Ear candling, dikenal juga dengan terapi lilin. Lilin yang digunakan adalah lilin berbentuk tabung berdiameter kecil, yang telah direndam dalam beeswax atau parafin dan dibiarkan hingga mengeras. Sesuai namanya, terapi ini dilakukan dengan menyalakan lilin khusus yang diletakkan di liang telinga. Tentu saja 'pasien' harus berbaring miring ke satu sisi, sementara 'terapis' menyalakan lilin dan membiarkannya terbakar selama beberapa menit.
Prosedur ear candling
Lilin dinyalakan. Lilin yang terbakar akan 'dijaga', dengan menggunakan semacam tusuk gigi untuk mempertahankan agar lubang di puncak lilin selalu terbuka selama proses berlangsung. Setelah lilin dimatikan dan disingkirkan, sebungkah kapas padat digunakan untuk membersihkan kotoran telinga yang nampak, dan seringkali diperoleh 'minyak telinga' (ear oil).
Beberapa praktisi meletakkan lilin yang masih panas itu di dalam semangkuk air, dan mengklaim bahwa semua yang ada di dalamnya -yang bukan beeswax- adalah kotoran telinga, kulit mati, residu obat, atau 'peninggalan' infeksi ragi di waktu lalu (yang kesemuanya belum ada buktinya).
Prosedur terapi ini mestinya menciptakan kehampaan ringan (hampa dalam artian tekanan udara di bawah tekanan udara atmosferik/ruang), yang dapat menarik kotoran telinga (earwax, cerumen) keluar dari liangnya.
Apa yang diklaim?
Sesuai yang saya lihat di televisi, terapi ini mengklaim mampu melakukan sesuatu pada sinus, membersihkan kotoran, melegakan, dan mengurangi sakitnya. Katanya pula, penderita sinusitis rongga hidungnya basah (??), dan terapi ini dapat membuka salurannya.
Terus terang saya kurang mengerti. Ya kata-katanya, ya klaimnya. Mungkin ini karena reporternya (yang menjalani terapi) yang bercerita, bukan terapisnya.
Beberapa pendukungnya mengklaim bahwa pengotor (impurities) dapat disingkirkan dari telinga bagian dalam, sinus fasial (rongga sinus di daerah wajah), atau bahkan otak (hah?!), yang kesemuanya entah bagaimana terhubung ke liang telinga.
He? Ada kanal dari otak saya ke telinga? Astaga. Mungkin saya jangan terlalu keras belajar, menjadi pintar, dan berotak encer. Nanti malah meleleh ke luar dan saya rugi. Ups. Hiperbolik.
Dia mengatakan bahwa candling akan menyingkirkan ragi dan membersihkan sinus. Dia juga bilang, khususnya jika kita hidup di lingkungan perkotaan, candling akan membantu mengeluarkan banyak kotoran dan polutan yang dapat terakumulasi di dalam telinga. [Testimony of an injured victim]
Hampir semua paket pengarahan mengindikasikan bahwa telinga akan terasa hangat (tidak panas) dan pengalaman ini akan menenangkan, bahkan bagi jiwa.
Uji skeptis
Berikut adalah kutipan dari artikel tentang ear candling di Quackwatch:
Suatu pameran menggelar ear candling seharga $30. Orang-orang yang 'menjual' ini berkata bahwa pengisapan oleh lilin dapat 'menjernihkan pikiran dan sinus'. Saya bertanya-tanya untuk memastikan bahwa mereka benar-benar memaksudkan penjernihan tersebut secara literal, bahwa telinga adalah sebuah bukaan dari otak dan sinus. Seorang perempuan yang menjadi pelaksana menyatakan, "(Terapi ini) membersihkan seluruh kepala, otak, dan semuanya - mereka semua terhubung, kau tahu".
Candling dilakukan di meja depan kios, sehingga wajah-ingin-tahu orang yang menjalani 'terapi', yang telinganya ditancap lilin menyala, menarik perhatian banyak pengunjung. Selama proses berlangsung, campuran keabuan dari gumpalan dan lelehan wax dikumpulkan dalam sebuah piringan yang diletakkan di bawah lilin.
