Emak Lagi Pusing

Mother's block. Lagi. Kali ini dua minggu. Ngapain aja sih?

Kasus besar seputar anak untuk para emak ada tiga; tidur, mandi, dan makan. Setidaknya itu yang saya rasakan. Coba simak situs dr. Sears, sepertinya saya berbagi kesamaan dengan jutaan emak di dunia.

Susah tidur.

Susah tidur bukan hal luar biasa. Namanya juga anak-anak dan sedang dalam masa eksplorasi. Sudah ngantuk pun masih dipaksakan bangun. Takut kehilangan waktu main kali ya. Rugi, gitu. Hasilnya? Koordinasi tubuh berkurang, mudah jatuh sekaligus mudah menangis.

Trus gimana dong? Saya sih lebih suka membiarkan saja mereka bermain walaupun dari gerak tubuhnya jelas terlihat mereka ngantuk. Lha gimana, biarpun mata sudah sipit, kalau masih mau main, disusui pun tak mempan mengantar tidur. Saya akan menunggu sampai pertanda dari mereka keras dan jelas (loud and clear, halah sok ng-Inggris!).

Si sulung akan memberi aba-aba berupa permintaan tak terbatas sekaligus serba salah. Minta dibuatkan gambar rangkaian kereta api. Sudah jadi, salah warnanya. Warnanya betul, rodanya kurang. Roda beres, relnya kurang panjang. Rel panjang, muatannya nggak pas ('kurang penuh pasirnya!').

Kereta sudah tak bisa diapa-apakan lagi, minta dibuatkan truk. Truk jadi, ngomel, "ndak gitu.. ndak gitu…" tanpa jelas mananya yang diprotes. Kalau sudah begini, dia harus diangkut ke kasur (dengan atau tanpa persetujuan empunya badan) dan disodori susu. Kadang pakai nangis dulu, protes karena masih ingin main. Toh tidur juga.

Si kedua sama saja. Kalau sudah merasa ngantuk, pasti garuk-garuk kepala (dengan 'ganas') dan kucek-kucek mata. Pegang mobil. Digulingkan, 'gubrak!', nangis. Mobil dibetulkan posisinya. Tersenggol sedikit, terguling, nangis lagi. Ganti mainan.

Pegang remote control TV (TV-nya sih ngga penting), pencet-pencet tombolnya. Tahu-tahu nangis. Nah, kalau sudah tak jelas begini saya harus memboyongnya ke tempat tidur. Protes itu pasti. Toh ASInya dinikmati juga sampai merem melek.

Selesai? Belum. Terkadang (atau seringkali. Lho? ngga konsisten) setelah susu habis, bangunlah tuan muda dari pembaringan. Duduk, nah… turun ke lantai. Main lagi. Duh… Dan siklus harus berulang kembali. Sampai kapan? Sampai para juragan itu menyerah. Kapan? Suka-suka mereka. Argh!

Susah mandi.

Sampai saat ini, yang masih butuh berbagai akal untuk bisa diajak mandi adalah si sulung. Ada saja alasannya untuk menolak mandi. Or simply just runaway without words. Tapi kalau sudah masuk kamar mandi dan prosesi dimulai, kesulitan selanjutnya adalah menyudahi. Kalau dibiarkan… Entah ya, belum pernah dibiarkan jadi belum tahu berapa lama dia akan bertahan main air di kamar mandi.

Si kedua santai saja. Kalau sudah dengar kata 'mandi' sambil saya acungkan sikat giginya yang lucu itu, dia akan ikut dengan senang hati walau tadinya sedang asyik main motor-motoran. Menyudahinya juga bukan masalah. Kalau guyuran air di kepala sudah selesai, berarti mandi selesai. Ajak mengeringkan kaki di keset (ditiru sambil jingkrak-jingkrak tampak semangat sekali), balut tubuhnya dengan handuk, angkut ke kamar.

Susah makan.

Belakangan ini sepertinya dua bersaudara sedang kompak. Iya, si kedua sedang tutup mulut. Duh pusing. Rapat betul tuh mulut, apapun sumber karbohidratnya. Dari ubi sampai spageti sudah dicoba. Dan entah bagaimana, kebiasaan (buruk)nya juga kok sama dengan si sulung; sama-sama 'ngiler' lihat makanan tetangga.

Mau gitu lho, kalau ditawari makanan yang dimakan temannya. Padahal makan masakan rumah sedang ogah. Padahal (juga) yang dimasak ya mirip-mirip. Sindrom 'rumput tetangga lebih hijau' neh. Payah. Sampai mbah putri rasan-rasan dengan saya, "Itu tetangga mesti mbatin, 'Kasian bener ya cucunya bu Emy. Di rumah gak dikasi makan kali ya. Makan di tetangga lahap bener'. Dasar!". :lol:  

Mengakalinya? Gak ada. Pasrah aja. Malas makan besar ya sudah. Tapi cemilan ada saja, dari yang biasa (semacam biskuit) sampai yang agak 'aneh'. Semacam pepaya potong plus yoghurt dan es susu-buah plus yoghurt.

Kalau begini, menu makan 'besar' pun di luar yang 'biasa'. Minimal si mbak jadi berkerut-kerut dahinya kalau lihat bentuk jadinya. Apa pun jadi lah. Menu makanan seperti gaya saya mendongeng. Asal (kemarin saya mendongeng tentang kopi gara-gara si kedua asyik mainan bungkus kopi). Asal gizi terpenuhi dan mereka kenyang. Ha!

Makaroni spiral plus brokoli tabur keju dengan saus tomat, nasi tim kuah pisang-jeruk, atau yang agak ngga jelas yang lain hasil karangan pribadi. Rasa ajaib pun kalau mereka suka ya cuek saja. Penampilan nomer dua. Peduli amat orang-orang tua pada protes hihihi…

Untungnya, susah makan ini tidak berlaku selamanya. Macam siklus saja. Ada kalanya susah, di kala lain apapun hayuh. Soal ngemil, sepertinya bawaan dari ibunya: hobi laten :)

Nah, sudah maklum kan ya kalau saya cuti blogging kemarenan? :mrgreen: Monggo dinikmati suguhan seadanya mumpung saya lagi pusing dengan para juragan di rumah…