan sia-sia saja, kalau pun memang tertarik, anda bisa mencarinya sendiri di internet, sekali lagi ya buka google.com…mudah ko’…
“tapi kenyataannya bagus tidaknya sebuah metoda tidak ditentukan dari ‘eastern’ atau ‘western’-nya. hanya karena sebuah metoda berasal dari ‘eastern’, bukan berarti pasti benar. kebenaran suatu metoda harus berdiri sendiri tanpa harus melihat asalnya”.
Setuju sekali, walau agak rancu, dan adalah bagian dari keunggulan Eastern Medicine dimana Barat sebagai asal muasal Western Medicine, di usianya yang sudah cukup tua ini mulai memasuki paradigma Eastern Medicine, plzzz take alook at these links :
[deleted]
*link ini ‘available’ selama 48 jam. dengan alasan yang sama pula saya SELALU menghapus URI anda, kalau-kalau anda tidak memperhatikan* ::Lita-Yahya
ok, open minded bukan hanya sangat membantu, IMO, tapi sebuah keharusan kalau kita memang ingin mencari solusi/kebenaran dan bukan pembenaran…
Tentang fakta, statistik, dan teori.. sepertinya anda kurang memahami ketiga-tiganya dengan baik. Sekedar referensi saya akan berikan definisi-definisi singkatnya saja agar tidak lebih jauh lagi OOTnya (jadi malah membahas fakta, statistik, dan teori ketimbang membahas masalah utamanya.)
Fakta : adalah sesuatu yang sebenarnya terjadi, kebenarannya berdiri sendiri. Jadi dia ada, kalau dia ada, meskipun kita mengenalinya lewat indera atau tidak. Sedangkan yg kita dapatkan dari penginderaan kita terhadap fakta tsb namanya persepsi atau interpretasi. Jadi, kalau orang bilang saya sehat, itu belum tentu fakta sebenarnya (misal: sebenarnya dia sakit tapi tidak merasakaannya. atau orang HIV stadium awal biasanya tidak merasakan gejala sebagai orang sakit ..CMIIW) {ref: http://www.answers.com/main/ntquery?s=fact&gwp=13 }
Teori : adalah sebuah statemen tentang fakta atau fenomena, yang telah diuji dengan suatu metodologi tertentu (yang baku sesuai dg fieldnya). Sehingga dengannya kita dapat memprediksikan sesuatu dari fenomena tsb. {ref : http://www.answers.com/main/ntquery?s=theory&gwp=13 }
Statistik : statistik bisa sangat lebar, to get in context saya akan membahas yang kira-2 berkaitan dengan ini dua hal tsb. Metoda statistik adalah salah satu alat yang digunakan untuk menguji keabsahan atau kebenaran suatu hipotesis. Contoh simple : fisikawan akan melakukan pengukuran berulang, dikarenakan banyak sekali variable yang mungkin mempengaruhi suatu pengukuran (tekanan, suhu, human factor, etc), dan dari sekian pengukuran tsb digunakan metoda statistik untuk mendapatkan hasil pengukuran yang kira-2 dekat dengan ukuran sebenarnya (kita tidak akan pernah tahu ukuran yang sebenarnya…)
Baik, mungkin menurut anda saya terlalu belibet.. let me say it in simple phrases, in context. Mungkin bagi anda ketika ada satu saja testimoni tentang produk anda anda akan anggap itu sebagai suatu Fakta. Mungkin benar itu suatu fakta, dan mungkin tidak (faktor sugesti mungkin?). Namun yang fatal menurut saya adalah generalisasi dari testimoni tsb.. misal begini.. ada si A yang minum susu.. dan setelah minum susu tsb dia merasa sangat segar dan kuat.. well mungkin memang si A pada kondisi yg sedang butuh susu mungkin? atau memang susu mempunyai efek berbeda thd tubuh si A. Tapi belum tentu setiap orang yang minum susu akan menjadi seperti si A, faktanya ADA orang yang ALERGI terhadap susu, atau lebih tepatnya sensitif terhadap lactose yg ada di susu.. yang bisa berakibat fatal kalau dia minum susu. Artinya fakta efek susu pada si A ini mempunyai batasan-2 khusus dan tidak berlaku pada orang yang alergi tsb. Disinilah dibutuhkan metoda statistik. Kalau hipotesanya adalah bahan X itu menyehatkan, perlu di cek berapa orang yang sehat jika minum itu dan berapa yang malah jadi sakit, atau biasa-2 aja setelah mengkonsumsi si X ini. Lebih jauh lagi, di eliminasi variable-2 lain yg mempengaruhi penilaian terhadap efek si X ini, dengan menggunakan placebo. Sehingga sebisa mungkin dikonfirmasikan bahwa yang mempengaruhi adalah si X dan bukan yang lain.
