Selamat Tinggal Kancil
Cerita: Definisi Siapa?
Ketika masih kecil dulu, nenek biasa mendongeng sebelum saya tidur. Semua ceritanya -sepertinya- berakar dari kebudayaan Jawa. Semacam Timun Mas (duh, barusan yang keinget kok jadi timun suri yak?
), Bawang Merah & Bawang Putih (eugh, sinetronnya jelek banget!), dan lain-lain. Tak sampai kelas 4 SD, kebiasaan itu pupus sudah. Tak ingat mengapa.
Waktu berlalu, kini giliran aku yang menjadi orangtua. Kalau dengar cerita orangtua lain yang membacakan cerita sebelum anak-anaknya tidur, biasanya aku cuma nyengir. Dua balita ini lebih tertarik untuk mengeksplorasi buku yang kupegang ketimbang mendengar ceritaku. Ibrahim punya favorit "A 60-flaps book" seri City (kebetulan dwibahasa), sedangkan Daud (baru) punya buku What Colour am I?
Tapi ketika sedang berlibur ke Solo kemarin, aku tersadar. Bahwa pengantar tidur anak tak harus cerita berbentuk dongeng. Apa saja asalkan asyik didengar dan bisa dinikmati anak akan dianggap 'dongeng' untuknya. Bukankah kita sendiri yang mendefinisikan cerita pengantar tidur bentuknya 'harus' dongeng'? Dan dongeng itu 'harus' berupa cerita fiksi?
Gila Kereta
Ibrahim sangat suka (kalau belum boleh dikatakan 'tergila-gila') pada kereta api. Pokoknya yang tampak seperti gerbong dan beroda banyak, itulah kereta api baginya (dan namanya harus kereta api, gak terima ada istilah trem
).
Bangun tidur, sudah bilang ingin lihat kereta api. Siang-siang, minta diajak lihat kereta api. Malam menjelang tidur, 'review' ingatannya tentang kereta api. Orang dewasa serumah sampai bosan dengar kata kereta api, tapi ya diam saja tak pernah protes.
Kalau isi kardus mainannya dikeluarkan dan dijejer, isinya hanya 3: kereta api (lokomotif, gerbong, dan relnya; kereta barang, kereta penumpang, apa aja deh), building brick, dan kendaraan beroda ≥ 4 (mobil, truk biasa, truk tangki, truk gandeng, kontainer, bus, trem). Waktu iri karena lihat temannya dibelikan pesawat terbang, alih-alih minta pesawat terbang juga, dia malah memilih kereta api.
Kereta api favoritnya adalah kereta api kluthuk alias kereta api uap. Roda yang unik, cerobong yang mengeluarkan asap, suara gejess gejesss, dan penampakan lokomotifnya yang secara keseluruhan -IMO- memang lebih menarik ketimbang lokomotif kereta disel apalagi KRL dan monorel.
Buku 60-flaps-nya juga yang pertama (dan paling sering) dibuka adalah bagian Transportation yang memajang gambar kereta api atau Downtown yang bergambar trem. Berlama-lama di satu halaman, memaksa orangtua yang 'available' untuk bercerita tentang isinya. Doh… jadinya cerita kereta api mulu!
Dongeng untuk Ibrahim
Ini cerita sewaktu di Solo. Suatu malam, ketika bunda sedang asyik dengan setumpuk cucian yang harus diseterika, tak sengaja terdengar (selanjutnya disengajakan nguping) dongeng mbah kakung untuk Ibrahim. Kira-kira begini.
Ibrahim tadi sore lihat kereta api kan? Relnya panjaaaang sekali, ya? Yang mengemudikan kereta api itu namanya masinis. Masinis ada dua orang, yang satu itu masinis, satunya lagi asisten masinis. Ada dua orang, supaya kalau yang mengemudi ngantuk bisa digantikan yang lain. Kalau semua orang tidur, keretanya nggak nyampe ke Jakarta (haha… ).
Ibrahim senengnya kereta api kluthuk kan? Kereta api kluthuk itu digerakkan dengan uap. Sebelum berangkat, keretanya diberi minum banyak sekali. Airnya disimpan di ketel, lalu dipanaskan untuk menghasilkan uap. Uapnya menggerakkan mesin, jadi lokomotifnya bisa jalan.
