Peringatan untuk Pedandan

OK. Untuk urusan makeup saya adalah komentator handal. Jangan tanyakan teknik mengulas blusher karena saya tidak akrab dengannya (tak punya maka tak sayang). Karena itu, saya akan menceritakan dari sudut pandang seorang tak dikenal yang sungguh rese karena memperhatikan dan mengritik segala detil penampilan anda.

Satu kata peringkas segalanya: SUBTLE

Halus, wajar, sulit didefinisikan. Agak sulit menjelaskan, tapi saya tahu bagaimana satu kata adalah kontras dari subtle. Sinetron; di mana segalanya tampak hiperbolik. Gunakan makeup sedemikian rupa sehingga tampak wajar, seolah asli-nya anda ya seperti itu. Ini adalah cara bermakeup yang paling sulit.

Tampil mencolok tidaklah sukar: gunakan warna seekstrim yang anda bisa. Lipstik hijau, eye shadow ungu, blusher jingga, bulu mata palsu yang unik dan berwarna biru, wig keriting super panjang warna merah, dan sepatu berhak tinggi warna emas. Apa? Pakaian? Apapun lah.

Anda memang mencolok, tapi hampir-hampir semua orang pasti sepakat bahwa anda sinting. Saya ingat suatu kalimat dari sebuah komik balet lawas. “Adalah mudah untuk memperlihatkan teknik tinggi yang dimiliki. Tapi jauh lebih sulit untuk tampil wajar dengan teknik yang akurat”. Atau demikianlah kira-kira.

Masih bingung? Mari saya beri contoh:

Menata alis

Mencukur alis sampai tuntas dan membuat tato sebagai penggantinya adalah perbuatan bodoh. Anda tidak tampil dengan lekuk alis yang membuat perempuan lain iri. Sebaliknya, anda tampil sebagai orang yang alisnya ditato.

Mencabuti alis hingga hanya separo kemudian melengkapi bentuk sisanya dengan pensil alis juga tidak mengesankan yang melihat. Beruntung memang yang memiliki alis tebal dan sedikit berlebih. Koreksi bisa dilakukan dengan mengurangi.

Tentu hasilnya hanya indah jika dilakukan oleh orang yang berpengetahuan tentang teknik membentuk. Rajin-rajin saja memelihara bentuk 'sempurna' yang dihasilkan. 

Bulu mata

Baiklah, anda ingin tampil dengan bulu mata lentik nan panjang. Lalu anda gunakan bulu mata palsu. Untuk menempelkannya, anda gunakan plester. Untuk menutupi plester, anda sapukan eye shadow. Berhasilkah? Sayangnya kebanyakan tidak.

Plester bertekstur yang ditutupi eye shadow itu hanya mempertegas kenyataan bahwa di kelopak mata anda ada plester yang menempel. Lebih baik anda menggunakan lem khusus untuk urusan ini. Dan sambil berharap bulu mata palsu itu tidak copot atau miring (sedihnya artis, kekurangan makeup mereka bisa dilihat berkali-kali dalam satu hari dan beberapa hari dalam seminggu!).

Maskara

Ya, ini masih urusan rias bulu mata. Jika anda memilih menggunakan maskara, pastikan anda tahu betul cara penggunaannya yang benar. Maskara yang terlihat menggumpal di antara helai bulu mata, menumpuk di ujungnya, belepotan karena tidak tahan-air atau tergesek karena anda lupa sedang memakainya dan mengucek mata. Ini hanya beberapa sebab mengapa orang tahu anda menggunakan maskara.

Usapkan maskara dari pangkal sampai ke ujung. Usahakan merata, jangan sampai satu sisi mata tebal, sisi lain tipis. Dan kejadian di kedua mata anda. Masih untung jika orang lain menyangka anda sengaja, dan menganggapnya tren terkini.