Rumit? tentu saja. Ribuan tahun sejarah medis tidak dibangun dalam semalam, tidak 10 menit typing keywords di google, tidak juga 1 masa hidup manusia. Butuh pengkajian yang mendalam dan iteratif untuk mendapatkan apa yang kita punya sekarang. Itu adalah kerja komulatif sekian banyak orang berkesinambungan, yang membaktikan hidupnya untuk kemajuan seluruh umat manusia.
Menanggapi:
“Itulah mengapa juga aneh kalau dikatakan suatu pembuktian dan kesaksian tidak menjamin suatu hal itu adalah ilmiah?? ko kalau ga ilmiah bisa terbukti?? mana sebenarnya yang harus didahulukan bukti atau alasan, padahal bukti itu banyak dialami oleh mereka yang sampai sekarang pun bisa menjadi saksi hidup, nah silahkan bagi Western Medicine untuk mengolah sebuah bukti efektifitas dari Eastern Medicine ini…”
Soal statistik dan pembuktian ilmiah yang seharusnya sudah terjawab dalam link http://www.medicalnewstoday.com/medicalnews.php?newsid=71151
Mengutip link tersebut:
“When Moleac identified Neuroaid, clinical data had already been generated on the medication - a sizeable double-blind randomized clinical trial on over 600 patients had been conducted in China. The trial produced a 2.11 odd ratio in complete responders on a functional scale and very favorable outcomes on individual neurological deficit scores. The fact that the research had been conducted on patients several months after their stroke onset suggested Neuroaid helps stroke rehabilitation by improving the brain’s neuroplasticity. No such drug exists in Western Pharmacopoeia. ”
Ilmiah –> bukan berdasarkan testimonial dari 1 atau 1000 orang sekalipun, tapi harus berdasarkan uji klinis (randomised clinical trial) terhadap sejumlah pasien dengan metode dan pengolahan data yang dapat dipertanggungjawabkan secara medis dan moral, dan harus dipastikan aman bagi pasien. Ini gak bisa hanya berdasarkan kesaksian, tapi memang harus melalui serangkaian pembuktian atau uji klinis. Testimonial bukanlah uji klinis. Open mind boleh aja, tapi kalau harus menampilkan fakta ilmiah, jawabannya harus uji klinis dulu, dan hasilnya harus dipublikasikan di jurnal-jurnal ilmiah.
“The first step for this was to ensure the quality and stability of the product for safe consumption in a Western context. While the existing base of usage in China over several hundred thousands patients indicated the safety of NeuroAid, it was important to also ensure safety of consumption for patients receiving Western medical care. “
kesehatan manusia dipengaruhi oleh beberapa faktor, internal ataupun eksternal dan contoh2nya seperti ini
1. Cuaca aka. kualitas udara
2. Pola makan + kualitas air
3. Aktifitas dan Olahraga
4. Psikologis, stress!
5. genetika & faktor turunan
dst
jadi boleh dikata nenek moyang kita dan kita sendiri memiliki tantangan yang berbeda. tolong jangan diartikan bahwa kita sakit karena kedokteran modern ya. Manusia “dituntut” untuk selalu berevolusi, di segala bidang. tidak akan pernah terjadi UTOPIA di dunia kesehatan, dimana manusia akan terus sehat. tapi secara individu kita bisa berusaha mewujudkan UTOPIA kesehatan itu di keluarga kita sendiri.
