Ketika berbelanja di suatu pasar swalayan-beberapa bulan lalu- saya cukup heran ketika rak pendingin yang mulanya menjadi tempat pajangan keju berganti isi. Dan yang mengejutkan, keju kini menghuni lemari yang sama dengan susu formula!
Saya tidak mempermasalahkan tempat penyimpanan keju itu (selama kemasan belum dibuka, beberapa jenis keju tidak harus disimpan di rak pendingin). Tapi saya sudah membayangkan, si mbak penjaga rak susu formula PASTI akan menyapa (minimal) dan mempromosikan produk yang diwakilinya pada saya; ibu yang membawa bayi!
Prasangka buruk saya tidak sia-sia. Keju saya dapat, sapaan pun saya peroleh. Risiko.
Wah anaknya lucu ya, bu?
Saya cuma tersenyum.
Umurnya berapa bulan, bu?
Nah, mulai deh pertanyaan pembuka. "7 bulan", kata saya.
Susunya apa, bu?
Tuh kan. "ASI!", jawabku pendek.
Si mbak kelihatan terkejut.
Lho kan ASI sudah tidak mencukupi lagi, bu, di usianya yang sekarang?
Tentu saja tidak. "Kan ada MP (makanan pendamping)-ASI", saya tetap menjawab pendek.
Tapi ASI saja tidak cukup lho, bu. Dia perlu tambahan susu formula.
Saya mulai malas menyimak. "Produksi ASI saya masih banyak kok", berharap percakapan terputus oleh sesuatu. Duh, kok kuitansinya lama banget sih jadinya? Saya lirik suami. Antrian agak panjang.
Si mbak terdiam sejenak. Harus ganti jurus tampaknya.
Tidak akan diberi tambahan susu formula?
Sampai dia menyapih dirinya sendiri, pikir saya. "Nanti kalau umurnya sudah lebih dari satu tahun baru ditambah susu UHT". Nah lho!
Si mbak kaget lagi.
Susu UHT? Itu kan susu untuk orang dewasa, bu? Tidak cocok untuk anak kecil
Si mbak promosi sama orang yang 'salah' deh. Aku yang mulai malas meladeni, mengeluarkan jurus kambing hitam.
"Yang menyarankan itu dokter anak kok, mbak. Lagipula susu UHT tidak hanya untuk dewasa, yang penting usia konsumen sudah di atas 1 tahun". *gak percaya? coba cermati kemasan susu UHT!*
Si mbak bingung.
Begini bu, di usia pertumbuhannya kan anak-anak butuh nutrisi penting. Susu formula ini dilengkapi dengan DHA, nukleotida, […]
Saya sudah tidak menyimak lagi. Daud mulai resah. Lapar. Protes. "Maaf ya mbak, saya buru-buru, anak saya belum makan malam", kataku. "Nangis yang kenceng aja, yang. Protes ama mbaknya!", batinku.
Saya tidak bermaksud mencela profesi SPG dan tingkat pendidikannya. Dan tidak pula bermaksud sok pintar. Yang saya sangsi adalah SPG dibekali 'pengetahuan' yang netral, yang tidak hanya mendukung kelancaran promosi.
Saya tidak anti pada produk susu formula. Tapi saya muak dengan cara promosinya. Arif bilang itu pembodohan. Saya setuju.
Susu formula adalah the NEXT best thing. NEXT! Dengan huruf kapital, seperti yang saya katakan dalam komentar di tulisan Arif tadi.
Ibu memang melahirkan generasi penerus, next generation. Tapi itu tidak berarti kami HARUS melengkapi asupan nutrisi mereka dengan yang kualitasnya 'next'.
Bagi ibu yang kesulitan dalam menyusui, carilah solusi bagi masalah yang dialami sebelum memilih susu formula sebagai penambal. Bagi ibu yang tidak kesulitan, sebaiknya jangan mencari kesulitan baru dengan memiliki persediaan susu formula sebagai 'jaga-jaga'. (Oh yes! Persediaan itu akan menimbulkan godaan. Jika kadaluarsa, 'sayang' kan uang terbuang?)
Ketika ASI, si kualitas nomor satu, the BEST thing, masih diproduksi dengan baik, pemberian susu formula pada bayi adalah pemborosan. Dan ketika susu formula ditawarkan pada ibu yang jelas-jelas MENYATAKAN memberikan ASI secara penuh, ini jelas strategi pemasaran yang tidak sehat. Sama sekali tidak etis.
Saya anjurkan kepada para ibu hamil untuk waspada dalam memilih tempat untuk melahirkan. Tak jarang rumah sakit memberikan susu formula bayi yang mahal pada bayi baru lahir (jika bayi sudah terbiasa, sulit menggantinya!).
Apalagi bagi anda yang bertekad untuk memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan pertama. Jangan sungkan (jangan! itu hak anda!) untuk merepotkan diri, mengingatkan perawat bahwa anda akan memberikan ASI eksklusif. Jika perawat berganti giliran (shift), mereka bisa menggunakan alasan 'tidak tahu' jika anda kurang 'cerewet' mengingatkan. Akan menjadi ideal jika ibu dapat memilih rawat-gabung (rooming in).
Jika susu formula bayi ditawarkan (atau bahkan diberikan tanpa persetujuan) pada anda, mereka telah melanggar hukum. (ada yang bisa membantu saya menginformasikan KE MANA aduan dapat dilayangkan?)
Saya gemas. Jengkel. Benar-benar muak. Dan saya tidak akan berhenti sampai di sini.

walah lit…
kadang hal sederhana itu tinggal diucapkan saja kok…
kenapa ga bilang “wah mba, susunya bagus, tapi saya masih ada stok di rumah… lain kali aja ya” ato mungkin “wah saya dah coba, tapi ga cocok…” ato mungkin kau tinggal ngomong langsung “wah mba, saya ga mau ngasih anak saya susu formula”
tinggal ngomong aja kok, tuh SPG pasti diem juga… kadang kitanya sendiri yang ga bisa “SAY NO” di depan…
kalau lagi buru-buru ‘dokter’ itu keyword yang tepat. bilang aja dokternya bilang harus pakai ASI
saya biasanya langsung bilang “enggak, mbak, mas” kalau memang tak tertarik/berniat beli barang yg dipromosikan…singkat dan padat!