Campuran tersebut tidak tampak seperti lelehan lilin, namun tampilannya tampak meragukan. Pelanggan diberitahu bahwa campuran itu adalah pengotor yang telah disingkirkan. Dan banyak di antara mereka yang memamerkannya dengan bangga, membandingkan antara miliknya dan milik orang lain, serta memberikan komentar yang meyakinkan.
Untuk menguji ini, Rebecca Long, presiden Georgia Council Against Health Fraud, mencobanya di rumah usai menonton pertunjukan tersebut. Dengan bantuan seorang teman, arahan dari kemasan diikuti dengan cermat.
Ia temukan bahwa candling menghasilkan suara berdesis, yang mirip dengan suara kelomang yang didekatkan ke telinga, namun jauh lebih keras. Namun udara di dalam telinganya menjadi terlalu panas sehingga ia harus menghentikan percobaan.
Selanjutnya, dilakukanlah sebuah percobaan sederhana lainnya: membandingkan hasil kerja ear candling dengan dan tanpa telinga. Dua penyelidik menguji lilin untuk melihat apakah wax yang terkumpul setelah pembakaran seluruhnya berasal dari lilin atau juga mengandung wax yang keluar dari telinga.
Untuk melakukan ini, mereka membakar lilin dan menempatkan ujungnya: (a) di dalam liang telinga, (b) di luar liang telinga, sedemikian rupa sehingga wax yang menetes akan tertampung dalam semangkuk air, dan (c) di dalam liang telinga namun dengan tube penghalang, sedemikian sehingga memungkinkan kotoran telinga bergerak ke dalam tube namun menghalangi wax lilin bergerak turun (ke dalam liang telinga).
Uji ini memberi hasil bahwa semua residu yang terbentuk berasal dari lilin dan tidak ada kotoran telinga yang dikeluarkan.
Ear candling's not working, my dear!
Karena wax bersifat lengket, tekanan negatif (vakum) yang diperlukan untuk menariknya ke luar rongga telinga haruslah sedemikian kuat sehingga dapat merusak gendang telinga pada prosesnya. Bagaimanapun, ternyata prosedur candling bahkan tidak menghasilkan kondisi vakum.
Peneliti yang mengukur tekanan menemukan bahwa tidak tercipta tekanan negatif selama proses candling terhadap relawan. Penyelidik yang sama telah melakukan candling selama 8 tahun dan menemukan bahwa tidak ada kotoran telinga yang dikeluarkan, dan wax lilin justru menumpuk di dalam telinga(!).
Pernyataan bahwa liang telinga terhubung ke struktur di dalam gendang telinga adalah palsu. Liang luar telinga, beserta gendang telinga di dalamnya, tidak terhubung ke otak, sinus (yang menjadi target 'terapi'), ataupun saluran Eustachia (kanal antara telinga tengah dan bagian belakang kerongkongan).
Ada klaim yang menyebutkan bahwa gendang telinga berpori dan dapat melewatkan pengotor dengan cepat. Ini tidak benar. Pengotor yang terdapat di wax yang terkumpul tak lebih dari abu/sisa dari pembakaran lilin dan kerucut penyangganya.
Bahaya ear candling
Candling berisiko terhadap beberapa bahaya, dan yang paling serius adalah terbakar oleh lilin panas. Pembuat lilin mengklaim bahwa lilin mereka hanya akan menetes di bagian luar telinga. Dan anda bisa berkomentar bahwa itu merupakan kecerobohan praktisinya.
Tentu saja ada cara untuk menghindari masuknya tetesan lilin cair ke dalam telinga: posisikan lilin dalam keadaan mendatar. Tapi saran dari produsen ini terdengar konyol. Bagaimana bisa tercipta suasana vakum? Lilin yang mendatar tidak dapat menutup rapat liang telinga pasien yang sedang berbaring miring ke satu sisi.
Sebuah pendataan pada tahun 1996 terhadap 144 dokter THT menemukan bahwa 14 di antaranya didatangi oleh pasien yang terluka oleh 'terapi' lilin ini. Termasuk -setidaknya- 13 kasus luka bakar luar, 7 kasus liang telinga yang tersumbat lelehan lilin, dan 1 kasus gendang telinga yang rusak (bolong, perforated).
Dilaporkan oleh The London Free Press, harian Kanada. Seorang perempuan yang mengalami penyumbatan di hidung dan sakit telinga saat melakukan scuba diving pergi ke sebuah toko 'makanan kesehatan' dan dirujuk ke seorang praktisi candling yang 'diakui'.