baik kedokteran barat maupun kedokteran timur memang punya kelebihan tersendiri kok. tapi itu berarti masing-masing punya kekurangan tersendiri juga. dan itu sebenarnya tantangan dunia medis juga untuk terus menyempurnakan keduanya…
Uhhm…pertanyaan saya, apa yang dimaksud dengan “dst” dalam statement anda diatas??…
Masih mau menutupi fakta, banyak ko’ jurnal-jurnal kesehatan yang membicarakan masalah ini, anda pasti kenal istilah “toksin”? ya’ toksin yang menumpuk di dalam tubuh anda itu loch..
Kita hidup saat ini tidak lepas dari racun, dari udara yang kita hisap, makan dan minuman yang kita minum dsbnya…, anda pasti tahu prihal kecanduan dalam dunia medis ? dan tentang antibiotik yang saat ini - walau agak terlambat- mulai dikhawatirkan penggunaannya terlebih terhadap anak-anak? sekali lagi mengapa? yaaaa…saya rasa saya tidak perlu menuntun anda untuk permasalahan sederhana yang faktanya bisa dengan mudah anda temukan ini, khususnya di internet. Tinggal buka google.com saja ko’ ^^
Ya. Toksin yang dikeluarkan lewat keringat, kencing, dan feses.
Lalu kenapa? Anda mau menawarkan terapi detoks sekarang?
Atau anda ingin mengatakan bahwa penyakit akibat infeksi oleh virus pada dasarnya hanyalah karena toksin yang menumpuk dalam tubuh?
Polio, cacar api, campak, tuberkulosis, pertusis, hepatitis B yang diderita bayi berumur beberapa bulan karena penumpukan toksin?
Anda akan menerapi penyakit tersebut dengan suplemen detoks?
Generalisasi? Anda sendiri membuat generalisasi dengan mengajukan pertanyaan “kenapa semakin banyak penyakit yang bermunculan”.
Apakah anda belum pernah dengar bahwa kini beberapa penyakit punah dari muka bumi?
Yang populer adalah cacar api.
Tadinya polio juga sempat dinyatakan punah.
Lalu karena kecerobohan beberapa orang yang anti-vaksin kini polio muncul mewabah dan menular ke negara lain yang tadinya telah dinyatakan bebas polio.
Anda tahu kecanduan jamu dan suplemen? Anda tahu kecanduan morfin, heroin dan sebangsanya?
Ini tidak ada hubungan langsungnya dengan medis.
Ini tentang KELAKUAN.
Itu jika anda berkonsentrasi pada kecanduan-nya, bukan apa yang dicandu.
Atau maksud anda toksin bikin kecanduan? Dan jika tidak kecanduan maka bukan toksin?
Lucu ya, saya tidak pernah tahu ada yang kecanduan racun arsenik, botulin, H2S, dll.
Antibiotik yang dikhawatirkan penggunaannya BUKAN saat ini saja, mas.
ANDA yang tidak mengikuti perkembangannya sejak awal.
Tentang penggunaannya terhadap anak-anak, itu hubungannya dengan kelakuan petugas medis yang kurang mengerti konsep RUD (rational use of drug) serta DOSIS serta INDIKASI (yang didasarkan pada diagnosa yang tepat).
Bukan antibiotiknya sendiri yang jadi masalah utama.
Oh ya saya lupa. Anda tidak menguasai bidang ‘western medicine’.
Baiklah, saya pakai bahasa anda.