Iya, setelah beberapa kali kejadian, tampaknya saya akan selalu siapkan jawaban standar untuk mbak-mbak tukang promosi barang itu.
“Anaknya umur berapa pak?”
Saya akan yakin menjawab, “Tidak tertarik, terima kasih!” hehehehe
Sudah lewat berapa pertanyaan tuh?
Kenji
Satu, I DON’T do lies. AKu tak bisa katakan yang kau ajarkan itu, karena aku gak ada stok di rumah, dan gak pernah nyoba (untuk Daud)
Dua, kalau kau tanyakan padaku, apakah aku bilang tidak (bukan pada kejadian yang kuceritakan ini), aku jawab, “YA. Aku bilang Tidak.” Apakah mereka berhenti? Tidak, mereka tidak berhenti
Dan aku ngomong begini maksudnya untuk ‘minta’ ke ibu menyusui lain untuk bilang, “Tidak”. Tak sekadar bilang ‘tidak’ untuk melarikan diri dari promosi, tapi TAHU MENGAPA mereka HARUS bilang tidak
Priyadi
Yep, the right scape goat
Hedi
Sedang mencoba menyimak, seperti yang pernah diusulkan oleh suami. Sebenernya mereka kalau promosi itu bilang apa sih?
Jawaban singkat padat memang diperlukan. Walau terkadang tidak cukup. Kalau tidak cukup? Tinggal aja. Saya pernah? Pernah, abisnya udah bilang nggak tetep ngeyel sih :p
Arif
Wah, kelewat.
Iya, hemat waktu untuk menjawab walau tampak sadis
setuju ama um Pri, biar lbh keren bo’ongin aja …
“saya dr spesialis anak lho”
wah, modal buatku nanti neh kalo baru punya momongan neh..
*udah siap siap*
hihihi…
Ibuk Lita memang bener-bener seorang ibu yang baik hehehe….
mantab, emang harus didukung tuh kampanye ASI eksklusif.
heran juga kalo ada ortu sampe kudu nyolong buat beli susu anaknya! padahal sang pencipta sudah menyiapkan pabrik susu super semuanya deh..yak! (katanya!) xixixi…
Terima kasih infonya mbak Lita…
Kebetulan isteri baru hamil..
Ntar kalau melahirkan dan lahir harus hati-hati nih..
Kapan2 boleh sharing lagi kan masalah ASI ini?
Seinget saya, ASI ekslusif selama 2 tahun itu lebih baik (bener gak sih???)
kalau aku yang ditawari, biasanya aku bilang, “ada ndak susu yang cocok buat seusia saya? yang sueger. yang ndak bisa kadaluwarsa. boleh yang pake UHT, DDT, DHA, PKK, STNK, apa aja deh. pokoke yang uenak … yang tinggal lhep ajah.” kiat ini biasanya manjur untuk menjauhkan para spg, bulik….
waktu pertama kali shiva di langsung di kasih susu formula sama bidan nya(kebetulan kemarin bersalin sama bidan), soalnya kan anak pertama jadi ASI ibu nya belum produksi. awal nya sudah cemas seeh kalo nanti dia gak mau ASI gmn? dan bener selama 2 bulan pertama di gak mau ASI, *duh susah neeh bakalnya* tapi untunglah memasuki usia 3 bulan keadaan nya berbalik yang tadinya gak suka ASI sekarang malah gak suka susu formula, alhamdulillah, *kalo gak susah cari duit buat beli susu*
Wah anaknya lucu ya, pak?
++ “situ juga lucu..”
Umurnya berapa bulan, pak?
++ “situ umurnya berapa?”
Susunya apa, pak?
++ “susunya siapa? ehem….”
Susu anaknya, pak.
++ “oo kirain….”
++ “maap mbak, anak saya minum BIR..”
++ …ngeloyorrrr..
huahaha…si mbak spg emang promosi ke orang yang salah…(wong “bu dokter” kok diajari untuk membeli susu formula hehe)
wah pokoke saya dukung ASI eksklusif lah!!
Susu UHT itu apa yah?
ha ha ha…..susu formula kok buwat bayi 7 bulan…hihihihi. salah sasaran bangeeet. yang bener aja
hidup ASI!!!
Luthfi
Aku gak ngajari bo’ong lho ya.
“Dokter spesialis? So what?”
Sayang sekali masih ada juga dokter anak yang menyarankan si ibu memberikan susu formula untuk ‘menambal’ ASI. Alasannya, ASI sudah tidak cukup lagi bagi anak tersebut.
Tanya kenapa?™
Didats
Inget: nikah dulu ya, Dats.
*kabur*
Galih
Saya hanya berusaha, nak. Mengusahakan yang terbaik, itu lah yang dilakukan semua orangtua yang baik
Oon
Masih banyak ibu yang belum mengerti, semoga yang sudah mengerti bisa berbagi menyebar ilmu
Cahyo
Sama-sama pak.
Boleh saja kalau mau tanya-tanya. Kalau tidak menemukan topik tulisan yang sesuai, kirim e-mail saja
Tabah Budi
2 tahun itu masa menyusui yang disarankan, mas Budi. Lebih boleh, kurang juga nggak apa-apa. Yang HARUS diusahakan eksklusif itu adalah selama 6 bulan pertama.
Lebih dari 6 bulan, kebutuhan gizi anak sudah tidak dapat ditunjang sepenuhnya lagi oleh ASI, sehingga perlu diberi makanan padat (MPASI). Dan ketika giginya mulai tumbuh (tergantung usia), secara bertahap bisa dikenalkan ke makanan meja (table food; makanan yang sama dengan orang dewasa).
Ndoro kakung
Tinggal lhep ya bisa langsung dari sapi. Selanjutnya mikir gimana nyediain sapinya
Aribowo
Semoga lain kali bisa ASI eksklusif ya
Sebenarnya alasan “soalnya kan anak pertama jadi ASI ibu nya belum produksi” juga tidak tepat untuk membenarkan pemberian susu formula pada bayi baru lahir. Anak pertama atau bukan TIDAK menjadi penentu tersedianya ASI tepat setelah bayi dilahirkan. Ada yang selama hamil sudah keluar ASInya, ada pula yang baru 2-3 hari setelah melahirkan baru keluar. Dan ini normal.
Seperti yang dikatakan Arif di postingnya, bayi baru lahir tidak akan kelaparan walau ASI ibunya belum keluar, sebab pada tubuhnya masih tersimpan cadangan makanan.