Soal mempertebal, saya yakin itu efek saja. Anda lihat iklan maskara? Tentunya anda sadari bahwa sang model menggunakan bulu mata palsu. Selain itu, anda lihat cara pakainya? Sedemikian rupa sehingga bulu mata terpisah satu-satu. Bukannya mengumpulkan beberapa helai menjadi satu: seperti yang dilakukan banyak perempuan dan membuat seolah bulu matanya hanya beberapa helai namun tebal. 

Penjepit bulu mata

Lagi-lagi bulu mata. Tidak ada maksud hiperbola, selain bahwa -konon- mata adalah jendela hati sehingga saya lebih fokus untuk mengamati mata.

Jika bulu mata anda tidak termasuk lentik, anda dapat memilih untuk menggunakan jepit pelentik. Pastikan untuk menjepit di bagian yang tepat. Karena jika tidak, anda hanya akan terlihat sebagai pemilik bulu mata tidak lentik dengan lekuk bulu mata yang aneh dan tidak rata serta jelas tidak alami.

Mengulas Eye shadow

Eye shadow seharusnya berfungsi mempertegas mata, memberi ilusi untuk ‘memperbaiki’ kekurangan bentuknya. Tampak seolah lebih besar, seolah lebih sipit, seolah lebih lebar, dan seterusnya.

Sayangnya banyak orang menggunakannya sebagai pewarna saja, yang tidak hanya terlihat-ketika-mata-mengedip (bahkan untuk pemakaian ekstra, dalam keadaan kelopak mata terbuka pun tetap terlihat), tapi juga sekadar warnanya cocok dengan warna pakaian saja.

Teknik pulasan juga kebanyakan kurang diperhatikan. Makin kelihatan eksistensi si eye shadow, makin bagus. Lho, ke mana fungsi ilusi optik tadi? Bukan lagi ilusi, anda sedang melihat kenyataan: bahwa ada eye shadow di kelopak mata.

Memancungkan hidung

Berusaha memancungkan hidung dengan menggelapkan sisi hidung semaksimal mungkin dapat membuat anda tampak aneh. Bisa saja anda memang terkesan mancung jika dilihat dari depan. Ya itu, dari depan saja.

Dan jika anda tidak hati-hati bermain bayangan, yang kelihatan hanya sapuan warna gelap di sisi hidung, tapi anda samasekali jauh dari terkesan mancung.

Sapuan blusher

Sayangku, jika kamu tidak tahu bagaimana menggunakan blusher, lebih baik jangan pakai sekalian. Itu kata batin saya ketika bertemu seseorang di suatu pesta. Tampak sepele, tapi –bagi saya- pernik ini memiliki tingkat kesulitan yang cukup tinggi dalam pemakaiannya.

Teknik penyapuan, warna, penempatan, dan intensitas sapuan sangat menentukan hasilnya. Alih-alih ‘mengoreksi’ bentuk wajah dan memberi efek segar, anda hanya terlihat sebagai pemakai blusher yang salah baca tips di majalah untuk bentuk wajah dan warna kulit yang lain.

Lipstik/gincu

Warna lipstik yang digunakan –secara mengejutkan (saya)- dapat membuat seseorang tampak segar dan lebih muda atau tampak kusam dan lebih tua dalam sekejap. Mungkin warna koral memang sedang ‘in’, tapi makeup bersifat personal. Jangan pakai tren warna yang tidak cocok untuk warna kulit anda.

Selain warna, usaha mengoreksi bentuk juga penting. Bantuan pensil bibir adalah genting. Dan lebih darurat lagi untuk tahu pemakaian pensil bibir yang tepat. Alih-alih memperoleh ilusi bentuk bibir ideal, anda hanya tampak sebagai seseorang yang lipstiknya terlalu tebal, meluas hingga ke luar garis bibir, atau sebaliknya; seperti pemain ludruk Jepang (Kabuki) dengan bibir mungil tak wajar.

