Yang Penting tentang Pelembap
Biasanya bahasan macam begini munculnya di halaman majalah wanita (Ada yang langganan? :p ). Terkesima juga waktu melihat bahasan ini muncul di Mayoclinic. Artikel aslinya ada di sini. Tulisan diterjemahkan dengan tambahan (penting ataupun tidak) di sana-sini.
Fungsi utama pelembap tentu sesuai namanya: melembapkan. Tapi tidak sampai di situ saja. Pelembap juga dapat melindungi kulit yang sensitif, memperbaiki warna dan tekstur kulit, dan menyamarkan ketidaksempurnaan (misalnya noda atau bekas luka).
Sekarang banyak beredar produk yang mengklaim dapat melakukan apa saja yang diinginkan wanita (Hah, bisa gak ngerjain kerjaan rumah gue?
). Melembutkan, meremajakan, menghilangkan noda, mengurangi kerut, mencerahkan, mengencangkan, dan seterusnya. Tapi benarkah satu botol pelembap (atau corrector, kata suatu produk) dapat memenuhi semua tuntutan itu?
Kandungan produk pelembap
Cara kerja pelembap yang paling dasar adalah dengan mengikat air di lapisan kulit terluar. Selain itu pelembap juga berfungsi sebagai penghalang sementara (selama waktu tertentu), memberi waktu bagi sel-sel permukaan yang rusak untuk memperbaiki diri.
Pelembap dapat mengandung satu atau kombinasi dari bahan-bahan di bawah ini:
- Humectant (misalnya urea, gliserin, alpha hydroxy acids (AHA), asam laktat). Saya kok belum menemukan padanan istilah yang pas untuk humectant ini. Ada yang bisa bantu?
Humectant ini adalah bahan yang menyerap air dari udara dan mempertahankannya di dalam lapisan kulit. Untuk dapat bekerja selayaknya, humectant memerlukan tingkat kelembapan yang sangat tinggi. Humectant juga berguna untuk melembutkan kulit yang menebal.
- Emollients (misalnya butil stearat, gliserin, lanolin, minyak mineral (terkandung di baby oil juga), petrolatum). Bahan ini mengisi ruang antar sel kulit, membantu menggantikan lemak sehingga dapat melembutkan dan melumasi (emangnya mesin doang yang butuh pelumas
) kulit yang kasar. Intinya, dia bertugas menyumbat kekosongan (pori).
Emollient dapat berbahan dasar minyak, yang berarti ada sejumlah kecil air terlarut di dalam minyak. Ada juga yang berbahan dasar air, yang berarti sebagian besarnya adalah air sehingga terasa ringan dan tidak meninggalkan rasa licin (berminyak) di kulit.
Krim yang berbahan dasar minyak meninggalkan residu (sisa) di kulit serta lebih lama tinggal di kulit (sehingga efeknya bertahan lebih lama). Dan krim yang berbahan dasar air lebih mudah dibalurkan di kulit serta hanya meninggalkan sedikit residu, namun lebih sebentar pula efeknya bertahan.
Mayoritas krim dan lotion yang beredar di pasaran adalah yang berbahan dasar air.
- Pewangi/parfum. Kebanyakan pelembap mengandung parfum, yang dapat membuat produknya memberi bau yang segar, menyenangkan, dan dapat menutupi bau bahan lainnya.
Parfum dalam produk perawatan kulit adalah kandungan yang paling sering menyebabkan iritasi atau alergi. Jenis yang cenderung merangsang reaksi dari kulit adalah alkohol kayumanis (cinnamic alcohol), hydroxycitronella, dan isoeugenol.
- Pengawet. Setiap produk yang mengandung air dan minyak harus menggunakan satu atau lebih jenis pengawet untuk mencegah kontaminasi bakteri setelah produk dibuka (segel/kemasannya). Pengawet ini juga dapat memicu reaksi dari kulit. Jenis yang dapat menyebabkan masalah bagi sebagian orang adalah quaternium-15 and imidazolidinyl urea.
Selain bahan-bahan tersebut, pelembap juga mengandung bahan tambahan lain, seperti vitamin, mineral, sari tumbuhan, tabir surya, dan tanner.
Beberapa produk mengandung bahan yang diklaim dapat memacu tubuh untuk memproduksi kolagen dan elastin, mengurangi stretch mark (bekas kulit yang teregang, biasanya akibat kehamilan/kegemukan), menenangkan otot (ha?!), membuka pori, dan mengangkat sel kulit mati. Kebanyakan klaim ini ternyata TIDAK TERBUKTI !
Ingat, tidak ada jaminan bagi pelembap manapun bahwa ia akan memenuhi semua hal yang diklaim, bahkan belum tentu pula mengandung bahan yang dipromosikan.
Di Amerika Serikat, pelembap dikategorikan sebagai kosmetika (sama seperti di Indonesia), sehingga Food and Drug Administration (FDA) memperlakukannya dengan cara yang berbeda dari obat-obatan. Ini berarti produk tidak perlu menjalani uji keamanan dan efektivitas yang sangat ketat (tidak sama dengan uji untuk obat-obatan) sebelum dilepas ke pasar. (Waks! Apalagi di Indonesia! BPOM saja kecolongan di kasus pengawet minuman beberapa pekan lalu)
Pelembap mana yang paling baik untuk anda?