Fernando
HALAH!!!
Irma
Nyok, kita dukung sekuat tenaga supaya semakin banyak ibu yang memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan!
Imponk
Susu UHT? Ya susu yang diproses secara UHT
Sterilisasi parsial, ’sekadar’ membunuh spora dan membiarkan bakteri ‘baik’ tetap hidup.
nYam
Setahuku, mbak, susu formula (bayi) memang ditujukan bagi bayi di bawah 1 tahun.
Mengenai banyaknya susu formula yang ditujukan bagi rentang usia tertentu (1-3 tahun, 4-6 tahun, 7-9 tahun, dll) itu mah bisa-bisanya produsen susu aja :p
Entah kenapa dinamai ’susu formula’ juga. Asalnya sih ‘infant formula’. Mungkin karena dibuat dengan formula (rumus) khusus? Ditambah ini itu supaya gizinya tampak lengkap dan mahal
haraph makhlumh, baru blajarh he he.
benar. di beberapa rs tertentu sering sekali menawarkan susu formula yang mahal. rs-nya rs terkenal lagi. tapi sekarang sudah ada kok gerakan asi, bahkan udah ada lembaganya (yang dimaksud untuk meningkatkan penggunaan air susu ibu), gerakan ini dimotori sama dr. Oetami Rusli, itu lho kakaknya almarhum Harry Roesli.
dokter Oetami ini bahkan ngasitahu langsung lewat video (saat itu kalau nggak salah di daerah Kemang), yang memperlihatkan ketika bayi baruuuu aja lahir, nggak pake acara dimandiin, cuma dilap aja, hanya ditaruh ke perut ibunya. sungguh ajaib, karena begitu ditaruh, si bayi bergerak2 sendiri menuju ke arah payudara ibunya, kemudian minum ASI.
aku takjub sekali.
oh iya, disitu aku juga melihat bahwa bayi yang lahir lalu dimandikan dulu, lebih pasif bergerak menuju ke tempat ASI berada. harus dibimbing2 dulu, dipandu gitu.
aku lupa penjelasannya bagaimana dan kenapa. mungkin bisa menghubungi dr Oetami langsung untuk itu. Oh ya, kalau mau ngadu, ngadu kesana aja kali ya. Beliau berkantor di RS. Sint Carolus.
betul mba, istri saya juga pernah memergoki suster memberi susu formula pada anak saya, padahal istri saya sudah mewanti-wanti agar dipanggil jika bayi kami menangis untuk segera diberi ASI. tampaknya hal seperti itu dilakukan suster karena ada ‘reward’ dari produsen susu jika produknya laku terjual, karena saya lihat di tagihan ada biaya tercantum untuk susu formula tersebut padahal kami tidak pernah meminta suster untuk memberinya pada bayi kami. sempat kepikiran sih untuk menuntut pihak rumah sakit
aye denger, ini asli aye denger soale lom pernah ngeliat sendiri. Bayi2 yg br lahir di RS langsung di cekoki ama perawatnya dgn susu susu formula, atas “pesan” produsen ttu. Soale katanya begitu si bayi udeh ngerasain susu formula tersebut seterusnya akan :nagih: dan itu artinya pemasukan buat pabrik susu formula.
bener ga ya?
#irman
wah gawat tuh
setuju banget kalo bayi musti di asi ekslusif selama 6 bulan, kelihatan banget bedanya, minimal kalo anakku dari daya tahan tubuhnya, kuat bangetlah.. emaknya sampe kalah hehehe… dibawa naik motor ke bandung dari serpong yang makan waktu 5 jam lewat puncak malem-malem juga.. dia tetap tenang dan cool.. malahan sampe sono bukannya tidur lemes gimana.. eh malah main-main dulu.
selain itu juga dari beberapa artikel penelitian yang kubaca, pemberian asi eksklusif 6 bulan meningkatkan iq anak beberapa angka dibandingkan anak lain yang tidak.
tapi beruntung bangetlah dulu rumah sakit tempet aku melahirkan sangat menerapkan aturan bahwa bayi harus dapet asi eksklusif dari ibunya terutama asi yang pertama keluar yang warnanya kuning itu…
cuman yang musti siap-siap (apalagi kalo yang baruuuu punya anak) mental n fisik ngadepin bayi.. soalnya waktu itu anakku setelah lahir n dibersihkan langsung ditaruh sekamar sama aku.. dan yang ada cuma diriku dan suami yang belum pernah sama sekali ngurusin bayi… wahasil bingung setengah mati waktu anakku pup dan harus buka bedongnya… masang bedongnya lagi itu lho… musti diskusi lamaaaa… hehehe… hasilnya… acak-acakkan….
tapi memang sih.. masih banyak ibu-ibu yang belum tahu, karena mungkin aturan ini baru keluar sekitar tahun 2001 (kalo gak salah) dari who nya… jadi aku sendiri masih sering dianggap aneh kalo pas ditinggal kerja anakku minum asi dari botol… katanya ‘ini susu apa ya? kok encer banget…’ ato ‘gak kesian anaknya ni.. kan masih lapar’ padahal anakku baik-baik aja, enak-enak aja dan gendut-gendut aja…
yah… viva asi eksklusif dah!!!
wah iya…, mesti ngadu kemana ya, kalau anak baru lahir ama susternya langsung dikasih susu formula..
ini kejadian saat kelahiran anak pertama saya..
nYam
Saya juga lagi belajar kok. Bareng yuk!
Dimaklumi, mbak
Fitri
Waow… aku baru denger tuh cerita yang itu walau udah banyak yang membahas pentingnya early latch on. Makasih, mbak.
Waktu melahirkan pertama kali, anakku bahkan belum dilap jadi licin sekali, nyaris lepas dari peganganku (horor!).
Waktu melahirkan kedua kali, bayi dilap dulu. Sukses langsung menghisap! (wuah seneng banget waktu itu)
Oh, langsung ke sentra laktasi St. Carolus ya? *dicatat*
Pandri
HAH! Ditagih ganti biaya susu pula?!
Iman
Gak tau :p Belum pernah denger sendiri.