Anda lupa bahwa beberapa herbal populer dengan sifat antibiotikanya?
Pengobatan kuno memakai jamur (mold) dan beberapa jenis tanaman untuk mengobati penyakit infeksi.
Tidak guna memakai sentimen anti-antibiotik.
Atau anda ingin membantah FAKTA bahwa pada kemunculan kembali antibiotik (oleh Alexander Fleming), ia menyelamatkan banyak nyawa akibat teratasinya penyakit infeksi yang mewabah?
Ibu-ibu melahirkan, korban perang, penderita tetanus, dan lain-lain.
Golongan naturalis tahu benar antibiotik juga ada di tanaman.
Oh ya, antibiotik pertama diperoleh dari kapang. Mahluk hidup juga. Anda tahu kan?
“Saya rasa saya tidak perlu menuntun anda untuk permasalahan sederhana” ini.
Saya mengulangi Yahya: REFERENSI. Jurnal kesehatan mana yang anda maksud?
Anda bolak-balik mengatakan FAKTA, internet, Google, perkembangan, saat ini, dll.
Saya jadi ingin tahu rujukan yang anda pakai untuk berargumentasi di sini.
Anda tidak mengatakan sesuatu yang baru saya dengar/lihat di internet.
Jadi saya ingin berlepas dari ‘kita’ dalam “metodologi pengobatan alternatif, yang selama ini kurang kita pahami”.
Google ‘mengajari’ saya cukup banyak untuk mengenali model pertanyaan yang anda ajukan dan ke mana ujungnya.
Cari di internet.
Pakai Google, Yahoo, MSN, AltaVista, apapun.
Right back at you.
Yaa sudah kalau memang anda lebih suka dituntun, saya beri link-nya saja ya’…kalau saya kutip terlalu banyak…
Terkait bahan “kimia” ( o ya selama ini kita ternyata salah paham tentang definisi “kimia” sehingga - kita tidak “nyambung”, tolong diingat bahan kimia yang kita maksud disini adalah buatan dalam arti artifisial, sintetis dsbnya, jadi tidak usah bicara soal air ..^^)
- berikut link terkait bahaya zat “kimia”:
http://www.kimianet.lipi.go.id/database.cgi?depandatabase&&&&1098595676
http://www.chem-is-try.org/?sect=fokus&ext=26
http://www.pom.go.id/public/peringatan_publik/default.asp
http://www.sinarharapan.co.id/iptek/kesehatan/2005/0715/kes2.html
Sila perhatikan, apakah zat2 adiktif semacam yang dibahas pada url diatas cukup mudah untuk keluar dari tubuh begitu sudah tidak diperlukan ??
- Terkait antibiotik :
http://www.okezone.com/index.php?option=com_content&task=view&id=25121&Itemid=69
http://dranak.blogspot.com/2006/04/bahaya-antibiotik.html
http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2005/0605/12/hikmah/lain04.htm
http://www.kapanlagi.com/a/0000004199.html
http://www.hmetro.com.my/Current_News/HM/Sunday/Kesihatan/20061015132931/Article/pp_index_html
dstnya2….FYI saya hanya perlu wakna kurang lebih 10 menit untuk ini ^^…
O ya..bicara soal kecanduan, ada yang punya pengalaman kecanduan herbal/Nutrisi disini??
Rupanya saking panjangnya tulisan saya, anda sampai kehilangan fokus.
Dan…
Karena itu saya memilih berpegang pada istilah dasar.
Link dari POM.
Anda baca tidak ya isinya? Ada kata apa di belakang ‘bahan kimia’? Obat.
Betul, jadi fokusnya ada pada obat. Bukan ‘bahan kimia’.
Kenapa jadi masalah?
Karena obat muncul di hasil analisa JAMU, yang seharusnya tidak mengandung obat.
Karena kosmetik mengandung bahan kimia YANG DILARANG, masalah bukan pada bahan kimia itu sendiri.