Selama 'perawatan', ia merasakan sensasi terbakar yang kuat di telinganya. Di ruang rawat gawat darurat, usaha untuk menyingkirkan tetesan wax yang menempel di gendang telinganya mengalami kegagalan. Operasi dilakukan, dan ditemukan sebuah lubang di gendang telinganya, yang kemungkinan besar terjadi akibat candling.
Untungnya, perempuan tersebut pulih secara penuh dan pendengarannya normal kembali. Praktisi ear candling tersebut meminta maaf, memberikan kompensasi, dan berhenti melakukan praktik ear candling.
Sebagai penutup, inilah penjelasan dari Sandra Yemm, seorang praktisi ear candling, ketika ditanyakan tentang kasus rusaknya gendang telinga yang saya sebutkan tadi:
Ear candling doesn't remove the wax from one's ears. But she says that's not the point: "It doesn't matter whether it's being removed or not because you're going to get some harmony through the changing of the energies and perhaps that's all that's needed."
Very funny. Where do you perform the on-stage joke, ma'am?
Update [16 April 207, 10.30]: Pendapat dan pengalaman dari seorang 'pengguna' layanan ini dapat dilihat di sini, sebagai komentar atas posting ini yang dimuat di Wikimu dengan sedikit perubahan (judul diubah menjadi Dusta terapi ear candling). Sila ikut berkomentar di sana jika ingin.
Sumber:
- Ear candling on skeptic's dictionary. Pertanyakan sebelum percaya.
- Why ear candling is not a good idea. Ya, mengapa? Dua jawabannya diberikan oleh 'pasien' yang pernah melakukannya. Cukup untuk membuat anda berpikir dua kali sebelum mencoba.
- The lowdown on ear candling, halaman 1 dan 2. Tidak hanya tak-efektif, tapi juga dapat melukai.
- Ear candling. Sebuah percobaan yang menyertakan gambar-gambar dokumentasi.
- Beware of the ear candle! dan a cautionary tale.
- The ear wax FAQ. Ear candling exposed. Keduanya disusun oleh dr. Hoffman di bawah titel Medical Consumer's Advocate. Just because it's 'alternative', it isn't necessarily good!
- Ear candling: Conflicting informations, confused consumers. Dari Healthy Hearing.
- Keeping ears clean. Bagaimana cara terbaik membersihkan telinga. Wajib baca.



Bagi penjual, tawaran model beginian memang “harus” bombastis agar nampak meyakinkan. Konyol atau tidak, bukan soal, yang penting ada kata: otak, sinus, telinga, kotoran dan nyaman (kata penjual dan makelarnya). Menjadi persoalan ketika berhadapan dengan kenyataan destruksi, seperti kasus perforasi kendang telinga di atas dan sejenisnya.
Mirip dengan booming “terapi ion” beberapa waktu yang lalu.
Mengapa sebagian orang mudah percaya ya
Lit, lu kok bisa sih nulis kayak gini? Bisa banget lu (alias, niat banget
).
anyway, lu kok ga dateng ke nikahannya Jaffer ?
Oh, niat jelas perlu, kawan. Kalo gak niat, gak bakalan selese hehehe…
Terinspirasi tayangan pagi di T*ans 7. Bareng terapi lain yang ngga kalah dodolnya.
Blogging emang ‘kerjaanku’. Bisa ngga bisa, harus bisa. Paksakeun, ceuk urang Sunda mah :p
He? Jaffer? Doh, kayanya lupa, Di. Lagian, ntar dia bingung, kan kami gak saling ‘kenal’ (maksute ngomong langsung aja blon pernah, gitu lho), cuma tau doang. Rame, ya?
ini gara-gara liputan pengobatan alternatif pas wiken kmaren kah? aku perna liat langsung. bengong saking ngerinya. cotton bud emang ga cukup ya?
iya ya Cak,
kenapa sebagian orang SANGAT mudah percaya
gak pernah mempertanyakan apapun yang disodorkan ke mereka
padahal logika semua orang punya.
Okelah,kalo terapi ion dan ear candling mkn butuh probing sedikit sebelum dapet kepastian that they’re all hoax. tapi masa tahun 2007 gini masih ada aja yg ketipu sama dukun yg bisa menggandakan uang… duh, bangsaku!