Pelembap yang paling cocok untuk anda bergantung pada banyak faktor, termasuk jenis kulit, usia, dan kondisi khusus (misalnya berjerawat). Sebagai panduan umum, pertimbangkan yang berikut ini:
- Kulit normal. Kulit normal adalah yang tidak terlalu kering ataupun terlalu berminyak. Untuk mempertahankan keseimbangan kelembapannya, gunakan pelembap berbahan dasar air. Pelembap jenis ini terkadang mengandung minyak berberat jenis ringan, seperti cetyl alcohol, atau bahan turunan-silikon seperti cyclomethicone.
- Kulit kering. Untuk mempertahankan kelembapan pada kulit yang kering, pilih pelembap yang lebih 'berat', yang berbahan dasar minyak serta mengandung urea atau propilen glikol – bahan yang membantu menjaga kulit tetap lembap. Untuk kulit yang sangat kering atau pecah-pecah, minyak lebih dianjurkan. Minyak lebih bertahan di kulit daripada krim dan lebih efektif dalam mencegah keluarnya air dari kulit. Pelembap jenis ini misalnya 100% petrolatum atau gliserin.
- Kulit berminyak. Kulit yang berminyak sangat rentan terhadap jerawat. Walau begitu, kulit berminyak juga butuh dijaga kelembapannya, terutama setelah menggunakan produk perawatan kulit yang mengangkat minyak dan mengeringkan kulit.
Sebagai tambahan, pelembap yang ringan dapat membantu melindungi kulit setelah dibersihkan/dicuci (cuci muka, ya kan?) Pilihlah produk yang bersifat bebas (dari)-minyak, berbahan dasar air, dan berlabel 'noncomedogenic' alias tidak menimbulkan komedo (penyumbatan pori).
- Kulit sensitif. Kulit sensitif peka terhadap iritasi, kemerahan, gatal-gatal atau timbul ruam. Gunakan pelembap yang tidak mengandung bahan yang dapat memicu reaksi alergi, seperti parfum atau pewarna, dan dirancang khusus untuk kulit sensitif.
- Kulit dewasa (maksudnya kulit yang 'menua' kali ya :p ). Dengan bertambahnya usia, kulit cenderung menjadi kering akibat berkurangnya aktivitas kelenjar yang memproduksi minyak. Untuk menjaga agar kulit tetap lembut dan lembap, pilih pelembap yang berbahan dasar minyak jenis petrolatum serta mengandung asam laktat atau AHA. Bahan-bahan ini membantu mempertahankan kelembapan dan mencegah kulit menjadi kasar.
Hasil yang terbaik dari pelembap
Untuk memperoleh hasil terbaik dari penggunaan pelembap:
- Tentukan pelembap yang sesuai dengan jenis kulit dan membuat kulit tampak DAN terasa lembut. Mungkin anda harus mencoba-coba beberapa merek untuk menemukan yang cocok (dan disukai).
- Ingat, harga TIDAK SELALU berbanding lurus dengan efektivitas. Hanya karena harga suatu pelembap sangat mahal, tidak berarti pelembap tersebut lebih efektif daripada produk yang lebih murah.
- Balurkan pelembap segera setelah mandi/berendam. Tepuk-tepuk kulit dengan handuk hingga agak kering, lalu usapkan pelembap segera untuk memerangkap sisa air (mandi) di sel permukaan kulit.
- Gunakan pelembap setiap kali diperlukan. Setelah mandi, sebelum keluar rumah di cuaca dingin, dan setiap kali mencuci tangan (waks! emak-emak kan sering banget cuci tangan!).
- Jangan menggunakan krim yang 'berat' kecuali anda memiliki masalah dengan kulit yang kekeringannya amat berlebih. Sebaliknya, anda dapat menggunakan krim berbahan dasar minyak (yang sifatnya 'berat') di kaki, tangan, dan telapak kaki karena daerah-daerah tersebut memang cenderung lebih kering.
Jika penggunaan pelembap tidak memperbaiki keadaan kulit atau justru muncul masalah setelah penggunaan, konsultasikan pada dokter atau spesialis kulit. Mereka dapat membantu anda merencanakan pemeliharaan kulit dengan menilai jenis kulit, mengevaluasi keadaan kulit dan merekomendasikan pelembap yang lebih efektif.
Yang juga penting.
Gunakan sesuai aturan pakai yang terdapat di label produk. Kalau dikatakan untuk dipakai di kaki, jangan paksakan untuk dipakai di muka, dong.
Perhatikan peringatan yang diberikan dan hentikan pemakaian apabila terdapat tanda alergi/iritasi.
Cermati label. Produk-produk terkini selalu mencantumkan jangka waktu penggunaan produk setelah kemasan dibuka. Misalnya tulisan '12 m' dan gambar tutup terbuka. Artinya, sebaiknya gunakan produk hanya selama satu tahun setelah tutup/segel dibuka.
Harga dan kecocokan. Kalau memang lebih cocok dengan produk yang lebih murah, tak usah pusingkan promosi produk mahal di mal pusat kota. Toh tak semua orang tahu apa yang anda gunakan. Kecuali anda punya kebiasaan membawa sebotol pelembap ke mana-mana DAN memakainya di hadapan banyak orang. Itu masalah lain. Gengsi tidak dibahas di sini.


Waktu kuliah, seingatku humectant masih tetep seperti itu penulisannya dan belum tahu istilah lainnya (memang karena gak nyari
).
Bagiku pakai pelembab (buat di wajah) = nambah jerawat, apakah ini termasuk alergi …?