Sama sekali tidak ada yang berdiri sendiri di isi link yang anda tunjuk.
Kenapa? Karena orang POM -sudah seharusnya- memiliki pengertian yang BENAR tentang istilah ‘kimia’ dan ‘bahan kimia’.
Kenapa dengan link KimiaNet?
Hampir semua zat yang difabrikasi punya panduan penggunaan kok.
Gula saja punya MSDS. Tidak ada yang istimewa terkait ‘bahan kimia’ (menurut pengertian anda) dengan bahaya. Minum air berlebihan saja bisa menyebabkan kematian.
Dari Chemistry.org.
Ada sedikit yang kurang di sana: pengguna menengah dan kecil UMUMNYA tidak memiliki penguasaan sains/rekayasa kimia yang cukup untuk tahu BAGAIMANA menggunakannya dengan tepat dan aman serta tidak mengontaminasi bahan yang dilindungi (produk yang didinginkan, misalnya).
Kalau tidak salah ingat, inhibitor korosi MEMANG seharusnya samasekali tidak berkontak dengan bahan yang diproses (dalam heat exchange system, misalnya).
Kalau sampai ada kontak, berarti bocor.
Selain bahan yang diwaspadai tingkat keberbahayaannya, yang SAMA pentingnya adalah maintenance dan kendali terhadap operasi yang berlangsung, juga BAHAN material yang dipilih sebagai wadah atau penyalur (pipa, kerangan/valve, dan lain-lain).
Karena industri menengah ke bawah UMUMNYA tidak mempunyai penguasaan ilmu korosi, kimia, dan material selevel ini (atau tidak kuat membayar ahlinya), maka memang lebih baik menggunakan bahan yang kadar keberbahayaannya lebih rendah.
Saya tahu ini di luar kompetensi anda. Jadi saya cukupkan tentang ini.
Ini satu buat anda tentang organik, dari sumber itu juga:
Organik (kembali ke pengertian dasar, tentunya), tidak selalu aman bukan?
Ada apa dengan artikel Sinar Harapan?
Anda baca keseluruhan isinya? Itu membahas Nonylphenol, bukan SEMUA bahan kimia seperti generalisasi anda.
dranak @ blogspot
Lagi-lagi fokus yang meleset. Anda baca tidak sih artikel yang dimuat blogger sahabat saya
ini? Kata kuncinya adalah “antibiotika, irasional, berlebihan”.
Itu jika anda bisa menangkapnya dari hasil membaca SELURUH artikel.
Sungguh, melelahkan sekali membahas ini dengan yang TIDAK MAU menggunakan definisi dasar, semata agar pondasi diskusi sama.
Saya sudahi menanggap link yang anda beri.
Apa hubungannya antara waktu dengan keterandalan informasi?
Oh ya, ada, kalau anda masukkan kata kunci yang tepat.
Kalau saya ketikkan organic, yang muncul di halaman pertama (dan banyak halaman lainnya) adalah situs jualan.
Informasi? Cari dari sumber yang netral, bukan promosi.
Kalau hanya mengandalkan Googling dalam waktu singkat, bananaTALK tidak akan seperti ini.
Mana referensi ‘barat’ tentang fakultas yang diminta?
::edited
Maaf kelewat.
Inhibitor korosi, Material Safety Data Sheet (MSDS) -yang mutlak diperlukan untuk SETIAP perancangan proses, APAPUN produk yang dibuat, obat yang dicampurkan ke dalam bahan jamu secara ilegal, dan nonylphenol -senyawa ORGANIK bahan pembersih rumahtangga.
Tidak SATUPUN dari URL yang anda maksud itu membahas zat ADIKTIF (link).
Salah ketik? ADITIF (bahan tambahan, hadir dalam jumlah kecil untuk memperbaiki sifat atau mengawetkan) pun bukan.
Terima kasih atas tanggapannya yang l