(ada di berita tv siang kmrn)
ps: pengen kenalan ma cakmoki…
pjg Bgt
Jd agak males klo pagi2 bc ini
*nunggu waktu makan siang*
Walaupun tidak berhubungan secara langsung, mungkin perlu dibahas juga mengenai kiat-kiat membersihkan telinga bagi yang masih normal (tidak sedang terkena penyakit). Setahu saya, salah satu fungsi cairan telinga itu adalah menjauhkan serangga yang tertarik ingin masuk ke liang telinga, sehingga tidak disarankan untuk membersihkan telinga sebelum tidur (takut serangganya dapat masuk dengan mudah). Kemudian, mengenai siklus membersihkan bagian dalam telinga menggunakan cotton bud, baiknya setiap berapa hari ya? Atau apakah setiap hari?
Kalo ga salah, kata dr. THT ku, upacara membersihkan telinga itu justru ga baek, karna Allah itu dah membuat mekanisme tersendiri yang subhanallah hebatnya buat mengeluarkan kotoran telinga, dengan gerakan mengunyah aja, membuat kotoran telinga itu keluar sendiri, jadi justru tindakan terlalu bersih ‘dengan cutton bud’ itu yang membuat telinga lebih mudah berjamur, buktinya..makin sering dibersihkan dgn ‘alat pembersih’ itu..makin sering terasa gatal tu telinga, dan juga tindakan menusuk, memutar, menarik disekeliling telinga bag. dalam, malah bisa membuat kotoran itu semakin menjorok kedalam, serta bisa membuat ‘akik’ tu kotoran, yang pada akhirnya cuman dr. THT yang ketiban rejeki lagi..(sst..bukan pengalaman pribadi lo..)
aku juga nonton tu acaranya, hehhehe..geli ndiri, palagi setelah baca tulisan ba..huahaahhahahahahha..ga nahan deh yg terakhirnya…bisa aja..
Wadooh bener cak Moki bombastis banget.., hehehe klo banyak belajar otaknya meleleh lewat sinus frontalis ya.., yg banyak keluhan biasanya sinus maxilaris terapinya ga melalui telinga, tapi melalui hidung atau mulut, tergantung asal infeksi-nya. hmmm ada2 saja ya… caranya orang cari uang
Cak Moki
Cak, mbak Dewi mau kenalan, tuh. Cieee cak dokter
Ironinya, semakin ‘terlalu bagus’, semakin meragukan.
.
Saay suka slogan ‘kaum skeptik’: if it sounds too good to be true, then it is.
Percaya karena ada yang ngaku sembuh/lebih sehat dong, cak.
Kekuatan promosi dari mulut ke mulut kan besar sekali, toh? :p
Apalagi kalau sudah tersugesti duluan. Definisi plasebo aja bisa ditolak
nYam
Iya, betul. Nonton juga, ya? Kebetulan banget, aku jarang nonton program itu.
Mungkin karena cotton bud gak bisa nyembuhin migren, kali *ngasal*
Dewi
Kalau ditanya ‘mengapa’, mungkin jawabannya ‘karena ingin’. Dilatarbelakangi sikap skeptis terhadap ilmu kedokteran ‘biasa’, yang malah tidak bersikap skeptis pada pengobatan lainnya. Kurang adil, ya
Lho kalau pembuktiannya kedengaran ‘ilmiah’ sekali, bagaimana mbak? ‘Orang pintar’ juga bisa jatuh ke dalam quack seperti ini.
It does sounds convincing. The problem is; does the proof also as sound? As sound as the claim?
Soal dukun-dukunan mah… nyerah, deh. No komen.
Luthfi
Kaya gak kenal aku aja. Ini kan bacaan ringan :p
Mana komentarnya? Udah siang ginih.
Arif Rahmat
Kiatnya sudah diceritakan di ‘Keeping ears clean’, ya
Kapan? Kalau terlihat kotor saja. Tidak perlu setiap hari.
Tuti
Membersihkan bagian luar tidak apa-apa, kok.
Di ‘mulut’nya, yang mudah terlihat jika ada kotoran di sana, misalnya.
Tapi tidak perlu sampai masuk ke liang.