Lipstik lagi

Selain bentuk dan warna, ada baiknya anda memperhatikan kondisi bibir dan sifat fisik lipstik yang anda pakai. Lipstik yang matte (tidak berkilau, non-glossy) akan menonjolkan keindahan tekstur bibir, sekaligus mempertegas kekurangannya: terlihat menggumpal/berbutir-butir halus jika dipakaikan pada bibir yang kering, sedikit pecah-pecah, dan ada bekas terkelupas.

Sedangkan lipstik yang kandungan pelembapnya melimpah ruah dapat menonjolkan fakta bahwa anda memakai lipstik; begitu berkilau dan memukau. Lipstiknya, bukan anda.

Pertimbangkan untuk memakai lip-balm sebelum memakai lipstik dengan kandungan pelembap yang moderat. Ini dapat mencegah lipstik menempel dengan tekstur berbutir-butir.

Beberapa anjuran menyebutkan untuk menyikat bibir dengan sikat khusus atau sikat gigi anak-anak yang lebih halus, guna menyingkirkan ‘penyebab kontur yang merugikan penampilan’ sekaligus memperlembut bibir. You tell me. Saya belum pernah melakukannya. Benarkah?

Dan yang menentukan semuanya: riasan dasar wajah

Foundation, pelembap, bedak, concealer, manapun dari itu atau gabungan beberapa di antaranya. Anda memakai foundation PASTI karena ingin tata rias lebih tahan lama, menyamarkan noda, menutupi (sebisa mungkin) kontur bekas jerawat atau luka cacar air, dan sedikit mempergelap atau memperterang warna wajah.

Sayangnya, hasil kombinasi ‘alas’ dan bedak sering tidak memberi hasil yang diinginkan. Kontur di wajah anda justru tampak jelas oleh butir-butir halus paduan alas dan bedak. Belum lagi jika hasil warna wajah anda begitu terlihat berbeda dengan bagian tubuh lain yang tidak tertutupi: leher, telinga, dada, bahu, dan tangan. Anda malah lebih mudah diingat sebagai orang berkulit sawo (benar-benar) matang yang nekat memakai bedak warna ivory nude (pink-beige muda, bayangkan sendiri saja).

Perhitungkan betul kecocokan warna bedak dengan warna kulit. Jika kulit wajah anda lebih terang daripada kulit tubuh bagian lain, pertimbangkan untuk memilih warna setingkat lebih gelap (menyesuaikan dengan warna kulit tubuh). Sebaliknya, jika kulit wajah anda lebih gelap daripada kulit tubuh bagian lain, pertimbangkan untuk memilih warna setingkat lebih terang.

Kedua pertimbangan itu penting, karena anda tentu ingin tampak wajar secara menyeluruh, ketimbang terdapat kontras tinggi seperti ondel-ondel yang wajahnya super putih sedangkan tubuhnya hitam (hitam ngga, sih?). 

Saya bukan makeup artist

Sebelum anda pikir saya ini makeup artist atau maniak dandan, ada baiknya anda tahu bahwa sekali-kalinya saya dirias 'penuh' (hampir semua yang saya sebutkan di sini saya pakai) adalah ketika resepsi pernikahan. Tidak sebelum dan sesudahnya. Dan saya puas sekali dengan hasilnya. Subtle. Sempurna.

Saya belajar dandan karena tidak ingin ikutan mengantri di salon untuk acara wisuda (yang sebetulnya lebih diinginkan ibu, karena beliau tahu saya tidak pernah dandan sebelumnya). Ke salon jam 4 pagi? Ngga deh, makasih.

Lebih baik keluar sedikit uang ekstra untuk beli eye shadow, lipstik, dan maskara. Itupun sepertinya orang-orang di acara wisuda tidak menyadari bahwa saya sudah berusaha sungguh-sungguh untuk dandan. Semoga karena subtle itu tadi, bukan karena saya tidak becus merias diri.

Ingat, anda dapat mengacuhkan saja apa yang saya tulis ini. Terutama jika anda melakukannya memang dalam rangka pertunjukan

Thanks for all suggestions, hubby :)