Tapi memang susu untuk bayi itu tergantung kesukaan dan KEBIASAAN dia. Kalau sudah biasa, agak susah berganti ke yang lain. Terutama dalam kasus susu formula
Taya
Kerrreeennnn!! *standing applause*
Asli keren banget! Jauh lebih keren daripada aku waktu punya anak pertama. Keren penguasaan ilmunya!
Eep
*
Lho kok makin panjang nih daftarnya yang punya kejadian begini. Bener-bener gak beres nih kalau RS ‘main mata’ sama produsen susu formula dalam rangka promosi dan peningkatan pemasaran produk!
*anak selanjutnya ASI eksklusif 6 bulan ya, om
yang selanjutnya malah satu tahun.., setelah itu disambung oleh bapaknya..
*kaburrrr…
Saya juga punya pengalaman seperti ini. Ketika saya di konter susu formula (padahal cuma numpang lewat dan hanya lihat-lihat), SPG-SPG itu kerap membombardir saya dengan pertanyaan-pertanyaan seputar anak saya. Maksdunya, sudah tentu supaya saya membeli susu formula produk mereka. Tapi, saya punya jurus jitu melawan mereka. Dan ini memang sesuai dengan kondisi riil anak saya. Saya bilang saja “Mbak, karena anak saya itu alergi susu sapi. Susunya Pepti Junior dan Neocate. Itu produk gak ada di sini. Hanya ada di apotik tertentu,” langsung itu para pendekar promo mati kutu.
BTW, lam kenal ya mbak.
Kalau boleh tahu ….. nemuin susu neocate dimana? pepti junior kan sudah empty di indonesia?
Mbak2 dan Mas2… Rumah sakit mana yang kurang jaar ngasih susu formula tanpa ijin itu? Aku kok jadi marah ngebaca-nya. I’m not a mother yet. lagi niat pengen hamil dan cari2 bacaan penting terus kesasar di sini. tapi kok jadi marah dan takut ngebaca cerita itu. Kasih tau dong nama rumah sakti nya biar aku bisa wanti2. Aku sendiri tinggal di depok. Thanks yah…
-dewi-
:)
don’t do that mba ita… aku jadi malu…
siap mbak…saya sudah membekali diri dgn ilmu ttg ASI. agak khawatir juga nih. soalnya kan kerja. jaman Rafa sih de dirumah…jadi gak khawatir ASI xlusip. smoga de bisa ngaish ASI xlusip juga ke adeknya Rafa
hidup ASI eksklusif!!! pengalaman pribadi nih, ASI itu:
)
1. paling tinggi khasiatnya
2. paling praktis (ga butuh airpanas)
3. paling murah (cukup dgn sepiring nasi
4. paling intim (dlm hub ibu-anak)
lam kenal mba
Lha kalo saya bayi ASI (katanya) tapi berhubung nggragas dijejeli tajin juga. Alhamdulillah anak-anak saya bisa ng-ASI semua. BTW….saya kok jadi “panas” baca pengalamannya Bulik.
Alhamdulillah Mami (ibu mertua) sangat2 cerewet untuk kasih asi eksklusif pada cucu pertamanya, jadi kompak deh dengan diriku. fyi, mamiku ini kajur akademi kebidanan di jambi. Kalau lagi kasih kuliah, beliau marahin mahasiswanya kalau nanti sudah jadi bidan jangan mau diiming2 ke luar negeri tapi merampas hak seorang anak manusia untuk menyusu pada ibunya. Semoga mahasiswanya pada ingat yah…
Wah…ngiri nih ama yang bisa early latch on. moga2 anak selanjutnya bisa. kemarin waktu Rafi, setelah dia dilap langsung dibawa ke ayahnya untuk di-adzanin. kemudian aku dibersihin, dibawa ke kamar baru deh pegang Rafi. Syukurlah Rafi bisa langsung menghisap walopun asi-nya belum keluar
tapi dengan dihisap itu maka akan membantu merangsang asi untuk keluar, dan.. beberapa jam kemudian keluarlah cairan kolostrum yang dinanti-nanti
Hai Taya… ini Taya ujiteb kan ya?
(Sori Ta, nebeng say hai ama Taya disini)
Wah, kok serem gitu ya dan kurangajar amat rumah sakit yang seenaknya begitu. Tapi kalau bayi dirawat terpisah, berarti harus ada yang mengawasi 24 jam ya?
Tante Lita; musuhnya iklan dan SPG.
:)
Ass wr wb
Kemudahan, mungkin itu kata yang tepat untuk orang yang memilih susu formula dari ASI selain alasan kesehatan.
Tapi tentu saya setuju…tapi apakah lingkungan mendukung ?
Terutama untuk wanita bekerja ???
Eep
*Kejar om Eep*
Isnaini
Wah… susu mahal :p Pepti itu bukannya rasanya gak enak banget yah?
Salam kenal juga
Dewi Kurtubi
Japri aja ya, mbak. Ntar saya dituduh mencemarkan nama baik (padahal mereka yang melanggar kode etik, huh)
Taya
Halah malu. Aku bangga kok ada ibu pintar sepertimu
De
Ayo mbak De, yang semangat ya! Pasti bisaaaaa!
Meyrinda
Sip, akur. Salam kenal juga
Mbilung
Iya, jaman belum ada susu formula dulu memang tajin populer. Kalau ndak salah sampai sekarang juga kok, ya?
Panas ya? Sampe bikin posting sendiri
Terimakasih untuk link-nya. Kenapa gak pake URI trackback aja pakde? Biar masuk sini.
Indah
Jadi kapan? hehehe…
Iri ya nanti tinggal ikutan
Iya bener itu Taya ujiteb.
Merahitam
Kalau tidak rooming-in, ada sepasukan perawat yang mengurusi bayi di ruangan khusus. Dan inilah yang rentan praktik pemberian susu formula tanpa persetujuan orangtua
Aswad
Let’s just say I’m too critical for most of them. And I’m fully aware of many of my rights.
Begitu kedengarannya lebih ‘jinak’ hihihi…
Wawan
Di link ‘next best thing’ dan ‘penambal’ sudah dijelaskan alternatif solusinya dengan lengkap.
Mo tanya dong, mudah2n ada yang bisa kasih saran…
dari hasil lab. ternyata aku positif mengidap Hepatitis B (HBsAg +) dan setelah dicek ulang HBeAg jg (+)
Setelah konsultasi ke dokter, katanya begitu nanti anakku lahir harus langsung divaksin anti Hepatitis dan tidak boleh diberi ASI.