Kotoran dapat terdorong ke luar dengan sendirinya, seperti yang mbak ceritakan
Ah, judulnya ngeles mah apa aja, deh
Gak bisa mengobati, tapi kan bisa bikin tenang huehehe…
Evy
He, kalau keluar lewat lubang hidung, bagaimana membedakan antara lelehan otak dan ingus? *eugh*
Iya bun, dulu ketika sedang dapat ‘jatah’ sinusitis, pakai nose drop. Ditetes lewat hidung, lalu kepala ditengadahkan. Obatnya pahit. Weks :p
ayahku smp sekarang telinganya sering berdenging. dulu akibat naik pesawat, lalu something wrong dgn tekanan udara apaaa gitu. diperiksa ke THT bbrp kali, ternyata di telinganya emg ada yg menyumbat
Bagi dong, gimana ngatasinya telingaku berdenging nih, kalu pakai obat, obatnya apaan
thanks atas bantuannya
Bagi dong resepnya, gimana ngatasinya telingaku berdenging nih, kalu pakai obat, obatnya apaan
thanks atas bantuannya
“Dewi pengen kenalan ma cakmoki” hihi…
it seemed like a natural thing to say since, i thought, it was still so early in the morning and my comment would be the second one after his. Gak taunya bayiku nangis melulu dan ngetik comment-nya jadi tersendat2. By the time i submitted the comment, there were already four comments between us. Jadi malu…
Cakmoki fans beratnya Lita ya? Hayo ngaku…
PS: Lit, gak pake “mbak” lagi ya. Enakan “Lita” aja. Umurku dikiiiit lagi 30. I gotta feeling that you’re younger than I am.
Ahahah… Aku MEMANG lebih muda daripada mbak, kok. Masa sih baru nyadar?
Aku baru 26 tahun bulan Maret ini, mbak *wink-wink*
26? anak udah dua? walah.. kalah “setart” gw.
Ngebut aah…. (gak ding…yang kemaren brojol aja belon keurus hehe..)
26? anak udah dua? walah.. kalah “setart” gw.
Ngebut aah…. (gak ding…yang kemaren brojol aja belon keurus hehe..)
Eh, Met ultah ya. Aku akhir bulan april lho. Mo dirayain bareng? Katanya mo nge-date ama aku? *wink”
gak nonton liputan trans7 nya…
jadi gak kebayang itu kuping diapain sama lilin…
Udah salaman koq, telapak tangan aja masih wangi *gaya tukul*
@ Dewi,
iya iya ngaku, fans berat dan fans setia Bu Lita
Udah salaman koq, telapak tangan aja masih wangi *gaya tukul*
@ Dewi,
iya iya ngaku, saya fans berat dan fans setia Bu Lita
Waduh cak, berat. Jangan diganduli, tho. Saya ini kurus je…
*ngumpet, takut ditimpuk bakiak bu Moki hihihi…*
maaf, maaf, dobel saking semangatnya
mbak, apa yang anda lihat di trans tv? saya kebetulan reporter trans tv penasaran aja itu liputan ear candling ditayang dimana..thanks yahh
mbak lita yang ear candling itu tayangan di trans tv yah..?Saya hanum reporter trans tv
Trans-7, mbak Hanum. Akhir pekan sebelum tanggal publikasi artikel ini.
Masih satu payung ya
Tayangan waktu itu juga mengangkat ‘terapi’ colon hydrotherapy, yang termasuk ‘health fraud’ di US dan Kanada.
Karena itu saya terkejut sekali ketika dua ‘terapi’ ini dibahas di acara pagi akhir pekan, yang kemungkinan besar ditonton banyak keluarga.
Semoga tidak banyak yang tertarik untuk mencoba.
Tidak bermanfaat, jika tidak boleh dikatakan merugikan atau bahkan berbahaya bagi kesehatan.
Semoga Trans Corp. (dan stasiun televisi lainnya juga) punya tim investigasi khusus mengenai metode terapi kesehatan sebelum menayangkan di programnya ya
Tak kalah bahayanya, ada terapi dengan air raksa. Bahan beracun dan berbahaya ini dikabarkan dibubuhkan langsung pada jenis luka tertentu setelah sebelumnya diberi ‘doa’.
