Budaya Cium Tangan

Ketika anak-anak diajari dan diharapkan untuk mampu berargumentasi dengan baik, orangtua tentu sudah seharusnya berharap anak-anak akan menuntut hal yang sama dari orangtuanya. Alasan ‘pokoknya’ tidak laku. Pemberian alasan yang sederhana, logis dan tepat (secara waktu, tempat dan sesuai usia) itu penting.

Selarik tweet berbunyi ‘Budaya cium tangan mematikan dialektika antara guru dan murid serta orangtua dan anak’ cukup menggelitik urat usil saya. Apa iya, sih?

Ya. Untuk norma dan nilai, kami memilih untuk tidak kompromi. Kepada orang yang lebih tua harus sopan, bagaimanapun tidak suka. Anak-anak jadi belajar menahan diri. Merevisi cara bicara agar ‘sesuai’ dengan taraf kesopanan yang kami berlakukan.

Tidak, untuk hal-hal lain. Mereka tetap boleh bertanya, mempertanyakan dan menolak. Tentu mereka juga harus bersiap diri untuk diskusi yang panjang. Dan tak selalu kami yang ‘menang’. “Mandinya nanti saja, aku masih mau main.” Masuk akal. Tanya saja mau main sampai jam berapa, dan pandu ia untuk mengatakan sendiri janjinya. Nanti pada waktunya, ditagih.

Kenapa mandi? Ya nggak apa-apa, sih. Contoh paling mudah saja. Buat PR juga bisa, atau membereskan ceceran pritilan mainan Lego.

Bisa pula kejadiannya, “Kenapa sekarang? Kenapa aku harus melakukan ini?” Nah kalau ini, tugas orangtuanya untuk bisa membuatnya mengerti mengapa harus berlaku demikian. Kalau kita sendiri memang tak punya alasan yang logis, sebaiknya tidak mengeluarkan “Pokoknya begitu”. Dengan berkata “Tidak tahu”, anak juga tidak selalu memaksakan dan belajar melihat orangtuanya dengan jernih. Bahwa tidak apa-apa untuk tidak tahu.

Yang paling penting adalah teladan. Bagaimana kita ingin anak bertindak, berlaku, dan berpikir, seperti itulah kita menjelma lebih dulu. Tak bisa melarang anak untuk merokok di sekolah, lha wong di rumah dia merokok bareng ibunya. Teguran jadi tak mempan, karena si ibu tak sanggup melarang. Bagaimana melarang sedangkan dia sendiri melakukan?

Hal serupa berlaku untuk sosok guru. Guru bukan mahluk tanpa salah. Ia bisa tidak tahu, bisa salah. Tapi tuntutan terhadap guru lain dibandingkan orangtua. Karena guru dianggap sebagai pengajar dan pendidik, yang seharusnya lebih ‘super’ daripada anak didiknya. Segala sesuatu yang dilakukannya harus patut digugu dan ditiru. Di sekolah dan di manapun, kapanpun. Tak kenal basi, tak kenal waktu.

Jadi bagaimana cium tangan yang mematikan dialektika? Cium tangan sebagai tanda hormat yang juga mencerminkan kepatuhan tanpa batas. Cium tangan yang membawa pada sikap “Apapun yang anda minta.” Cium tangan yang menanamkan pada diri bahwa “Dia tak mungkin salah, karena dia adalah orangtua/guru.” Cium tangan yang tidak dibatasi kesopanan tapi berkembang ke arah ‘tanpa restunya, kita bukan apa-apa’. Cium tangan yang mematikan diri.

Ini memang tulisan kasar. Tapi saya memang galau tentang budaya cium tangan ini. Saya tidak suka tangan saya dicium. Selain secara biologis itu memperbesar kemungkinan penularan penyakit, cium tangan berisiko tinggi menaikkan kepongahan ego saya yang sesungguhnya mungil (dan ingin tetap saya pertahankan demikian).

Tangan yang dicium dapat membuat pemiliknya merasa memberikan restu, blessing, tinggi hati (saya di posisi yang lebih mulia daripada kamu) bahkan pada pemikiran yang agak ekstrim, membuat saya merasa berhutang. Berhutang budi karena ada yang sudah menunjukkan hormat pada saya. Membuat saya kesulitan bersikap obyektif dan adil, karena tidak semua anak & murid punya kebiasaan/budaya mencium tangan orang yang lebih tua/gurunya.

Tangan yang dicium ini dapat memelesetkan kaki dan menciptakan ilusi bahwa saya adalah orang yang terhormat, orang yang harus dimintai persetujuannya, dan nasib buruk yang kamu peroleh mungkin karena saya tidak ridho terhadap kamu.

Ridho atau tidak ridho, itu urusan mahluk. Tapi pengampunan adalah milik Allah. Dia yang lebih tahu isi dalam hati manusianya. Kita toh tidak tahu kalau Allah memang berkenan memberi karunia kebaikan pada hamba yang kita pikir tidak hormat pada kita. Tapi dari mana kita tahu bahwa yang mencium tangan kita itu pasti hormat pada kita? Mana kita tahu ketika dia berbalik badan, dia berwajah masam dan penuh benci?

Cium tangan yang sandiwara.

Sampai mana tadi dan apa hubungannya dengan dialektika? Entahlah… saya bingung sendiri. Yang jelas, bagaimana bisa berdiskusi dengan tulus mencari solusi -ketimbang menyenangkan pihak yang ingin diraih hatinya- jika urusan diawali dan dibiasakan dengan bersandiwara?