Tapi aku mencoba bertanya2 lagi, dan dari dokter ada yang mengatakan bahwa ASI masih boleh diberikan karena makanan yang paling baik untuk bayi adalah ASI.
Ada yang bisa memberi masukan lagi… ???
Terima kasih sebelumnya..
Fitri
Mbak Fitri, dokternya separuh benar.
Paruh pertama: Benar, begitu lahir anak mbak memang harus langsung divaksinasi dalam waktu 48 jam pertama. Jika hepatitis B kini sedang dalam kondisi aktif, yang akan direkomendasikan adalah antibodi HB (Ig, yang harganya cukup mahal [2 tahun lalu sekitar 1,8jt]) DAN vaksin hepatitis B.
Sedangkan bayi yang lahir dari ibu yang tidak/belum pernah terinfeksi Hepatitis B direkomendasikan untuk diberi vaksin hepatitis B -saja, tanpa HB Ig- (berupa virus yang telah dilemahkan). Prosedur ini belum diwajibkan walau telah direkomendasikan oleh satgas imunisasi Indonesia.
Paruh yang kedua: Salah, mbak boleh menyusui. Dianjurkan secara eksklusif 6 bulan dan sangat baik jika dilanjutkan hingga anak berusia 2 tahun. Keterangan lengkap bahwa menyusui itu AMAN bagi ibu pengidap Hepatitis B ada di kumpulan taut di bawah ini.
Sumber:
- Hepatitis B and breastfeeding, dari situs WHO.
- Hepatitis B, dari Mayoclinic.
- Hepatitis and Breastfeeding, dari situs Dr. Sears.
- Infectious Diseases and Specific Conditions Affecting Human Milk, dari CDC (Centers for Disease Control and Prevention).
- When should a mother avoid breastfeeding?, dari CDC.
Selamat menyusui, mbak Fitri.
Ngomong-ngomong, kita senasib
[…] That’s a big hope, though we can still find many fault in practices. Oh well, we can’t rely everything on the government’s hand of course. At least, maybe not for this time. Therefore, we shall do what we can to support the act. And this is one of my support. What’s yours? […]
Litaaaaaa!!!!
aiiiihh gak nyangka nemu blognya Lita.. gak nyangka jg Lita dah jadi ahli kesehatan anak.. cie cie… Lit.. ntar aku belajar yaaaa
Email2 japri dong…
lita kamu itu teryata cukup perhatian ya soal ama anak2 (good mothering ability) hehe,tp gw stuju dengan komentaaaar kamu,
oh ya salm kenal dari me
by rauf
huebbbaaat, mba’eee…!!! acung 2 jempol tangan!!! (pengennya kaki ikut juga, tapi takut bau
)
(edan! ;D tapi mungkin itu yg bikin aku cinta dia…ehm… ;P)
mba’, suamiku week-end sebelum puasa baru aja ‘debat kusir’ sama SPG susu formula soal susu UHT utk balita >1 thn, sampe pake acara suamiku ngejar SPG tsb krn merasa penjelasan belum selesai
udah gitu pake di-unek2x-i (apa ya bhs indonesianya???) ‘gila’ pula di belakangnya…tapi si aa’ mah cuek beibeh.
i wish i could have his (& your) courage mba’…
keliatannya aku masih harus banyak belajar (terutama belajar berani konfrontasi face-to-face ;P)
Bu, gimana jika masalahnya adalah asi tidak mencukupi?
soalnya istri saya punya anak laki2 (udah anak kedua) tetep aja harus nyambung.Minumnya banyak banget. Tapi kalo saya amati nyambungnya banyakan daripada asi-nya itu sendiri.
kira2 20% asi dan 80% susu kaleng.
Saya udah coba segala hal baik dari obat sampe kebiasaan hidup istri, tapi hasilnya gak signifikan.
Padahal saya pengin banget anak2 dapet asi ekslusif.
Mungkin ibu bisa bantu?
Thanks
Tingtung
Yang pertama harus dicari tahu adalah kenapa ASI tidak mencukupi. Pada dasarnya, ASI tersedia atas dasar permintaan. Semakin sering dihisap (atau dikeluarkan/diperas), semakin banyak produksinya. Jadi jika bayi minumnya banyak, seharusnya persediaan tetap cukup.
Tentu saja ini bukan tanpa syarat. Ibu harus makan dengan jumlah dan nutrisi yang memadai, walau secara alami nutrisi akan didahulukan untuk bayi ketimbang untuk ibu.
Lain halnya dengan keadaan tidak normal atau anomali. Hal ini dapat terjadi jika ibu mengalami masalah hormonal, kelainan genetik, atau sedang dalam terapi/pengobatan tertentu yang dapat menghambat produksi ASI.
Jadi saran saya, coba konsultasikan dengan dokter spesialis kandungan (atau dengan rujukannya dapat menemui endokrinolog), untuk memastikan tidak ada masalah pada tubuh.
Jika tubuh dalam kondisi normal, berarti penyebabnya ada pada sisi lain. Mungkin nutrisi cukup, gaya hidup sehat dan tidak memaksa diri untuk langsing (sehingga minum obat-obatan tertentu atau mengurangi makan), tapi jika kondisi kejiwaan kurang mendukung, produksi ASI juga tidak optimal.
Coba untuk menciptakan suasana santai dan menenangkan hati sebelum menyusui. Jangan pikirkan produksi ASI yang sedikit, nanti malah jadi tambah sedikit.
Suami juga bisa mendukung istri dengan cara ‘menemani jiwa’ istri, mendukung dan meyakinkannya bahwa istri mampu menyusui. Bagaimanapun gombal kedengarannya, kalau istri jadi senang dengan dirayu, ya dirayulah hehehe… (eh ini serius lho).
Sekarang sudah ada istilahnya untuk para suami yang mendukung dan memperjuangkan pemberian ASI bagi anaknya: breastfeeding father. Bapak bisa mencari informasi yang lebih lengkap dengan menggunakan fasilitas mesin pencari. Maaf saya belum pernah membahasnya secara khusus.
Semoga membantu
Hello,
ASI memang yg terbaik, tetapi perlu diingat bahwa sang IBU yg sumber ASI pelru juga diberi makanan yg pantas dan dg demikian menjadikan kandungan ASI cukup bagi sang anak.
