Ngga cuma jaman hamil aja, ibu2 (Jawa) yang punya bayi juga dikelilingi dogma2 yang kurang jelas.
Misalnya tentang hidramnion atau yang orang bilang kembar air. Ini julukan untuk ibu dengan air ketuban yang ekstra banyak. Katanya sih, karena suka mandi malem. Jadi, perempuan Jawa yang lagi hamil dilarang mandi malem-malem (definisi malem itu adalah setelah Maghrib). Menurut DSOG-ku, hidramnion biasanya terjadi pada kehamilan bayi prematur, ketika siklus cairan antara janin dan ketuban ngga lancar sehingga terjadi penumpukan cairan di rahim. Dan fakta yang paling penting; penyebab hidramnion ini tidak diketahui. Ngomongs, selama hamil Daud aku sering mandi rada malem (seringnya menjelang Isya, ato jam 21 bisa dibilang malem kan?) tapi jumlah air ketuban ternyata biasa-biasa aja.
Suatu siang, temen ibuku dateng ke rumah pas aku abis nyusuin Daud. Beliau lihat aku minum air dingin (a.k.a air yang disimpen di kulkas), trus dikomentari, "Kok minumnya air es? Nanti bayinya pilek lho!". Berhubung aku ngga denger, ibuku menjawab untuk aku, "Ngga papa, dari jaman emaknya dulu juga udah gitu kok." Faktanya, sampe detik ini Daud belom pernah pilek. Mau dapet virus darimana, di rumah ngga ada yang pilek kok. Lagian, yang minum kan ibunya. ASI kan temperaturnya cenderung konstan, sesuai suhu tubuh si ibu. Jadi gimana hubungannya ama bikin bayi pilek?
Trus, bayi yang ngga dibedong (ato digedong? ya itu lah pokoknya, sekujur badan bayi dibalut kain jadi yang bisa gerak cuman kepalanya doang) katanya nanti kakinya bengkok. Lalu bayi juga harus pake gurita, biar ngga kedinginan dan perutnya ngga gede. Wah, duh.. Aku sering kasian kalo liat bayi dibedong, dipakein gurita pula, kayanya sesak deh. Udara Jakarta panas ginih, rasanya kok ngga ada alasan bayiku bisa kedinginan (kecuali kalo lagi hujan deras dan bayi ngga dipakein baju hehe..). Biarlah tangan dan kakinya bisa bergerak bebas, jarinya bisa megang tangan ibu/ayahnya, dan perutnya bisa menampung ASI sekenyang dia suka. Perut gede kan tergantung aktifitasnya kelak. Ibrahim ngga dibedong dan pake gurita cuma pas tali pusarnya belum puput (biar tali pusarnya gak ‘berlarian’ ke mana-mana). Toh baik-baik aja… Langsing, perutnya OK, dan kakinya juga lurus
Dulu setelah melahirkan Ibrahim di Solo, hampir tiap ibu yang dateng berkunjung (istilahnya sih tilik bayi) berpesan supaya aku makan marning. Buat yang ngga tau, marning itu jagung pipilan yang dikeringin trus digoreng. Katanya bisa bikin ASI banyak. "Ha…?" *alisku naik* Makanan cemilan yang isinya karbohidrat doang gitu kok dianjurkan jadi konsumsi utama sih? Alih-alih makan jagung yang kerasnya bikin gigiku merana itu, aku minum air rebusan kacang ijo, kacang-kacangan lain (kacang merah, kacang polong, dll), sayur yang banyak (favoritku: bayam! nyamm… Buat ASI, ngga cuma daun katuk doang lho!) dan tak lupa susu (susu segar rasa coklat.. yummy!).
Yang ngga kalah seru juga, ibu2 (atau nenek2 wannabe) yang dateng nengok Ibrahim suka minta talk ‘bekas pakai’ (maksudnya yang udah dituang ke tempat talk yang biasa dipake anakku). Buat apa? "Biar ‘ketularan’ punya anak" (ato buat dikasi ke anaknya/mantunya,dengan alasan yang sama). Jadi nanti talk yang diminta itu dioleskan ke perut sang ‘mom wannabe’. Masya Allah.. Asli aku bengong2 pas pertama kali tau. Darimana hubungannya talk sama hamil? Ada-ada aja dunia ini. Untunglah ini Jakarta, gak ada yang mintain talk-nya Daud. Lagian Daud ngga pake talk kok hihihi… Kayanya soal mitos-mitos, sampe sini dulu. Ada yang mau sumbang cerita?



iya Naila juga ga pernah dibedong, cuma dibungkus aja kayak amplop gitu. Ibu mertua sebenernya prefer dibedong, tp krn kita pisah kota, ya aku ga perlu banyak2 berkompromi
Kebudayaan jawa memang aneh tapi luhur.
Tapi semua berbasis dan bertujuan pada kebaikan. Budaya sendiri akan lebih baik dilestarikan asal mesih sesuai dengan norma2.
Coba lihat bayi2 yang masih di pelosok2 desa, saya berani jamin kebanyakan dari mereka lebih sehat2 dan kuat daripada bayi2 dari kota.
Juga bisa diambil hikmah, bahwa segala sesuatu berakar dari keyakinan. Untuk masalah talk, itu hanya utk meningkatkan keyakinan di samping tetap berserah padaNya.
Islam dan budaya arab, mohon bisa dibedakan. Islam adalah Islam. Arab adalah budaya. Membaur.
Demikian juga islam masuk ke jawa, membaur.
Demikian masukannya. Semoga menambah pengetahuan dan bermanfaat.
Mas Anang yang baik,
saya menghargai mereka yang memelihara budaya.
Izinkan saya untuk berbeda pendapat.
Betul, Islam adalah Islam. Justru itu, baurannya terhadap kehidupan suatu masyarakat seharusnya tidak membuat penganutnya membuat ritual yang tidak diajarkan dalam Islam karena soal ibadah mahdhah semua telah diajarkan.
Islam adalah Islam, Jawa adalah Jawa, dan kejawen adalah kejawen. Tiga hal yang berbeda.
Meningkatkan keyakinan pun tidak harus ditautkan pada benda. Memang lebih mudah untuk ‘berpegang’ pada sesuatu yang solid, dan disitulah kecermatan kita diuji.
Tidakkah menautkan kepercayaan pada sesuatu (dengan alasan menambah keyakinan) seperti membubuhkan talk itu sangat rentan syirik? Menganggap pemberian Tuhan perlu diperantarai benda? Ini tidak sama dengan berkonsultasi ke dokter (misalnya), mencari tahu apakah ada yang ’salah’ atau mengusahakan inseminasi buatan demi mengusahakan bertemunya dua sel manusia.
Saya pun tidak mencemooh kehidupan desa. Hanya saja, jika ilmu dan teknologi yang makin maju memberi bukti yang berkebalikan dengan yang selama ini diyakini (bahasan ini di luar topik agama), tidakkah lebih baik kita ambil yang mutakhir? Dan berpegang pada landasan ilmu yang lebih jelas?
Bukan soal desa atau kota, tapi dasar ilmunya atas hal yang dilakukan.
Terimakasih atas masukannya.
menurut saya mitos jawa itu baik tapi kita kan hidup di jaman yang modern jadi kita kan bisa berpikir secara logis, kira-kira mitos itu benar tidak dan apa dampaknya buat kedepan nanti.
sekarang semua tergantung gimana cara berpikir orang tentang mitos itu sendiri,lagian beda kepala kan beda juga isinya.