Saya prihatin sekali.
hai mbak lita salam kenal ya…thanks banget artikel ini, dulu siy pernah sekali ikut ear candling/waxing ini, mau creambatch diajakin temen ke salon, terus ada paket ini…besoknya gue cerita ama bos gue, ihihihi, gue dicela “loe tau bankir geblek banget siy, kalo mau bersihin telinga ke THT, kan 80%nya dibayar kantor, aman lagi* hehehehh
*aduh maap, ngakak dulu mbak wakwakwakwak (ketawa donal bebek)*
Jadi kalau mau terapi apa-apa gitu, nanya dulu di-cover apa ngga yak, ama kantor
Untung gak kenapa-napa ya, mbak.
Sharing dong, gimana rasanya waktu di-wax ini?
Beneran terasa “harmoni jiwa”, ya?
Katanya kedengeran suara seperti berbisik, semacam suara gelombang statik (atau apalah itu namanya, yang di radio, di frekuensi ‘kosong’ gak kepake), seperti suara ‘laut’ kalau kita masang kuping di bukaan sea shell?
*denger-denger doang nih*
hahahah, tadinya siy gitu mbak lita…kemakan rayuan di ‘crembathee’, katnaya bisa ilangin penyakit, sinus, jerawat, dan membersihkan telinga itu sendiri…yanh nyoba lah gue…
ada stick kaya’ sedotan 30 cm, di taro tegak lurus ditelinga…sebelumnya telinga dibersihin pake’ “serum”, udah kitanya berbaring miring, ngga berasa apa2x siy…tapi tuh emang gue dasarnya males nyalon, BT aja 15 menitan nunggu tuh “stik” memendek karena terbakar…hihihihi
saya adalah salah satu penderita semi tuli.tadinya saya pengen coba trapi lilin untuk menyembuhkan telinga saya,karena saya udah nyoba berbegai pengobatan alternatif dan dokter tapi gak da hasilnya.sekarang saya jd ragu sama terapi lilin, neh.saya minta tolong,bisa beritahu dimana saya bs menyembuhkan telinga saya?
Hueeek, salah neh baca posting ini sambil makan siang. Begitu selesai baca kenikmatan mie ayam ku sudah tidak tersisa. Terbayang kotoran telinga, hiek hiek. Kok ya ada orang yang mau diterapi beginian ya, sampe masuk tipi pula.
Saya masuk ke page ini setelah googlling after nongton di Trans TV tadi pagi (atau siang) tentang pengobatan alternatif. Kemungkinan besar ini re-run dong yah melihat postingan di atas yg sudah dari bulan April. Nyokap gua sudah tuli sebelah dan yg satunya sudah turun drastis pendengarannya. Makanya nyari2 pengobatan selain alat pendengar yg bisa membantu.
So . . . back to square one dong gua dalam proses pencarian. Karena dari beberapa dokter THT tidak bisa memberikan solusi lagi.
Makasih artikelnya bagus banget. gimana yach tuk ngatasin telinga biar klau naik pesawat gak sakit, jadi agak trauma nich gara2 klau naik pesawat telinganya sakit. sebelumnya makasih atas saranya. salam
Pertama: tutup telinga.
Kedua: makan. Maksudnya adalah menyibukkan mulut. Dalam keadaan mengunyah, saluran Eustachia akan tetap terbuka sehingga mengurangi rasa sakit akibat perbedaan tekanan udara antara di luar dengan di dalam rongga telinga (di sebelah dalam gendang telinga).
Kalau tidak lapar ya… permen karet saja untuk orang dewasa. Bayi bisa disusui, sedangkan anak yang lebih besar bisa diberi camilan atau minum.
OJO’ SU’UDON GITU LHO
Apa yang dibilang amesirika percaya?. Apa yg tidak menguntungkan bisnis parmasi dan bisnis medikal mereka yang paling muahal seantero jagat (walaupun negara maju dan kaya), Mereka katakan fraud n danger, dan mereka teror. Didalam ketakutan masyarakat mereka mengkonsumsi segala produk parmasi walaupun mahal dan berefek samping. (referensi: SICKO by Michele Moore)
Kalau ada yg murah dan berhasil knapa engga. Setiap orang kan berbeda ada yg berobat kedokter habis puluhan juta ga sembuh2 eh ke alternatif sekali sembuh.
Kita harus ingat yg mberi penyakit dan sehat kan Allah sang zat maha agung, kita hanya berikhtiar.