Ketika menginjak 6 bulan, cadangan bawa lahir zat besi anak langsung drop ke boleh dibilang zero, alias terpaki semuanya, sedangkan zat besi yg dikandung ASI boleh juga dikatakan sangat sedikit, sehingga mau dan tdk, sang anak perlu diberikan makanan tambahan.
Apabila makanan tambahan merupakan makanan olahan pabrik, maka sangat disayangkan bahwa pemberian ASI selama 6 blan pertama kemungkinan akan menjadi kurang bermanfaat, dikarenakan makanan yg masuk kemudian akan menjadikan tubuh anak melakukan berbagai perbaikan yg semestinya tdk dilakukan dan hanya melakukan pertumbuhan.
Oleh karena itu, makanan2 segar, yg sedapatnya non gluten lebih berguna diberikan, dg berimbangnya kebutuhan baik, minyak, karbo, protein, vitamin n mineral.
Banyak Ibu2 yg menganggab bahwa minyak tdk baik diberikan pada babynya, pada hal utk pembentukan otak dibutuhkan minyak baik jenuh mau pun non jenuh, so bijaksanalah memilih menu dan produk, karena itu demi masa depan sang anak tercinta.
Semoga ada manfaatnya,
Wassallam,
Donny
Ya betul.
Bagaimanapun, ASI eksklusif 6 bulan tetap yang terbaik untuk diperjuangkan.
Terimakasih
Dear all…..
Wah serem juga ya,jadi mikir panjang nih, saya lagi hamil anak pertama 4 bulan lebih dan sekarang lagi nyari2 referensi tempat untuk melahirkan. setelah membaca hal diatas saya jd takut melahirkan di RS, saya ga mao anak saya dikasi susu formula. Ada yang tau klinik/bidan yang bagus didaerah sekitar tebet, manggarai, menteng dalam, pancoran? karena saya tinggal di menteng dalam.
Lisda
Mbak Lisda, ngga semua RS tidak ramah pada ibu-anak kok. Sebaliknya, ngga semua bidan terjamin tidak akan memberikan susu formula pada bayi baru lahir. Intinya, bukan soal di bidan atau di RS, tapi bidan atau RS YANG MANA
Ada yang bisa membantu mbak Lisda? Nanti kalau saya dapet infonya, saya kirim ke mbak, japri saja ya.
mbak lita,..mau juga dong klinik or rs yg sayang ibu dan bayi, aku tinggal daerah bekasi barat (pekayon)
aku jg expecting nih, anak ke 2 sih,..wkt anak pertama kecolongan, di bidannya anak ku dikasih susu botol,..sebbel.. sebbell!! untung aja pas di rumah asi ku keluar,jadi aku bisa eksklusif 3 bulan.. trus pas kerja sempet aku perah,.. tapi krn frekwensi perah yg kurang banyak, produksi asi juga jadi berkurang.. akhirnya ya..formula deh..
lo kok jd curhat? intinya anak kedua ini aku mau ikut milis sehat aja. asi is the best!!
Hi mba lita…
ketemu lagi kita disiniii…(selain milis sehat yaah)
BRAVO BREASTFEEDING !!!
Terharu plus bersyukur…
makin banyak teman2 yg mengulas ttg mslh ASI vs Formula…
Untuk new Parents, smoga smakin banyak yg menyadari :
*menyadari pahala & kebaikan dgn menyusui,
*menyadari penting nya ASI,
*menyadari HAK bayi baru lahir adlh ASI,
*menyadari bahwa makanan&nutrisi sang bayi insyallah terdapat smua di tubuh sang ibu GRATIS, PRAKTIS, HEMAT.
*menyadari betapa ‘jahatnya politik’ diluar sana, shingga menjauhkan bayi2 dan seluruh anak di indonesia utk mendapatkan HAK ASI, dgn iklan terselubungnya.
*menyadari ikatan bathin/bonding anak yg tak ternilai …
Amiiiiieen …..
salam knl,
love,
alida
Dini
RS Hermina Bekasi atau RS Haji di Pondok Gede bisa dicoba, mbak.
Alida
Salam kenal juga, mbak Alida.
Berjuang memang butuh teman dan dukungan
gmn ya mbak lita, supaya aku bs dpt artikel2 yg bagus ttg ASI vs Formula ini?
bnr kata mba lita, kekuatan blog mgkn bs membantu kita semua tuk melancarkan /membangkitakan smngat ASI ekmbali yg sempat turun drastis . mohon dibantu ya mbak…
klo ada artikel yg bs saya posting ulang di blog saya, tlg kabari saya ato email ke saya ya mbak…
thnx a lot … smoga apa yg kita lakukan berguna utk orang banyak…amiien…
Alida
Dapet artikel? Coba tanya Google dulu, atau untuk permulaan yang bagus bisa didapat dari situs-situs di banana’s links bagian health-connected.
Artikel diposting ulang? Artikel siapa nih?
Di milis sehat ada sekumpulan file yang bisa dibaca. Bagus-bagus tuh. Atau di web sehatgroup. Di sana lebih lengkap lagi.
Kalau saya sih tidak keberatan jika tulisan saya dimuat, asalkan mencantumkan sumbernya. Minimal tidak diklaim sebagai milik :p (lagi anget nih isyunya)
Salam kenal Mbak Lita,
Mohon informasi diet makanan yang pas untuk ibu menyusui, agar asinya bisa keluar banyak dan tidak perlu ditambah susu formula.
Terima kasih.
Mba, nanti saya kenalkan sama calon istri saya saya (*mode malu-malu on*)
Dia suka kemakan promosi buangget!
Nomo
Salam kenal juga, pak Nomo.
Tidak ada diet khusus ibu menyusui, selain pola makan sesuai piramida makanan dan menjaga gaya hidup sehat.
Susu khusus tidak diperlukan, susu cair biasa sudah cukup. Suplemen juga tidak diperlukan, asalkan pola makan dijaga dengan baik.
Jumlah makanan tidak harus dua kali lipat. Peningkatan 1,25 kali dari jumlah yang biasa, secara umum sudah mencukupi.
Selengkapnya, sila dikonsultasikan dengan dokter kandungan yang dipercaya.
Selain itu, jaga kondisi hati sebisa mungkin selalu nyaman dan tenang.
