Tes Widal untuk Diagnosa Tifus: Menipu!

Aku menemukan artikel menarik di website prof. Iwan Darmansjah. Sebenarnya aku sudah tahu tentang tes Widal ini dari dr. Wati, tapi karena belum ada pembahasan mendetil ya aku tak berani bilang-bilang.
Pembahasan mengenai tifus dan gejalanya bukan hal baru, tapi mungkin perkara tes Widal (yang umum digunakan untuk mengkonfirmasi tifus/bukan) ini semakin meresahkan beliau sehingga dibuatlah artikel khusus ini.

Reaksi Widal merupakan tes imunitas tubuh yang ditimbulkan oleh ‘jejak’ masuknya Salmonella typhi / paratyphi, yaitu bakteri yang terdapat di minuman dan makanan yang terkontaminasi oleh tinja orang yang sakit tifus. Jakarta dan Indonesia merupakan bendungan raksasa bakteri Salmonella dan kuman lainnya -akibat sistem sanitasi yang kurang baik. Semua manusia di Indonesia pasti (!! d’oh…) pernah kemasukan Salmonella melalui cara ini.

Kok bisa? Ya bisa saja jika kita kontak dengan air mentah. Misalnya ketika berenang dan menyikat gigi  (kurasa sebagian besar kita tidak menyikat gigi dengan air matang ya? kecuali anak-anak kecil yang belum fasih berkumur, mungkin..). Bila kebetulan jumlah kuman yang tertelan cukup besar, mungkin akan timbul penyakit tifus. Mungkin lho ya! Karena jika sistem imunitas tubuh kita cukup kuat untuk melawan, maka tifus tidak akan menyerang.

Perlu dicatat bahwa tidak semua demam adalah tifus. Tifus perlu dicurigai bila demam berlanjut sedikitnya 6-7 hari. Demam akibat tifus pada hari-hari permulaan infeksi terjadi hanya ringan, naik-turun (tidak konstan), dan hanya setelah 5-7 hari akan tinggi menetap, disertai badan pegal dan sakit kepala, serta kadang-kadang mual dan diare ringan. Diagnosa tifus bisa dicurigai setelah demam sekitar seminggu ditambah gejala-gejala tersebut (jadi kalau tidak ada gejala itu ya belum tentu tifus, gituh!).

Pemeriksaan laboratorium untuk konfirmasi kecurigaan -akan tifus- ialah kultur darah (kalo ngga salah namanya Gal culture, browse sendiri yah :p), yang dilakukan pada saat demam tinggi -yang merupakan pertanda bahwa bakteri sedang menyebar dalam darah (sehingga lebih mudah dikultur). Kultur tidak bisa dilakukan pada hari-hari permulaan demam karena cenderung masih negatif. Kita harus menunggu hingga demam sudah tinggi dan konstan. Sayangnya hasil kultur untuk kepastian diagnosanya baru diperoleh setelah 4-6 hari. Namun pengobatan sudah bisa dilakukan atas dasar penilaian klinis sambil menunggu hasil kultur (tentu saja penilaian klinis ini tergantung pengalaman dan kebijakan sang dokter. Kalau anda kurang yakin, selalu ada pilihan untuk 2nd opinion ke dokter lain).

Test Widal tidak bisa dipercayai karena banyak hasil tes yang palsu positif maupun palsu negatif. Tes Widal hanya akan berguna untuk tindaklanjut, terutama jaman dulu ketika belum ada antibiotik sehingga tifus bisa berlangsung 1 bulan atau lebih. Tes ini berfungsi untuk melihat apakah titer (antibodi)nya naik selama penyakit tersebut. Tes ini tidak berguna lagi karena antibiotik yang ampuh sudah tersedia dan akan menyembuhkan tifus dalam 7-10 hari sehingga tidak perlu tindaklanjut.

Tingginya titer (antibodi) juga sangat individual dan tergantung kemampuan tubuh kita membuat antibodi. Misalnya, seorang pasien lelaki muda selama lebih dari 6 bulan (tanpa demam) diberi antibiotik berganti-ganti oleh dokternya hanya karena titer Widalnya sangat tinggi (sekitar 1/8000) dan tidak mau turun. Tentu hal ini mubazir karena si pasien belum tentu tifus (bahkan belum tentu sakit)! Hari gini masih ada dokter yang beginian pula! duh kasian orang Indonesia yah…

Oh ya, ngomong-ngomong, prof. Iwan berpesan supaya anda (yang merasa sakit dan didiagnosa tifus oleh dokter) mencetak dan menyerahkan artikel tersebut apabila dokter menyuruh anda untuk periksa Widal.

Keep smart and wise, people!