Hadiah untuk Profesi Paling Sulit di Dunia

Habis main dari blog teman baru, hmmm.. tiba ke ingatan tentang satu sisi keperempuanan istri. Bahwa status perempuan sebagai istri tidaklah menghapus kebutuhannya untuk sekedar dipuji atau diberi pernyataan cinta. Lagi-lagi cinta… Ya tentu saja, bukankah biduk rumah tangga yang diinginkan adalah yang tentram, penuh cinta, dan dilingkupi kasih sayang? Makanya bahasan cinta tak pernah habis, apalagi di kehidupan rumah tangga.

Secuil kalimat "Aku sayang istriku", minimal sekali setiap hari bisa mencerahkan wajah istri, sekalipun dalam keadaan lelah setelah berpayah-payah dengan urusan seharian. Akan bosankah istri diberi ‘sayang’? Tak akan. Apapun profesi yang dimilikinya. Istri bekerja harus diperhatikan dengan layak oleh suami, karena jika istri kekurangan ‘makanan mental’ ini, amatlah rentan hatinya terhadap godaan dari rekan sekerja atau partner bisnis. Apakah ibu rumah tangga butuh? Masya ALlah, apalagi ibu rumah tangga! Profesi paling sulit dengan undakan karir yang paling panjang yang ada di muka bumi!

Betapa tidak, semua kebutuhan suami dan anak-anak dipenuhinya. Pekerjaan rumah dikerjakan sendiri. Ketika semua berangkat ke kesibukan masing-masing, kesibukan ibu sudah dimulai sejak sebelum mereka bangun. Dan ketika semua pulang ke rumah, tugas ibu sebagai penentram hati baru saja dimulai! Dari ocehan anak-anak sampai gurat gelisah di wajah suami tak boleh luput dari perhatiannya. Kapankah ibu rumah tangga beroleh ‘upah’ harian dari profesi nan berat ini? Paling akhir! Di ujung malam, menjelang tidur, setelah usai mendengar cerita suami tentang pekerjaannya. Itupun kalau sang suami tak terlanjur tidur kelelahan.

Satu hal yang aku sangat setuju dengan pendapat Oprah Winfrey di talkshow-nya (Hi Oprah! emoticon): "Being a housewife is the hardest job in the world!". Ibu rumah tangga di sini adalah ibu purna waktu alias full-time mom. Artinya, semua dikerjakan oleh sang ibu. Terutama: no baby sitter! Name any homework, she does it (well, maybe not including plumbing or fixing the roof. I’m talking about a mom here, the ordinary one, not a super perfect woman). Name the responsibility, she has it on the shoulder.

Pekerja (dalam konteks apapun) mendapat hasil kerjanya dalam kurun waktu tertentu. Dan kapankah ibu menikmati hasil kerjanya? Tak ada yang tahu. Siapakah yang tahu anaknya kelak shalih/shalihah? Kalaupun di masa hidup ibu, si anak tak kunjung menjelma menjadi anak berbakti, siapa yang menjamin jika ternyata kelak si ibu tiada si anak akan tetap durhaka dan tak kenal taubat? Tapi apakah si ibu memikirkan hal ini kala waktunya tiba untuk mengantarkan amanah dari Sang Khalik ke dunia (waktu paling genting dalam kehidupan seorang ibu)? TIDAK. Yang dipikirkan hanya keselamatan anaknya, untuk tiba di pelukan orang-orang yang menantinya dengan adzan, syahadat, dan segunung harap dari warga dunia. Hanya anaknya. Titik. Biarlah dirinya tertinggal dan dijemput oleh utusan langit, asalkan sang bayi dapat menjemput takdir kehidupan di dunia. Walau tanpa dirinya.

Sudahkah kita mencium tangan dan mengatakan sayang pada ibunda? Sudahkah para suami mencium kening istri dan mengatakan cinta? Ah… kenapa harus tunggu hari Ibu untuk katakan semua? Padahal kita berlabuh dengan manja di uluran tangannya setiap hari.

*Salam kasih untuk kakanda, yang selalu meluangkan waktu untuk memanjakan hati*