Dukungan dari keluarga (terutama suami) sangat penting. Temani istri dengan menjadi ‘breastfeeding father’ yang mesra
ManusiaSuper
Awwww… ga usah malu-malu gitu lha
Coba sering-sering main ke sini, biar bisa sharing sama yang lain
wah hebat !!!!
wah pengen juga dong punya bayi
Mbak… saya baru liat-liat nih web-nya (and also has red your husband’s web). Prinsip saya pribadi (ajaran suami juga), kita harus menghargai setiap orang dari berbagai profesi&latar belakang. Mereka (para SPG) cuma kerja lho, dan mereka ditugaskan untuk sell the products as much as they can (eventhough they’re not really understand the products). Tentu aja sebagai org yg bertanggungjawab mereka akan berusaha semaksimal mungkin, kalo nggak mereka bakalan keilangan mata pencarian. Karena sayapun ibu yg bekerja dan menjalankan profesi saya dg penuh tanggungjawab, itulah yang jadi pertimbangan kami. Sering juga ktmu promosi dg SPG yg “gigih” begitu, saya dan suami tetep dengan ramah berprilaku bgini :
SPG : Wah anaknya lucu ya, bu? (terserah, tulus gak tulus, itu urusan dia)
Saya : Makasih Mbak…(tulus abis)
SPG : Umurnya berapa bulan, bu? susunya apa ?
Saya : X bulan (tergantung saat itu berapa bulan), susunya ASI excl dr lahir.
SPG : Lho kan ASI sudah tidak mencukupi lagi, bu, di usianya yang sekarang? Coba susu formula ini
bu…bla..bla..
Saya : Nggak mbak, terimakasih, anak saya belum perlu…makasih ya mbak…
*Kalo SPGnya ngotot terus tinggal bilang : Mbak, makasih banyak lho infonya (pasti banyak penjelasan yg telah dia kasih), tapi untuk saat ini anak saya belum perlu ya…makasih sekali lagi…
*Kalo SPGnya minta data pribadi (Telp,nama,alamat,dll) saya bilang : Maaf mbak, saya ga bersedia, terimakasih sekali lagi.
Jurus ini selalu saya terapkan, selain ampuh, juga tidak menyakiti hati SPG yang jg manusia yang kerja. Ga perlu lah kita kasar atau ketus, selain menyakiti hati mereka, musing-musingin diri sendiri juga.
ASI excl is the best…100% benar, Saya udah buktikan. Sekarang kita jgn mempersalahkan SPG ato produsen susu dong, para ibu ato calon ibu yg harus mempersiapkan diri dg baik supaya begitu melahirkan, ASI langsung lancar, jadi ga ada alasan buat Dokter/suster memberi susu formula. Jangan cuma tekad aja, tapi juga correct treatment during and after pregnancy pada payudara dan kesehatan ibu sehingga dapat menyusui dengan baik dan benar. Kita ga bisa dong paksa SPG u/ ga nawar2in produk ke orang, itu mah menghilangkan mata pencarian, apalagi mengharapkan SPGnya tau ilmu kesehatan atawa nutrisi….Beraattt. Ibu-ibunya aja ya yang tambah ilmu biar bisa pilih yang mana yg terbaik u/ baby.
Say no to Susu Formula ? Ga juga tuh….Saya tetep sedia susu formula di rumah untuk jaga-jaga kalo saya lagi ga available u/ nyusuin (lagi sakit parah misalnya…or s’thing yg terjadi scr tiba2). Susu formula juga helpful banget buat mereka yang ASInya ga keluar (makanya bu… treatment lah selama hamil, makan bergizi yg banyak, gendut dulu ga apa-apa lah…), atau buat ibu yang memang dilarang menyusui oleh dokter karena suatu hal. So…jgn terlalu kaku lah…be flexible gitu lho mbak…
Thx ya boleh sharing…sorry kalo kpanjangan…
Terimakasih sharingnya, mbak Gita
Satu. Saya tidak pernah mengatakan “say no to susu formula”. Yang saya tentang adalah promosinya, bukan produk itu sendiri. Saya tidak punya dendam apapun terhadap susu formula, kok
Bahkan ketika saya sudah menyatakan bahwa saya menyusui, saya tetap ditawari. Ini pelanggaran kode etik pemasaran produk pengganti ASI yang berlaku secara internasional.
Si mbak SPG mungkin tidak tahu, dan teman-teman lain juga bisa tidak tahu. Tapi saya tahu.
And it matters. Itulah mengapa saya berbagi pengalaman ini.
Dua. Saya tidak merendahkan SPG. Tidakkah saya bilang bahwa saya tidak mencela profesi mereka? Saya sepenuhnya mengerti bahwa mereka hanya mengerjakan bagian pekerjaannya. Yang sungguh saya sesalkan adalah mereka tidak diberi pengetahuan berimbang, apalagi tentang peraturan untuk tidak menawarkan produk PASI kepada ibu yang menyusui.
Apa yang saya katakan dalam hati murni benar-benar karena terdesak, karena anak saya sudah kelaparan sementara antrian masih panjang. Mbak tentu mengerti bagaimana gelisahnya saya waktu itu. Dan saya juga tetap berusaha sopan. Ketika saya rasa penjelasan saya hanya akan menyulitkan SPG tersebut, saya memilih diam dan senyum saja.
Sila dibaca ulang, saya tidak mengatakan apapun yang tidak sopan, kalaupun berpotensi menyinggung itu hanya saya ucapkan dalam hati.
Tiga. Saya tidak merasa terlalu kaku, hanya mempertahankan hak. Berusaha tegas
Kaku itu memang bisa tampak relatif. Bagi mbak yang memilih untuk tetap sedia susu formula, saya bisa tampak kaku.
Bagi ibu-ibu yang tidak ingin memberikan susu formula, produsenlah yang tampak kaku. Tampak berusaha memaksa, dengan bujuk rayu, telepon-telepon, kiriman, hadiah, dan segala macamnya. Tergantung dari sudut mana memandangnya. Tak cukup produsen, seringkali keluarga dekat, teman, dan saudara juga ikut membujuk, dengan dalih bahwa ASInya tidak akan cukup, kasihan anaknya.