Dan seterusnya. Aku tak ingat lagi. Yang jelas, bahkan istilah yang diceritakan mbah kakung pun ada yang baru kudengar. Maklum, lihat kereta api kluthuk pun belum pernah. Apalagi sampai tahu mekanisme kerja dan rincian mesinnya
Dongeng untuk Daud
Daud yang masih belum bisa bicara belum bisa mengajukan topik, jadi cerita ayah atau bunda ya ngelantur ke sana-sini. Suka-suka yang ngomong. Ayah paling suka cerita yang aneh-aneh, misalnya teori matematika atau menjelaskan istilah-istilah rumit. Sedangkan cerita bunda lebih acak lagi. Misalnya begini.
Prolog
Suatu hari (juga ketika sedang liburan di Solo, pasca sakit) Daud sedang tidak mau makan. Paling hanya 2-3 suap sendok kecilnya makanan yang mau diterima, setelah itu mulutnya ditutup rapat-rapat. Minum paling hanya satu-dua teguk. Buah hanya satu-dua gigit. Jus buah cuma sehirup. Biskuit cuma mau setengah cuil (halah, gimana coba).
Intinya bunda pusing (sampai sakit kepala segala). Bagaimana mau pulih kalau makan saja tidak mau. Dipaksa pun tak mau buka mulut. Untunglah menyusunya macam kereta api kluthuk saja, yang asapnya tak putus-putus
Malamnya, sambil menyusui, bunda curhat.
Daud, anak bunda, bunda sayaaaang sekali sama Daud. Bunda menyesal sekali hari ini sudah memaksa Daud untuk makan. Maafkan bunda, ya? Bunda tidak bermaksud egois, bunda hanya khawatir. Bunda bisa mengerti kalau Daud tidak bernafsu makan ketika sedang sakit. Tapi sekarang kan sudah sembuh, sudah tidak demam lagi, dan bercak merahnya sudah menghilang (cerita bagian ini belakangan saja, ya?)
Bunda benci harus memaksa memasukkan makanan ke mulut Daud. Bunda tidak suka melakukannya karena bunda tahu Daud pasti tidak suka dipaksa. Karena itu mulai besok bunda tidak akan memaksa Daud makan lagi. Kalau Daud mau, bunda suapi. Tapi kalau Daud tidak mau makan ya sudah. Terserah Daud saja.
Dengarkan baik-baik ya, nak. Daud harus makan supaya cepat pulih. Supaya bisa main lagi sama mas Ibrahim dan jalan-jalan sama mbah kakung. Kalau cepat pulih kan enak, tidak lemas lagi dan Daud bisa apa-apa sendiri. Turun sendiri dari tempat tidur dan ke mana-mana sendiri, tidak harus digendong seperti sekarang.
Makan apa saja boleh. Nasi, kentang, jagung, biskuit, roti, singkong, makaroni, apa aja deh, bunda kasih. Kalau lapar, makan ya nak. ASI saja sudah tidak cukup untuk badan Daud. Daud sudah harus makan. Jadi mulai besok, kalau lapar dan mau makan, mulutnya dibuka besar-besar ya? "AAaaa", gitu. Ngga mingkem lagi. Kalau sudah kenyang atau tidak suka/mau, tinggal geleng-geleng aja. Tidak perlu marah-marah atau menangis. Ya?
Sekarang mimik yang banyak, ya. Habis itu tidur yang nyenyak supaya besok pagi bangun badannya segar. Setelah itu mandi, ma'em, trus main. Ya, sayang? Bunda sayang Daud. Mmuaaah…
Di kali lain, bunda bercerita tentang perjalanan (jika hari itu jalan-jalan), kucing, mainan, koran, pohon, buku, ensiklopedi, apa saja jadi. Intinya, kata kunci bercerita (kapanpun itu) buat bunda adalah APA AJA
Asalkan tidak mengajarkan berbuat tidak baik dan berguna disimak (tidak sia-sia, gitu lho).
Adakah orangtua lain yang mau berbaik hati padaku tentang isi cerita/dongeng untuk pangeran/putrinya?
*tolong anggap tulisan ini sebagai cicilan cerita liburan di Solo ya
*


Komen dulu, baru baca ………