Bunda Marah

Siang panas. Perut sedang kram dan punggung pegal. Risih serba tak nyaman. Namanya juga sedang haid.

Capek. Sudah minta disusui, tapi Daud tak kunjung mau berbaring padahal matanya sudah berkantung tanda mengantuk. Mataku makin berat. Jadilah setengah tidur sambil tangan masih sibuk berjaga supaya Daud tidak memanjat tubuhku dan berpindah ke sisi lain: lantai.

Duh, kegiatannya tak ada tanda akan mereda. Sudah jam 3 sore, batallah acara tidur siang. Cukup.

Aku duduk. Daud beringsut mendekat, meraih tubuhku mencari pegangan. Minta berdiri. Aku diam saja. Karena geliat, tubuhnya terjatuh ke kasur. Tertawa, mengiraku mengajak bercanda.

Kupijit hidungnya lembut, walau sebenarnya merasa gemas tak karuan. Lucu sekaligus mangkel. "Uh! Ngga lucu!", kataku. Dia tertawa lagi. Aduuuhhh, kok malah ketawa siiihhh. "Bunda marah", kataku. Dia tertawa lagi. Aku tetap diam kaku. Lalu ketawanya hilang sendiri berganti wajah tanya.

Kutinggalkan Daud di kamar bersama sepupu dan adikku. Menyiapkan air mandi dan pakaian ganti, lalu kembali ke kamar. Melihatku, Daud berjuang keras untuk turun dari kasur (yang diletakkan di lantai) karena dihalangi oleh sepupuku. "Biar saja. Biar dia mulai merasakan lantai", kataku.

Beringsut turun, merasakan lantai yang keras dan dingin, geraknya sedikit perlahan. Tapi tergesanya tak hilang. Tubuhku tergapai, lalu dia minta diturunkan kembali ke lantai. Mencoba merangkak, tertarik pada pengganjal pintu.

Aku khawatir, mengingat kebiasaannya untuk mendarat dengan muka saat merayap (sambil melompat) maju. Hmph, kuatkan diri!, kataku pada diri sendiri. Kuamati Daud dengan cemas. Awas.

Satu, dua langkah. Hup! Lompat. Dug! Hening sejenak, lalu… Whoaaaaaaaaaaaaaaa!!!…

Ibuku yang sedang lelap langsung duduk terjaga, mengira Daud jatuh dari dipan. "Nggak papa, Ma. Memang lagi di lantai, kok!", jawabku terhadap bingungnya.

Kuraih Daud untuk berdiri. Tangisnya keras tak berhenti.

Whoaaaa…

"Iya sakit. Itu namanya sakit".

Haaaaaaaaa…

"’Sakit, bunda’?, iya, bunda tahu Daud sakit".

Aaaaaa…

"Lain kali hati-hati ya. Pelan-pelan aja, ngga usah buru-buru. Sakitnya nanti juga hilang".

Nnnggggg… *Dekati lalu peluk-peluk kaki bunda*

*Bunda senyum doang*
"Bunda marah. No hug this time, my dear. That’s your lesson today". (sebelum ditanya, "Iya, aku mengajari bilingual".)

*Tangis berhenti sendiri, sambil tetap memeluk dan bersandar ke kaki bunda*

"Sekarang kita mandi, yuk!"

Sekian pelajaran ‘bunda marah’. Setelah mandi, belum habis makanannya, Daud sudah tertidur. Di pelukan bunda, tentu saja.

Kenapa repot-repot mengajari marah?
Supaya mereka tahu ‘bentuk’ marah itu seperti apa: muka tanpa senyum, kata-kata jadi tegas dan tajam, tak ada pelukan.
Supaya mereka belajar membedakan, mana bunda yang sedang bercanda, mana bunda yang sedang marah.
Supaya mereka gak ketawa kalo aku lagi marah! *ugh gemes, cium pipi-pipi empuk itu!*

Bunda sayang kalian, nak. Bunda bisa marah, tapi tak akan lama kok. Habis itu, kita main lagi. Yuk!