Bukan Salah Ibu Bekerja
Kalimat pembuka dari saya: saya tidak setuju jika perempuan/istri/ibu tidak boleh bekerja. Penjelasan dari saya akan panjang, jadi silakan bersiap dengan cemilan dan minuman hangat.
- Jangan menghakimi perempuan yang bekerja di luar rumah sebagai ‘memilih karir di atas keluarga’.
- Bekerja tidak sama dengan mengejar karir dan PASTI belum tentu melalaikan keluarganya.
- Jangan hibahkan seluruh masalah dunia ke bahu ibu.
- Feminis belum tentu "semata-mata hanya merasa bahwa menjadi seperti laki-laki adalah sesuatu yang hebat".
Mari kita runut perjalanan meniti rumah tangga lebih dulu untuk merumuskan masalah supaya lebih jernih untuk diamati.
Berawal dari komitmen.
Fungsi utama dari perkenalan sebelum menikah adalah mengenal calon suami *ya iya lah!* (maksud gue, fungsi utama tuh bukan aktivitas pacarannya, getoo!). Tak hanya mengenal keluarganya namun juga kepribadian dan isi kepalanya (ide dan cara pandangnya terhadap berbagai hal). Bukan hanya foto dan lembar informasi berjudul biodata.
Hal pertama yang saya tanyakan kepada suami adalah: bagaimana pandangannya tentang perempuan bekerja, dan apakah saya diizinkan untuk berkarya di luar rumah. Saya bertanya seperti itu bukan karena saya berhaluan feminis. Saya ingin tahu sampai di mana fleksibilitas sikapnya terhadap peran istri.
Jika dia ingin saya di rumah saja, saya ingin tahu tawarannya tentang bagaimana saya bisa meningkatkan kualitas diri, terutama dalam bidang keilmuan yang saya minati. Jika dia mengizinkan saya ke luar rumah, saya ingin tahu sampai sejauh mana saya diizinkan melangkah.
Pilihan untuk bekerja atau tinggal di rumah sebagai ratu rumah tangga, terlepas dari beban ekonomi yang memaksa pilihan lain, bagi saya bersifat sangat pribadi dan tergantung kepada masing-masing pasangan suami-istri.
Tipe suami/istri tidak hanya satu.
Tidak semua suami suka jika istrinya memilih bekerja, seperti halnya tidak semua suami suka jika istrinya berdiam saja di rumah. Bukan, bukan soal ‘pilihan tinggal di rumah adalah hal yang ketinggalan jaman, nggak ngetrend atau mengekang kebebasan perempuan’. Tapi tipe suami tidak hanya satu.
Ada yang pencemburu, sehingga lebih suka jika istrinya tidak banyak berinteraksi dengan laki-laki lain (yang mungkin dijumpai di tempat kerja). Ada yang sangat memahami dinamisme istri, yang semasa kuliah adalah aktivis yang tak tahan berdiam, sehingga risiko interaksi istri dengan lelaki lain telah diantisipasi baik-baik.
Suami yang baik tentu berusaha memahami pribadi istrinya dengan tidak memaksakan suatu keputusan sebelum dibahas berdua secara hati-hati. Manapun keputusan yang dipilih, cara untuk meraihnya harus tetap nyaman bagi keduanya.
Tipe istri juga tidak hanya satu. Ada yang senang tinggal di rumah, ada yang butuh adaptasi untuk bisa berdiam di rumah, ada pula yang senang bekerja (sosial maupun yang memberi keuntungan). Pilihan untuk berkarya tidak serta merta menjadikan istri sebagai penjahat komunitas.
Tak sedikit istri yang melangkah ke luar, lalu memutuskan untuk kembali ke rumah, menjadi ibu rumah tangga purna waktu setelah merasakan kerasnya dunia kerja. Jadi suatu keputusan yang mereka buat, belum tentu menjadi pilihan hidup selamanya. Seperti tak semua orang selalu benar atau selalu salah.
Nah, sampai di sini, anda dapat memperkirakan peran di masa datang.
Apakah istri boleh bekerja?
Apakah anda siap dengan konsekuensinya?
Apakah anda siap untuk mengorbankan segala yang lain dan menjadi ibu rumah tangga purna waktu?
Apakah anda siap untuk berkarya dari rumah?
Apakah anda akan melanjutkan ta’aruf ke jenjang pernikahan dan siap menerima ‘kejutan’ lain dari isi di kepalanya?
Bekerja adalah keputusan pribadi.
Kelak, ketika pernikahan sudah ditapaki, maka dimulailah perjalanan menuju tafahum (memahami) dan ta’awun (membantu). Dan tahapan ini belum tentu dipahami oleh orang lain di luar lembaga rumah tangga dalam persepsi yang sama. Tafahum bisa disangka cuek oleh tetangga. Ta’awun bisa dituduh ditindas istri oleh bapak-bapak lain.