Empat. Menyusui dan memberikan susu formula adalah keputusan pribadi. Karena itu saya berharap semua pihak bersedia menghormati pilihan yang telah dibuat oleh masing-masingnya. Memilih memberikan susu formula ya monggo… Saya tidak merasa pernah membujuk atau memaksa ibu lain untuk menyusui secara eksklusif. Jika mereka ingin, saya senang sekali membantu. Paling jauh yang saya lakukan hanya bertanya apa sebabnya.
Mau memberikan ASI eksklusif, ya mohon di-monggo-kan juga, jangan diutik-utik dan diiming-imingi. Pun jika masa 6 bulan (pertama, eksklusif) telah lewat.
Lima. Kondisi khusus hampir selalu ada dan mungkin. Karena itu saya tidak mengajak memboikot susu formula. Saya sadar betul sebagian kecil ibu tidaklah beruntung, dan tidak mampu menyusui selama dan sebanyak yang dibutuhkan anaknya.
Maaf jika penjelasan saya tidak berkenan. Terimakasih sudah mampir ke mari, mbak Gita.
Wah…senengnya langsung ditanggapi…Mbak Lita ini punya pengetahuan yg banyak n cukup komplit juga tentang kesehatan dan baby…Saya suka deh, semua pnjelasannya sangat ilmiah tapi gampang dipahami (soalnya byk personal web yg ngomongnya ngarang getoh…). Saya seneng deh hari gini masih ada ibu-ibu yg smangat bgt kampanye ASI excl. Secara saya juga menerapkan ASI excl dg susah payah (kerja juga bo…)dan dgn segudang pertentangan terutama dari mertua & org tua…Tapi Alhamdulillah dg tekad yg kuat program ASI excl berhasil dg sukses (walo harus gontok2an dg mertua), bahkan sampai skrg Chabilla-ku umur 13 bulan, do’i ga minum susu formula kalo ga terrrpakksssa baaaangeeetttt (dianya sndr yg nolak, enakan ASI kali yeee).
Maksud daripada comment saya adalah tidak u/ dbat kusir, saya cuma ga setuju dg persepsi negatif thd org lain (apalagi yg blm kta knal such as SPG). Anyway, terserah mbak lah…Tapi kesan keseluruhan yg saya tangkap dari tulisan mbak adalah ketidaksukaan mbak yg amat sgt (sorry kalo salah tangkep) terhadap promosi susu formula terutama promotornya (ya..SPGnya).
Secara keseluruhan saya setuju bgt dg tulisan mbak, cuma satu masalah aja, jgn mempersalahkan SPGnya…kasian kan ?!Gimana kalo tegurannya lebih ke produsennya mbak ? Karena mereka tuh yang mententir SPG dan mengarahkan gimana cara ngebujuk orang. Mungkin mbak harus bikin tulisan ttg gimana sih baiknya produsen susu formula mempromosikan & memasarkan produk (dari sisi keinginan konsumen tentu) & juga gimana etika menawarkan produk yg baik…Dan yg paling pnting adalah bagaimana memberi pengertian kpd sekeliling kita (trutama org tua,mertua,pasangan,pmbantu,dll) kalo ASI excl adalah the best thing, tanpa harus bersitegang (kayak aku).
Mbak, thx a lot ya, aku boleh mampir, ditunggu tulisan yg aku request tadi. Pokoknya hidup ASI-lah…Saluuuttt…
Ah, mbak ngga ngajak debat, kok. Hanya mungkin kesan yang tertangkap dari tulisan saya memang begitu
Bukan untuk mencari alasan, tapi sepertinya ada pengaruh dari sifat saya yang cukup judes dan tidak mudah percaya. Maaf kalau kesan dari kata-kata saya jadi ‘misleading’
Ngga ada masalah suka-tidak suka dengan pribadi SPGnya kok. Saya akui, mereka amat sangat gigih.
Ketika saya sedang membeli satu produk sereal, saya ditanya-tanya, katanya untuk data. Saya menolak, dengan alasan privasi (saya memperkirakan ujung-ujungnya akan ditelfonin sama produsen). Walah, banyak yang ngga terima penolakan ya, padahal waktu saya tanya tentang tujuan dan data itu akan diapakan mereka juga menolak untuk memberitahu (menolak, bukan karena tidak tahu, karena mereka bilang ‘wah saya ngga bisa bilang’).
Kan kurang adil, ya :p
Iya, dengan tulisan ini saya memang bermaksud menegur produsen. Ya bagian promosi. Sedangkan SPG kan hanya ujung, end-line. Bisa jadi mereka ngga tau apa-apa. Atau tau, tapi ngga boleh bilang apa-apa. Repot di SPG, repot di konsumen. Produsen yang kalem-kalem aja. Yeee… *lho kok saya jadi sewot hehehe…*
Soal promosi, hmmm… saya yakin produsen sudah tahu kode etiknya lho, mbak. Makanya mereka tidak berpromosi langsung ke ibu-ibu yang melahirkan, tapi melalui perawat di ruang bayi, dokter, dan jawatan rumah sakit. Saya tidak menuduh tanpa dasar yang jelas. Nyatanya demikian. Walaupun saya bilang bahwa saya akan memberi ASI eksklusif, ada saja alasannya untuk memberi susu formula ke bayi.
Dari sisi keinginan konsumen, hmm… ini bisik-bisik dulu ya, mbak. Kabarnya sedang digodok RUU tentang promosi dan pemasaran susu formula. Dengan ini, diharapkan, produsen nakal yang memanfaatkan celah ketidaktahuan pasien dapat ditindak secara hukum dan mendapat sangsi, ketimbang hanya teguran seperti yang selama ini dilakukan pemerintah.
Teguran doang ngga ngaruh, deh. Beneran. Dari sharing temen-temen, sampe hari gini juga tetep aja ada yang ditelponin produsen PASI atau makanan bayi. Padahal ya sudah menyatakan penolakan. Teteeeeuuupp aja ditelpon. Serasa punya utang dan dikejar-kejar debt collector deh hehehe….
Soal menawarkan produk, hehe… Saya ngga menguasai promosi dan penawaran sama sekali, mbak. Saya pilih jadi ‘tukang protes’ aja. Menilik celah-celah yang disusupi para produsen untuk mengakali (kalau ngga boleh dibilang maksa) calon konsumennya.
*ih, kok jadi gemes sendiri ya…*
Sering-sering mampir boleh lho, mbak
Senang dapet sharingnya. Mungkin lebih asik lagi kalo kita ngobrol langsung