Asisten, Pengobat Hati dan Punggung

Kali ini tugas bercerita tentang asisten, yang dioper oleh mbak Yanti. Maaf ya, mbak, lama buanget baru disetor nih :)

Di rumah besar

Sewaktu aku masih kecil, keluarga kami punya dua asisten. Tak selalu dua, terkadang satu. Entah kenapa begitu, aku tak pernah bertanya. Yang pasti, asisten selalu menginap di rumah. Ada kamar khusus yang disediakan bagi mereka.

Hanya 1 pengalaman paling membekas dengan adanya kehadiran asisten di rumah: aku pernah ditempeleng oleh salah satu mbak itu. Entah kenapa, aku tak begitu ingat. Dasar bocah, ketimbang mengadu ke ibu aku malah diam. Takut.

Tak banyak yang kuingat, karena menjelang akhir tahun 1990 kami pindah ke rumah mungil ini. Rumah di utara Jakarta itu disita oleh bank karena ayah tak mampu membayar hutang yang ditinggalkan oleh rekan usaha yang menipunya.

Di rumah mungil

Si mbak yang ikut pindah bersama kami pun tak lama minta izin untuk berhenti bekerja. Mungkin dirasanya kami tak akan mampu membayarnya. Setelah kepergiannya, tugas si mbak kebanyakan dikerjakan ibu dan nenek. Aku bagian bantu-bantu saja, karena sejak SMP aku lebih sering pergi pagi pulang sore. Apalagi ketika kuliah, minggat ke Bandung :)

Lama kami tidak memiliki asisten. Tahun 2001, ketika ibu melahirkan adikku si bungsu, barulah dirasakan kembali butuhnya kehadiran asisten. Tugas utamanya adalah momong si bungsu, sisanya bisa dikompromikan dengan ibu dan nenek (aku masih di Bandung).

Adik paman, asisten kedua

Adik paman ipar menawarkan diri untuk menjadi asisten. Hati tenang, karena si mbak masih terhitung keluarga. Perut juga senang, karena masakannya enak hehehe… Sayang, si mbak tidak lama tinggal. Entah dengan alasan apa, beliau pamit ke kampung. Sayangnya pula, beberapa perlengkapan rumah tangga ikut dibawa :(

Mbak mungil, asisten ketiga

Setelah si mbak pergi, ibu mencari asisten baru. Lalu didapat dari kenalan yang masih keluarga jauh. Si mbak ini sempat dikagumi oleh suamiku. Bukan apa-apa, "Perkasa banget! Si ndut (panggilan adikku bungsu) segede gitu bisa dia gendong, padahal badan dia sendiri kecil!", katanya.

Si mbak ya nggendongnya sampai badannya sendiri miring gitu. Wuah, ibuku saja enggan menggendong si ndut 23 kg (sekarang sudah 29 kg di umurnya yang 5,5 tahun). "Udah bisa jalan sendiri ini", kata ibu :)

Suamiku pernah menggendong si bungsu yang ketiduran dari jalan Dago sampai ke kostku. Sampai di kamar, dua-duanya tidur deh. Yang satu karena memang ngantuk, yang satu lagi kecapekan. Eh itu sih karena jalan Dago Timur emang medannya gila-gilaan ya, yang? :mrgreen:

Karena diiming-imingi gaji besar oleh tetangga yang akan pindah rumah, si mbak perkasa ini pamit berhenti. Ya sudahlah, risiko ditanggung sendiri, yang ternyata iming-iming itu tak terbukti (kasihan si mbak). Momong si bungsu jadi bagian nenek, karena ibu bekerja (di rumah).

Mbak besar, asisten terkini

Ibu mencari lagi asisten pengganti. Seorang tetangga merekomendasikan mantan (tadinya, lalu pindah) tetangga (hihi… kaya MLM gini). Mulanya ibu tak enak, menantu tetangga dipekerjakan di rumah. Tapi si mbak meyakinkan kalau itu tidak masalah, karena memang dia yang ingin. Ternyata si mbak sudah pernah menjadi asisten di belahan RW yang lain :)

Aih, ternyata mbak satu ini lebih perkasa! Cucian segambreng dan setrikaan segunung kala seluruh penghuni rumah berkumpul (ibu, suaminya, aku, adikku tengah, adikku bungsu, suamiku, dan anakku) mampu diselesaikan sebelum jam 11. Padahal si mbak datang jam 07.30. Ckk ckk ckk…

Keperkasaan si mbak ini dirasakan penghuni rumah yang terharu kehilangan ketika sewaktu-waktu beliau izin mudik sebentar untuk menjenguk kedua anaknya di Tegal sana. Mulai sakit punggung sampai jari lecet, ada saja keluhan orang rumah. Terutama ibu-ibu ini, karena para lelaki terima beres aja :)

Si mbak ini tidak hanya hebat dalam bekerja, tapi juga dalam hal makan dan bersuara :) Tubuhnya memang besar. Makannya banyak, suami dan bibiku sampai kagum melihatnya. Suaranya juga keras, dan kalau bicara ceplas ceplos. Dasar itu memang bawaan, tak ada yang sakit hati padanya. Bahkan Daud yang kagetan pun tak pernah protes pada suara kerasnya (padahal mbah putrinya cuma bersin atau batuk saja Daud nangis karena kaget).

Seisi rumah ini ‘cinta’ sama si mbak. Terutama karena si mbak tak pernah mengeluh tentang pekerjaan, walau kalau curhat soal ‘urusan rumah’nya bisa terdengar sepanjang ia bekerja. Berbarengan dengan curhat pegawai ibu yang lain hihihi…

Sudah hampir 4 tahun si mbak membantu kami. Pekerjaannya selalu beres di akhir hari. Kalau pun ada ‘sisa-sisa’ sedikit, ya dikerjakan saja oleh aku dan ibu tanpa protes. Gimana mau protes, sengsara karena si mbak mudik seminggu aja tak terlupakan :mrgreen:
Semoga betah bersama kami ya, mbak Sani :)

Tugas bercerita ini selanjutnya kuoper ke mbak Dini ya!