Raja namrudz mati karena nyamuk ditelinganya. knapa bukan lilin.
Sebetulnya saya kurang mengerti, apakah anda bermaksud setuju atau menyanggah tulisan saya. Karena metode ini dipromosikan oleh ‘orang amerika’ dan disanggah oleh ‘orang amerika’ juga.
Tidak terlalu masalah bagi saya siapa yang berkata. Lebih penting isinya. Apakah kalau orang Indonesia yang berkata, lalu saya harus percaya? Lalu kalau orang Amerika yang berkata, saya harus tidak percaya?
Jika memenuhi logika dan benar adanya, ras dan kebangsaan tidaklah penting. Betul, kita hanya berikhtiar. Jangan lupa, berikhtiar tetap perlu kerja otak, tak hanya ‘percaya’ belaka. Kepada siapapun itu, walau tak semua dapat dinalar otak.
hoin ke e-mailku ya…
ya ampun aku ga tau loh klo ternyata terapi ini lebih membahayakan diri kita daripada manfaat yang didapet.
tadinya aku tuh ngebet banget pengen nyobaini terapi ini karena aku sendiri ngerasa telingaku agak2 ga beres dan aku pengen banget refreshin otak..karena bingung cari tempatnya dimana makanya aku carilah di internet dan akhirnya aku menemukan semua tulisan2 tentang ear candling yang kebanyakan berisi tentang bahaya2nya ear candling drpd manfaatnya.memang secra nalar bener jg.
gila bgt,dan kasian bgt ma mreka2 yang telinganya rusak gara2 ini..
Saya ga sangka… ternyata terapi-terapi yang disiarkan di TV tidak semuanya betul bermanfaat.
Tulisan ini sangat informatif, agar kita sebagai orang awam tidak terjebak dengan banyaknya tawaran promosi program TV yang bisa dibilang “menyesatkan”.
Mudah-mudahan kita bisa berikhtiar tapi perlu kerja otak, tak hanya ‘percaya’ saja kepada siapapun itu, walau tak semua dapat dinalar otak (mengutip pernyataan mba Lita).
Sekali lagi thx mba Lita.
MADA
Entrepreneur at Heart and Soul
www.mahadaya.com
Waduh, terima kasih infonya mbak. Hampir saya mau coba terapi ini gara-gara liat tayangannya di TV. Setidaknya ini membaut saya berpikir beberapa kali untuk itu. Memang sekarang serba susah. Beginilah kalau sektor pelayanan publik seperti kesehatan diserahkan sepenuhnya sama swasta. Orang cuma berpikir keuntungan dari penyakit orang lain. Thks again…
Terima kasih infonya. Hampir saya mau coba terapi ini kaerna liat liputannya tadi pagi. Setidaknya jadi bahan pertimbangan untuk itu. Beginilah kalau sektor pelayanan publik diambil alih sepenuhnya oleh kepentingan bisnis. Mereka cari berbagai cara untuk meraup uang dari orang yang butuh pelayanan medis.Thks again…
rhino
thanks ya untuk infonya. tadinya saya mau coba untuk mama saya karena pendengaran mama saya agak terganggu. ditunggu info lainnya. Tuhan memberkati
telingaku tu ma idung kompak bgt mba….klu idung pilek telingaku jg rasanya pilek (alias kurang denger/sinus)tp cm yg sebelah kiri…klu da kumat rasanya tuh bener2 ga nyaman…..n sakitnya bukan maen….qra2 bs ikutan terapi lilin ga?kata dkter se wktu cek ga blh kna udara dingin gitu…skr pan musim dingin…bagi alamatnya u terapi donk….
Dimana sih alamatnya untuk mendapatkan terapi telinga ini?
Dear All,
Confirm, saya juga baru aja ngejalanin teraphy tersebut, ternyata ga effective, untungnya baru sekali.
Anyway thank’s buat infonya
jujur saja sy sangat tertarik sampai2 nyari alamatnya,karena d situ disebutkan bs menghilangkan stres,migran,dll.kebetulan sy penderita migran yg menahun.tp setelah sy baca terapi itu sangat membahayakn,sy jd ngeri dan takut. tapi kenapa yah? kok masih ada yang buka pengobatan itu,apa si terapis gak tau akan bahayanya atau emang tau tapi demi uang orang celaka juga tidak apa2.