Sendawa Membawa Nikmat

Buat orang dewasa, sendawa terkadang dianggap tak sopan. Tapi untuk bayi, suara sendawanya bisa mengundang tawa, sekeras apapun suaranya. *He, namanya juga bayi gitu loh, diem aja juga keliatan lucu kalee*

Di luar suaranya, sendawa ini benar-benar membawa kenikmatan bagi si empunya suara dan sekaligus ibunya. Iya, saya misalnya. Untuk beberapa bayi (entah, mayoritas kali, belum pernah survey jadi tidak bisa bilang 68% emoticon ), sendawa ini adalah prasyarat untuk merasa nyaman setelah minum ASI. Bukan bermaksud bilang bahwa bayi peminum susu formula tak perlu sendawa sih. Begini…

ASI bisa keluar apabila bayi menghisap cukup kuat. Itupun biasanya tidak keluar di hisapan pertama, melainkan di beberapa hisapan selanjutnya, tergantung seberapa penuh ‘tandon’nya (note: jumlah ASI bukan merupakan fungsi dari ukuran/besar tandon alias ibu berpayudara besar belum tentu ASInya banyak sama halnya ibu berpayudara kecil belum tentu ASInya sedikit). Apabila bayi cukup lapar, maka dia akan menghisap sekuat-kuatnya (seringkali sampai pipinya agak kempot hehe). Saat menghisap kuat ini, terdapat kesempatan besar bagi udara di sekitarnya untuk terhisap masuk ke lambung. Sesudah menyusu sampai kenyang, udara yang terakumulasi ini dapat mendesak katup lambung yang menyebabkan rasa tak nyaman. Seberapa tak nyaman? Cukuplah ribut tak jelas selama 1 jam dan tak bisa tidur sebagai gambarannya [pengalaman Daud nih].

Sedangkan apabila bayi menyusu dari botol (susu formula biasanya disiapkan di botol sih, pengecualian untuk para ibu yang meminumkan susu memakai sendok), dia tak perlu menghisap kuat-kuat. Tunggingkan (apa ya bahasa yang enak? jungkirbalikkan? hehe.. aneh) saja botolnya, maka isi dalam botol akan menetes keluar. Bahkan ketika dot sudah dipakaikan regulator, susu dalam botol akan keluar dengan mudah sehingga bayi tak perlu menghisap kuat-kuat. Dengan demikian, udara yang terhisap akan lebih sedikit.

Back to topic. Untuk mengeluarkan udara yang terhisap masuk, bayi biasanya ditengkurapkan di pangkuan ibunya (atau siapa saja yang sedang momong sang bayi). Atau kalau si ibu tidak cukup berani (takut bayi jatuh, mungkin), bayi akan digendong dengan posisi tegak dan punggung ditepuk-tepuk. Pelan, tentu saja! Sampai kapan? Sampai sendawa yang ditunggu itu keluar. Kalau tidak keluar juga? Ya sabar saja… hihihi… Dan ketika saatnya tiba, huah… wajahnya akan tampak lega, tak kalah dengan ekspresi puas setelah pup.

Memang tidak ada jaminan bahwa setelah sendawa maka dia akan tertidur pulas. Seperti dikatakan sebelumnya, sendawa ini adalah prasyarat. Jadi ‘perlu ada’ sebelum digendong, ditepuk-tepuk atau ritual lain untuk membuatnya nyaman. Tak percaya? Coba saja! emoticon