Anggur Hijau dan Airmata

Jam 21.30. Ibunda baru pulang dari pesta nikah pengusaha kapal ikan. Hmm, tempatnya aja di Hotel Mulia, tak sulit mengira bahwa makanan yang tersedia akan berlimpah ruah.

Aku yang agak capek karena Daud baru mau tidur beberapa menit sebelum ibu pulang, jadi ‘tersegarkan’ oleh-oleh pesta tadi. Dua ikat anggur hijau dan dua kue bolu. Eh, dua ikat ini kalau ditimbang sepertinya hampir 1 kg deh. Aku yang bengong lalu bertanya, "Ngga papa nih buah yang dibawa pulang segini banyak?". "Orang-orang juga pada bawa pulang kok. Buahnya aja tadi dihampar gitu, apalagi jeruk & apel, banyak banget", kata ibu.

Antara takjub dan miris. Semoga makanan di acara itu tak banyak terbuang. Semoga ada orang miskin yang ikut menikmati.

Terbayang di hati, betapa keriput kulit anak-anak yang gizinya sangat kurang. Betapa lemah gerak tubuh mereka. Betapa layu sorot matanya. Betapa keadaan itu tak pernah luput dari airmataku yang berebut jatuh. Tak peduli berapa kali stasiun TV berulang menayangkannya. Betapa pedih perasaan orangtua yang tak berdaya. Walau aku ikut sedih, pilu mereka pasti tak terwakilkan.

Ah bunda, bukan aku tidak bersyukur sudah dibawakan penganan. Hanya saja…

Yah, semoga tak ada makanan sisa bertumpuk yang basi, yang akan membuat perih  hati orangtua-orangtua itu. Semoga mereka tak tahu (?)