Di luar keputusan yang bergantung pada pribadi, tentu ada ‘paksaan’ keadaan. Ketika penghasilan suami belum mampu menopang seluruh kebutuhan pokok rumah tangga, tak sedikit pula istri yang bersedia untuk sumbang tenaga dengan bekerja di luar rumah. Tentu baik jika bisa bekerja dari rumah. Tapi akan lebih baik jika kita hargai mereka yang memutuskan untuk bekerja di luar rumah.
Istri adalah rekan suami, bukan keseluruhan rumah tangga.
Manusia, sebagaimana sifatnya, memang tidak bisa sepenuhnya obyektif dan tidak berpihak. Ada saja hal yang dipandang salah, bagaimanapun suatu keputusan diambil seseorang. Hal ini terjadi juga pada kasus ibu bekerja.
Jika anak dari ibu bekerja terkesan nakal dan kemampuan sosialnya kurang bisa diterima oleh orangtua anak lain, maka si ibu disalahkan. "Ibunya sih kerja, anaknya gak diperhatiin deh!".
Tapi jika anak dari seorang ayah yang bekerja di rumah memiliki sifat ‘nakal’, masyarakat tak lantas menghakimi si ayah sebagai ‘ayah yang tidak perhatian dan kurang bisa mendidik anak’, sebagaimana cap yang diberikan kepada ibu purna waktu yang memiliki anak yang bersifat sama.
Ibu memang madrasah pertama umat. Namun jangan bebankan semua beban generasi baru kepada ibu. Tugas utama ayah memang memberi nafkah keluarga, namun tidak berarti ayah tidak mempunyai andil penting dalam pendidikan anak.
Bekerja belum tentu lalai atas keluarga.
Bukan hal yang bijak jika kita menyalahkan ibu bekerja atas keadaan anak. Ibu bekerja belum tentu abai. Ya ya, ibu yang di rumah saja belum tentu bisa memberi ‘output’ anak yang memuaskan, apalagi yang bekerja di luar rumah. Begitu? Maaf, tampaknya belum ada hasil penelitian yang mengemukakan hubungan tersebut dengan memuaskan.
Yang lebih tepat sebenarnya adalah, ibu tidak boleh melalaikan keluarga. Mengejar karir boleh-boleh saja. Asalkan perannya sebagai ibu tetap dilakoni dengan baik.
Sulit sekali memang, untuk menjalani dua peran sekaligus. Tapi teman-teman yang pernah merasakan -dan berbagi dengan saya- mengatakan bahwa menjadi ibu rumah tangga purna waktu sungguh suatu ‘pekerjaan’ yang sangat berat. Bahkan sebagian mereka lebih suka menjalani peran ganda daripada menjadi ibu purna waktu.
Ketenangan hati dan kesiapan batin sebagai syarat utama pengasuhan.
Mengapa menjadi ibu purna waktu itu sulit? Karena sepenuh waktunya dihabiskan di hal yang ’sama’, di tempat yang ’sama’. Sedikit sekali hal yang dapat mengalihkan perhatiannya. Konsentrasi dituntut tinggi, dengan demikian tekanan juga tinggi. Kata siapa ibu rumah tangga lebih rendah stresnya daripada ibu bekerja?
Apakah ibu bekerja itu suatu hal yang buruk? Apakah ibu bekerja itu lantas menjadikan si perempuan menjadi perempuan yang buruk, yang dituju oleh hadits Jika kaum wanitanya baik maka bangsa itu akan baik, sebaliknya jika wanitanya buruk, maka bangsa itupun akan buruk pula ?
Ibu bekerja umumnya beroleh -setidaknya- satu keuntungan selain finansial, yaitu teralihnya perhatian mereka dari masalah rumah tangga. Nah, jangan dihakimi sebagai melarikan diri. Semua butuh pelarian. Hati pun butuh penyegaran.
Jika dengan bekerja si ibu jadi lebih bahagia, maka dia akan punya banyak ketenangan dan kebahagiaan yang cukup untuk dibagi kepada anak-anaknya. Hal penting yang didamba anak dari ibu.
Jika dengan tinggal di rumah si ibu menjadi sungguh tidak bahagia dan tertekan sepanjang waktu, maka dia tak punya lagi cukup kebahagiaan dan sakinah yang dapat dibagikan kepada keluarganya. Jika ini terjadi, ibu purna waktu sama sekali tidak lebih baik daripada ibu bekerja.
Dari cerita sepanjang ini, yang saya maksud cukup sederhana: inti masalahnya bukan pada bekerja atau tidaknya si ibu, tapi kesiapan dan ketenangan batin dalam menjalani perannya.
Sekian, semoga dimengerti. Terimakasih bagi siapa saja yang bersedia menyimak sampai habis walau sepanjang ini


“bekerja” itu identik dengan “mendapatkan penghasilan” dalam hal ini uang ya?
bukannya mengurus rumah / anak dirumah juga juga bisa disebut ‘bekerja’.