Archive Page 2

Tolong, Terimakasih, dan Maaf

3 kata itu muncul berdasarkan tingkat kesulitan dan kekerapannya dalam penggunaan sehari-hari. Baiklah, urutan asli kemunculan kata sejak mulai bicara adalah 'ayah', 'mbah', […] 'nggak', […] 'bunda', […] 'iya', 'tolong', 'terimakasih', 'maaf', […]. Ada jeda panjang dan banyak sekali kata yang hanya sanggup saya wakilkan dengan […].

Kalau saya pikir-pikir, urutan itu (hampir) persis dengan yang dikeluarkan oleh orang dewasa, ya? Paling gampang deh minta tolong, tapi minta maaf sangat tinggi tingkat kesulitannya. Tak heran kalau anak-anak punya urutan yang sama, ya. Toh mereka belajar dari orang dewasa :)

Tolong, bunda

Kalau kata 'tolong' ini tidak disertakan saat meminta, kami membiasakan anak untuk mengulang permintaannya. Diucapkan dengan nada sopan (tidak menyuruh), pakai kata 'tolong' di awal kalimat, dan tidak sambil merengek (setengah menangis).

Kalau sedang menangis bagaimana? Ya diam dulu. Sulit sekali untuk menyimak apa yang dikatakan orang yang sedang menangis (meraung-raung), apalagi anak kecil yang artikulasinya belum sempurna.

"Anak nangis kok disuruh diem, kejam amat? Ngga demokratis!"? Eeeh, bukan begitu. Kalau memang sulit untuk mengerem nangisnya (misalnya sedang sesenggukan dan megap-megap), ya biarkan saja anak menyelesaikan dulu tangisnya. "Ngomongnya nanti saja", biasanya kami bilang begitu.

Pangkulah, peluk, atau ditepuk-tepuk lembut punggungnya supaya tangisnya mereda. Setelah anak bisa bicara dengan lebih tenang, baru minta dia mengulangi apa yang tadi dikatakan.

Continue reading ‘Tolong, Terimakasih, dan Maaf’

Speedy Parah

Ini sudah mulai keterlaluan. Sejak 'musim banjir' tahun lalu dimulai, Speedy mulai 'bertingkah'. Hujan gerimis sudah membuat koneksi, kedip-kedip (putus-sambung-putus-sambung-putus). Hujan besar? Biasanya sih sambungan putus.

Beberapa hari belakangan ini makin parah. Hujan besar tak ada, tapi koneksi putus-sambung. Dua hari ini koneksi harus ditambal dengan GPRS Matrix (yang ternyata tak kalah cepat daripada Speedy -> berarti Speedy tidak 'speedy' lagi?).

Tentu saja koneksi menggunakan GPRS ini tidak bisa dipakai untuk keperluan kerja, oleh saya apalagi suami. Mengunduh koleksi soal yang berukuran ratusan MB tentu saja boros, jadi mengunduh dan mengunggah pekerjaan web design sudah tak perlu ditanyakan lagi: GPRS bukan pilihan waras. Paling banter ya mengunduh email dan mengecek blog ini.

Pilihan selain Speedy? Sayangnya untuk daerah tempat tinggal kami tidak ada pilihan lain. FastNet hanya sampai di komplek seberang. Nebeng TV kabel? Idem, tak sampai juga ke sini. Nasib tinggal di kampung :p

Menyampaikan keluhan ke Speedy? Tentu saja. Dijamin kami RAJIN. Tapi tampaknya lebih rajin bagian tagihan Speedy. Belum jatuh tempo pembayaran pun kami sudah ditelepon. Yang menerima telepon adalah ibu saya, kalau saja saya yang menerimanya tentu sebelumnya saya akan bilang, "Plis deh, betulin dulu layanannya baru minta dibayar".

Saya pernah bilang, "Speedy durhaka. Pelanggan lama kok disia-sia". Yang mendengarnya hanya tertawa saja. Tapi beneran deh, saya ngga bercanda. Suer. Tampaknya soal 'pelanggan lama disia-sia' ini bukan hanya dilakukan oleh Speedy. Mas Eep tentunya juga pernah merasakan. Berapa kali, mas? [Semoga jawabannya bukan "Ratusan!" seperti di iklan wafer]

"Sila pindah layanan jika tidak puas"? Eeeh, cape deeeeeee… Itu mah bukan solusi bo', tapi ngeles! Anak gue juga bisa kalo cuma bilang gitu. "Ya udah, Daud duduk di sini saja (di kursi saya, red.)!", waktu saya memintanya untuk membereskan mainan saat melihatnya tak bisa duduk karena mainannya penuh menutupi lantai. Dan usianya bahkan belum memenuhi syarat untuk masuk playgroup.

Jadi, bagaimana Speedy? 

Istikharah Cinta

Judulnya indah, karena itu saya tertarik ketika mas Shodiq (kami bertemu di Friendster, lho! hahaha…) menawari peranan sebagai kontributor untuk buku ini. Sempat tertegun saat membaca 'pembagian jatah' menulis. Uh, takdir. Sulit. Bagaimana bisa meyakinkan pembaca jika dalam hati saya sendiri masih terselip sebungkah (besar?) ragu di banyak langkah kaki saya?

Dengan mengucap 'bismillah' (hihihi, klise ya?), saya sanggupi. Nekat, pikir saya, tapi kapan lagi jika tidak sekarang. Tenggat waktu yang singkat dan dalam keadaan sakit (di saat seperti itu kok sakit lho, ya! pas di 2 hari terakhir pula), naskah berhasil saya setorkan di saat-saat terakhir menjelang garis mati. Beberapa menit lagi. Fuuuhh… betapa leganya.

Pagi ini saya menerima email (atau SMS? Duh, saya masih setengah tidur waktu membacanya di layar telepon karena Daud baru tidur jam 2 pagi) dari mas Shodiq yang memberitahukan bahwa buku Istikharah Cinta telah terbit. Terimakasih untuk mbak Riana dan mbak Vani yang bersedia (tepatnya saya todong sih, hehehe…) memberi komentar pembaca untuk Istikharah Cinta. Makasih bangeeeet :)

Sampul buku Istikharah Cinta Continue reading ‘Istikharah Cinta’




! Disclaimer

bananaTalk is a personal site in the form of weblog.

NOTHING contained in this site is or should be considered, or used as a substitute for, medical advice, diagnosis or treatment.

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-Share Alike 3.0 Unported License.

»

aSide Notes

RSS
» 

Tidak banyak kata di blog ini. Tak perlu. Fotonya sudah berbicara nyaring sekali. Keren banget. Bikin kangen…

Eh, ada foto dengan beberapa teh botol Sosro di meja! Hahaha… sebagai pecinta teh Sosro, entah kenapa senang rasanya. Ngga berubah rupanya. Ya gitu itu botolnya :D

Sudut-sudut kampus itu kini tak sama lagi. Tidak penuh nostalgia lagi (apalagi bagi alumni yang sudah lulus berpuluh tahun sebelum saya).

Bangunan megah di ujung boulevard itu… menghalangi pemandangan gunung dari gerbang! *hiks*

 (6)

Last Article

RSS