Daud Bilang Bunda
Setelah vakum beberapa lama karena sempat ngambek, Daud kembali menjalani toilet training. Dimulai dari pipis dulu, karena jadwal pupnya belum tetap. Tergantung menu makanan hari itu.
Lagipula, untuk urusan pup, pispot mengalami pergeseran fungsi. Ketimbang menjadi wadah 'buangan', Daud malah menggunakannya sebagai alat bermain sementara buangan dikeluarkan di lantai (waks!). Ya ngga papa, bunda sih tidak keberatan. Tapi kalau sedang main di rumah teman kan kasihan tuan rumah. Kembali ke pospak dulu, deh.
Pospak tetap dipakai, namun dilepas ketika dia akan pipis, lalu dipakai kembali setelah pipis. Selain saya dan ayahnya yang harus peka terhadap gejala Daud-ingin-pipis (pegang-pegang penis, tiba-tiba marah-marah tak jelas sebabnya, beringsut ke pojok atau tempat 'sepi' dan diam di sana, dll), ia juga diingatkan untuk memberitahu saya (atau ayahnya) jika merasakan sensasi ingin pipis.
"Daud, kalau mau pipis bilang bunda, ya", adalah pesan yang paling sering saya ucapkan selain "Hati-hati, nak!" dan "Pelan-pelan saja, tidak usah buru-buru nanti malah jatuh". Dibantu dengan penguasaan bahasa isyarat yang meningkat, urusan toilet training jadi lebih mudah. Maksudnya lebih mudah ditangani oleh kami, orang dewasa, belum tentu lebih mudah bagi Daud.
Dengan kejadian kecolongan di sana-sini, saya mulai awas jika kegiatan bermainnya tiba-tiba berhenti. Lalu menoleh ke saya dan mengisyaratkan 'bunda' kemudian duduk di pangkuan atau memeluk saya. Saya kira ini bukan pertanda, karena sifatnya yang ekspresif. Ternyata… itu memang pertanda.
Perhatikan kalimat pertama di paragraf keempat. Hal itu dilakukan Daud, secara literal. Yak, tepat sekali! Dia bilang 'bunda', ketimbang bilang (ke) bunda (bahwa ia ingin pipis). Duh, anakku. Bunda cuma bisa ngakak ketika menyadarinya.
Walhasil, sekarang kalau Daud bilang 'bunda', alih-alih saya tanggapi dengan, "Ada apa, sayang? Iya ini bunda" seperti sebelumnya, yang saya katakan adalah "Iya bunda. Kenapa? Daud mau pipis?"


Daud umurnya udah berapa, bunda?